Category Archives: Cerbung

Setelah Sepuluh Tahun, Buku Harian Sang Jurnalis (Bagian Ketujuh, Tamat)

Shohibul Hikayat   Sambil menikmati udara sore di sudut kota Kuala Lumpur, duduk diatas kursi roda, aku memperhatikan detil-detil apartemen ini, yang disorot mentari sore. Sebagian waktuku yang hilang selama sepuluh tahun ini, berusaha aku rangkaikan. Dik Lely mendorong kursi rodaku, melintasi lorong-lorong tepi apartemen. Pertiwi disamping kananku. Dari ketinggian di sini aku bisa memandang… Read More »

Setelah Sepuluh Tahun, Buku Harian Sang Jurnalis (Bagian Keenam)

Shohibul Hikayat   Alhamdulillah, sekarang Aku sudah agak tenang, sudah berada lagi di kantor. Jam 07.07, Rabu, (20/05). Mas Fadli sudah kuberi laporan apa yang terjadi di tempat kos, sejak Selasa siang kemarin dan subuh tadi. Kutemukan segumpal batu yang dibungkus selembar kertas bergambar fotoku dengan silang merah. Batu itu sengaja dilemparkan setelah merusak kaca… Read More »

Black Prom Party (Episode 2)

Asfia Shafana “Lei, Lei! Look at this!” pinta Sam terengah sambil memperlihatkan luka yang diperban pada lengan kanannya saat di kelas keesokan harinya. Leila terperangah.”Sam, what happened?” pekik Leila dan Manda berbarengan sambil memegangi lengan Sam dengan panik. Sam menaruh telunjuk kiri di bibirnya, “Hussh!” “Tadi malam ada seorang cowok misterius membuntutiku,” Sam berbisik sambil memastikan bahwa… Read More »

Black Prom Party (Episode 1)

Asfia Shafana Jam pergantian mata kuliah baru saja berlangsung. Suasana Economic Faculty of Michigan State University berubah seketika. Kelas-kelas menjadi kosong dan lorong-lorong dipadati ribuan mahasiswa yang hendak pulang atau masuk kelas berikutnya. Sebagian dari mereka tengah asyik mengobrol dengan rekan-rekannya, sebagian lagi sibuk merapikan alat tulis dan isi lokernya. Beberapa orang gadis berjilbab tampak… Read More »

Black Prom Party (Episode 3)

Asfia Shafana Hari ini suasana kampus terasa sangat berbeda bagi Leila. Tiba-tiba semua mata memandang ke arahnya. Namun anehnya… Ketika ia tersenyum pada mereka, bukan balasan senyum yang ia dapatkan, tapi justru cibiran yang tampak begitu nyinyir. Ia serta-merta memperhatikan pakaiannya dan mencoba mencium aroma tubuhnya. Adakah yang yang salah dengan caranya berpakaian? Adakah karena… Read More »

Black Prom Party (Episode 4)

Penulis : Asfia Shafana Ketika Leila berkonsentrasi pada pekerjaannya, tiba-tiba cellphone-nya berdering dan kembali membuyarkan konsentrasinya. Rupanya telepon itu berasal dari Manda, sahabatnya. “Lei, where are you?” tanya Manda di seberang sana. “My office…” jawab Leila setengah berbisik. “Again?! Ugh… Sorry.. Tapi pulang kantor bisa ketemuan ga? Aku sudah janji ketemuan sama Randy.” Leila menghela… Read More »

Black Prom Party (Episode 5)

Penulis : Asfia Shafana               Sam duduk termenung di depan jendela kamarnya, di bawah cahaya temaram lampunya. Tatapannya kini menerawang ke depan, tapi pikirannya jauh menembus ke belakang. Tiba-tiba Sam menangis, teringat kembali semua kenangan yang pernah ia lalui bersama Manda, sahabatnya sejak kecil. Ia ingat betapa lincahnya Manda kecil, ia selalu dapat membuat… Read More »

Black Prom Party (Episode 6)

Penulis : Asfia Shafana Mereka berempat; Leila, Aneezah, Randy dan Ali masih terlibat perbincangan yang serius walaupun suasananya mulai mencair. Kali ini Leila kembali membuka pembicaraan. “Apa kalian bisa kupercaya?” tiba-tiba suasana hening, Randy dan Ali diam tertunduk seperti seorang pesakitan. Leila merasa bersalah dibuatnya karena telah menuduh yang bukan-bukan pada mereka. Rupanya kali ini… Read More »

Jejak Luka (Bagian Satu)

Penulis: Azwar NazirSinopsis1 Maret 1908 hitungan tahun di Hindia Belanda, atau 7 Maret dalam hitungan tahun di Nedherland, Komendur Oud Agam L.C. Westenenk melaksanakan ”blasting” (pemungutan pajak) di wilayah Agam, di antaranya untuk pemotongan hewan dua persen, untuk kopi, untuk kulit manis,  dan lain-lain. Laras Kamang G. Dt. Palindih dan pemuka agama Haji Abdul Manan… Read More »

Jejak Luka (Bagian Dua)

Penulis : Azwar Nazir Aku turun dari rumah, walau berat hati tetapi kujalani juga. Di luar aku melihat Komendur  Westenenk segera menghardik, karena terlalu lama menunggu.             “Cepat..! Keparat…!”             Tapi suara Komendur Westenenk segera menurun saat melihat Nisa memegangi kakiku.             “Jangan pergi, Ayah.”             Westenenk melihat pada anakku.             “Tidak apa-apa, Anak Manis.”… Read More »