Iklan Sekolah Gratis Membodohi Masyarakat

By | April 4, 2018

Annida-Online–Sejak
tiga bulan terakhir, iklan Sekolah Gratis marak ditayangkan di sejumlah
stasiun teve. Sosok Bu Mus—ikon guru yang terkenal lewat tetralogi dan
film Laskar Pelangi—yang sukses diperankan oleh Cut Mini, didaulat untuk mengampanyekan iklan berdurasi 3 menit tersebut.

“Sayangnya, iklan itu tak menjelaskan apa-apa pada masyarakat,” kata Utomo Dananjaya kepada Annida-Online, di Jakarta (11/5).

Menurut Direktur
Intitute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina ini, bukan
saja esensi iklan yang tidak menjelaskan konsep dari sekolah gratis
yang ingin dicanangkan pemerintah, iklan tersebut juga jelas-jelas
membodohi masyarakat. Kalau diperhatikan baik-baik, di akhir iklan
tersebut kita akan menemukan tulisan berbunyi “kecuali SBI (Sekolah
Bertaraf Internasional)”. Artinya, jelas Utomo, pemerintah masih
setengah-setengah menjalankan niatnya memberikan layanan pendidikan
yang berkualitas bagi rakyatnya.

“Bedakan sekolah gratis dengan
pendidikan gratis! Pendidikan itu mahal, tidak ada yang murah.
Karenanya, pendidikan tidak bisa diserahkan kepada swasta.
Pemerintahlah yang punya tanggung jawab ini. Nah, pemerintah uangnya
dari mana? Ya dari pungutan pajak yang dibayarkan rakyatnya dong,”
lanjut Utomo.

Utomo, yang menulis tentang sekolah gratis dalam bukunya, Sekolah Gratis,
juga menilai bahwa kata-kata “kecuali” dalam iklan sekolah gratis
adalah bukti bahwa pemerintah sejak awal tidak sedang mengupayakan
perbaikan kualitas pendidikan bagi rakyatnya. Jika sekolah bertaraf
internasional yang dimaksud adalah milik swasta, tak menjadi soal.
Masalahnya, kata Utomo, sekolah negeri milik pemerintah juga sudah
banyak yang berlabel SBI, telah disubsidi pula. Bayangkan bila yang
lolos masuk SBI ini adalah peserta didik dari kalangan ekonomi menengah
bawah. Bukankah ini akan menyulitkan anak-anak dari keluarga miskin
untuk mencicipi pendidikan yang berkualitas, mengingat biaya sekolah
bertaraf internasional yang tidak murah?

So, saya
curiga ini adalah iklan politik. Entah menterinya yang ingin dipilih
kembali dalam jajaran kabinet mendatang, entah presidennya yang tengah
menebar janji pemilu,” tandas Utomo.

Lebih dari itu,
kecurigaan Utomo didasari oleh sikap pemerintah, dalam hal ini Menteri
Pendidikan Nasional, yang inkonsisten dalam mengusung isu sekolah
gratis. Sejak tahun 2003 lalu, pemerintah selalu menolak menjalankan
amanah UUD 1945 pasal 31 ayat 2, yang menyiratkan kewajiban pemerintah
menyelenggarakan sekolah gratis bagi rakyatnya.

“Bila saat ini mereka tiba-tiba “luluh” padahal dulunya alot banget,
kita jadi bertanya-tanya, ada apa ini?” pungkas Utomo, yang tetap
berharap bahwa sekolah gratis di Indonesia bukanlah hal yang utopis
untuk diwujudkan. [nyimas]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *