Black Prom Party (Episode 3)

0
31

Asfia Shafana

Hari ini suasana kampus terasa sangat
berbeda bagi Leila. Tiba-tiba semua mata memandang ke arahnya. Namun
anehnya… Ketika ia tersenyum pada mereka, bukan balasan senyum yang
ia dapatkan, tapi justru cibiran yang tampak begitu nyinyir. Ia
serta-merta memperhatikan pakaiannya dan mencoba mencium aroma
tubuhnya. Adakah yang yang salah dengan caranya berpakaian? Adakah
karena bau badannya, sehingga semua orang merasa terganggu? Tapi
rasanya tidak ada yang salah dengan caranya berpakaian, semua seperti
biasa saja. Ia pun yakin bahwa tidak mungkin karena bau badannya, ia
sudah memakai deodorant dan perfume walau seadanya. Lalu apa yang salah? Leila masih terus berpikir keras.

       “Gak nyangka ya, dia
ternyata munafik!” tiba-tiba terdengar celotehan seorang wanita dari
arah belakang. Ketika ia menoleh ke arah wanita itu, wanita tersebut
justru membalasnya dengan tatapan tajam menantang. Kini ia yakin, bahwa
apa yang dikatakan wanita itu memang ditujukan kepadanya. Tapi Leila
masih tak juga mengerti dengan maksud perkataan wanita itu. Ia berusaha
untuk menganggapnya sebagai angin lalu saja.

       Di kelas ia mendapati
teman-temannya sedang berkumpul di satu sudut. Namun ketika mereka
mengetahui keberadaannya, mereka segera membubarkan diri. Untunglah
tidak lama kemudian ada seorang sister datang tergopoh menuju kelasnya, dengan raut muka serius mencengkram bahu Leila.

       “You have to know this, Lei!” rekannya itu memperlihatkan gambar di cellphone-nya yang telah dihubungkan ke internet.

       Tiba-tiba Leila diam seribu
bahasa, seolah langit-langit kelasnya baru saja runtuh di atas
kepalanya. Wajah yang ada di foto-foto itu memang mirip dengan
wajahnya. Di luar sepengetahuannya, ternyata ada foto-foto tidak
senonoh dengan ia sebagai modelnya dan telah tersebar di internet.

Leila mengatupkan bibirnya, tangannya
mengepal dan wajahnya memerah karena ingin sekali menangis, tapi
ditahannya. Ia merasa seperti mengalami De Ja Vu, perlakuan
yang didapatnya dari teman-temannya kini benar-benar seperti yang ia
alami beberapa tahun lalu pasca terjadinya peristiwa 9/11. Ia berusaha
untuk tidak limbung dan terus mengucapkan istighfar dalam hati. Sejurus
kemudian ia mengambil langkah meninggalkan ruang kelas dan memilih
untuk kembali pulang.

***

       “Hallo, what is the matter Sam?” tanya Leila yang tampak tak bersemangat ketika menerima telepon dari Sam.

       “Lei, iam so sorry…i knew what happened to you.”

“Hmm.” balas Leila malas.

I just wanna tell you something. I think i knew that who is the real Mr.Blue, someone who makes your life getting worse.” jawab Sam yakin.

       “Who?” tanya Leila, terpancing rasa penasaran.

       “Kemungkinan besar yang
melakukan ini adalah temanmu sendiri, mungkin ia bekerjasama dengan
salah satu anggota keluargaku yang tidak aku kenal.”

My friend? Who is it?” Leila bertambah bingung.

“Ali, temanmu yang pernah kamu kenalin
ke aku, saat itu kan dia pake baju biru. Aku ingat benar Lei, ciri-ciri
orang yang melakukan usaha percobaan pembunuhan terhadapku tempo hari
sebelum malam prom itu. Posturnya sama persis dengan Ali, hari itu dia pake baju biru juga.” Leila mendengar perkataan Sam dengan seksama.

       Ali? Leila mengernyitkan keningnya.

       “I think it is imposible Sam, maybe your sight was wrong, that was night…” sanggah Leila. Leila yakin, setiap brother di kota ini tidak akan berani berbuat demikian apalagi kepada wanita.

Lei, iam women… i knew how s he feeling from his eyes, he likes you! Dia pasti menyamar sebagai Mr. Blue untuk ngungkapin perasaannya sama kamu.” demikian argumen Sam.

Uhmm… thank s Sam, you ve tried to help me. But now, I really wanna rest.”
sanggah Leila untuk mengakhiri pembicaraan. Sebenarnya jantungnya
sedang berdegup mendengar tercetusnya nama baru itu dari bibir Sam.

Setelah menutup telepon dari Sam, gadis
itu tiba-tiba merasa begitu gamang. Ia berusaha memutar balik
ingatannya dari semua kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini. Ia pun
membolak-balik buku harian dan surat-surat yang ada pada dirinya,
membacanya kembali satu persatu untuk membantu menyegarkan ingatannya.

Di buku harian itu tertulis bahwa
sekitar dua bulan lalu Leila memang mengenalkan Ali kepada Sam, dan
benar bahwa Ali mengenakan kemeja biru! Warna yang diam-diam amat
disukai Leila, ia telah menuliskannya dengan jelas.

Semua catatan tentang Ali kembali
dibukanya, namun sepertinya ia masih merasa tak puas. Informasi yang ia
dapat sepertinya sangat standar dan tak bisa ia jadikan pijakan dalam
mengambil sebuah kesimpulan. Akhirnya ia mengambil laptopnya dan
menghubungkannya ke internet. Di kolom pencarian, ia segera menuliskan
nama lengkap Ali, Yusuf Ali.

Yeah..here you are!!”
serunya, melihat begitu banyaknya informasi dari orang-orang yang
bernama Yusuf Ali. Ia mencoba memilah-milah. Beberapa diantaranya
berasal dari jejaring sosial, ia pun tak lupa mencoba mengundang mereka
menjadi temannya di jejaring-jejaring sosial yang juga telah
dimasukinya itu. Berharap ia bisa lebih leluasa berdialog dengan mereka
nantinya.

Matanya terlihat lebih berbinar ketika
ia menemukan sebuah blog pribadi milik seorang bernama Yusuf
Ali-Anderson. Di dalam sebuah tulisan di blog itu, sang penulis yang
ternyata asli orang Amerika bernama Yoseph Anderson dan juga tinggal di
Grand Rapids-Michigan itu, bercerita tentang perjalanan awalnya menjadi
seorang muslim.

Semakin ia baca, semakin ia yakin bahwa
blog ini adalah milik Ali sang ketua bidang Kepemudaan di masjidnya.
Ada satu informasi yang membuatnya sangat terkejut. Ternyata lulusan
salah satu institut tekhnologi di Michigan ini, sebelum menjadi muslim
pernah menjadi seorang anggota sebuah kelompok fraternite! Hidupnya bebas dan tak jauh dari jangkauan drugs.

Mr Blue, is it you?” gumamnya
Lemah. Hatinya lebih gamang, kini informasi Sam terasa sangat mendekati
sebuah kesempurnaan baginya. Walau hati kecilnya menolak, ia pun
menggelengkan kepalanya dengan keras dan segera mematikan
laptopnya.karena tak percaya dengan kenyaataan yang baru saja
didapatinya.

 

Pandangannya kembali pada buku harian
ber-cover biru itu. Kemudian di halaman-halaman terakhir yang ia tulis,
saat ia menemukan surat misterius Mr.Blue di lokernya, Leila pun telah
menuliskan isi hatinya, bahwa ia memang sangat berharap Mr.Blue itu
adalah Ali. Tapi semua itu sudah tidak mungkin lagi sejak surat kedua
ia terima, tidak mungkin Ali yang mengancamnya!

Inilah gunanya sering menulis catatan
harian, ia merasa sangat terbantu dengan catatan itu. Meski ia tidak
percaya begitu saja dengan keterangan Sam mengenai postur sosok yang
menebas tangannya, tapi kalau mengingat lagi bagaimana sosok Ali pada
masa lalu… hal ini sangat perlu dipertimbangkan lagi.

***

Saat esoknya ia memasuki halaman
kampus, Leila merasakan suasana yang masih tak jauh berbeda dari
suasana yang ia rasakan kemarin. Tatapan dan cibiran itu jelas masih
ada. Namun hari ini ia sudah tampak lebih tegar.

       Di tengah kekalutan
hatinya, tiba-tiba ia merasakan ada tangan yang menariknya ke arah
suatu tempat. Ternyata ia adalah Manda. Leila hanya mengikuti langkah
Manda menuju ruang gudang yang terletak di salah satu sudut lorong
kampus.

       “Lei, look what i found! But do not tell Sam, Ok!”
gadis itu memperhatikan sebuah buku catatan bersampul biru yang
disodorkan Manda padanya. Leila mengerutkan dahinya tak mengerti.

       “Kamu mengenali tulisan ini?” tanya Manda kemudian. Leila memperhatikan isi tulisan yang ada di dalam buku tersebut.

       “Tulisannya… mirip
tulisan tangan… Mr. Blue,” jawab Leila setengah tak yakin. Tulisan di
buku catatan itu tampak begitu rapi.

       “Ini buku catatan siapa Man?” tanya Leila penasaran.

       “My neighborhood, our senior!
Aku memang sering pinjam catatannya. Tapi… jangan kaget yah… nih!”
kali ini Manda memperlihatkan nama pemilik buku yang tercantum di sudut
kiri halaman pertama buku tersebut. Leila terperanjat ketika mengetahui
bahwa pemilik buku itu adalah Randy, orang yang selama ini ditaksir dan
dikejar-kejar oleh Sam.

       “Tapi Man, kalau dia emang Mr. Blue… kenapa dia tega menjebakku di malam prom itu?” Tanya Leila.

       “Kamu tau kalo dia selalu jadi the one?
Kamu ingat bahwa kita pernah satu mata kuliah bareng sama dia semester
lalu dan di mata kuliah itu nilai kamulah yang paling tinggi? Mungkin
dia iri sama kamu Lei. Bisa jadi dia mau mempermalukanmu. Sebenarnya
sudah sejak awal aku melihat surat pertama untukmu itu aku sudah curiga
Randy adalah Mr. Blue. Tapi aku gak nyangka kejadiannya malah jadi
buruk begini. Aku pikir Randy benar-benar jadi pengagum kamu.” Leila
tertunduk penuh kekecewaan mendengar pernyataan Manda barusan.

***

Sesampainya di apartemen, Leila
menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk. Ada kelelahan
yang mendera, pikirannya bercampur aduk. Ada bayangan tugas kuliah,
kantor, Mr. Blue dan  kali ini ditambah dengan adanya fitnah akibat
beredarnya foto tak senonoh wanita yang mirip dirinya. Dalam dua hari
ini ia memang sudah mulai menemukan titik terang. Namun terang itu
rupanya berasal dari dua titik yang berbeda walau saling menguatkan.

“Siapa sejatinya Randy?!” tanya Leila
yang menjadi sedikit emosi mengingat informasi dari Manda barusan di
kampus. Ia kembali duduk dan mengurut keningnya hingga anak-anak
poninya beringsut ke belakang. Serta merta ia kembali mengeluarkan buku
harian biru dan senjata pamungkasnya, Laptop.

Di buku harian, cerita tentang Randy
sendiri sudah cukup banyak. Karena selama ini Sam selalu bercerita
kepada Leila mengenai perasaannya terhadap pemuda bermata biru itu. Sam
juga selalu meminta Manda untuk selalu memata-matainya karena Sam tahu
bahwa Manda satu apartemen dengannya. Manda juga selalu bercerita
tentang Randy pada Sam, di depan Leila. Rupanya Manda suka mengintai
pemuda itu dengan teropong dan kamera.. Tak heran jika Sam mengoleksi
banyak sekali foto Randy dalam berbagai pose. 

Randy adalah profil pemuda Amerika yang baik. Serius belajar, populer, jago basket, tidak punya catatan buruk di kepolisian, cool,
sulit ditaklukkan para gadis. Namun yang membuatnya tampak berbeda dari
pemuda Amerika umumnya adalah…selama kuliah, ia tidak pernah terlihat
punya pacar.

Tak puas mencari informasi dari buku
harian, ia kembali membuka laptopnya yang telah terhubung dengan
internet. Ia memasukkan nama Randy Hudson. Kali ini ini daftar
informasi yang keluar tidak sebanyak pemilik nama Yusuf Ali. Namun pada
bagian atas ia langsung mendapatkan sebuah blog pribadi milik Randy.
Blog ini lebih mirip buku curhat seorang pria misterius.
Tulisan-tulisannya pendek-pendek, sepertinya itulah ciri khasnya. Jika
ingin menceritakan tentang seseorang, ia akan memakai inisial. Di blog
itu ia bercerita khusus tentang Sam, ada beberapa cerita, ia menyebut
Sam sebagai freak Girl. Rupanya menurut Randy, Sam sering
menyalahartikan segala kebaikannya sebagai bentuk perhatian dan gadis
itu membalasnya dengan sesuatu yang ia anggap terkadang berlebihan.
Padahal ia sama sekali tak memiliki perasaan khusus padanya.

Rupanya ia juga bercerita tentang gadis
yang selama ini telah menarik perhatiannya. Namun anehnya ia tak
memberi julukan apapun pada gadis tersebut, bahkan tidak menyebut
inisial apapun. Kening Leila berkerut ketika ia sampai pada sebuah
tulisan yang berbunyi, “Karenanyalah aku bersedia mempelajari sesuatu
yang awalnya sama sekali tak pernah terbayangkan olehku, sampai aku
dipertemukan Tuhan kepada seorang pemuda berinisial YA dan aku banyak
belajar darinya. Aku memang belum tahu banyak tentang sesuatu yang baru
kupelajari ini. Tapi suatu saat aku yakin kan mengerti, dan kalian  pun
kan mengerti”

Masya Allah” tiba-tiba gadis itu yakin bahwa yang saat ini sedang Randy pelajari adalah Islam dan ia belajar dari…Yusuf Ali.

***

       “Hiks… hiks… brengsek!” isak Sam setengah merutuk.

Malam itu Samantha duduk terkulai di
sudut kamarnya, sendiri dan menangis sambil menelungkupkan wajahnya. Ia
teringat lagi peristiwa yang paling menyakitkan hati dan membuatnya
kecewa beberapa hari ini. Berawal ketika Leila menunjukkan isi surat
dari seseorang bernama Mr. Blue, ia sebenarnya sudah mulai mengenali
siapa sebenarnya pengirim surat tersebut, tapi awalnya ia menolak untuk
percaya.

Untuk memastikan, ia menelepon Randy di
malam setelah ditunjukkan surat pertama Mr. Blue itu, rupanya Randy
langsung mengakui itu adalah surat darinya untuk Leila. Tanpa malu
Randy mengatakan kalau pun ada gadis yang ingin ia beri kado prom, atau ia jadikan pasangan di malam prom, gadis itu pastilah Leila.

       Samantha meninju lantai kamarnya dengan keras.

       “Arggh… why you did it to me?” ia kemudian menjambak-jambak rambutnya sambil terus melampiaskan kekesalan.

       Kali ini Sam memukul-mukul
tembok kamarnya, hingga tangannya merah bahkan membiru, luka di lengan
kanannya berdarah lagi, namun rupanya ia tak peduli dan terus menyakiti
dirinya sendiri. Sam merasa dirinya sudah tidak berharga lagi karena
telah ditolak mentah-mentah oleh orang yang paling ia sayangi. Malam
itu ia terus mengumpat, menangis, berguling di lantai hingga ia merasa
kelelahan dan tertidur di atas lantai kamarnya yang dingin.

***

Sore itu Leila kembali masuk kerja. Ia
masuk ke dalam ruangan, di sana sudah ada tiga rekannya. Ia berusaha
tersenyum pada mereka yang menyadari akan kehadirannya. Segera ia duduk
di depan komputer yang terletak di bilik pribadinya. Masih banyak
laporan yang harus ia selesaikan malam ini juga.

Di salah satu sudut ruangan, ternyata
ada sosok yang selama beberapa menit ini memperhatikannya. Ia adalah
Aneezah, gadis keturunan Pakistan yang adalah rekannya di kantor itu,
satu-satunya rekan se-ruangannya yang beragama Islam. Di tengah
kesibukannya menyelesaikan beberapa tugas laporan, tiba-tiba terdengar
bunyi beep dari arah monitor komputernya. Leila terkesiap
sejenak, ia kembali mengamati layar komputer itu. Di sana sudah ada
Aneezah yang sedang mengajaknya Chatting.

Assalamu alaikum Sis, are u okay?” tanyanya.

Wa alaikum salam warahmatullah. Alhamdulillah, Iam ok.” balas Leila.

“Kalo ada masalah cerita aja sama aku,
kalo ga percaya sama aku… doa aja Sis, hanya itu senjata kita
sebagai seorang Muslim.” demikian Aneezah mencoba menghibur hati Leila
yang kini benar-benar kalut.

“Sepulang kerja, nginep di apartemen
adikku di Michigan yuk…Dia lagi gak ada, padahal aku lagi ada urusan
di sana. Kamu kan pernah tinggal di sana, jadi  tau jalan kan? Kepalaku
pusing banget, aku takut bawa mobil dalam keadaan seperti ini!” pinta
Leila.

“Okay, c u!” jawab Aneezah, mereka saling bertatapan dan menganggukkan kepala seraya kembali menjalankan tugas masing-masing.

Leila mencoba memunguti kepingan
hatinya yang saat ini terserak. Ia ingin kembali berkonsentrasi dalam
pekerjaannya kali ini. Melupakan sejenak misteri Ali ataupun Randy.
(bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here