Makin Sukses Dengan Kecerdasan Emosi

By | April 3, 2018

 

Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang juga dikenal dengan sebutan “EQ”), dikenalkan melalui pasar dunia. Dinyatakan bahwa kemampuan seseorang untuk mengatasi dan menggunakan emosi secara tepat dalam setiap bentuk interaksi lebih dibutuhkan daripada kecerdasan otak (IQ) seseorang.

Berikut ini contoh nyata bagaimana emosi bisa mengubah segala keterbatasan menjadi hal yang luar biasa….

Seorang miliuner kaya di Amerika Serikat, Donald Trump, adalah contoh apik dalam hal ini. Di tahun 1980 hingga 1990, Trump dikenal sebagai pengusaha real estate yang cukup sukses, dengan kekayaan pribadi yang diperkirakan sebesar satu miliar US dollar.

Dua buku berhasil ditulis pada puncak karirnya, yaitu “The Art of The Deal dan Surviving at the Top”. Namun jalan yang dilalui Trump tidak selalu mulus…

Trump yang sangat tergantung pada bisnis propertinya ini harus menanggung hutang sebesar 900 juta US Dollar! Bahkan Bank Dunia sudah memprediksi kebangkrutannya. Beberapa temannya yang mengalami nasib serupa berpikir bahwa inilah akhir kehidupan mereka, hingga benar-benar mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Di sini kecerdasan emosi Trump benar-benar diuji. Bagaimana tidak, ketika ia mengharap simpati dari mantan istrinya, ia justru diminta memberikan semua harta yang tersisa sebagai ganti rugi perceraian mereka. Orang-orang yang dianggap sebagai teman dekatnya pun pergi meninggalkannya begitu saja. Alasan yang sangat mendukung bagi Trump untuk putus asa dan menyerah pada hidup. Namun itu tidak dilakukannya. Trump justru memandang bahwa ini kesempatan untuk bekerja dan mengubah keadaan. Meski secara finansial ia telah kehilangan segalanya, namun ada “intangible asset” yang tetap dimilikinya. Ya, Trump memiliki pengalaman dan pemahaman bisnis yang kuat, yang jauh lebih berharga dari semua hartanya yang pernah ada!

Apa yang terjadi selanjutnya?

Fantastis, enam bulan kemudian Trump sudah berhasil membuat kesepakatan terbesar dalam sejarah bisnisnya. Tiga tahun –>, Trump mampu mendapat keuntungan sebesar US$3 Milliar. Ia pun berhasil menulis kembali buku terbarunya yang diberi judul “The Art of The Comeback”.

Dalam bukunya ini Trump bercerita bagaimana kebangkrutan yang menimpanya justru menjadikannya lebih bijaksana, kuat dan fokus daripada sebelumnya. Bahkan ia berpikir, jika saja musibah itu tidak terjadi, maka ia tidak akan pernah tahu teman sejatinya dan tidak akan menjadikannya lebih kaya dari yang sebelumnya. Luar biasa bukan?  

Kecerdasan Emosi memberikan seseorang keteguhan untuk bangkit dari kegagalan, juga mendatangkan kekuatan pada seseorang untuk berani menghadapi ketakutan.

Tidak sama halnya seperti kecerdasan otak atau IQ, kecerdasan emosi hadir pada setiap orang dan bisa dikembangkan.

 

Terus, gimana sih cara jitu mengasah kecerdasan emosi? Berikut sedikit pemaparan tentang ketrampilan dalam mengasah dan meningkatkan kecerdasan emosi:

1. Kenali emosi diri

Untuk mengenali emosi diri sendiri, coba identifikasi apa yang sesungguhnya kita rasakan. Setiap kali emosi tertentu muncul dalam pikiran,kita harus dapat menangkap pesan apa yang ingin disampaikan. Berikut adalah beberapa contoh pesan dari emosi: takut, sakit hati, marah, frustasi, kecewa, rasa bersalah, dan kesepian.

2. Lepaskan emosi negatif

Pahami dampak emosi negatif terhadap diri sendiri. Misalnya jika kita mudah marah dan frustasi dapat merusak hubungan dengan teman. Jika stres,kita tidak dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Karena itu jika tengah emosi karena suatu masalah, tahan keinginan untuk marah, buang emosi agar jangan sampai meledak. Sehingga orang-orang tidak akan terkena dampak negatif dari emosi negatif kita. Tenangkan diri kemudian cari solusi dalam keadaan yang lebih nyaman.

3. Kelola emosi

Saat berbagai emosi melanda pikiran, cobalah kendalikan ia. Usahakan agar emosi tidak membuat kita melakukan tindakan destruktif. Kemudian ketahuilah pesan yang disampaikan emosi dan yakinkan bahwa kita mampu menangani segala macam persoalan yang akan dihadapi. Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi karena hasilnya tidak akan obyektif. Ingat Sob, kemampuan mengelola emosi merupakan bentuk pengendalian diri yang paling penting dalam manajemen diri. Karena sesungguhnya kitalah yang harus mengendalikan emosi bukan sebaliknya.

 

4. Motivasi diri sendiri

Dengan pengendalian emosi yang baik, kita dapat memotivasi diri dalam melakukan sesuatu. Dengan motivasi diri akan memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang bisa memotivasi dirinya sendiri cenderung lebih produktif dan efektif setiap mengejakan apapun.

5. Kenali emosi orang lain

Bukan cuma memahami dan mengenali emosi sendiri, kita juga harus mengenali emosi orang lain. Dengan demikian kita akan mudah memahami orang lain. Karena memiliki empati terhadap apa yang dirasakan orang lain, ketrampilan ini membuat kita lebih efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain di sekeliling kita.

6. Kelola emosi orang lain

Semua hubungan sebagian besar dbangun atas dasar emosi yang muncul dari interaksi antar manusia. Ketrampilan mengelola emosi orang lain merupakan kemampuan yang hebat jika kita dapat mengoptimalkannya. Semakin tinggi kemampuan kita mengelola emosi orang lain semakin mudah pula untuk bekerja sama membangun kesuksesan.

7. Memotivasi orang lain

Ketrampilan memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari ketrampilan mengenali dan mengelola emosi orang lain. Ketrampilan ini merupakan bentuk lain dari kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan menginspirasi, mempengaruhi, dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan membangun kerjasama tim yang tangguh dan andal.

Jangan lupa juga Sob, manusia merupakan mahluk emosional. Jika kita dapat meningkatkan kecerdasan emosi, akan mudah untuk mencapai tujuan hidup. Bagi yang sudah memiliki kecerdasan intelegensia, lengkapi kecerdasan itu dengan kecerdasan emosi sehingga jalan untuk menuju sukses pun semakin mulus. Percaya deh! 

 

*sumber: mix dari situs www.anneahira.com dan http://korannias.wordpress.com/
*gambar: Google 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *