Setelah Sepuluh Tahun, Buku Harian Sang Jurnalis (Bagian Keenam)

0
30

Shohibul Hikayat

 

Alhamdulillah,
sekarang Aku sudah agak tenang, sudah berada lagi di kantor. Jam 07.07,
Rabu, (20/05). Mas Fadli sudah kuberi laporan apa yang terjadi di
tempat kos, sejak Selasa siang kemarin dan subuh tadi. Kutemukan
segumpal batu yang dibungkus selembar kertas bergambar fotoku dengan
silang merah. Batu itu sengaja dilemparkan setelah merusak kaca nako,
di dinding samping. Nggak tahu kapan terjadinya aksi teror ini, apa
semalam? Sebelum aku membawa barang bukti ke kantor, Aku ambil gambar
dengan 5 kali jepretan, situasi kamar yang berantakan, dipenuhi pecahan
kaca berserakan. Dasar para teroris, begundal “Sang Jendral Tua!”

Setelah
mengemasi sejumlah dokumen yang kuperlukan aku berangkat ke kantor. Mas
Fadli sudah memutuskan untuk menelfon seorang Jendral yang dekat dengan
ICMI, Jendral Zainal Ali Maulana, dan menjelaskan semuanya. Termasuk
menunjukkan edisi “istimewa” kami, tabloid Adil pekan ini. Jendral akan
mengambil langkah yang diperlukan, salah satunya bersiap memback-up
temuan investigasi koalisi “AJImat Pena Keadilan”, sekaligus memblow-up
ke petinggi ICMI dan Medianya. Syukurlah, jika begitu. Rasanya aku
benar-benar tidak ingin kembali ke kosanku. Lagipula perlengkapan
harian, sudah ku-packing. 

Pagi ini, info ter-gres, ternyata
aksi ke Monas sudah dibatalkan Bang Amien. Dengan pertimbangan mencegah
jatuhnya korban. Gress news from Yogyakarta: Sejuta massa turun ke
jalan dipimpin langsung Sri Sultan Hamengku Buwono X. 

Telepon
dari Adinurani, kawan AJI yang memantau situasi di tempat kos ku.
Ditemukan paket bangkai Tikus depan pintu. Kurang ajar, apa mereka mau
terus ngajak perang?
Rabu (20/05). Jam 4 sore. Ada orang tak dikenal
mengirim bingkisan ke kantor, ditujukan ke Mas Fadli dan Aku. Ternyata
bangkai Anjing. Keterlaluan! 
Kami laporkan ke Jendral Ali. Kantor
jadi heboh. Malamnya, sejumlah kawan dari AJI datang memberi support;
maju terus, “AJImat Pena Keadilan” berani mati demi kebenaran. 

Ya, kami, khususnya aku pribadi, membulatkan tekad mati syahid sebagai Jurnalis!

***

Kamis (21/05) pagi, setelah sholat
subuh. Kuputuskan untuk survey di kantor CSIS. Aku ingin tahu, siapa
yang masih dinas disitu? Akupun teringat aksi anti CSIS yang dipimpin
Bambang Pribadi, Ketua Forum Pemulihan Martabat Bangsa (FPMB) menjelang
Idul Fitri dan tabligh akbar di Masjid Al Azhar membahas sepak terjang
CSIS, dua pekan kemudian. 

Acara ini digelar KISDI, BKSPPI dan
perguruan As-Syafiiyah. Heboh, dihadiri lebih dari 5.000 orang.
Soemargono, ketua Harian KISDI, menjelaskan, “Di Amerika juga ada
thinktank dengan nama yang sama, yang didirikan 1962 oleh Dr Henry
Kissinger, bekas Menlu AS.” Bang Gogon juga menyebut, CSIS pernah dua
kali (1970-an dan 1990-an) mengadakan pertemuan internasional di Bali.
Ditambah data dari buku “Soemitro dan Peritiwa 15 Januari 1974”, yang
ditulis sendiri oleh Mantan Pangkopkamtib itu, dengan jelas memaparkan
sepak terjang dan manuver duet Ali Moertopo-Sofjan Wanandi di awal Orde
baru yang mengganggu keamanan nasional dan merugikan umat Islam.
Wah,
hampir tak ada waktu lagi, aku harus segera meluncur ke gedung DPR/MPR,
siapa tahu ketemu Ramadan, dan atau Fitri? Ah, dimana kalian? Sementara
ribuan mahasiswa masih bertahan. 

Dan Soeharto? Entah apa yang
dipikirkannya sekarang? Cuma kabar terakhirnya adalah, Bang Yusril
sedang menyiapkan draft teks peryataan mundur Soeharto. Sementara, tak
bisa kutemukan mereka berdua, Ramadan dan Fitri. Aku terus memantau
televisi, persis jam 9 pagi lebih, akhirnya Soeharto telah “menyerahkan
diri”. Uhuuuiy! 
Mahasiswa sebagian sudah berangsur turun dari atap Gedung DPR/MPR, sebagian kecil sudah terjun, mandi di air mancur. 

Oh,
Reformasi! Masih bisakah negeri ini diperbaiki, jika IMF telah
mendesainnya untuk jadi lebih hancurlebur? Sepuluh tahun lagi?
 
Lewat jam 10 pagi, setelah mengambil sejumlah gambar euforia mahasiwa
di Gedung DPR/MPR, Aku menuju masjid Kampus. Ada telefon dari adik
Lely, bertukar kabar aksi dan klimaks Reformasi. Wah, ternyata dia
bergabung di Unit kesehatan, selama dua hari. Baguslah. Namun ku harap,
dia segera pulang. Aku mengatakan, bahwa buku harianku akan tersimpan
di suatu tempat, hanya dia dan Ramadan yang tahu.

Ya dalam
perbincangan telfon yang terakhir itu pula, ku katakan bahwa aku
teramat sayang padanya. Entah Lely malah bereaksi bingung, agak nggak
suka, katanya, koq, seperti kata-kata mau perpisahan saja? Ya tentu
saja, dia belum tahu bahwa sekarang situasinya juga menjelang klimaks
bagi kami semua. Seluruh crew Ajimat Pena Keadilan.
 Aku merasa,
orang-orang Leonardus udah mengendus “terminal” ku di Masjid ini. Aku
terpaksa balik ke kantor lagi, persiapan rapat redaksi. Aku dapat
menduga kuat, apa yang akan terjadi. Semoga Alloh, Engkau jualah yang
Maha Melindungi. Aku sudah menulis di paragraf terakhir hari ini,
Kututup buku Harian. Aku yakni akan tersimpan di tempat teraman.

***

Aku berhenti sejenak membaca catatanku,
mencoba mengingat lagi peristiwa itu. Dan entah bagaimana tiba-tiba
terkenang dengan jelas bagaimana semua peristiwa itu berlanjut dan
seperti telah berada diujung sebuah cerita bersambung yang tak
ketahui.Tetapi aku merasa benar-benar bisa mengingat jelas bagian yang
mungkin tak tercatat dibuku harianku. Seperti sebuah film yang
diputarkan didepan mataku ……………

Keluar dari masjid,
ada beberapa orang yang menguntitku. Ku buat mereka berliku. Aku masuk
wartel terdekat dan kukabarkan posisiku, pada Mas Fadli, “Mas, aku di
wartel Kabar, di lorong Barat masjid Kampus. Aku diintai 3 sampai 5
orang-orang misterius, sangat mungkin suruhan Leonardus.” Ketika aku
keluar wartel, mereka berlima segera meringkus. Beberapa pukulan
menghajar telak di sekujur badan dan kepalaku. 

“Tolong,
Rampok!!” Samar kudengar teriakan penjaga wartel, menggema di lorong
kampus. “Hey, kalian, hentikan! Hentikan mereka!” teriak penjaga wartel
sejadi-jadinya. “Ayo, lawan satu-satu, dasar pengecut. Pengecut!” Aku
meraung lemah, terlalu lemah. Tak sadarkan diri.

***

Nyuttt..!
Hufh! Terlintas
segaris nyeri, yang sekarang benar-benar memaksaku berhenti membaca
buku harian bersampul biru ini, jadi? Itukah akhir cerita ini? Ah,
mengapa semua ini seperti mimpi buruk yang masih menghantuiku? Ya,
terakhir, sebelum sempat kutemui, sosok perempuan berkerudung biru
tadi? Pertiwi berwajah tirus nan sayu. Ku hempaskan buku harian itu di
sebelah bantal di atas ranjang dan memegang kepala bagian belakang
dengan dua tanganku. 

Wah, jam berapa ini? Enam lewat? Bayangan hari sudah semakin gelap. 
Aduh!
Nyeri kepalaku melintas lagi. Haruskah ku minum pil hijau itu lagi?
Lalu berapa lama lagi kau, akan membuatku terlelap tak sadarkan diri? 

Seperti
sebuah halusinasi, dalam perjalanan “diri” Aku melihat, ada gerbang
hijau berkilau dan sebuah bangunan bermenara tinggi, bercahaya
keperakan nan indah sekali. Masjid atau surgakah ini? Seiring lambat
laun terdengar alunan suara orang mengaji. Namun, memang kurasakan
hatiku lebih tenang dan damai sekarang, Terutama samar-samarku dengar
adzan dan suara orang mengaji. Aku mendekat menghampiri, 
Hei! Oh,
ada sesosok perempuan cantik berjilbab hijau yang sedang mengaji.
Menunduk, tak kelihatan wajahnya, kecuali pendar lembut perak seperti
sinar rembulan 
Wow, apakah dia bidadari? Apakah aku sedang
bermimpi? Atau aku telah berada di syurga? Hei, Aku ingin menyapanya.
“Assalamualaikum.. 
Tapi aku tersadar. Mimpi. 

Hm. Sebuah
mimpi yang nyaris sempurna. Kubuka mata, dan memandang atap ruangan
ini. Masih terdengar suara perenmpuan sedang mengaji. Aku menoleh
kesamping kananku. Tampaklah seraut wajah, perempuan berkerudung hijau
muda. Lho?
Tapi? Perasaan, dia “baru” kulihat, dan bukan separas wajah tirus nan sayu berkerudung biru sebelumnya? Hei, tentu saja dia…. 
“Assalamualaikum,
Mas Aan? Sudah bangun, Mas?” Suara perempuan itu menyapa dan
menghentikan mengaji. Jelas, terasa ada nada ceria dan haru disana. 
“Kamu ini, Mas, kalau tidur, mbok, ya jangan lama-lama. Sudah pagi,” sambungnya. 
Ia
berdiri dan membuka tirai. Seberkas sinar mentari pagi menerobos masuk.
Aku masih berfikir lambat. Aku cuma mengira, dia pasti salah seorang
dari dua nama, Fitri atau Lely?
“Masak, masih lupa Mas, kan kamu
sudah baca buku harianmu?” ia berkata seolah bisa membaca pikiranku.
Perempuan ini kembali duduk di sebelah kananku
“Kamu? Dik Lely?”
nadaku ingin memastikan. “Tepat! Alhamdulillah..” lalu dia menciumi
wajahku berkali-kali. “Sebentar Mas Aan, kupanggil Masku. Mas Josi,
sini Mas!!” 
MasyaAlloh, Dik Lely, kau teriak kencang sekali? 
“Mas Josi, Si Ashabul Kahfinya sudah sadar, nih!” 
MasyaAlloh Dik Lely, istilah apa lagi yang kau katakan tadi?
Sejurus
kemudian muncul laki-laki berpakaian batik. Dia berperawakan agak gemuk
kebapakan, mendekat ke arah ranjangku, apakah ini dokter Jose? Tapi aku
kini bisa berfikir cepat tentang dokter Jose.
“Mas, ini Dokter Usman.” Dia mengulurkan tangan, dan ku sambut, menjabatnya 
“Usman. Bagaimana, Nak Aan?” 
“Alhamdulilah, Dok, rasanya agak mendingan. Apa itu obat untuk Migrain?” 
Dokter
Usman tersenyum. “Masih terasa nyeri? Ini pil pereda rasa nyeri untuk
amnesia, efek samping gegar otak berat. Masih ada yang terakhir.” Dia
menunjuk sebutir pil hijau yang tersisa diatas piring. 
“Syukurlah.
Besok pagi, kalau Nak Aan mau, sudah bisa mulai terapi jalan. Jika tak
merasa nyeri lagi dalam 24 jam, Saya siapkan CT-Scan.” Dia beranjak
pergi. 
“Terimakasih, Dok.” 
Aku menarik lengan Lely, “Hey, mana
Dokter Josimu?..” belum selesai kalimatku, masuk ke ruangan, laki-laki
muda yang berbadan atletis. Dia juga menjabat erat tanganku. 

“Joseph.
Ahmad Joseph.” Ku tarik tangan Lely agar dia menyorongkan telinganya
dan kubisikkan, “Suamimu, keren juga. Pintar juga kau cari suami.” Tapi
pujianku tidak lama. Dengan wajah bersemu merah, terasa ada cubitan
pelan di perut samping kananku. Alhamdulillah, Lely dengan Josi. Tapi,
Ramadan, dengan Fitri? Dan Pertiwi?

***

Beberapa menit selanjutnya, Lely
menjelaskan semua yang tersisa. Sembilan atau sepuluh tahun yang
tersisa, dilipatan hari hari dan bulan. Sungguh waktu yang teramat
panjang yang tak tercatat di buku harianku. Ya, setelah aku ditemukan
tak sadarkan diri di depan wartel area lorong barat Masjid Kampus.
Gegar otak berat. Selama sekitar sepuluh tahun ini, Adik Lely lah yang
merawatku. “Sepuluh tahun, dik?”

Dia menyahut lirih, “Sudah
kewajibanku, Mas. Memang siapa lagi?” Ternyata Ayah juga sakit-sakitan,
dan diputuskan dirawat keluarga besar ayah di Jember, daripada di
Jogja. Tapi ada Ibu dan adik lelakiku, Tabiq yang memutuskan pindah
dari Surabaya. Untuk 5 tahun pertama pula aku dirawat di sebuah villa
di kota kecil nan sejuk, Batu, Malang. Milik keluarga Fitri. Dia ikut
merawat dan menanti. Namun usahanya berhenti di satu titik, usia yang
terus bertambah, dan tak bisa menunggu lebih lama lagi, orang yang mati
suri, dan tak pernah bisa diduga untuk berapa lama. Setelah merawat dan
menungguiku selama itu, diapun memutuskan menerima khitbah dan menikah
dengan Ramadan, sohibku, sekaligus sohibnya, 11 September 2003.

 Ya,
akhirnya. Entah bagaimana, Aku turut merasa bahagia, pun meyakini
memang demikinlah takdir terbaik untuknya. Lagi pula, jujur, kalau
dipikir, nama Ramadan dengan Fitri Suciati adalah sepasang nama yang
lebih tepat dan pas untuk dirangkai, daripada dipisah. Ah, Sungguh
tergetar hatiku dengan skenario cerita yang telah dirangkai oleh-Nya,
Sang Maha Sutradara Kehidupan. 

Setelah itu Lely juga menerima
kabar, sohibnya, Dewi Pertiwi sempat kembali dari Malaysia, ketika
ayahnya meninggal, di sana. Namun wasiat ayahnya, meminta dimakamkan di
Yogya. Lely memberi dan bertukar kabar, tentang keadaanku. Ternyata
Almarhum Ayah Dewi Pertiwi memang juga sahabat dekat ayah. Dan
keluarganya juga cukup prihatin mendengar kabar ayah yang sakit-sakitan
di Jember, dan juga keadaanku. Sekali lagi, Keluarga Pertiwi menawarkan
jasa baiknya untuk menjaminkan tempat yang aman dan perawatan yang
diperlukan. Aku diterbangkan dengan pesawat carteran ke sebuah
apartemen pribadi di sudut kota Kuala Lumpur, Malaysia.

  “Tunggu, Pertiwi menunggu aku? Dimana dia sekarang?” bisikku ke Lely. 
Lagi-lagi
dia tersenyum. “Sebentar lagi.” katanya. Detik berikutnya, muncul wajah
yang sudah kukenali itu. Wajah tirus nan sayu. Hei, dia memakai jilbab
hitam yang cukup lebar. Tersenyum memandangku. “Assalamualaikum, akh.
Aku…”
“Waalaikum salam, Dewi Pertiwi, kau yang ku temui, hm? Kapan ya?”
“Kemarin pagi. Lalu kutinggal sebentar, dan ketika ku datang, kau terlelap lagi sampai sore.”
“Oh, ya?”
“Ya.
Kupikir engkau sempat bangun sebentar di akhir sore kemarin. Tetapi
lagi-lagi aku menemuimu sedang tertidur, setelah Magrib.”
“Oh, ya?”
“Jangan o ya-o ya terus,” protes Lely.
“Rasanya, sih aku seperti hanya tidur sebentar?”
“Bagi
Mas Aan, mungkin seperti tidur sebentar. Bagi yang hidup sadar, sudah
berganti hari, bulan dan tahun. Kamu ini lebih mirip seperti Kisah
Ashabul Kahfi saja. Koq bisa, sepuluh tahun tidur terus,” Lely
menambahkan.
“Jadi? Benar ya, aku tertidur sepuluh tahun? Wah, aku melewatkan banyak hal, dong?”
“Banyak. Sangat banyak. Yang jelas mendampingi orang seperti Mas, membutuhkan banyak kesabaran.” sahut Lely agak ketus.
Aku menangkap ada nada marah perkataan Lely, tapi sejurus seperti bisa membaca pikiranku, dia menyahut, “Aku gak marah, kok.”
“Dik Lely, koq jadi uring-uring gitu. Yang sabar dong? Mas Aan baru sadar?” cetus Pertiwi.
“Jelas harus sabar Mbak. Kalau nggak sabar, mendingan sudah sejak dulu saja, kita kubur hidup-hidup saja orang ini.”
“Wih. Sadisnya,” aku tergelak. Aku tahu, Dik Lely bercanda. 
Cuma,
ya begitu, gaya bercandanya hampir sama seperti aku, agak kasar. Kurasa
hanya kau dan Lely yang memahami gaya komunikasi seperti ini.
“Hush. Dik Lely, koq bisa dik? Sama Masnya koq gitu sih?” Pertiwi seperti menegur. Lely tak menyahut. Dia memalingkan muka.

“Tuh, dengerin. Siapa yang tahan kalau begini. Baru sadar, udah diteror,” sahutku.
“Mbak
Tiwi, aku justru membela Mbak. Ini saatnya. Aku bisa saja mendampingi
dia sepuluh, seratus tahun, sih gak apa-apa. Karena, ya tanggung jawab
keluargalah. Lagipula saat ini Aku kan sudah bersama Mas Josi. Hm,
mahsudku Mbak Tiwi kalo nggak tegas, nunggu kapan lagi? Aku cuma
kasihan, mahsudku, salut saja dengan Mbak Tiwi. Koq mau nunggu segitu
lama, hanya untuk orang seperti Mas Aan ini?”

“Ya sudah-sudah.
Jangan diungkit-ungkit, jangan diperbesar. Tolong, ya bikinkan susu
coklat saja? Kau mau An?” Pertiwi menengahi. Aku mengangguk pelan.
Dasar Lely, bombastis! Huh? Nunggu seratus tahun, yang benar saja?
“Mbak,
ajak langsung ngobrol serius tuh. Gimana tanggungjawabnya? Kalau dia
gak mau tanggung jawab serius, gimana kalau sekalian susu coklatnya,
aku kasih arsenik saja!” 

Lely berteriak di depan pintu, saat
keluar. “Wih! Tuh anak? Dasar sableng.” gumamku. Namun, sejurus di
menit yang tersisa, hanya Aku dan Pertiwi yang terus saling
berpandangan. Kami masih saling menebak, saling menyimpan harapan,
pertanyaan sekaligus perasaan.

 (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here