Setelah Sepuluh Tahun, Buku Harian Sang Jurnalis (Bagian Ketujuh, Tamat)

0
20

Shohibul Hikayat

 

Sambil
menikmati udara sore di sudut kota Kuala Lumpur, duduk diatas kursi
roda, aku memperhatikan detil-detil apartemen ini, yang disorot mentari
sore. Sebagian waktuku yang hilang selama sepuluh tahun ini, berusaha
aku rangkaikan. Dik Lely mendorong kursi rodaku, melintasi
lorong-lorong tepi apartemen. Pertiwi disamping kananku. Dari
ketinggian di sini aku bisa memandang Menara Kembar, Twins Tower,
Petronas, dari dekat.

“Wow Malaysia, adik jiran se-Melayu itu,” gumamku.

Ya, tapi tentu saja, lebih banyak yang ingin ku ketahui tentang
negeri ku sendiri. Aku menanyakan banyak hal, sesekali ketika Pertiwi
menjelaskan, Lely menimpali. Akupun sempat kaget heran, Indonesia dan
Malaysia, negeri muslim serumpun ini nyaris baku tembak di Ambalat,
2004. Lebih dari masalah batas alias sempadan, ada aroma sengketa kartel minyak Asing yang cukup kuat.

Ya, lalu tentang negeriku, ternyata aku baru tahu, Habibie, presiden
yang jenius itu, bukan presiden yang ingin dipertahankan oleh rakyat.
Dua tokoh Ciganjur pun diduetkan jadi pemimpin republik, RI 1 dan RI 2,
setahun setelah Reformasi. Tapi tidak lama, Gus Dur jatuh dan Megawati
naik. Sangat mungkin bukan salah Bang Amien, yang sempat didaulat
menjadi Ketua MPR atau King maker koalisi Poros Tengah. Tapi
karena Sang Presiden “konon”, terlibat skandal Bulog. Cukup seru.
Sempat ada selembar dekrit yang nggak berlaku dan ditentang elit
militer. Akhirnya, seperti kebanyakan rejim, runtuh karena tidak amanah.

Di Jaman duet Mega-Hamzah, ternyata juga sama. Pulau Sipadan dan Ligitan lepas, BBM naik, Release and Discharge untuk obligor konglomerat hitam. Penjualan Indosat dan sejumlah BUMN
secara gila-gilaan. Terbukti kemudian, Mega dengan Cawapres Hasyim
belumlah dapat merebut hati rakyat menjadi figur yang tepat. Pilihan
pimpinan idaman untuk kembali memegang amanah RI 1 dan 2, negeri malang
itu, di pilpres langsung 2004.

Sekarang rakyat masih dipimpin SBY-JK. Di Aceh, Serambi Mekah, ada
Tsunami dengan korban lebih seratus ribu jiwa (Akhir 2004), MoU
Helsinki (2005) dan Petinggi GAM yang sudah lepas senjata dan naik
tahta di pentas politik lokal. Ada aliran sesat JIL, Ahmadiyah sampai
nabi palsu Mossadeq dengan aliran al Qiyadah. Tetapi hei, Konferensi
Khilafah Internasional? Agenda ormas-ormas Islam mengusung syariah
dalam bernegara. SubhanAlloh, wal Hamdulillah, wa Laa ilah ha ilAllah, AllahuAkbar!

Amboi, indah sekali, Syariah ilahi bersemi ke seluruh penjuru negeri.

Sudah? Belum. Ada kerusuhan dan bom dimana-mana. Sejak Presiden Gus
Dur-Mega sampai SBY-JK. Kerusuhan Ambon, Sampit, dan Poso. Bom Bali
satu (2002) dan dua (2005). Bom Kuningan dengan sasaran kedutaan
Australia, dan Hotel JW Marriot Amerika.

Hampir 100 menit berlalu. Meski sedikit memusingkan, 10 tahun
reformasi yang sempat kulewatkan menjadi sedikit lebih dapat kupahami.
Ramadan, dan Fitri, Lely dan dokter Josi, tentu saja Pertiwi, mereka
semua sudah mencoba, seperti berlomba mencatatkan banyak hal dibuku
harianku. Hanya, dalam sebuah buku harianku? Ah, ternyata, jelas tak
cukup. Karena itu, masih ada 2 jilid buku harian baru yang juga
berwarna biru, yang menggoreskan, menyimpan semua hingar bingar 10
tahun reformasi itu.

“Apa kau yakin, ingin segera pulang?” Pertiwi seperti menyadarkan lamunanku.

“Ya,” sahutku. “Hm, kalau memang memungkinkan, mahsudku. Aku tahu,
dengan melihat semua catatan ini dan ceritamu, negeri ini sudah dibajak
dengan para komprador. Lihat saja dokumen-dokumen tentang deret UU dan
RUU-ini. UU Migas, Listrik, Air, BUMN, Pelabuhan, BHP ditambah RUU
Antipornografi-pornoaksi yang tidak jelas terbengkalai dimana. Dan apa
yang kau sebutkan tadi, Majalah Playboy? Di Indonesia? Yang benar saja?”

Tapi keduanya, Pertiwi dan Lely diam saja. Sangat mungkin merasa,
khawatir aku segera terlibat dan terjun kembali di dunia jurnalistik,
yang selama ini ku tinggalkan.

“Tunggu, Leonardus, bagaimana?” tiba-tiba aku teringat dia.

“Mungkin Engkau sedikit bisa bahagia,” cetus Lely dengan nada sedikit gemas.

“Maksudmu, Dik?”

“Jendral Tua itu sudah tamat di akhir Agustus 2004.”  

“Waah?”

“Apa maksudmu dengan “waah”?” tanya Lely heran.

“Kurasa, aku perlu cari musuh yang baru,” cetusku. “Yang lebih tangguh. Nggak cepat mati.”

“Nggak lucu.” sahut Lely cepat. “Asal sesudah itu, kau tidak
menghabiskan waktu sepuluh tahun lagi, hanya di tempat tidur, terserah!”

Hahaha. Aku pun tergelak. Pertiwi hanya tersenyum kecut.

“Hei, kamu kemarin, cantik dengan kerudung Biru.” Pujiku. Dewi
Pertiwi hanya tersipu. “Juga sore ini, dengan jilbab Coklat. Hei, ini
aku berkata jujur.”

“Kamu, jujur sama rayuan gombal, sulit dibedakan,” katanya dengan wajah makin bersemu.

“Tapi, kenapa tadi pagi, kamu berjilbab Hitam? Haruskah ada yang
berduka, di hari pertama, ketika aku baru tersadar setelah sepuluh
tahun?”

Lely menyergah cepat, “Mas ini, bukan waktu yang tepat untuk bercanda seperti itu.”

“Ya, maaf.” kataku. Lely masih menimpali, “Kalau aku, di posisi Mbak
Tiwi, aku akan bilang ke orang ini, sepuluh, atau sedikitnya lima tahun
menunggu. Kedukaan apa bisa yang mengalahkan penantian tak pasti selama
itu?”

Hening di ujung sore itu.

Wah, kata-kata Dik Lely cukup dalam. Bermakna.

Tentu saja aku akan segera menuju ke akhir cerita. Dering ponsel Lely berbunyi.

“Sorry Mas, Mbak. Mas Josi telefon.” Lely menjauh dariku, dan
meninggalkan kami berdua. Sekali lagi, entah mengapa, perasaanku,
seperti sengaja dijebak. Kami hanya sekilas memandang dalam diam.
Bagaimana aku mengisyaratkan untuk perempuan ini?   

“Oh ya, kau tahu Pak Harto meninggal dunia?” Pertiwi mencoba membuka pembicaraan lanjutan.

“Oh ya? Kapan?” Tapi sebelum dia menjawab, kutambahkan, “Hm, lelaki
tua yang malang. Meskipun sebagian orang membenci, sebagian masih ada
yang mengaguminya, Aku juga. Aku ingat, sebelum rezimnya runtuh, ia
masih bersikukuh untuk tak mudah didikte Amerika. Tapi grand design dari IMF-lah yang mampu memaksa menyudahi kedigjayaan rejimnya.”

Aku berkata panjang seolah tak butuh penjelasan. Aku ingin segera mengarahkan jalan pembicaran, sesuai pikiranku sekarang.

“Setelah selama ini disini, Aku mau pulang ke Yogya, atau ke Malang. Bagaimana pendapatmu?”

Nah, ini dia. Sudah kutemukan kalimat awal untuk menuju endingnya.

“Hm. Aku? Bagaimana mahsudmu?” Pertiwi seperti agak bingung.

“Di Jawa nanti, rasanya aku tidak ingin sendirian lagi.”

“Hm?” Pertiwi masih menunggu lanjutan kalimatku.

“Sebenarnya Aku ingin sekali menikah, berumah tangga, dengan seseorang…”

“Hm? Oya dengan siapa?” tanyanya dengan nada seperti mulai gugup.

“Oh, itu tergantung bagimana dia.” Aku sedikit bercanda.

“Dia siapa?” Pertiwi memburu cepat

“Ya. Dia. Aku tidak yakin sih, punya pilihan lain selain dia?”

“Jangan main-main siapa dia, gadis itu?” Dia mulai cemas sekarang. Hehehe.

“Dasar wartawan sableng,” begitu yang pernah Kusuma katakan padaku ketika SMP.

“Aku sungguh tak yakin, apa kau punya pilihan lagi, selain aku?” Aku tersenyum penuh kemenangan.

“Ge-eran. Sombong.” cetusnya. “Itu pikiranmu sendiri. Memangnya lelaki cuma kamu?”

Aku cuma tergelak ringan.

“Ok. Aku ulangi lagi mahsudku. Ini terakhir, Dinda Dewi Pertiwi,
sungguh. Apa kau benar-benar yakin punya pilihan lain, selain aku?” Aku
memandang tirus sayu wajahnya. Kumohon.

Setia dan bersedialah.

“Kalau kau diam, kuanggap kau bersedia untuk menjadi calon ibu dari anak-anakku.”

       Dewi Pertiwi menunduk. Tak bisa atau tak ingin menjawab.
Dia menengadah ke langit senja. Akupun melihatnya, semburat jingga yang
indah. Ada keharuan menyesak di dada. Mungkin juga seperti yang sedang
dirasakan Pertiwi, yang perlahan tangannya menghapus buliran bening di
pelupuk mata. 

“Putra Nusantara dengan Dewi Pertiwi, InsyaAlloh. Bukankah rencana perjodohanNya, menjadi indah sekali?” Aku mencetuskan.

AllahuAkbar, AllahuAkbar!

AllahuAkbar AllahuAkbar!

Sayup-sayup adzan Magrib menggema di segenap penjuru Kuala Lumpur.

Sementara di lorong koridor apartemen, datang Dik Lely, disusul
suaminya, dokter Jose setengah berlarian mendekat, “Gimana Mbak? Udah happy ending belum? Jangan mau lho, kalau harus menunggu sepuluh tahun lagi!”

***

Batu-Malang, 3 Maret 2008

4 Dhe Khalil (Pundong, Jogya), doakan kita berjodoh.

Lely (Pasuruan) plus keluarga Mjo-Jbr. Bunda, Mbak Nil plus

Nadia-Nabila: My Family Fullove Inspiration.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here