Black Prom Party (Episode 1)

0
73

Asfia Shafana

Jam pergantian mata kuliah baru saja berlangsung. Suasana Economic Faculty of Michigan State University berubah seketika. Kelas-kelas menjadi kosong dan lorong-lorong dipadati
ribuan mahasiswa yang hendak pulang atau masuk kelas berikutnya.
Sebagian dari mereka tengah asyik mengobrol dengan rekan-rekannya,
sebagian lagi sibuk merapikan alat tulis dan isi lokernya. Beberapa
orang gadis berjilbab tampak seru berdiskusi di depan loker, tampaknya
mereka sedang membicarakan mengenai jadwal taushiyah pekan ini.
Ramadhan telah tiba dan sudah jadi tradisi bagi para muslim Michigan
untuk melaksanakan ifthor jamai di masjid, para brother akan membawakan makanan ta jil dari tiap rumah ke masjid, sementara sister saling bertaushiyah.

Akan
tetapi tidak demikian dengan Leila, mahasiswi asal Indonesia yang duduk
di bangku semester enam universitas itu kini tampak terburu-buru
membuka lokernya. Karena ia sudah berjanji pada kedua sahabatnya,
Samantha dan Amanda, untuk pulang bersama. 

Ia baru saja
mematikan ponselnya sehabis menghubungi Keyla, kakaknya yang hanya beda
lahir lima belas menit. Leila memang selalu tampak lebih akrab bersama
Samantha dan Manda ketimbang bersama para sister. Kelihatannya ia mencoba berbaur.

Baru
saja ia taruh ponselnya ke dalam tas dan hendak menaruh peralatan
kuliahnya di loker, tiba-tiba Leila dikejutkan dengan adanya sebuah
surat terselip di pintu bagian dalam loker pribadinya. Leila
mengernyitkan kening. Surat dari siapa ini?
Penasaran,
dibukanya amplop biru itu dengan cepat. Secarik kertas dengan tulisan
tangan yang rapi itu kemudian semakin menyulut rasa ingin tahunya.

Lei
selamat yah… sudah kuduga kamu akan menjadi mahasiswi terbaik
fakultas di angkatanmu. Sejak dulu aku tahu kamu berbeda. Tingkahmu
juga selalu bikin aku penasaran, kamu misterius, tapi cerdas dan punya
pribadi menyenangkan. Mungkin bisa dikatakan aku adalah pengagum
rahasiamu yang semakin lama semakin ingin menjadi orang terdekat
bagimu. Bolehkah? Percayalah, aku selalu memperhatikanmu.

Mr. Blue

Ia
segera mengembalikan surat itu ke tempat semula. Jantungnya berdegup
tangannya bergetar. Ada rasa aneh menderanya. Ini adalah surat
pengakuan pertama baginya. Rupanya selama ini ada sesosok pria yang
memperhatikannya sampai menobatkan dirinya sendiri sebagai pengagum
rahasia segala. Yang benar saja! Leila menghela nafas panjang dan
berusaha menutupi kekalutan di wajahnya. 

“Hei what is up, Lei?” tanya Amanda seolah bisa membaca sekelebat kekalutan yang baru saja
melanda hati Leila, namun yang ditanya hanya terdiam dengan mata
menerawang.
“Are you ok?” kali ini Samantha mengulangi pertanyaannya guna memastikan sahabatnya baik-baik saja.
“Hm… Iam ok,” Leila berusaha tersenyum.
Di
sepanjang jalan pulang kali ini, Leila sibuk dengan pikirannya sendiri,
ia hanya membalas celotehan dan candaan kawan-kawannya melalui anggukan
malas dan senyum terkulum. Pandangannya pun lebih tertuju pada
permukaan trotoar di sepanjang Merritt Street, Grand rapids yang
seperti biasanya ramai dengan orang berlalu-lalang diselingi deru mobil
yang berseliweran. Di dalam hati ia masih saja bertanya. Siapa Mr. Blue sebenarnya? Apakah ia mengenalnya? Tidak bisa dipungkiri, Leila begitu merasa tersanjung.

***

Keesokan
paginya, sejak memasuki halaman kampus bergaya American classic yang
terbilang mungil itu, Leila sudah mulai mengedarkan pandangannya. Kali
ini lebih tertuju pada mahasiswa laki-laki yang lewat di sekitarnya
pagi itu. Ia berusaha menebak-nebak, adakah Mr. Blue di
antaranya? Siapakah laki-laki yang memakai pakaian biru hari ini?
Siapakah laki-laki yang memandangnya dengan tatapan aneh? Namun sejauh
ini, sudut matanya tidak menangkap hal-hal yang mencurigakan. Semua
biasa-biasa saja…Leila menghembuskan nafas dengan resah dan kembali
melanjutkan langkahnya…
“Hei… kamu lagi jatuh cinta ya Lei?”
tembak Sam saat makan siang di kantin. Leila tersentak dan hampir
tersedak makanan yang ada di sela kerongkongannya, namun kemudian
menggeleng.

“Emang ada yang aneh sama aku?” tanya Leila sambil menatap Samantha.
“Habis
kamu bengong terus dari kemarin… dan kalau kuperhatiin, mata kamu
udah mulai berani melirik cowok.” jawab Sam dengan cengiran lebar dan
sekilas mengerlingkan matanya ke arah Manda.
“Baru ditembak ya? Duh… mau prom nih? Asyik dong!” pertanyaan Manda kali ini membuat mata Leila membelalak.
“What, Prom?” air muka Sam dan Manda berubah begitu mendengar pekik tertahan Leila itu.

Sam
menyikut lengan Manda. Memberi isyarat bahwa Manda telah salah bicara.
Sejak dulu mereka tahu bahwa Leila tidak akan pernah ke acara Prom,
punya pacar, atau semacamnya. Entahlah, kelihatannya Leila alergi
dengan hal-hal semacam itu. Namun sepertinya kedua sahabatnya itu sudah
memahami pola hidup umumnya remaja muslim kota mereka. Michigan
merupakan kota dengan proporsi jumlah muslim terbanyak, sekitar
sepertiga bagian, dan nyaris seluruh muslimahnya mengenakan jilbab.

“Maaf, salah ngomong ya?” Manda menatap mata Leila hati-hati.
“Enggak…bukan
itu maksudku!” jawab Leila sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Kali
ini justru dia yang takut jika Manda marah.
“Ehmm… maaf, aku aneh
ya?” Leila menghela nafas lagi, “Aku sebenarnya lagi ada sedikit
masalah, boleh curhat?” perkataannya kali ini membuat kedua sahabatnya
saling beradu pandang dan mengernyitkan dahinya. 

“Aku nggak ingat kapan terakhir kali kamu curhat sama kami,” kata Sam takjub.
“Iya, biasanya juga kami yang selalu minta pendapat kamu. By the way… oke, curhat aja! Kamu kenapa?” timpal Manda seraya menaruh lengannya di kedua bahu Leila.
“Ini…” Leila menyerahkan surat yang dikirim oleh pria bernama samaran Mr. Blue itu kepada dua sahabatnya.

Suasana hening sejenak, mereka berdua sibuk membaca surat singkat itu.
 “Hmm,
aku nggak tahu yah apa alasan sebenarnya dia berani ngelakuin hal ini
sama kamu Lei, tapi menurutku ini surat biasa aja dan ujung-ujungnya
dia akan ngajak kamu jadi pasangan date-nya di malam prom nanti. Gitu!” komentar Sam.
“Lei, emang kamu tertarik ikut Prom?” Tanya Manda memastikan.
“Enggak lah!”jawab Leila yakin sambil terus mengunyah makan siangnya.
“Kalau gitu… Untuk apa kamu pikirin? Emangnya Manda…” timpal Sam, menggoda.
“Huh kayak kamu nggak aja Sam? Kamu udah rencanain ini dari minggu kemaren kan?” balas Manda.
“Udah-udah!
Maaf yah jadi ngerepotin kalian! Enggak penting lah…mending omongin
yang lain aja.” Leila mencoba menengahi, kemudian ia memasukkan kembali
surat itu ke dalam tasnya.
“Aku cuma agak terkejut aja, ini pertama
kalinya aku dapat surat pengakuan begini. Mungkin aku jadi agak ge-er.”
Leila tersenyum nakal. 
Sam dan Manda bertatapan, kemudian tersenyum sambil merangkul bahu Leila.

“Tenang aja! Kami tahu kok perasaan
kamu, sedikit penasaran, sedikit takut, tapi berbunga-bunga…
gadis-gadis seperti kita wajar kok punya perasaan kayak gini. Malah
kukira selama ini kamu nggak normal, nggak pernah tertarik bicara soal party, cowok, apalagi nge-date.”
seru Manda. Leila tersenyum hambar. “Aku normal kok, aku cuma mencoba
membentengi diri aja. Lagipula bagiku hal-hal seperti itu menyita
banyak waktu, dan bukan hal yang penting untuk dibahas.” 

“Hmm..tapi kira-kira siapa ya, Lei? Cowok kampus ini yang suka pake baju biru dan menyamar sebagai Mr. Blue? Coba sebutin!” ujar Manda.
“Nathan, Mike, Joe, Mathew, siapa lagi ya? Kayaknya banyak deh..” jawab Sam.
“Atau…
Randy?” suasana berubah seketika, tampak rona kecemburuan di wajah Sam,
nama yang Manda sebutkan barusan adalah cowok yang selama ini Sam
taksir.
“Gak mungkin!” jawab Sam setengah berteriak dan memukul meja di hadapannya.
“Manda becanda Sam…” hibur Leila, namun hatinya masih saja resah. Sebenarnya ada nama yang sangat ia harapkan sebagai sosok Mr.Blue, tapi rasa-rasanya tidak mungkin.

***

Dua hari kemudian, ketika Leila
masuk ke gedung kampus dan berjalan ke arah loker pribadinya, hendak
mengambil alat-alat tulisnya seperti biasa, lagi-lagi di pintu loker
itu terselip surat dengan kertas biru yang sama, tak sabar ia
membukanya. 

Hei Lei… bagaimana jawaban suratku? Tapi aku
gak perduli dengan apapun jawabanmu. Permintaanku sederhana aja. Kamu
mau nggak jadi date-ku saat malam Prom nanti? Jawabannya harus iya! Ok?
Karena kalau nggak, lihat aja… Kamu bisa aja kehilangan
sahabat-sahabatmu itu, atau aku bisa aja berbuat lebih. KAMU HARUS
DATANG! Aku tunggu kamu di prom party. Akan kubuktiin keseriusanku!

Mr. Blue

Leila
menggelengkan kepalanya, tak habis pikir. Ia hanya menganggap hal itu
sebagai sebuah candaan yang tidak layak ia tanggapi. Lagipula ia yakin
banyak anak di kampus ini yang cukup tahu bahwa ia bukan tipe gadis
yang suka menghadiri acara macam itu, di malam bulan Ramadhan pula! Oh,
no… Kalau memang Mr. Blue selalu memperhatikannya dan benar
pengagum rahasianya, tidak mungkin ia mengajukan permintaan konyol
seperti ini apalagi sampai menyertakan ancaman. Berarti Mr. Blue itu hanya omong kosong saja. 
Leila mengabaikan isi surat itu dan langsung menaruhnya asal di dalam tasnya.

(bersambung)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here