WAJA SAMPAI KAPUTING

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 Penulis: Muhammad Saleh

Borneo, 1863

            “Ha....ha....! Ini memang berita penting!” Kapten Hoffman tertawa senang setelah membaca gulungan surat yang baru diberikan Linggar padanya “Kerja Ek sebagai orang pribumi memang bagus....” puji Kapten Hoffman menepuk-nepuk pundak lelaki kurus pendek di sampingnya itu.

            “Terima kasih, Tuan.” ucap Linggar tersenyum seraya  mengangguk-anggukan kepalanya. Tentu ia sangat senang menerima pujian dari seorang pemimpin Kompeni Belanda itu. Ia merasa usahanya tak sia-sia merebut surat itu dari tangan Barda, teleksandi kepercayaan Demang Lehman yang telah ia bunuh kemarin di hutan 2.

            “Ehm....bagaimana mengenai hadiah yang Tuan janjikan?” tanya Linggar kemudian ragu-ragu. Ia takut pertanyaannya mengganggu Kapten Hoffman yang sangat terlihat bahagia menikmati isi surat itu.

            Dan benar wajah Kapten Hoffman langsung menegak. Menatap tajam ke arah lelaki di hadapannya. Deg ! jantung Linggar terasa berhenti. Tubuhnya menjadi gugup. Apakah tanyaku tadi penyebabnya? batinya. Rasa itu segera surut setelah melihat sunggingan senyum di ujung bibir Kapten Hoffman.

            “Ek jangan kwatir. Ek pasti mendapatkannya...” Kapten Hoffman kemudian berteriak memanggil seorang bawahannya. Sejurus kemudian daun pintu ruangan terbuka. Seorang lelaki bertubuh tinggi tegap, berseragam lengkap, dengan potongan rambut cepak, masuk. Di bagian atas kiri sakunya tertera namanya, Komandan Beckham.

            “Ya..sir, ada apa? Tanyanya dengan posisi siap menghadap Kapten Hoffman. Linggar hanya diam memperhatikan dari sudut matanya.

            “Kamu orang ! kasih nih orang pribumi, hadiah yang kita janjikan...” perintah Kapten Hoffman sambil menunjuk Linggar dengan dagunya. Seraya memberikan isyarat dengan sedikit kedipan mata.

            “Ya sir. Laksanakan...” jawab Komandan Beckham tersenyum licik. Ia bisa menangkap apa isyarat barusan. Pekerjaan yang begitu mengasyikkan baginya. Ia kemudian mengajak Linggar mengikutinya ke sebuah ruangan.

Dalam benak Linggar, ia sudah tak sabar menerima kantong duit yang akan diberikan padanya. Pasti sangat banyak, karena berita yang ia berikan sangat penting. Dengan begitu impiannya menjadi saudagar akan segera tercapai. Sebentar lagi, batinnya.

            “Tidaakkkk!”

Door..! door..! door...!

            Terdengar pekikan suara di ikuti salakan senjata api dari dalam ruang di mana Linggar berada. Beberapa detik kemudian, Komandan Beckham menyembul dari daun pintu. Meniup asap putih tipis yang mengepul dari ujung pistolnya. Dengan seringai lebar.

            “Semua sudah beres, Sir..”

            “Bagus ! orang seperti dia memang pantas mendapat itu. Bangsanya sendiri ia khianati, apalagi kita nanti...,” serunya menggeram marah “Apalagi dia bukan orang penting dalam jajaran kerajaan Banjar. Jadi tak ada ruginya kita melenyapkannya...”

            Komandan Beckham hanya mengiyakan dengan anggukan khas-nya apa penuturan lelaki di hadapannya itu. Kelicikan adalah salah satu strategi perang mereka, agar bisa menaklukkan negeri jajahan dengan mudah.

            “Malam ini, kumpulkan seluruh pemimpin pasukan. Kita adakan rapat darurat. Karena ini masalah yang sangat penting” perintah Kapten Hoffman kemudian. Ia harus mendapatkan cara, bagaimana menghancurkan kekuatan pasukan Banjar yang di pimpin Pangeran Antasari. Kapten Hoffman telah kehilangan salah satu benteng yang menjadi sumber pendapat Kompeni terbesar, Orange Nassau 3. Karena telah direbut oleh pasukan Banjar, dengan serangan tak terduga pada dini hari. Saat seluruh pasukannya sedang terlelap.

            “Ya, Sir!” Gegas Komandan Beckham mengayun langkah meninggalkan ruangan itu dan menghilang di balik pintu.

***

            Malam telah pekat sempurna. Tanpa bulan. Tanpa bintang. Langit tersaput oleh awan hitam, seakan ada kekuatan jahat yang sedang menyelimuti bumi. Dan  sepertinya akan segera menurunkan tangisnya. Suara cericit kelalawar dan longlongan anjing di kejauhan hutan, semakin membuat malam terasa mencekam.

            Di sebuah ruangan. Cahaya lampu yang menempel pada dinding tampak temaram menyinari beberapa orang yang sedang duduk saling behadapan di samping meja panjang. Api kecil di ujung sumbu meliuk-liuk indah laksana seorang penari perut. Seirama arah angin.

Di ujung meja, lelaki setengah baya menatap semuanya dengan serius. Orang per orang bergantian membaca gulungan yang dibawanya. Setelah selesai, wajah mereka tampak tegang. Belum ada yang membuka suara. Semua menunggu apa yang akan di katakan lelaki setengah baya itu.

            “Kita harus mencari cara, bagaimana menggagalkan serangan besar-besaran pasukan Banjar ini?” seru lelaki itu kemudian. Menggema ke seluruh langit-langit ruangan. Dia adalah Kapten Hoffman.

            Semua kepala langsung menegak. Dengan pikiran masing-masing. Belum ada yang menyahut. Semua yang hadir dalam rapat darurat ini tampak berpikir keras. Tak ingin memberi ide yang asal-asalan. Kalau tak ingin mendapat murka dari sang Kapten.

            “Kapten....” Mayor Koch mengangkat tangannya. Semua pasang mata langsung tertuju pada satu arah “Bagaimana kalau kita adakan kembali perundingan damai dengan mereka....”

            Kapten Hoffman menggeleng lemah “Mereka terlalu sulit untuk diajak berkompromi. Cara itu tidak pas untuk keadaan genting seperti ini....”

            Semua mengangguk. Membenarkan apa yang dikatakan Kapten Hoffman barusan. Mereka sangat tahu siapa Pangeran Antasari, orang yang tak pernah mau bekerja sama dengan mereka. Tidak seperti Tamjidullah, yang dengan loyal mengikuti mereka dengan balasan sebuah kedudukan sebagai Sultan. Yang mengakibatkan rakyat Banjar berontak, karena yang pantas menjadi Sultan adalah Pangeran Hidayatullah. Sesuai dengan surat wasiat ayahnya.

            Hening sesaat.

            “Bagaimana kalau kita adu domba mereka dengan pendukung Tamjidullah yang masih setia?” seru Komandan Beckham memecah kebisuan.

            “Saya rasa rencana itu juga tak akan berhasil...” Mayor Verspyck langsung mematahkan usul itu. Yang di sambut dengan tatapan sinis Komandan Beckham, ia tak senang kata-katanya langsung di sanggah

            “Apa maksud kamu?”

            “Heeeh..!” Mayor Verspyck mengangkat ujung bibirnya, meremehkan rencana  Komandan Beckham barusan “Rakyat Banjar sudah terlalu pintar, mereka tak akan terpancing dengan siasat itu. Apa kalian lupa? Kita pernah gagal dengan rencana seperti itu...”

            Semua kembali mengangguk. Setuju dengan alasan yang diberikan Mayor Verspyck. Kecuali Komandan Beckham ia masih sangat kesal. Karena tak berhasil meraih perhatian semua yang hadir. Terutama Kapten Hoffman.

            “Terus rencana kamu apa?” tanya Komandan Beckham ketus. Ia berharap juga bisa mematahkan rencana Mayor Verspyck yang akan di ucapkannya nanti.

            “Iya Mayor, katakan !” Kapten Hoffman mengimbuhi.

            Mayor Verspyck merubah posisi duduknya, tegap. Semua tampak menanti tak sabar, apa rencana yang ada dibenak Mayor yang memang salah seorang yang hebat dalam mengatur strategi perang.

            “Begini....” Mayor Verspyck menjelaskan rencana yang ada dalam pikirannya dengan detail. Bagaimana memulainya, menjalankannya dan dengan perkiraan sembilan puluh persen rencana ini akan berhasil.

            Tak ada yang membantah. Semua mendengarkan dengan serius.

            “Bagus ! rencana yang brilian !” puji Kapten Hoffman puas. Rencana yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya “Kamu orang memang pintar, Mayor...”

            “Terima kasih, Kapten”

            Yang lain pun tampak setuju dengan usul itu. Komandan Beckham dibuat tak berkutik. Ia tak punya alasan untuk menyanggahnya. Hingga dengan terpaksa ia juga setuju.

            “Mayor, karena kamu orang yang punya ide ini. Kamu orang juga yang akan memimpin misi ini...” perintah Kapten Hoffman kemudian.

            “Dengan senang hati, Kapten”

***

            Seminggu lagi penyerangan besar-besaran ke benteng Belanda akan di mulai. Seluruh pasukan tinggal menunggu perintah dari sang pemimpin. Masih menggunakan strategi yang sama. Perang gerilya pada malam hari.

Kejadian tak terduga seketika muncul. Rakyat Banjar geger. Karena ditemukan beberapa warga yang tiba-tiba terserang penyakit cacar air. Penyakit kulit yang berbahaya. Menyebabkan gatal-gatal ke seluruh bagian tubuh. Perlahan tapi pasti, penyakit itu menyebar dengan cepat. Bagai api yang melalap ilalang kering tanpa ampun.

            Banyak rakyat yang terkulai lemas di atas dipan bambu rumahnya. Sekujur tubuh mereka di penuhi bintik-bintik merah semacam bisul, berisi air. Yang jika pecah menimbulkan rasa gatal yang sangat. Suhu tubuh pun naik, demam tak terelakan. Erangan pilu hampir terdengar di setiap sudut-sudut rumah rakyat. Bahkan, tubuh mereka gemetar menahan gigil yang mendera.

            “Pangeran Antasari, juga terjangkit Demang...”

            “Apa?!” Demang Lehman sontak kaget dengan laporan anak buahnya barusan. Bagai petir yang memekakkan gendang telinganya. Pikirannya langsung kalut. Bagaimana ini bisa terjadi? Penyakit cacar tiba-tiba merebak padahal bukan musim orang terserang penyakit yang bisa menyebabkan kematian ini. Ada sesuatu yang tak beres. Tapi apa? Demang Lehman tak bisa menduga-duga.

            “Bagaimana dengan rencana penyerangan ke benteng Belanda itu. Jika Pangeran Antasari saat ini sedang sakit?” Cecar anak buahnya itu lagi meminta kepastian.

            “Terpaksa kita tunda...” Demang Lehman tak tahu harus menjawab apa lagi. Ia benar-benar panik. Padahal seluruh pasukan yang ada di Martapura, Pengaron, Kuin, Hulu, Hilir, dan tempat-tempat lain sudah siap untuk menyerang “Katakan pada pemimpin pasukan. Tunggu perintah selanjutnya...”

            Demang Lehman langsung mengambil kudanya. Memacu kencang menembus hutan. Menuju ke benteng pertahanan Pangeran Antasari dengan perasaan cemas.

***

           

            “Cheerrss...!” gelas berantuk di iringin gelak tawa yang membahana. Di sambut cekikikan gadis-gadis berambut merah di samping mereka. Suara riuh tawa, gadis-gadis penghibur itu bagai nyanyian merdu yang melenakan. Tak ketinggalan para pemain biola memainkan musik-musik melow yang indah dengan lihai. Dansa-dansa kemenangkanpun memenuhi ruangan itu.

            Tak henti-hentinya Kapten Hoffman yang setengah mabuk, memuji-muji Mayor Verspyck atas keberhasilan rencananya 4 menghancurkan pasukan Banjar. Mematahkan rencana serangan ke benteng Kompeni.

            “Kamu memang hebat, Mayor. Jenius. Ha....ha.....” katanya dengan tubuh yang sudah tak stabil lagi. Oleng ke sana kemari sambil merangkul gadis berambut merah. Sebelah tangannya masih memegang gelas yang berisi separu wisky yang di datangkan dari Eropa

 “Mari, kita bersulang lagi untuk kemenangan kita...” Kapten Hoffman kembali mengacungkan gelas yang di pegangnya ke hadapan. Begitu juga dengan komandan dan mayor-mayor yang lain. Memberikan pujian yang sama pada Mayor Verspyck. Tak dapat di bayangkan betapa bangganya dia malam ini. Seolah dia adalah seorang raja yang baru saja memperoleh tahta.

“Cheerrss...!”

***

            Pusara itu masih basah. Belum ada yang beranjak pergi, meninggalkan gundukan tanah merah itu. Semua diam dalam hening. Menatap batu nisan yang berdiri tegak tertancap di atas gundukan.

            Mata mereka sembab. Basah oleh buliran bening yang terus mengalir dari sudut mata. Tak dapat di lukiskan dengan kata-kata, betapa sedih dan sangat kehilangannya mereka. Pemimpin yang sangat berani, gagah, dan di segani. Sangat di takuti oleh musuh. Kini telah pergi untuk selamanya. Akibat penyakit cacar yang diderita. Pangeran Antasari telah wafat.

            Namun, mereka tahu. Perjuangan belum berakhir. Sampai para Kompeni Belanda itu hengkang dari tanah Banjar ini. Mereka akan tetap berjuang untuk memperoleh kemerdekaan walau sang pemimpin telah tiada. Satu yang akan terus hidup di hati mereka. Sebuah semboyan pemantik semangat Haram Manyarah, Waja sampai kaputing. Keberanian dan semangat itu tak akan pernah padam sampai kapan pun.

 

Barabai, 03 Nopember 2010

 

 

1.   Semboyan pejuang Banjar yang artinya tak akan pernah menyerah sampai titik darah yang penghabisan.

2.   Baca Epik: Teleksandi.

3.   Benteng sekaligus pertambangan batu bara milik Kompeni Belanda di desa Pengaron.

4.   Mengadopsi ide dan rencana  yang di pakai Jenderal Jeffrey Amherst untuk memusnahkan suku Indian Cherokee. Dengan menyebarkan virus cacar melalui sungai, tempat rakyat Banjar mandi dan mengambil air minum.

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...