Mendiknas: UN Bukan Satu-satunya Syarat Lulus!

0
24

Annida-Online—Bagi Sobat Nida yang masih duduk di bangku sekolah tahun terakhir, belakangan ini pasti dibuat dag-dig-dug karena tengah menghadapi Ujian Nasional alias UN yang pada tahun ini, (lagi-lagi) standar kelulusannya naik menjadi 5,5 dari 5,25 pada tahun 2009 lalu untuk semua mata pelajaran yang diujikan. Meskipun pelaksanaan UN banyak yang menentang, namun Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh tetap yakin bahwa UN adalah evaluasi terbaik yang bisa menilai usaha siswa selama belajar di sekolahnya.

“Lagi pula, salah kalau ada yang bilang UN adalah satu-satunya penentu kelulusan siswa. UN bukan satu-satunya syarat lulus!” terang Muhammad Nuh, saat dijumpai Annida-Online dalam sebuah acara di Jakarta, Ahad (28/3) lalu.

Menurut pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid satu lima tahun lalu ini, ada empat syarat kelulusan siswa antara lain; menyelesaikan seluruh program pembelajaran, memperoleh nilai baik untuk kelompok mata pelajaran akhlak mulia, lulus ujian sekolah, dan lulus ujian nasional.

“Jadi, meskipun seorang siswa lulus dalam UN kalau nggak dinyatakan berakhlak baik di sekolahnya, ya bisa jadi nggak lulus. Atau sebaliknya,” tambah Nuh.

Meskipun UN bukanlah satu-satunya syarat kelulusan siswa, Nuh juga mengakui bahwa itu bukan berarti otoritas kelulusan siswa bisa dipegang sepenuhnya oleh sekolah. “Ya, kita masih memberlakukan sistem UN yang seperti ini. Tapi percayalah semuanya itu tak ada yang sempurna, kalaupun ada kekuarangan dari pelaksanaan UN ini, kita terus mengadakan upaya perbaikan.”

Dari pelaksanaan UN SMA dan sederajat tahun ini yang telah diselenggarakan pada Senin-Jumat (22-26/3) lalu, melalui Posko Pengaduan Kecurangan UN di seluruh kota se-Indonesia, Nuh mengatakan bahwa ada sekitar 800 laporan kecurangan dan pelanggaran yang terjadi hingga Jumat (26/3) lalu. Tapi, Nuh juga tak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa pelaksanaan UN tahun ini dinilai lebih buruk dan gagal.

“Masih terlalu dini untuk bilang UN tahun ini buruk. Laporan-laporan tersebut juga tidak mewakili seluruh kota di Indonesia,” ungkap Nuh yang mengaku belum menindak semua laporan kecurangan dan pelanggaran yang terjadi tersebut.

M. Nuh juga cukup yakin bila UN masih dianggap efektif sebagai model ukur penilaian hasil belajar siswa. Upaya peningkatan pengamanan mulai dari pembuatan soal, mencetak soal di percetakan, hingga distribusi soal, ke depan akan dikawal lebih ketat.

“Tentunya peningkatan pengamanan ini juga akan diimbangi dengan peningkatan kualitas kinerja guru dan fasilitas pendidikan lainnya. Semakin rendah kecurangan dan pelanggaran yang terjadi dalam pelaksanaan UN akan serta merta menunjukkan adanya peningkatan kualitas pendidikan karakter dalam sistem pendidikan kita,” pungkas M. Nuh.  [nyimas]

 

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here