Black Prom Party (Episode 2)

0
65

Asfia Shafana

“Lei, Lei! Look at this!” pinta
Sam terengah sambil memperlihatkan luka yang diperban pada lengan
kanannya saat di kelas keesokan harinya. Leila terperangah.”Sam, what
happened?” pekik Leila dan Manda berbarengan sambil memegangi lengan
Sam dengan panik. 
Sam menaruh telunjuk kiri di bibirnya, “Hussh!” 
“Tadi
malam ada seorang cowok misterius membuntutiku,” Sam berbisik sambil
memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.
“You
know what…? He tried to kill me! Dia menebas pisau ke arahku, untung
aku bisa menghindar, jika lengah sedikit saja, entahlah…mungkin lebih
dari luka ini.” Sam meringis, tampak rona trauma dan stres di matanya.
Leila dan Manda tersentak dan bingung harus bagaimana merespon. Setahu
mereka, jarang ada orang yang berani macam-macam dengan Sam, biasanya
justru Sam yang berani macam-macam dengan anak lain-khususnya para
cewek-yang dia anggap menyebalkan. Mungkin juga sudah menjadi rahasia
umum di kampus ini, bahwa sebagian besar anggota keluarga Sam adalah
anggota sebuah genk fraternite. Bagaimana bisa ada kejadian seperti
ini?  
“Jangan-jangan…” entah mengapa, Leila tiba-tiba langsung
teringat isi ancaman surat Mr. Blue yang kemarin diterimanya. Benaknya
terngiang penggalan kalimat surat itu, “Lihat aja… Kamu bisa saja
kehilangan sahabat-sahabatmu itu…” Leila meneguk ludah,
kerongkongannya yang kering makin terasa tercekat.
“What s wrong, Lei?” Sam dan Manda bertanya curiga. Buru-buru Leila mencari amplop biru itu di tasnya.
“Read this!” pinta Leila seraya memperlihatkan isi surat kedua Mr.Blue yang sarat dengan ancaman.
“O-ow,
it is hard to believe, Lei! Rupanya fans-mu itu seorang psikopat! Pasti
benar dia yang sudah melukaiku semalam! No-no-no… Aku nggak mau Manda
juga jadi korban…” Sam menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah
pucat, kemudian mencengkram pergelangan tangan Leila erat.
“You have to come, Lei! Have to, come to that party…! Lihat saja apa sebenarnya yang diinginkan Mr. Blue itu!” rajuk Sam.
“I will pick you up and accompany you to your apartment with my car,” kata Manda. 
“Yeah…and
we will always beside you, Ok?” tambah Sam mendesak. Leila jadi berpikir
keras sejenak, memikirkan permintaan Sam yang konyol itu.
“Uhmm…ok,
ini demi kamu dan Manda. Lagipula aku jadi makin penasaran juga, siapa
sih sebenarnya Mr. Blue itu!” jawab Leila mencoba meyakinkan dirinya
juga kedua sahabatnya.
Samantha terlihat lega, sementara Manda masih bergidik ngeri melihat luka di lengan Sam itu.

***

Lama Leila duduk termenung di
balkon apartemennya siang itu. Hatinya resah, berbuat apapun rasanya
seperti serba salah. Pasalnya malam ini adalah hari penyelenggaraan
prom party itu. Terbersit rasa bersalah kepada keluarga dan
teman-temannya di masjid. Karena malam ini masih malam Ramadhan dan ia
tidak bisa hadir di masjid, justru ia akan menghadiri sebuah acara yang
dianggap tabu oleh kalangan muslim Amerika. Walau sebenarnya hari ini
dia sedang tidak ada tanggung jawab khusus di masjid. Tetap saja ia
merasa seperti berkhianat pada kepercayaan yang diberikan oleh orang
tua dan rekan-rekannya. 

Namun di tengah kekalutannya, muncul
sebuah cerita lama di benaknya. Ia teringat kenangan ketika masa awal
remaja atau ABG-nya di Indonesia. Saat itu usia Leila dan Keyla baru
genap 12 tahun dan baru lulus sekolah dasar, orangtuanya yang juga baru
saja bercerai mengadakan sebuah pesta khusus untuk kedua putri mereka
tersebut. Sebuah pesta ulang tahun, prom dan mungkin sekaligus farewell
party yang terbilang sangat mewah untuk ukuran anak ABG, pasalnya acara
itu diadakan di sebuah hall hotel ternama di Jakarta. Sang ayah juga
mengundang beberapa kolega bisnisnya dan sang ibu mengundang
rekan-rekannya serta para staff American Embassy di Jakarta. 

Acara
itu mereka adakan karena mereka menganggap usia 12 tahun adalah masa di
mana seorang anak mulai beranjak remaja dan bisa berfikir dewasa.
Selain itu, perceraian kedua orang tua memaksa kedua putrinya itu harus
memilih untuk tinggal dengan siapa di kemudian hari. Sesuai keinginan
mereka dan pengadilan pun mengabulkan, akhirnya mereka akan tinggal
dengan sang ibu di Amerika.

Sang ayah adalah seorang muslim yang
sejak lahir tinggal di Jakarta dan berprofesi sebagai pengusaha di
bidang property, sedangkan ibunya berasal dari keluarga mualaf asal
Amerika yang berprofesi sebagai dokter kandungan. Kedua orang tua
mereka bertemu ketika sang ibu sedang melakukan penelitian di sebuah
rumah sakit di Jakarta guna menyelesaikan program spesialisnya. 

Sayangnya,
setelah tiga belas tahun perkawinan dalam sebuah rumah tangga yang
mereka nilai ideal, semua hancur hanya karena sebuah keegoisan yang
sebenarnya belum bisa dimengerti oleh nalar seorang anak yang baru
tumbuh remaja. Mengingat semua itu, tanpa Leila sadari, ia telah
menitikan air mata. Mungkin pesta ulangtahun yang ke-12 itu adalah
kenangan prom terakhir baginya, karena semenjak tinggal di Amerika ia
baru tahu bahwa hal-hal semacam itu dianggap tabu atau syubhat
dilakukan oleh kalangan muslim. Yah… prom party terakhir itu justru
hanya menyisakan sebuah kehampaan penuh kegetiran dan sia-sia baginya.

Jantung
Leila tiba-tiba berdetak kencang memunculkan sebuah trauma yang selama
ini terpendam. Mungkin inilah yang membuat Leila tumbuh menjadi pribadi
yang tertutup, bahkan pada sahabat-sahabatnya di kampus maupun di
masjid. Tampaknya ia tidak ingin merasa dikasihani memiliki keluarga
yang broken home. Ia selalu ingin tampak baik-baik saja dan tidak ingin
menjadikan kegagalan masa lalu keluarganya sebagai alasan kegagalan
masa depannya. Yah… tak ada yang tahu mengenai latar belakang
keluarganya, bahkan teman-temannya di kota ini tidak mengetahui bahwa
Leila memiliki seorang kakak kembaran.

Namun di tengah dilema
itu, sejak sore hari rupanya Leila telah sibuk menyiapkan penampilannya
dengan mencocokkan koleksi pakaian yang hendak ia kenakan pada acara
tersebut. Walaupun tetap ingin tampil sesuai syariat, ia juga tidak
ingin tampak aneh di mata rekan-rekannya dan dianggap ketinggalan
jaman. Akhirnya Leila memutuskan untuk mengenakan gaun biru sepaha yang
terbuat dari satin. Gaun itu berlengan pendek dengan ikat pinggang
berwarna hitam dan bermodel parut. Ia menutupi kedua lengannya dengan
manzet hitam yang sangat panjang. Gaun itu ia padu-padankan dengan rok
biru casual berbahan beludru. Hijab hitam sepanjang dada yang ia
kenakan pun tak kalah atraktif dan terkesan elegan dengan sentuhan
bandana biru cantik nuansa batik berpayet. Pada sentuhan terakhir, ia
lengkapi penampilannya dengan tas mungil dan sepatu high heel berwarna
hitam. Sebelum berangkat, dengan dipenuhi kecemasan, Leila berputar di
depan cermin memastikan penampilannya baik-baik saja. 

Baru saja
Leila menerima telepon dari kedua sahabatnya, mereka mengatakan bahwa
mereka telah memasuki kawasan Kalamazoo Avenue, itu artinya posisi
mereka sudah dekat dengan kediaman Leila. Leila pun segera beranjak
keluar dari apartemennya. Belum lama ia duduk menunggu Manda dan Sam di
sebuah bangku taman di bawah rimbunan pohon dan semak dekat
apartemennya, tiba-tiba dari arah belakang ada seorang laki-laki
berpenutup wajah yang memukul tengkuknya hingga ia tak sadarkan diri,
ia pun tak tahu lagi apa yang diperbuat oleh laki-laki tersebut
terhadap dirinya.Selama dua hari Leila menghilang dari Apartemennya, ia juga tak hadir
di kampus. Rekan-rekannya banyak yang bertanya-tanya tentang keberadaan
dan kondisi Leila. Namun pagi ini ia telah menjawab kekhawatiran
rekan-rekannya selama dua hari ini, ia hadir di barisan bangku paling
depan. Setiap teman yang bertanya perihal ketidakhadirannya selama ini
selalu ia jawab dengan alasan bahwa ia baru saja menyelesaikan urusan
kakaknya yang tinggal di Ohio.Jam kuliah sudah berakhir lima belas
menit yang lalu. Leila mencari sosok Sam dan Manda yang memang pada
hari ini tidak ada mata kuliah yang sekelas dengannya, ia mengedarkan
pandangannya di antara ribuan mahasiswa Michigan State University yang
berlalu-lalang. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak sabar untuk segera
menceritakan kejadian mengerikan yang menimpanya pada malam prom party
itu. Namun sia-sia, sosok kedua rekannya itu belum juga terlihat. 

Leila
akhirnya memutuskan untuk duduk di bawah sebuah pohon rindang di
pelataran kampus dan membuka-buka buku catatannya untuk sekedar
mempersiapkan materi kuliah esok. Namun ia tidak bisa berkonsentrasi,
ia bahkan merasakan keningnya kembali berdenyut-denyut. 

Tiba-tiba terdengar suara dua orang gadis yang meneriakkan namanya dari arah belakang, Leila pun menoleh.
“Hei
Lei, dah sampai dari tadi? By the way… kamu malam itu ke mana sih?
Kok gak jadi ke party? Kita cari ke apartemen kamu juga nggak ada.
Kenapa kamu bohong segala sih Lei? Aku juga sudah mencoba hubungi
ponselmu tapi gak nyambung terus,” cerocos Manda, tampak sedikit kesal.
Leila menatap mata Manda dalam-dalam, ia mencoba menetralisir gemuruh
di dadanya.

“Sebenarnya aku sudah menunggu kalian di depan
apartemenku malam itu, seperti yang kujanjikan, tapi…” Leila
tiba-tiba merasa ragu melanjutkan ucapannya.
“But..what….?” tagih
Manda dan Sam berbarengan. Leila menggigit bibir bawahnya, lalu
mengambil sesuatu dari dalam tasnya dengan hati-hati.

“Saat aku
nunggu kalian, tiba-tiba ada seseorang dari arah belakang mukul
tengkukku aku tiba-tiba nggak sadarkan diri. Bangun-bangun aku sudah
ada di sebuah tempat yang asing, then… I found this.” Leila
menunjukkan secarik kertas yang tampaknya merupakan sebuah bukti
pembayaran dari sebuah rumah makan siap saji atas nama seorang pria
dengan nama keluarga sama persis dengan nama keluarga Samantha.
“Ugh
God!” pekik Manda terkejut, mata dan mulutnya terbuka lebar. Sam ikut
terbelalak begitu melihat jejak yang ditinggalkan oleh pelaku yang
telah mencederai sahabat mereka itu.  

Leila mengepalkan tangannya kuat, giginya menggemerutuk.
“Ini
sudah keterlaluan! Aku berencana akan melaporkan kejadian ini ke pihak
berwenang! Aku juga yakin bahwa orang inilah yang telah melukai lengan
kananmu, Sam!” seru Leila sambil menunjuk kertas tersebut. Sam
tersentak, ia langsung memegangi kedua bahu Leila sambil menatapnya
tajam, kemudian menarik nafas panjang.

“Ok Lei, I know what
you are feelling, kamu pasti pengen banget mengetahui siapa Mr. Blue
itu, tapi aku justru khawatir bahwa ini memang ada hubungannya dengan
salah satu anggota keluargaku yang aku pun sebenarnya tidak kenal. Ini
menyangkut nama baik keluarga Lei,” ujar Sam meyakinkan Leila. Leila
mengangguk lemah, sebenarnya ia pun berpikir demikian. Ia juga tahu
akibatnya jika ia berani melaporkan keluarga Sam pada pihak kepolisian,
itu artinya ia akan berhadapan dengan sebuah kelompok fraternite yang
mungkin lebih berbahaya dari perkiraannya selama ini. Mengingat hal
itu, tiba-tiba Leila bergidik.

“Lebih baik kau simpan bukti ini
dan kita selidiki sendiri siapa Mr. Blue yang telah menjebakmu itu,
tidak perlu melibatkan pihak luar!” demikian nasehat Sam. Leila kembali
hanya bisa mengangguk.
“Oh ya… gimana kalau sekarang kita
jalan-jalan ke KTC yuk?! Shopping… mungkin bisa ngilangin stress-mu
itu, Lei!” usul Manda mencoba mengalihkan perhatian Leila.“Aku pengen banget jalan bareng kalian, but.I can not, so sorry! Soalnya
aku harus kerja sekarang.” Seru Leila sambil melirik jam
tangannya.”Kerja? Sejak kapan kamu kerja?” tanya Sam dan Manda
terheran-heran.

“Uhmm…aku cuma diminta ngegantiin kakakku kok.” jawab Leila terbata.
“Sister?
Do you have a sister?” tanya mereka lagi, tampaknya tidak pernah
mendengar cerita apa pun tentang saudara Leila sebelumnya. Leila hanya
mengangguk.
“Yeah…” jawabnya mantap. Mata mereka terbelalak seketika.
“Kakakmu sedang sakit?” tanya Manda simpati. Leila kembali mengangguk.
“Yahh,
padahal aku pengen sekali-kali jalan? Kan udah lama kita nggak jalan
bareng Lei… lagipula kamu kan butuh refreshing.” dalih Manda.
“Yeah… tapi ini menyangkut kepercayaan, aku sudah janji pada kakakku untuk menggantikannya.” Leila bersikeras.
“Di daerah mana Lei?” tanya Sam.
“Di Ohio, karena itulah aku harus cepat-cepat.”
“Jauh juga…naik apa Lei?” tanya Manda cemas.
“Subway lah… atau mungkin bawa mobil kakakku.”
“Kamu bisa bawa sendiri? Sejak kapan kamu bisa bawa mobil?” tanya Sam dan Manda kembali berbarengan.
“Nggak
pernah kelihatan mengendarai mobil, bukan berarti nggak bisa…”
Sjawaban itu rupanya cukup membuat sahabatnya sedikit tenang.
“Uhm, tapi… kamu bener-bener udah baik-baik aja kan?” tanya Manda prihatin sambil meraba kening Leila.
“Yeah, calmdown gals! Iam fine.” Jawab Leila santai meyakinkan kedua sahabatnya. Kedua sahabatnya hanya bisa mengangkat bahu.
Mereka kemudian berpisah. 
“Luar
biasa, dia bisa tetap tenang.” Manda mengulas senyum tipis, matanya
berbinar. “Aku ingin sekali tegar seperti Leila.” Sam tak memberi
tanggapan dan hanya terdiam menatap tajam ke arah depan.

 Namun
di hati Sam dan Manda muncul satu keganjilan. Dari percakapan barusan,
sepertinya mereka baru menyadari bahwa mereka tidak tahu banyak tentang
diri Leila. Bahkan tidak tahu bahwa Leila memiliki kakak dan ternyata
ia bisa mengendarai mobil sampai ke luar kota. Mereka merasa bahwa
sifat individualis Amerika rupanya telah mendarah daging pada diri
mereka. Ada sepercik rasa bersalah terutama pada diri Manda, rupanya
waktu empat tahun mengenal gadis itu tidaklah cukup baginya untuk
mengetahui seluk-beluk pribadi dan keluarganya. Mereka hanya tahu bahwa
Leila adalah peranakan Indonesia-Amerika dan sebelum hidup mandiri di
Michigan, ia tinggal di Illinois bersama keluarganya, itu saja. 

Sebenarnya
mereka juga tidak mengerti mengapa Leila lebih memilih untuk dekat
dengan mereka dibanding dengan rekan-rekannya yang ber-hijab. Selama
ini mereka hanya menebak-nebak bahwa Leila merasa nyaman bersahabat
dengan mereka karena Leila merasa terlindungi, ada Sam yang pemberani
dan apa adanya, ada Manda yang loyal dan perhatian padanya. Mereka pun
tak mengerti mengapa bisa begitu cocok berteman dengan Leila,
sepertinya perbedaan latar belakang dan agama tidak menjadi penghalang
bagi mereka. 

Saat pertama bertemu, Leila tak ubahnya seperti
para sister lainnya, pemalu. Dia tampak begitu tabah ketika ada seorang
gadis di kelas persiapan kuliah mengejek dan melemparinya gumpalan
kertas, kebetulan di kelas mereka memang hanya Leila yang ber-hijab.
Namun rupanya Manda tak bisa menerima keadaan itu begitu saja, dia
muncul bak seorang super women menawarkan segala bantuan pada Leila.
Sejak itulah persahabatan mereka mulai terjalin. 

Setelah
beberapa saat berteman, ternyata mereka baru tahu bahwa Leila adalah
gadis yang sangat cerdas. Sam yang sejatinya adalah sahabat lama Manda
awalnya sering kali tampak cemburu melihat sikap Manda pada sahabat
baru mereka itu. Namun mengetahui bahwa Leila adalah gadis yang sangat
cerdas dan tulus, lama-kelamaan Sam mulai bisa menerima kehadiran
Leila, bahkan ia kerap menjadikan Leila sebagai guru privatnya. 

Manda
meneguk ludah, rupanya ia tidak tahu apa pun tentang seseorang yang
dengan bangga ia sebut sebagai “sahabat”. Kenapa baru sekarang ia
menyadarinya.

(bersambung)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here