GHIBAH ROMLAH

By | April 3, 2018

Penulis: W. Lujeng

Hari berlalu bersama dusunku. Dusun tempat aku lahir dan tumbuh besar. Hari ini ialah hari terakhirku di sini. Karena aku harus kembali ke Jakarta mencari nafkah sebagai kuli toko kain di pasar Senen. Tepatnya melayani pembeli atau mengambil barang stok di gudang saat toko sedang ramai. Maka tak kusia-siakan waktu yang sebentar ini. Kugunakan sepuas-puasnya untuk menghirup aroma pedesaan yang nantinya tak kudapatkan di ibu kota. 

Selepas dzuhur, aku duduk di dipan bambu yang ada di bawah pohon mangga sebelah rumah Kaji Soleh, tetanggaku. Yang tak jauh dari warung sembako, tempat biasa Ibu-ibu berkerumun. Bersama angin yang berembus mengabarkan kesejukan, matahari melewati celah dedaunan berjingkrak dengan teriknya membasahi tubuhku.

“Dia hamil bukan karena suaminya,” kata salah seorang di antara Ibu-ibu yang sedang memilih belanjaan, saat Romlah berlalu dari warung. Warung ini hanya berjarak lima meteran saja dari aku duduk. Jelas sekali terdengar di telingaku. Menusuk tajam.

“Jangan berburuk sangka, Bu!” timpal Ibu Sanah, pemilik warung agak bijak sambil menimbang beras dengan neraca tua pesanan Ibu yang tadi mulai mengghibah Romlah.

“Ya, bagaimana tidak, suaminya kan sudah satu tahun tidak pulang! Apa iya dia seperti Maryam yang hamil tanpa suami?” komentar Ibu di dekat pintu warung.

Segenggam tanya akibat sesak menusuk pendengaranku. Menyelimuti dada. Rasa tak percaya menyatu pada keingintahuan. Sebenarnya aku dengar kabar ini bukan kali ini saja. Setibanya aku dari Jakarta seminggu yang lalu, sampai sekarang mungkin sudah aku dengar empat atau lima kali berita itu. Rasa sungkan saja yang membuat aku belum menanyakan langsung pada Romlah.

Masih terekam jelas dalam memori, ketika aku dan Romlah mengajar TPA di musholla untuk anak-anak sekitar rumah. Tapi itu enam tahun yang lalu. Ketika aku masih duduk di bangku kelas tiga MTs., sementara Romlah di bangku kelas satu. Dia begitu bersemangat dengan senyumnya yang manis dan tawanya yang renyah.. Bahkan bila anak-anak TPA membuat keributan, dia tetap sabar mengajak mereka untuk kembali duduk tenang. Senyum manis dan sikap sabarnya mampu menyihir anak-anak berlama-lama duduk manis di TPA. Tak ketinggalan, hatiku pun tersihir olehnya.

Di usianya yang ke-dua puluh, Romlah kini telah memiliki dua orang anak. Ia menikah di usia tujuh belas tahun. Ya, tiga tahun menikah, sudah dapat dua anak. Sedangkan aku, sampai kini masih berstatus bujangan.

Kini Romlah dikabarkan sedang hamil bukan karena suaminya. Memang tidak ada yang lain, setiap ada gerombolan Ibu-ibu, pasti tak pernah ketinggalan mengghibahi Romlah.

 Dengan perasaan yang kutahan, marah dan jengkel, atau tepatnya tidak terima Romlah jadi gunjingan, kini aku nekad diam-diam bergegas ke rumah Romlah. Rumah yang terletak paling pinggir di dusun kami dan menghadap ke arah barat. Romlah tinggal bersama kedua anaknya dan Bapaknya yang telah lumpuh akhibat stroke. Emaknya meninggal saat Romlah masih kecil. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari mereka, Romlah menjadi pembantu di rumah seorang juragan kayu. Pekerjaan itu ia lakoni sejak ditinggal Tafa, suaminya, yang kabur entah kemana setahun yang lalu.

 Letak rumah Romlah dari warung Ibu Sanah mungkin berjarak hanya lima puluh meteran saja. Di depan rumahnya terhampar pekarangan kosong milik Kaji Soleh, yang kadang dijadikan tempat bermain bola atau kelereng oleh anak-anak kecil di dusun kami. Kuketok pintu sembari memberi salam dan celingak-celinguk kanan-kiri.

“Wa’alaikumussalam,” jawab seseorang dari dalam rumah.

Pintu terbuka. Romlah membuka pintu sedikit, melongok bersama dua bocah laki-laki. Satu dalam gendongan, satu lagi berdiri di samping Romlah.

“Lho, Mas Ahmad… tidak kesasar kan, Mas?” lanjut Romlah tersenyum menyindir.

“Tidak lah…,” jawabku tersenyum kaku.

“Oya Mas, ada perlu apa? Silakan masuk,” lanjut Romlah sambil mundur menarik pintu. Membuat pintu terbuka lebar.

“Terima kasih, Lah,” jawabku singkat sambil buru-buru melangkah masuk menuju kursi yang terbuat dari bambu. Takut ada tetangga lewat dan jadi fitnah.

Rumah ini masih tidak berbeda dengan dulu. Satu meja, dua kursi menghadap barat, dua kursi menghadap timur, dan satu lagi menghadap selatan. Kupilih tempat duduk favoritku dulu ketika aku sering main ke rumah ini. Kursi yang menghadap selatan. Sementara Romlah, seperti dulu pula. Setelah dari belakang membawa minuman, ia duduk menghadap barat

“Silakan, Mas, minumnya. Maaf cuma ada air putih saja.”

“Iya, nggak apa-apa,” jawabku basa-basi.

Kami pun saling menanyakan kabar. Walaupun aku sudah seminggu balik ke dusun ini, tapi kami jarang sekali saling sapa semenjak Romlah menikah. Seperti ada rasa sungkan dilihat orang.

“Lah, katanya Tafa jarang pulang, ya?” tanyaku memulai niat mengarah pada kabar tentang gunjang ganjing dusun.

“Iya Mas, mungkin Mas Tafa sedang sibuk,” gumamnya. Tampak seulas senyum kecut di pipinya.

“Tapi suka kasih kabar nggak, Lah?” aku meneruskan. Dia mengangkat muka menegok padaku dan tersenyum.

“Mas Ahmad ke sini hanya mau menanyakan Mas Tafa saja, ya?”  jawabnya. Wajahnya seperti tak suka mendapat pertanyaan ini. Aku menarik nafas pelan.

“Sebenarnya begini, Lah. Tadi waktu kamu pulang dari warung, Ibu-ibu pada sibuk ngomongin kamu. Kata mereka kamu sedang hamil. Padahal kata mereka Tafa sudah satu tahun tidak pulang,” kususun kata-kataku sehalus mungkin untuk menjaga perasaannya. Sejujurnya aku juga malu menayakan ini.

“Maaf aku lancang menanyakan hal ini. Jujur aku tak suka mendengarnya. Makanya, dari pada jadi fitnah, kan, lebih baik aku tanyakan langsung ke kamu,” tambahku sambil mengubah posisi duduk agar lebih santai.

“Oooh, itu?”

“Jadii..?”

“Jadi apa, Mas?” jawab Romlah.

“Maksudku, berita itu benar atau tidak, Lah? Kamu tidak sedang hamil, kan?” kutekankan pertanyaan terakhir dengan suara agak pelan. Sangat berharap ia menjawab tidak.

Romlah tersenyum menunduk. Senyum yang dulu sering kutangkap sebagai senyum yang lain. Namun, sekarang senyum itu hampa tanpa arti. Atau mungkin aku yang kurang peka mengartikan senyumnya sekarang ini?

“Lah, apakah semua yang kudengar itu benar? Kamu selingkuh dengan Pak Yasim?” kejarku lagi.

Kini Romlah  nampak kaget dengan pertanyaanku barusan. Ia menunduk. Pertanyaan inimeluncur entah karena aku masih ada rasa atau hanya menuntaskan rasa penasaranku saja. Tak tahulah.

“Selingkuh dengan Pak Yasim?” sejenak ia diam, lalu menghela nafas berat, “Hemm… seandainya berita itu benar, bukan urusannya Mas Ahmad juga, kan?”

Mungkin benar apa yang Romlah katakan, bukan urusanku. Namun seandainya benar, sungguh tidak ada kerelaan dalam hati ini. Aku masih belum mendapat jawaban darinya, iya atau tidak. Romlah susah sekali memberi jawaban pasti.

“Lah, memang benar ini bukan urusanku, tapi salahkah jika aku peduli padamu?” aku mendesak dengan cara seperti orang yang sedang mengerti perasaan Romlah. Walaupun dasarnya mungkin lebih pada titik emosinal masih ada rasa. Rasa tidak kerelaan mendapati Romlah jadi bahan ghibah masyarakat se-dusun.

“Iya Mas, tidak salah. Tapi rasanya kurang tepat Mas Ahmad mengingatkan aku. Dan mungkin tidak usahlah pura-pura peduli begitu!” Romlah memberi jawaban ini dengan pandangan lurus ke depan. Menembus pintu rumah dengan pandangan kosang.

“Tapi Lah, bukankah dulu sering kau katakan pada anak-anak TPA, bahwa sesama muslim wajib saling mengingatkan? Bahkan padaku pun dulu kamu sering mengingatkan tentang apa saja. Apa yang….”

“Iya, itu dulu, Mas,” potong Romlah cepat.

“Lantas sekarang apa keyakinanmu telah berubah? Tidak kan, Lah?” aku mendesah, Romlah diam.

Romlah menikah dengan orang yang suka mabuk dan berjudi. Sebelum terjadi pernikahan dengan Tafa, banyak tetangga yang telah mengingatkan, termasuk aku. Tafa seumuran aku. Rumahnya terletak di sebelah barat, beda satu RT dengan aku dan Romlah. Aku dan Tafa dulu satu angkatan di sekolah yang sama. Dulu kami juga sering bermain bersama. Aku tahu betul seperti apa polahnya. Dan bedanya, aku lulus sampai MTs., sedang Tafa karena tidak naik kelas, harus keluar sejak kelas dua.

“Aku mau nikah dengan Mas Tafa karena aku kepengin dia ke jalan yang lurus lagi,” katanya dulu.

“Kamu yakin?”

“Dia mencintai aku, mengerti keadaanku. Kenapa harus tidak yakin? Aku sudah siap dengan segala resikonya. Dan semoga ini menjadi amal baikku,” jawabnya saat ditanya kenapa mau menikah dengan Tafa. Dan jawaban itulah yang membuat aku dan tetangga lain mengangguk terpaksa. Mengangguk karena alasan niat baik Romlah.

Saat Romlah dikabarkan hamil bukan karena suaminya, akulah sebenarnya orang yang sangat terusik. Mungkinkah Romlah sekarang bukan Romlah yang kukenal dulu? Romlah yang rajin ngaji usai sholat maghrib, sholat lima waktu selalu jamaah, Romlah yang baik, ramah, dan sabar. Tangis lapar kedua anaknya kah yang membuat Romlah…? Aku tak sanggup membayangkan.

“Lah, kenapa kamu tidak minta dinikahi saja sama orang itu?” pertanyaan ini timbul begitu saja. 

“Hehe.. maksud Mas, Pak Yasim, ya?” jawaban Romlah dengan tawa ini tidak membuat aku ikut tertawa, sebaliknya malah menambah sesak

“Ya iya, Lah. Tapi Lah, kenapa kamu langsung mengarah ke juragan kayu itu?” kejarku.

“Ya, aku kan tidak tuli, Mas. Aku diam bukan berati aku tidak tahu. Aku sedang menjadi bahan gunjingan dusun ini. Dan, hehe… Pak Yasim kan masih punya istri. Anaknya saja, Mba Lili, umurnya jauh di atas aku. Mba Lili juga sudah punya anak. Masa iya aku minta dinikahi sama orang yang sudah jadi Kakek-kakek!. Hehe…,” jawabnya ini aku tak paham. Sedang mengajak bercanda atau..? Ahhh.. aku binggung!

“Tapi, Lah….”

“Sudahlah, terimakasih saran Mas, hehe..,” dia memotong lagi dan masih tertawa. Mungkin menertawai saranku agar ia  menikah dengan Pak Yasim.

“Tapi Lah, sekarang lihat dirimu. Kamu jadi bahan gunjingan tetangga,” mungkin perkataanku ini bisa disebut sebagai tekanan kepada Romlah.

“Biarlah, Mas, orang-orang memfitnah aku. Bisa mengurangi dosa-dosaku,” jawabnya menunduk. Aku mendesah pelan. Entah atas dasar setuju atau makin tak paham atas apa yang dipikirkan Romlah.

“Tidak ada yang bisa  mengurangi dosa-dosamu, Lah, karena kamu sendiri yang menimbulkan fitnah dengan membuat bahan gunjingan itu,” dengan datar aku mengatakannya. Dia menatapku sayu, entah apa yang ada di pikirannya. Aku pun menengok  ke arahnya. Matanya berkaca-kaca. Tampak bibirnya bergetar seolah kelu memberi jawab.

“Orang-orang mencemooh dan mengunjingku. Aku sudah bosan!” gumam Romlah.

“Bukankah kamu pantas jadi bahan gunjingan, Lah?” jawabku agak pelan.

Tanpa menghiraukan kata-kataku, dia lantas berucap, “Mereka hanya memberi nasehat, tapi apa yang mereka lakukan ketika anakku nangis minta jajan dan nangis karena lapar? Apa…? Mereka seolah tak melihat apa-apa! Dan juga kamu Ahmad…,” aku sempat kaget saat namaku disebut langsung. Tanpa “Mas” seperti yang biasa dia lakukan. Aku diam, sedikit menunduk.

“Kamu dengan kepatuhan pada orang tuamu, pergi ke ibukota. Kamu yang dulu pernah kuharapkan, tega meninggalkanku. Semua kau lakukan demi kepatuhan terhadap orang tuamu,” jawab Romlah makin berkaca-kaca.Tiba-tiba saja ia menyemburkan amarah yang mungkin sedari tadi telah ditahannya dalam tawa.

“Sekarang kamu datang tanpa basa-basi menghakimiku, menyatakan aku telah berbuat zina. Di mana perasaanmu?” akhirnya pecah juga air matanya membasahi kedua pipinya. Dengan tangannya Romlah mencoba meredam suara tangisnya.

Sementara hari beranjak sore, mendung pun bergelayut seolah merasakan semua yang dialami Romlah. Kesedihan yang ternyata… akulah yang menciptakan. Kuberanikan mataku menatap ke arah Romlah. Kepalanya tertunduk, wajahnya memerah. Ingin sekali kukatakan beribu maaf padanya.

Sempat terpikir juga untuk mengatakan, bahwa aku tak mau jadi anak durhaka dan membantah orang tua. Yaa… ini alasan yang sering aku kemukakan saat Romlah protes, mengapa aku memutuskan untuk pergi ke kota, meninggalkannya meski  sebelumnya  sempat mengucapkan keinginan untuk mengkhitbahnya. Tapi kini rasanya kurang tepat.

Aku tengok kanan, kucoba alihkan pandanganku ke luar rumah. Di situ tampak anak-anak sedang main kelereng. Ingin kuberanjak keluar, membaur bersama mereka dengan keriangannya. Kulihat  lagi Romlah, wajahnya masih tertunduk sayu.  Sedang air matanya masih mengalir.

Untuk memecah kebuntuan, lebih tepatnya aku sudah tidak kuat melihat kesedihannya, dengan perasaan yang tak menentu, kukuatkan bertanya lagi dengan hati-hati. Kuberharap pertanyaan yang membuat aku lega, atau setidaknya bisa mengurangi rasa bersalah saat pamitan nanti.

“Jadi kamu tidak hamil, Lah?” tanyaku pelan sekali sambil menunduk.

“Tidak, aku tidak hamil,” gumamnya dalam sesenggukan.

“Lalu..? bagaimana kata Orang yang katanya belakangan ini kamu suka muntah-muntah? Dan suka beli buah asam?” ku pelankan suaraku lagi. Dengan masih menunduk.

“Hehe..” tersenyum kecut. Sambil mengelap matanya, dia menarik nafas panjang.

“Hemm.. apa setiap orang yang muntah-muntah berarti hamil? Aku masuk angin. Terus beli buah yang asam itu untuk anak-anak minta rujak. Lagian untuk membeli buah yang manis saya tidak mampu, kan mahal Mas,” dia tersenyum mencoba bercanda. Aku tersenyum entah karena apa, namun puas mendengar jawaban ini. Berarti, ternyata apa yang di pikirkan orang dusun selama ini salah. Tak ingin menambah gunjingan bagi Romlah, aku pun pamitan.


Sore mendung mengantar keberangkatanku ke kota, meninggalkan Romlah yang terluka oleh ulahku yang rela membiarkannya menikah dengan pria lain yang telah kuketahui kebusukannya. Meninggalkan juga desas-desus dusun yang belum pupus. Setidaknya buat aku sendiri, warga dusun masih tetap menggunjing kehamilan nista Romlah.

***

*Terkadang kita asyik dengan keburukan orang lain, tanpa berusaha mencari tahu keadaan sebenarnya orang yang kita cari keburukannya itu, apalagi membantunya…”

PADA DUSUN REMBANG, PURBALINGGA 2008


 

PADA DUSUN REMBANG, PURBALINGGA 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *