Sitor Situmorang, Zig-zag dan tak Terduga

By | April 4, 2018

Annida-Online–Melihat wajah Sitor Situmorang (85) sama saja melihat Republik Indonesia. Tidak rata, beragam masalah, dan sulit ditebak. Seperti inilah karya-karya Sitor yang dilahirkan pada masa-masa kreatifnya yang begitu panjang. Begitu pendapat para pembicara pada diskusi Menimbang Sitor Situmorang dalam perayaan hari ulang tahun sastrawan angkatan 45 itu, di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, Rabu (14/10) malam. Dipandu oleh John McGlyn dari Yayasan Lontar, sastrawan Afrizal Malna, Radhar Panca Dahana, serta JJ Rizal begitu padat dan runut membeberkan pengamatan mereka akan Sitor dan puisi-puisinya.

Dengan masa kreatif yang panjang serta perjalanan yang penuh lompatan dan kelokan, Sitor telah melahirkan ratusan karya jempolan. Jalan hidup Sitor yang tidak linear, menyebabkan 605 pucuk puisinya berbeda-beda tema, gaya serta kejutan. Afrizal bilang, menyelami puisi-puisi Sitor tahun 1948 sampai 2000-an bagai melihat galeri yang besar dengan banyak warna.

Pasar Senen yang merupakan puisi pertama Sitor yang diterbitkan, menjadi fondasi yang mendasari hampir seluruh puisi Sitor yang berjumlah 605 itu. Doa suguhkan bola-bola imajinasi yang berlapis-lapis. Pada layer pertama berupa godaan untuk masuk, layer kedua berisi diskripsi. Dan layer ke tiga sering tidak ada hubungannya, mencampurkan layer 1 dan 2 dalam struktur berbeda yang menghasilkan pesan yang sangat menarik,” ungkap Afrizal.

Pada karya-karya awal Penyair Danau Toba, begitu Sitor disebut, suami dari Barbara Brouwer itu seperti anak yang hilang. Baru kemudian sewaktu Sitor berkesempatan mengembara ke Eropa, tema-tema sang perantau bergeser menjadi tema sang petualang. Dari situ, Sitor bergeser lagi memasukkan unsur-unsur ideologi dalam puisinya. Sebuah essai satra revolusioner mengantarkan Sitor ke dalam penjara Orba selama delapan tahun, 1967-1955. Keluar dari penjara, Sitor kembali melakukan perjalanan ke kota-kota di Indonesia, dan menulis berbasis agama Hindu dan Buddha, lalu pergi lagi ke luar negeri dan menghasilkan karya-karya mistis.

Bagi Radhar Panca Dahana, eksistensialisme Sitor gampang berubah. Si anak hilang menemukan dunia baru di perantauan (Jakarta) di tahun 1948. Belum tuntas, tahun 1950-1952 ia ke Eropa, lalu menulis essai-essai politis yang membuatnya lebih dari seorang panglima kebudayaan Marhaenisme.

“Sitor berlari zig-zag. Lebih bergerak dengan intuisi batin yang sangat sensitif dan sulit dibaca. Bagusnya, meski dipenjara selama 8 tahun di zaman Orde Baru, ia melupakan dan tak punya dendam. Buku-bukunya terus lahir dan dengan perubahan-perubahan artistik yang tajam,” ujar Radhar.

Sementara, JJ Rizal dari Komunitas Bamboe, penulis biografi Sitor Situmorang serta editor/penerjemah buku-bukunya lebih bisa melihat Sitor dari selembar foto. Dalam foto hitam putih itu, tampak Sitor yang gagah sedang berhadapan dengan Ir. Soekarno dengan latar belakang gambar besar leluhurnya, Sisingamangaraja XII. Menurutnya, Sitor itu sangat nasionalis seperti halnya dua tokoh lain pada foto tersebut.

Dalam acara yang dihadiri Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Dr. Nikolaos van Dam, Ketua Umum Yayasan Bung Karno Guruh Soekarno Putra tersebut, diluncurkan pula buku essai Menimbang Sitor Situmorang. Sebelumnya, telah digelar pemutaran film biografi Sitor antara lain Van Indie tot Indonesie, Hidup dan Karya Sitor Situmorang sutradara John Albert Jansen (2009), Tongkat di Atas Batu sutradara Afrizal Malna (2004), diskusi Sitor Situmorang dan Dunia Batak, peluncuran buku Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII – XX karya Sitor. Saat moderator maupun pembicara diskusi melontarkan komentar maupun ungkapan lucu tentang Sitor, tak tampak ekspresi di wajah ayah tujuh orang anak itu yang duduk memegang tongkat. Betul-betul sulit ditebak? [Esthi]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *