Belajar Bahasa Lain Biar Tidak Cepat Pikun

0
101

Belajar Bahasa Lain Biar Tidak Cepat Pikun. Simak selengkapnya…
Beruntung mereka yang tinggal sejak lahir atau bahkan menetap di suatu daerah dalam jangka waktu lama, karena biasanya mahir dengan bahasa daerahnya. Begitu juga bila berkesempatan tinggal di luar negeri, kemampuan berbahasa asiing juga ikut terasah.

Tapi kalaupun tidak berkesempatan tinggal di daerah atau negara tertentu, kesempatan berbahasa asing maupun daerah juga bisa dilatih, lhooo. Salah satu cara adalah dengan mengikuti kursus bahasa. Mungkin untuk bahasa daerah, karena jarang atau bahkan hampir tidak ada tempat kursusnya, Sobat bisa minta diajari  oleh teman atau kerabat yang pandai berbahasa daerah tersebut.

Lain halnya dengan belajar bahasa asing. Sudah banyak tempat yang menawarkan kursus bahasa asing sehingga mudah mendapatkan akses untuk belajar bahasa asing yang bagi sejumlah orang, mempelajari bahasa asing mungkin bertujuan  untuk bersekolah atau bekerja di negara tujuan tersebut.

Sementara bagi beberapa orang lainnya, belajar bahasa asing menjadi pengisi waktu luang. “Semula saya mengambil bahasa Jerman untuk iseng saja. Buat kepentingan sendiri supaya bisa mengobrol dengan teman yang tinggal di Jerman.  Lambat laun, saya merasa enak juga ya belajar bahasa baru,” ujar Betty.

Memang, awalnya perempuan berusia 32 tahun itu merasa kesulitan untuk bisa mengikuti pelajaran bahasa Jerman.  Untungnya, ia pantang menyerah.  Semua kesulitan ia anggap sebagai tantangan.

“Supaya  lebih mahir, saya membeli CD tentang bahasa Jerman.  Jadilah di waktu senggang, saya mendengarkan CD tersebut sambil membuka kamus Jerman,” kata akuntan itu.

Kognitif lebih baik

Mendengarkan CD bahasa Jerman maupun kursus akhirnya menjadi me time bagi Betty.  Bahkan, untuk memperlancar kemampun, Betty tak segan mengirimkan surat elektronik kepada temannya yang tinggal di Frankfurt, Jerman.  Sesekali ia bers-kype dengan temannya dan mengobrol dalam bahasa Jerman.

Mempelajari bahasa asing saat dewasa memang tidak semudah ketika masa kanak-kanak.  Dalam The Chart CNN Health dijelaskan bahwa masalahnya bukan otak.  Kondisi sosial, edukasi dan situasi lainnya memang telah berbeda ketika orang dewasa terpapar bahasa asing. Tidak seperti anak, orang dewasa tidak dapat mencurahkan  begitu banyak waktu dan perhatian saat belajar bahasa baru.

Itu sebabnya, ketika mulai belajar bahasa di usia pertengahan atau lanjut, kemungkinan menjadi sangat lancar dalam bahasa baru menjadi rendah. Namun belajar bahasa asing di usia dewasa bukan berarti kita tidak mendapat manfaat.

Setiap hal kecil yang kita lakukan, dalam mempelajari bahasa asing misalnya, nyatanya dapat membantu melindungi dari risiko penurunan kognitif.  Hal itu juga ditegaskan oleh para ahli.

Pikiran tetap aktif   

Menurut  Ellen Bialstok dari York University Toronto Ontario Kanada: “Saat tubuh manusia mulai mengalami penurunan alamiah akibat proses penuaan, mereka yang berbahasa bilingual tampaknya tetap dapat menjaga fungsi kognitifnya dengan lebih baik. “Bialstok dan koleganya bahkan telah mempelajari dan menjumpai mereka yang memiliki kemampuan berbahasa bilingual, rata-rata 4-5 tahun lebih tua mengalami kerusakan neurologis ketimbang yang monolingual atau satu bahasa. Mudahnya, mereka yang rutin menggunakan dua bahasa menunjukkan tanda kepikunan lebih lambat dibandingkan dengan yang hanya menggunakan satu bahasa.

Mengapa hal itu bisa terjadi, ada teori yang menyebutkan bahwa belajar bahasa menjadi contoh melindungi kognitif.  Contoh lain yang bisa menjaga pikiran tetap aktif adalah bermain puzzle dan games.

So… ayo belajar bahasa! ^__^

health.kompas.com

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here