Mendampingi Remaja di Saat Galau

By | April 3, 2018

Judul Buku : No More Galau – Dear Bunda Cuwiy

Penulis      : Achi T.M. & Widuri Al Fath

Penerbit     : Bentang Belia

Cetakan    : Pertama, 2012

Tebal        : xvi + 192 Halaman

 

Maraknya tawuran, aksi gank motor dan meningkatnya penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja, menjadi masalah serius yang harus segera ditangani. Salah satu pemicunya adalah salahnya pergaulan dan minimnya perhatian dan edukasi, baik di lingkungan sekolah, lebih-lebih lingkungan keluarga. Dalam hal ini, pendidik dan orangtua seharusnya lebih proaktif menemani mereka, mengarahkan dan mengawasi agar tidak terjerumus ke dalam tradisi yang serbapermisif itu.

Buku No More Galau – Dear Bunda Cuwiy yang ditulis Achi T.M. dan Widuri Al Fath ini menjadi buku panduan yang sangat menarik, bukan hanya bagi remaja, tapi juga bagi pendidik dan para orangtua. Buku dengan desain double cover ini berisi kiat-kiat ampuh bagaimana mengahalau galau agar tidak menjangkiti para remaja.

Jamak diketahui bahwa, masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju remaja. Di mana pada fase ini remaja cenderung ingin mencoba hal-hal baru yang belum pernah mereka coba. Maka, bisa dikatakan masa-masa ini adalah masa-masa mengkhawatirkan bagi kaum remaja. Terutama jika mereka dibiarkan bebas tanpa kendali oleh orang-orang terdekat mereka.

Achi T.M., dalam buku panduan motivasi yang khusus membahas topik No More Galau ini menguraikan beberapa masalah yang biasa dialami oleh remaja. Masalah-masalah yang seringkali membuat remaja galau ini di antaranya adalah rasa malas. Ya, rasa malas seringkali menghampiri hati para remaja. Mereka akan sangat mudah uring-uringan, bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Maka, menurut penulis, rasa malas itu harus ditendang jauh-jauh. Dan, untuk menendang rasa malas itu butuh proses. Tapi, bukan berarti dengan menunda-nunda niat untuk menghilangkannya. Karena rasa malas jika dibiarkan berlarut-larut akan membuat seseorang tertinggal dari yang lainnya. Maka, penulis menyarankan bagi para remaja untuk menjadi pribadi yang unggul dengan mengubah kemalasan dalam diri mereka (halaman 14).

Perasaan galau lainnya yang biasanya menghinggapi hati remaja adalah ketika mereka merasa terasingkan atau tersisihkan. Untuk mencari solusi dari masalah ini, pertama harus direnungkan; apa orang-orang di sekitar mereka memang pernah menyisihkan dan mengasingkan mereka? Jika jawaban di atas banyak kata ‘tidak’ dan justru menunjukkan bahwa ternyata mereka sendiri yang mengasingkan diri dan menarik diri dari pergaulan, hal itu harus diperbaiki. Para remaja harus hati-hati, jangan sampai jiwa mereka rusak dan benar-benar merasa tidak dianggap. Karena sejatinya manusia hidup itu untuk bersosialisasi, untuk saling mengenal dan bahu-membahu menyebarkan kebaikan (halaman 28).

Ada banyak perasaan galau yang penulis paparkan dalam buku setebal 192 halaman ini. Seperti ketika remaja merasa tidak berguna, rasa resah dan marah, atau, rasa iri hati yang kerap menjangkiti hati para remaja. Semua dikupas oleh penulis dengan bahasa yang ringan, komunikatif, tanpa harus menggurui pembacanya.

Sementara itu, Widuri Al-Fath yang dalam buku ini akrab disapa Bunda Cuwiy, berperan khusus sebagai “pendamping” dan pemberi solusi dalam sesi tanya jawab remaja dalam topik Dear Bunda Cuwiy. Penulis yang aktif di komunitas Rumah Pena dan Forum Diskusi Remaja Teenagers Conseling Center (TCC) ini secara khusus menjawab beberapa pertanyaan remaja dengan berbagai macam permasalahannya. Dari masalah persahabatan, tentang krisis percaya diri, keluarga, hingga masalah cinta yang memang tidak pernah lepas dari kehidupan remaja (halaman 47).

Sesi tanya jawab dalam episode Dear Bunda Cuwiy ini erat berkaitan dengan masalah yang dibahas Achi T.M. dalam No More Galau. Mungkin, inilah alasan kedua penulis ini berkolaborasi dalam satu buku bertema remaja yang dikemas dengan dobble cover dan layout yang unik. Ilustrasi-ilustrasi yang dipakai dalam beberapa topik dalam buku ini juga sangat menarik, sehingga pembaca remaja dijamin tidak akan bosan membacanya.

Selain sebagai panduan pergaulan remaja, buku ini juga sangat cocok dibaca oleh orangtua, guru konseling, atau mentor yang akrab dengan pergaulan remaja. Sehingga, begitu menemukan berbagai masalah yang membuat anak didik galau, mereka bisa menemukan solusi terbaik yang harus dilakukan oleh para anak didik.

Pada bagian terakhir buku ini, penulis memaparkan beberapa solusi dari masalah yang biasa dihadapi remaja. Dari bagaimana seharusnya mendekatkan diri pada Tuhan, menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain, bagaimana seharusnya bersikap bijak menghadapi masa lalu, hingga bagaimana menjadi diri sendiri dan membangun rasa percaya diri demi meraih prestasi. (Untung Wahyudi)

 

*) Tinggal di Sumenep, Madura.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *