Tak Perlu Tak Enak Hati Soal Menagih Utang

By | April 3, 2018

Sobat Nida, memberi utang kepada
orang lain baik teman atau saudara adalah sesuatu yang mulia. Rasulullah saw
bersabda, “Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang
mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat.
Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan
memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang,
Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa
menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.
” (HR. Muslim
no. 2699).

Orang yang memberi utang kepada
saudaranya, memberinya kemudahan dengan ikhlas karena Allah swt, insya Allah
akan mendapatkan kemudahan di hari kiamat nanti.

Tapi, kadang orang yang berutang
ada yang mudah membayar utangnya, ada pula yang sangat susah.

Buat beberapa orang kadang
menagih utang bikin nggak enak hati. Akhirnya, utang tersebut tidak ditagih
padahal sebenarnya orang yang memberi utang membutuhkan uang. Ini nggak baik
juga sih, Sob, karena kalau utang tidak ditagih, bisa membuat orang yang
berutang jadi terbiasa untuk nggak melunasi utang atau dengan mudah 'melupakan'
utangnya.

Sebenarnya tak perlu merasa nggak
enak hati untuk menagih utang, Sob, karena tidak menagih utang malah bisa
membawa kerugian bagi orang yang memberi utang maupun orang yang berutang.
Misalnya, kita jadi kesal bertemu dengan ia yang berutang bahkan sampai
melakukan ghibah tentang utangnya karena rasa kesal kita itu. Siapa yang salah?
So, lebih baik kita nggak perlu merasa nggak enak hati, Sob.

Di akhirat nanti, masalah utang
ini juga belum selesai loh, masih tetap ditagih. Dari Ibnu Umar, Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan
masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham, maka utang tersebut akan
dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat)
tidak ada lagi dinar dan dirham.
” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Jadi, daripada masalah utang ini
berbuntut panjang dan membawa kerugian bagi ia yang berutang, lebih baik
ditagih kan?

Bukan berarti kita bersikap jahat
kok, ketika kita menagih utang.

Kita dibolehkan untuk menagih
utang dari orang yang berutang. Apalagi kalau orang yang berutang termasuk
orang yang suka menunda-nunda pembayaran utang, padahal ia punya dana untuk
membayar.

Kalau sudah ditagih, tapi memang
ia yang berutang masih dalam masa sulit, maka solusinya adalah memberikan waktu
atau tempo. Allah swt berfirman, “Jika dia (yang berutang) dalam kesulitan
(tidak bisa melunasi setelah jatuh tempo), maka tunggulah sampai mendapatkan
kondisi yang mudah (sehingga bisa melunasi utangnya). Dan jika kalian
sedekahkan (diputihkan utangnya) itu lebih baik bagi kalian, jika kalian
mengetahui.
” (QS. Al-Baqarah: 280).

Keutamaan orang yang memberi
tenggang waktu bagi orang yang sulit melunasi utang, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa
memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi
utang atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah.

(HR. Muslim no. 3006).

 

Baca juga: Wajibkah Mencatat
Hutang?

 

Dalam hadits lain juga
disebutkan, Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang memberi tunda orang
yang kesulitan, maka dia mendapatkan pahala sedekah setiap harinya. Dan siapa
yang memberi tunda kepadanya setelah jatuh tempo maka dia mendapat pahala
sedekah seperti utang yang diberikan setiap harinya.
" (HR. Ahmad
23046, Ibnu Majah 2418 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Nah, tapi bukan berarti orang
yang berutang bisa tenang-tenang aja, Sob.

Karena utang is really serious
matter, Sob!

Kalau memang orang yang berutang
adalah seorang pelupa parah or akut, berarti harus ekstra rajin untuk mencatat
utang yang dilakukan.

Orang yang punya utang, tapi
malas membayar utang termasuk melakukan kedzaliman loh. Rasulullah saw
bersabda, “Penundaan utang dari orang yang mampu melunasi adalah kedzaliman.
(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan lain-lain).

Orang yang berutang juga
sebaiknya tidak menunda-nunda membayar utang, misalnya menunggu ditagih dulu.
Eh, ternyata orang yang memberi utang malu atau bisa jadi dia tidak menagih,
tapi mengeluh pada Allah swt karena membutuhkan dana tersebut. Kedua matamu
tertidur sementara orang yang engkau dzalimi terjaga. Ia mendoakan kecelakaan
untukmu dan mata Allah tidaklah pernah tidur.

Emang butuh komunikasi yang baik
banget antara orang berutang dan yang memberi utang. Orang yang berutang wajib
untuk berusaha sekuat tenaga melunasi utang, kalau memang ada kesulitan untuk
melunasi, baiknya memberitahukan pada yang memberi utang, karena ini bagian
dari hak orang yang memberi utang. Jangan diam aja, karena ini bisa memperburuk
keadaan, yang tadinya memberi utang sebagai wujud kasih sayang sesama muslim,
malah bisa berubah menjadi permusuhan.

Buat orang yang memberi utang,
kita dibolehkan untuk menagih utang, kalau merasa nggak enak padahal kita
butuh, maka untuk meminimalisir rasa nggak enak hati itu, tagihlah utang dengan
perkataan yang santun dan bijak.

Tidak ada salahnya untuk memberi
keluangan waktu bahkan membebaskan utang, karena hal itu adalah suatu perbuatan
yang mulia.

Suatu hari Qais bin Saad bin Ubadah Radhiyallahu ‘anhu merasa bahwa
saudara-saudaranya terlambat menjenguknya, lalu dikatakan keadaan mereka, “Mereka
malu dengan utangnya kepadamu,

Qais pun menjawab, “Celakalah harta, dapat menghalangi saudara untuk
menjenguk saudaranya!
” Kemudian dia memerintahkan agar mengumumkan, “Barangsiapa
yang mempunyai utang kepada Qais, maka dia telah lunas.
” Sore harinya
jenjang rumahnya patah, karena banyaknya orang yang menjenguk. (Mukhtashar
Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah, Tahqiq Ali Hasan bin Abdul Hamid, Oman, Dar
Ammar, cet II, 1415-1994 hal. 262-263).

Idealnya berkaitan dengan utang,
orang kaya selalu dermawan menginfakkan harta Allah swt yang dititipkan padanya
di jalan-jalan kebaikan. Orang yang fakir, hendaklah hidup qana'ah dan ridha
dengan yang Allah swt tentukan padanya.

Bagaimana pun, berutang memang bukan perbuatan tercela, tapi semoga kita
terhindar dari berutang dan kebiasaan berhutang. Yuk, rajin-rajin baca do'a
Rasulullah berikut ini, "Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal
maghrom
(Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak
utang)." (HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 589).

Allahu a'lam.

Referensi: dari berbagai sumber

Foto ilustrasi: google 

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *