Layangan Dullah

0
37

Sore yang masih saja terik. Dullah, seorang
bocah berusia lima tahun tertawa riang di area rel kereta. Anak-anak, remaja,
dewasa, pun orang tua hiruk dengan kegiatan mereka. Rel kereta di daerah
Pademangan – Jakarta itu telah beralih fungsi, bak lapangan tempat memainkan
layangan, bak pasar tempat menjajakan dagangan, bak cafe tempat nongkrong sembari ngopi
dan rokok-an, bak TPA, tempat
membuang sampah  hingga tercipta
gunungan-gunungan menjijikkan di sisi kiri dan kanan. Diantara dua rel kereta
terdapat dua deret kasur usang berwarna kecokelatan, kasur itulah yang dialih
fungsikan menjadi cafe, tak jarang
kasur itu dipakai tiduran, bahkan tidur betulan. Ah, rel kereta bau itu memang
menjijikkan tapi penuhkehangatan. Satu-satunya tempat bercengkerama gerombolan
orang-orang melarat, melupakan sejenak keluh hidup yang menjerat.

            Si
kecil Dullah masih terus tersenyum, dengan binar ia memandang layangan yang
membumbung. Ia membayangkan, jika punya layangan ia akan menerbangkannya paling
tinggi. Tinggi sekali hingga tetangga pada bersorak sorai. Ibu dan ayahnya akan
bangga, hingga ia tak akan pernah dimarahi lagi, dan ibu pasti mau membelikanya
gula-gula setiap hari. Harapan yang begitu lagu. Dullah membayangkan sambil
senyum-senyum. Dullah menerawang layangan-layangan yang tersangkut pada kabel
di atas rel, ingin rasanya ia raih sebuah. Namun apa daya tangan tak sampai.
Menjelang magrib ia pulang, rumahnya nyempil
di pinggiran rel, sangat minimalis, hanya terdapat kasur, sebuah TV, dapur dan
kamar mandi seadanya. Ayah dan Ibu Dullah asli orang Jawa, ayahnya dari Ngawi
dan ibunya dari Klaten, mereka bertemu di perantauan saat sama-sama jadi babu,
mereka saling jatuh cinta. Menikah dan memutuskan untuk hidup mandiri. Mbangun usaha sendiri. Ah, merantau di
Jakarta ternyata tak membuat kehidupan jadi lebih baik.

Ayah Dullah
seorang tukang becak, dan ibunya penjual gorengan. Ibu sedang memasak saat
Dullah tiba di rumah. “Bu, belikan Dullah Layangan?” rengeknya sembari
menarik-narik ujung daster ibunya.

          “Dullah!
Ibu masih sibuk, main dulu sana!”

          “Layangan,
layangan, layangan.” Dullah menangis, masih sambil menarik-narik ujung daster
ibunya.

“Dullah, jangan
ganggu ibu, ibu masih masak.” Tangis Dullah malah semakin kencang.

          “Anak
nakal …,” telinga Dullah dijewer. Ia ditarik ke kasur.

          “Diam
di sini! Jangan ganggu ibu!” Dullah pun terus menangis hingga ia tertidur.

          Keesokan
harinya, pagi-pagi sekali, Dullah duduk manis di bantalan rel kereta, sesekali
ia menyingkir saat ada kereta yang melintas. Lalu dengan cepat duduk manis
lagi. Ia sedang menunggu. Menunggu layangan. Siang menjelang sore anak-anak
berduyun membawa layangan masing-masing, lantas berlomba-lomba
membumbungkannya. Dullah senang bukan kepalang, matanya  berbinar. Tak henti ia memandangi
layang-layang yang terbang. Sepulang dari rel, ia merengek lagi. Begitu
seterusnya, hingga seminggu berlalu Dullah masih terus saja rewel. Ibunya yang
kesal menumpahkan amarah pada suaminya.

          “Mas,
belikan anakmu layangan! Aku sudah lelah mendengar rengeknya setiap hari!”

          “Buat
apa? Dullah masih kecil, dia gak bakal bisa menerbangkannya.”

          “Mas!
Aku pusing dengerin Dullah nangis tiap hari, apa kita segitu miskinnya sampe
beli layangan buat anak aja gak mampu?” ayah Dullah masih santai menonton TV.

          “Mas!
Mas kerja sampe tengah malem, gak jelas apa yang mas kerjakan di luar sana,
tapi hidup kita tetep gini-gini aja. Uang yang mas kasih buat belanja cuma 50
ribu per hari, buat beli bahan gorengan juga itu gak cukup, Mas!”

          “Mas
kerja keras, mempertaruhkan hidup dan mati itu juga buat kamu sama Dullah!”

          “Nggedabrus! Aku gak mau tahu, Mas. Aku
gak mau di ganggu rengekan Dullah setiap sore. Titik!”

          “Iya,
Mas janji akan mengurus Dullah setiap sore, agar kamu gak terganggu rengekan
anakmu itu,” jawab suaminya tak kalah ketus.

Setelah istrinya terlelap, ayah Dullah
mengambil kresek hitam dari tas lusuhnya, membuka lantas mengeluarkan
lembaran-lembaran uang lecek. Diam-diam ayah Dullah menabung, ia bertekad akan
menyekolahkan Dullah sampai tinggi, agar kelak anaknya tak bernasib sama
sepertinya. Karena itu berapapun uang yang ia dapat hanya 50 ribu yang ia
berikan pada istrinya, sisanya ia tabung untuk Dullah, tahun ini Dullah harus
masuk TK. Biaya sekolah di Jakarta mahal, ayah Dullah sudah kehabisan akal
bagaimana cara mendapatkan uang. Akhirnya nyopet ia jadikan pekerjaan sampingan
selain menarik becak, demi mimpinya
menyekolahkan Dullah dapat terwujud. Setiap sore setelah narik becak, ayah
Dullah pergi ke pasar, tempat wisata atau di manapun agar ia bisa melancarkan
aksinya.

          Sore
itu Dullah kembali duduk manis di rel kereta, Ayah Dullah yang kepalang janji
pada istrinya menghampiri Dullah dan mengajaknya pulang. Dullah menggeleng.
“Ayah ajak jalan-jalan?” Dahi Dullah berkerut, mengalihkan pandangan pada
layangan yang membumbung, memandang ayahnya lagi. “Dullah mau lihat layangan
saja.”

“Kalau Dullah mau
ikut ayah, nanti ayah belikan layangan.”Dullah mengangguk, digendongnya ia di
pinggang. “Kemana, Yah?”

“Kita
jalan-jalan ke Monas, tapi Dullah harus janji tidak rewel minta ini itu.” Lagi-lagi
Dullah hanya mengangguk.

Sampailah mereka
di Monas yang ramai, Dullah hanya diam di gendongan. Dalam bayangannya sudah
berkelebat layangan yang membumbun 
tinggi di udara. Ia hanya terdiam, sementara ayahnya mengambil beberapa
dompet dari saku orang yang hiruk pikuk berwisata. Jam 8 malam mereka kembali,
duduk di atas rel kereta, menghitung beberapa lembaran uang lalu memasukkannya
ke kresek hitam.

“Kenapa ayah
ambil uang dari dompet orang?”

“Ayah pinjam,
supaya ayah bisa membelikanmu layangan berbentuk Rajawali.”

Demi mendengar itu, senyum di bibir
Dullah mengembang. “Janji ya, Yah!” ucap Dullah dengan mata berbinar. Malam itu
Dullah terlelap dengan senyuman, sementara ayahnya kebingungan, dua bulan lagi
ia harus mendaftarkan Dullah masuk sekolah, sementara uang yang ia tabung belum
cukup untuk membayar semua biaya.

          Lagi-lagi
dari pagi Dullah sudah berada di rel kereta, ia bercerita pada teman-teman
sebayanya bahwa ia akan dibelikan layangan berbentuk rajawali oleh ayahnya.
Teman-teman berdecak kagum. Sorenya ia kembali ikut ayahnya nyopet di pasar, angkot dan kawasan
ramai lainnya.

          “Dullah,
sebentar lagi kau akan masuk TK, apa kau senang?”

          “Dullah
senang,” jawabnya.

          “Anak
pintar,” ucap ayah Dullah sembari mengelus kepala anaknya. “jadilah anak baik!
Sekolah yang pintar!”

          “Dullah
mengangguk, “Ayah, kapan kita beli layangan rajawali?”

          “Sabar
ya, Le! Ayah belum sempat beli.” Dullah hanya mengagguk.

Begitu seterusnya selama seminggu,
teman-teman Dullah mulai mempertanyakan layangan berbentuk rajawali. Dullah
mulai jengah, ia mulai di olok-olok pembohong. Dullah jengkel, Dullah marah.

          Malam
itu hujan mengguyur Jakarta, bukan aroma segar tanah sehabis hujan yang menguar.
Namun bau sampah busuk dan selokan mampat yang mengernyit. Dullah sudah
terlelap, ayahnya mengecup kening Dullah lantas berbisik, “Besok ayah belikan
layangan berbentuk Rajawali.” 
Keesokannya, seperti pagi-pagi sebelumnya. Dullah duduk manis di rel
Kereta Api. Namun hingga sore tak ada satupun anak-anak yang bermain layangan.
Karena hujan semalam tak ada angin yang berembus hari ini. Dullah sedih,
layangan rajawali terus mengiang di kepalanya. Ia pun bangkit, berjalan tanpa
tujuan. Ia melewati pasar yang ramai, ia melihat berderet-deret kios, mulai
dari kios baju, buah, alat elektronik, juga kios mainan. Di kios mainan itulah
terpajang indah berbagai bentuk layangan, layangan rajawali berwarna biru tua
membuat Dullah terpana, ia melangkah ke kios mainan, penjual sedang sibuk
melayani pelanggan. Ia melihat kanan-kiri persis seperti yang biasa ayahnya
lakukan. Tak ada orang yang melihat, diam-diam ia mengambil sebuah. Ia pun
berlari. Penjual yang menyadari Dullah telah mencuri berteriak, “Maling!
Maling!” Dullah yang ketakutan berlari sangat kencang. Ia peluk layangannya
erat. Hingga saat ia menyeberang jalan sebuah mobil hitam menabraknya. Dullah
terkapar, masih dengan layangan dalam pelukan. Orang-orang di pasar
mengerumuninya, bisik-bisik timbul tenggelam. “Masih kecil udah berani maling.”
Celoteh salah satu di antara mereka. “Iya ya kecil-kecil kok maling.” Timpal
seorang lainnya.

          Sementara
ayah Dullah mengayuh becaknya dengan gembira, ia pulang cepat hari ini.
Layangan berbentuk rajawali bertengger dengan megah di kursi becaknya.

 

Pademangan-Malang, 2015

Tentang Penulis:

Zahra Annisa, mantan mahasiswa fisika
yang suka sastra. Senang sekali jika bisa bertegur sapa,
FB: Zha, Email: [email protected](dot)com.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here