LIKA-LIKU KULI TINTA (part 2)

0
32

Penulis: Sam Edy

 

Semenjak kemunculan cerpen perdanaku di koran lokal tersebut, aku makin getol mencari ide untuk kutorehkan menjadi sebuah karya. Browsing internet, nyambangin perpus daerah, perpus kampus, taman bacaan, nonton berita pagi. Bahkan berita gosip para artis dan jeda iklan pun kerap memberikan inspirasi bagi tulisan-tulisanku –>. Eiits! Tunggu dulu… tapi bukan berarti aku gemar menonton acara gosip lho, jangan salah tafsir. Kebetulan saja, pas pencet remote pindah saluran, ternyata lagi menayangkan acara yang menjadi ajang adu popularitas para selebritas itu.

Seminggu, dua minggu, tiga minggu berlalu. Kutunggu dengan penuh kesetiaan kedatangan honor cerpen pertamaku. Tentu, sembari menunggu, aku tetap berusaha menorehkan karya. Masing terngiang gamblang saat seorang penulis senior memberi wejangan kepada para penulis pemula, agar supaya terus menghasilkan karya-karya terbaru sembari menanti dimuat atau tidaknya karya-karya yang sebelumnya telah kita kirimkan ke berbagai media. Karena jika kita hanya sedikit berkarya, lalu duduk melamun tanpa mencipta ide-ide kreatif, maka akibatnya kita akan mudah ngedrop diserbu rasa kecewa dan kehilangan asa saat melihat kenyataan pahit; tulisan kita lagi-lagi tak layak muat.

Bukan hal mudah memang menunaikan omongan para penulis gaek itu. Butuh perjuangan ekstra luar biasa sabarnya melawan hawa nafsu kemalasan yang jika selalu dituruti akan membuat kita jadi penulis statis. Persis seperti pungguk merindu sang rembulan. Kepingin tulisannya lekas dimuat, tapi tanpa mau mengiringinya dengan berusaha meningkatkan jam terbang makan ‘batu’nya. Ee…eehh, ‘batu’ itu hanya istilah saja lho, maksudnya; ‘baca-tulis’, he-he-he.

Merasa jemu menunggu, setelah dua bulan tak ada kabar, akhirnya kutelepon saja kantor redaksi koran lokal yang memuat cerpen perdanaku.

“Ya, selamat pagi, dengan siapa, ya? Ada yang bisa saya bantu?” suara lembut perempuan di ujung telepon langsung menyapa lembut nan ramah begitu telepon sudah tersambung.

“Ee.. ini dari Aldi Sulistio, Mbak. Saya mau tanya, kalau cerpen kita dimuat, ada honornya nggak, ya?” sengaja aku berbasa-basi dulu.

“Oh, ada Mas, tapi untuk honor cerpen kecil. Dan semua jenis tulisan yang dimuat, pasti ada honornya,” balasnya ramah.

“Begini, Mbak. Dua bulan yang lalu cerpen saya berjudul “Wanita Perkasa” telah dimuat, tapi kok sampai sekarang belum sampai honornya, ya?” terangku langsung pada pokok permasalahan.

“Waduh, tapi maaf Mas, kebetulan Mbak Hana, bagian keuangan yang nanganin masalah honor penulis, belum datang. Coba nanti sekitar dua jam, Mas telepon lagi,” katanya masih dengan nada yang sama, namun cukup sukses menyihir air mukaku beriak kecewa.

“Oh, gitu ya, Mbak. Ya, udah, nanti saya telpon lagi, makasih ya, Mbak,”

Huh! Gondok bukan main rasanya. Aah! Ngapain juga tadi aku pakai kasih ucapan terima kasih segala. What for?

Dua jam berlalu, aku pun tak sabar untuk segera menelepon kembali kantor redaksi tersebut.

Maaf Mas, Mbak Hana lagi meeting, coba besok hubungi lagi ya,” seluruh tubuhku rasanya lemas kehilangan tenaga usai mendengar penjelasan Mbak di seberang sana.

Dan besoknya, aku pun menelepon lagi.

Iya, ini dengan saya sendiri, ada yang bisa saya bantu?” balasnya saat kuminta disambungkan dengan Mbak Hana, bagian keuangan redaksi tersebut.

Tanpa berbasa-basi lagi, segera kuutarakan maksudku. Lalu…

Oh, kalau masalah honor harus diambil sendiri, Mas, ke kantor redaksi dengan membawa fotokopi KTP dan bukti tanggal pemuatan cerpennya,” jelasnya pelan dan anteng sekali.

What? Diambil sendiri? Yang bener saja? Katanya honornya nggak banyak. Kalau diambil sendiri, habis dong duit buat biaya perjalanan ke kantor redaksi yang berada di luar kota itu? Batinku heran baur geram dengar penjelasannya. Masa honor diambil sendiri? Kecuali masih dalam satu kota, itu wajar. Sementara posisiku berada di luar kota redaksi tersebut. Tiga jam perjalanan baru bisa sampai lokasi, belum kalau jalanan tiba-tiba macet gara-gara si Komo lewat. Ugh!

Lha, terus bagaimana nasib para penulis yang berdomisili di Jakarta, Bandung, Surabaya dan luar Jawa? Apa ya harus ngambil sendiri, begitu? Setahuku dari beberapa teman-teman yang tulisannya sudah sering dimuat di berbagai media, honornya pasti langsung dikirim via wesel pos atau rekening. Batinku dijejali ribuan kata protes yang hanya mengendap beku tanpa bisa tersalurkan.

“Tapi, saya jauh, Mbak, di luar kota. Masa suruh ngambil sendiri,” kataku kemudian.

“Begini saja, Mas. Coba nanti Mas kirim fax ke kami, sekalian lampirkan foto kopi KTP, bukti pemuatan cerpennya sekalian nomor rekening,” terangnya.

Heran. Bukankah sewaktu aku mengirim cerpen itu sudah kulampiri bio data lengkap dengan scan KTP-nya? Ah, redaksi macam apa kayak begini? Benar-benar tak profesional. Tapi, aku malas mendebatnya. Aku teringat pulsaku yang nyaris mendekati sekarat-mati.

“Tapi, saya belum punya nomor rekening, kalau data diri berikut KTPnya dikirim via email saja gimana, Mbak,” lanjutku.

“Nggak bisa, Mas,”

“Via Pos?” tawarku.

“Mmm, via pos bisa,”

Ya udah, via pos saja ya, Mbak. Trus ntar kirim honornya juga pakai wesel pos aja gimana, Mbak,”

Iya, bisa kok,”

“Ya, sudah kalau gitu. Makasih, Mbak,”

“Ya, selamat siang,” aku menutup telepon dengan memendam kesal yang menggumpal. Aku teringat pulsaku. Buru-buru ku-cek data transaksi telepon. Ternyata habis lima ribu tujuh ratus rupiah. Total dengan yang kemarin berarti sebelas ribu enam ratus lima puluh rupiah. Tentu bukan jumlah sedikit untuk kapasitas penulis yang baru merintis dunia tulis menulis. Tapi, tak apalah, namanya juga usaha. Batinku mereda-redakan kegondokan yang masih terus nyantol dalam relung dadaku.


*

Sepuluh hari berlalu, setelah kukirim via surat pos kilat, mengkomplain honor cerpenku. Seorang perangkat desa berseragam coklat muda datang ke rumah, menyuruhku mengambil surat wesel di balai desa. Hmm, langsung kutebak, pasti dari koran lokal yang memuat cerpenku. Kata perangkat tersebut, benar memang dari koran lokal yang telah memuat karyaku, jumlahnya…. taraaaa! 40 ribu rupiah. Sempat tercengang sih, masa tulisan yang telah dibuat dengan susah payah cuma dihargai segitu? Tapi, tak apalah, maklum koran lokal. Toh pemuatan cerpen perdanaku lebih berharga dari honor itu, batinku. Apalagi ini cerpen perdana, sudah dimuat saja, bahagianya tak terwakili kata-kata.

Dan segera kutepis suara hatiku yang nyerocos menyuarakan ketidak-imbangan jumlah honor tersebut dengan perasan keringat serta isi otakku. Ya, walau tidak banyak, tapi aku tetap bersyukur. Aku lantas segera mengingatkan diriku sendiri, kembali meluruskan niat awalku saat memutuskan terjun ke dunia tulis-menulis. Salah satunya adalah ingin berdakwah lewat tulisan. Mencari ridho Allah. Aku akan berusaha menyampaikan pencerahan positif lewat karya-karyaku, khususnya cerpen.

Selain itu, aku juga tak mau terjebak oleh ucap ngawur yang disampaikan sebagian sastrawan kondang. Mereka punya anggapan bahwa dalam membuat karya sastra itu mestinya bisa sebebasnya berekspresi. Harus pandai bersilat kata dengan diksi-diksi penuh pukau yang terkadang sulit dimengerti—harus nyastra—tanpa ada sekat adat dan norma agama yang ikut andil di dalamnya.

Ah! Justru kalo menurutku itu keliru besar. Segala sesuatu yang kita lakukan, termasuk menorehkan sebuah karya, mestinya harus tetap bertendensikan agama, agar tak kebablasan dan menyebabkan karya kita hanya berakhir seperti sampah, tak ada nilai pencerah serta output yang bermanfaat bagi orang lain saat membaca karya kita nanti.

        Hmm, sangat disayangkan jika kita telah bersusah payah memerih mata di depan layar monitor, tapi karya-karya kita sama sekali tak membekaskan manfaat sama sekali. Parahnya, jika karya kita malah menimbulkan efek negatif bagi pembaca, seperti beberapa kali saya baca cerpen-cerpen yang ditulis sastrawan ternama yang isi tulisannya sungguh berisi kata-kata cabul dan mengajak kita bergaul bebas tanpa batas dengan lawan jenis. Ironisnya, karya tersebut dinobatkan sebagai karya terbaik dan meraih double penghargaan dari “jagat dunia persastraan”.

      Gegas kulajukan motor menuju kantor pos yang berjarak 7 kilometer dari rumahku untuk mencairkan weselku. Sesampai di sana, dengan senyum dikulum tak habis-habis, kusorongkan kertas putih yang telah terlebih dulu di-stempel sekaligus ditanda-tangani oleh bapak kepala desa dan juga tanda tanganku sendiri.

      “Maaf, Mas, untuk pengambilan wesel diundur besok Senin,” kata bapak berkumis tebal, petugas kantor pos itu, dengan senyum termanis namun berasa memuakkan.

      “Lho, memang kenapa, Pak?” jidatku mengkerut heran. Waduh, kalau benar diundur berarti harus nunggu dua hari lagi, dong. Ini kan Sabtu.

      “Persediaan duitnya sedang habis, Mas,” jawabnya masih dengan senyum memuakkan seperti tadi. Haa? Habis? Masa kantor pos bisa kehabisan uang, sih. Yang bener aja. Aku mendesah kesal. Akhirnya, tak banyak cing-cong lagi, aku pulang dengan menimbun setumpuk rasa kecewa dalam dada.

Dua hari berlalu. Aku balik lagi ke kantor pos untuk mengambil wesel itu. Setelah cair, aku lekas pulang dengan raut riang. Kupandang-pandang dan kuciumi berulang, uang lusuh sepuluh ribuan dua lembar dan lima ribuan—pun tak kalah lusuhnya—empat lembar begitu aku masuk kamar. Benar-benar tragis nasibku, honor perdanaku yang—alhamdulillah—tak seberapa, berupa lembaran-lembaran lusuh dan kumal seperti ini.

“Bu, ini ada sedikit rezeki sekedar buat bayar listrik,” kuangsurkan sepuluh ribuan satu lembar dan lima ribuan satu lembar ke arah ibu yang sedang menanak nasi di dapur.

“Tumben, honor tulisannya udah diambil, Di?” ibu menatapku sekilas, lalu kembali mengaduk-aduk nasi liwet yang baru setengah matang.

“Iya, Bu.”

“Dihargai berapa tulisanmu kemarin,”

“Empat puluh ribu,”

Ibuku tersenyum tipis….

“Makanya, enakan jadi PNS, gajinya gede, kerjanya ringan. Tuh contoh Mbakmu,” tak kusangka jawaban ibu di luar dugaku.

Ringan, ibu bilang? Bukan sebaliknya? Para PNS, khususnya guru, punya tanggung jawab cukup besar bagi perkembangan moral dan intelektualitas para peserta didiknya.

“Mbak Iren kan masih GTT, Bu,” aku mencoba membela diri.

“Iya, tapi kan bentar lagi diangkat,” tiba-tiba Mbak Iren nongol, keluar dari kamarnya. (Bersambung)

 

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here