Category Archives: Cerpen Sejarah

JEWEL OF ALEXANDRIA

Mesir, 391 Masehi         Sinar matahari di ufuk timur hangat menyapa bersama deburan ombak di pesisir laut Mediterania. Ratusan burung camar berterbangan di sekitar mercusuar Pharos yang menjulang, menyambut kapal-kapal besar yang baru saja tiba dari negeri-negeri terjauh. Riuh rendah suara pekerja yang sibuk membongkar muatan bercampur dengan lenguhan unta dan keramaian para pedagang di… Read More »

Syair Kebebasan Masibdzan

Penulis: Guntur Alam Angin gurun bertiup panas. Menebarkan bulir-bulir pasir bercampur debu. Mentari senja bertengger garang di kaki langit. Merah. Semerah darah yang beberapa waktu lalu membanjiri kota Ninevah dan Mosul. Terdengar senandung bidadari bersama nyanyian angin gurun. Mencumbu kulit letih sebuah pasukan yang masih merayap di padang pasir. Di kejauhan. Lamat-lamat daun kurma dan… Read More »

Lembah 21

  Penulis: Muhammad Shamil Basayev Ada tiupan lembut yang mendorong dan membuatku jatuh terkaget di saat hujan sore mengguyur Kota Nostean dengan derasnya. Dalam keadaan terduduk kaku di atas kolam air hujan, fisikku memilih berdiam meskipun bagian bawah tubuhku terendam air yang kotor. Aku seperti dibungkam suatu tanya yang tiada bisa kujawab dengan pasti, pikiranku… Read More »

Orang-orang yang Menunggu Mati

Penulis: Wanto Robusta Bagi kami, kematian adalah matahari yang akan terbit esok hari. Bukan lagi sebuah misteri yang entah kapan datangnya. Atau sebuah teka-teki yang entah di mana akan terisi. Sekali lagi, kematian bagi kami adalah matahari. Yang esok pasti terbit. Yang esok pasti akan terjadi. *** Setiap kali matahari terbit di halaman pagi, setiap… Read More »

Tuhan Telah Mati

Penulis: Gusrianto Timika, Papua Mati. Semua orang pasti mengenal kata itu. Semua orang pasti tidak ingin kata-kata itu diperdengarkan di telinganya. Semua orang pasti takut dengan yang namanya mati. Termasuk aku. Tapi tidak dengan sosok di hadapanku. ”Aku ingin mati…” katanya seolah berbisik pada dirinya sendiri. Perkataan itu tidak ditujukan padaku. Aku kemudian duduk di… Read More »

Gadis yang Ikut Berjuang

Penulis: Abdul Aziz Sekejap Sharifa ingat amak-nya di rumah. Dia ingat kala amak-nya agak sulit untuk melepasnya mendaftarkan diri pada Dokter Ali Akbar, seorang dokter yang sekaligus sosok pemimpin pejuang di Bukittinggi. Amak-nya pasti rusuah bana jika mengetahui kondisinya saat ini. Meski amak dan ayahnya khawatir pada Sharifa saat itu, mereka tak bisa menghalangi kehendak… Read More »

Impian Yusuf

Penulis: Wahyu Susanto Kuusap peluh yang membanjiri tubuhku. Dadaku turun naik mengatur jalannya nafas yang belum cukup stabil setelah bermain bola sepanjang sore tadi. Kakiku masih terasa sakit  saat berebut bola dengan Yusuf, sebab tendangannya mengenai tulang keringku hingga membuatku tak sanggup meneruskan sampai akhir permainan. Hari sudah mulai menjelang senja. Langit Gaza begitu indah… Read More »

Namaku Lyvina

Penulis: Farinka Nurrahmah A. Kulihat tayangan berita di televisi, berkelebat potret ketakutan para anak dan wanita jalur Gaza, yang anehnya tidak sedikitpun membuatku merasa iba atau bersedih. Aku hanya tersenyum tipis. Bagiku itu hal yang pantas mereka dapatkan setelah sekian lama menduduki tanah yang seharusnya milik kami, bangsa Israel. Ya, siapa bilang jalur Gaza milik… Read More »

Harum Kesturi di Tepian Gaza

Penulis: Farhan Yusuf Rizza   15 Ramadhan 2003 Siang di Gaza memang selalu panas. Walau bukan musim panas, hawa yang menyengat tubuh pasti ada, karena memang dingin tak akan mungkin meredam panas. Panas dunia dan panas perang yang melanda Palestina. Perang yang tiada peduli dengannya. terkecuali mereka yang benar-benar membuka lebar-lebar daun telinga dan kelopak… Read More »

Bumi Sengketa

Penulis: Muhammad Nur Kerikil tajam turut berontak, kala bumi husein dipijakBatu-batuan turut bicara, kala bumi Isa luluh lantakPelepah kurma turut berdetak, kala bumi Omar Mukhtar digasak…..Maka……Biarlah hamparan pasir Afghanistan jadi saksiLesatan mujahid anak panah kebenaranKoyak-moyakkan tabir kejahatan kafir“ Allahu Akbar!“3 kilometer lagi, Abi tak pantang menyerah. Dengan sigap ia lewati jilatan api. Aku berlari seakan… Read More »