THE MOTHER HATER

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Novita Hidaya

 

The Mother Hater adalah sebuah club berisi anak-anak yang membenci sosok ibu. Club ini adalah tempat di mana kau bisa berkeluh kesah atau memaki ibumu semaumu. Tak akan ada yang melarang atau memarahimu. Karena memang club yang memiliki semboyan “Tak selamanya surga berada di bawah telapak kaki ibu” ini bertujuan untuk menampung setiap keluh kesah mengenai sosok ibu. Sudah hampir setahun aku menjadi anggota club ini, sharing bersama anggota-anggota yang lain tentang kenyataan pahit mengenai sosok ibu masing-masing. Dan hari ini aku berjalan melewati koridor panjang menuju ke tempat di mana kami biasa berkumpul untuk melakukan kegiatan rutin. Aku telah memikirkannya baik-baik dan aku telah memutuskan untuk  mengundurkan diri hari ini.

Kupercepat langkah. Koridor yang sudah sering kulewati ini terasa semakin panjang saja.

***

“Aku benci setiap kali mulai membicarakan sosoknya...,begitulah aku membuka cerita tentang ibuku setahun yang lalu, saat awal-awal aku menjadi anggota club ilegal di kampusku itu. Setidaknya begitulah aku mendengar anggota-anggota lainnya saat mulai bercerita. Ya, aku sejak kecil memang paling anti membicarakan sosok ibuku. Rasa sakit selalau menjalari hatiku tiap kali membicarakan sosok yang tak pernah kutemui seumur hidupku itu.

“Aku tak pernah bertemu dengannya sekalipun. Bagimana tidak? Setelah melahirkanku sembilan belas tahun lalu, ia meninggalkanku yang masih berlumuran darah sampai tubuhku yang hanya dililit kain seprai dikerumuni semut merah. Seperti sampah saja.” Kuhentikan ceritaku, tenggorokanku tercekat, mataku terasa panas. Kutahan air mata agar tidak tumpah. Jika menangis, aku merasa begitu lemah hanya karena sosok yang sepatutnya aku benci itu. Lagi pula, ceritaku begitu pasaran. Banyak sekali ibu semacam itu yang tersebar di dunia ini. Salah seorang anggota club mengusap bahuku berempati.

“Di sini kau tidak sendiri. Nasibmu tak jauh beda dengan anggota-anggota yang lain. Percayalah setelah kau berbagi bersama kami di sini, kau akan merasa lebih baik. Meski kau tak dapat melampiaskan kebencianmu pada ibumu, setidaknya kau memilki teman-teman yang juga merasakan hal yang sama denganmu.” Begitu kata Ken, ketua club The Mother Hater, meyakinkanku. Dan benar saja, setelah mengikuti club itu selama beberapa kali pertemuan, aku merasa lebih baik dan lebih kuat. Aku bertemu dengan banyak teman-teman yang nasibnya tak jauh beda denganku. Kami merasa senasib sepenanggungan, karena itu kami bisa menguatkan dan menyemangati satu sama lain.

***

Ada banyak sekali cerita yang kutemukan di club The Mother Hater setelah hampir setahun menjadi anggotanya. Dari soal remeh temeh tentang ibu yang cerewet dan suka main tangan, ibu yang lebih mementingkan karier dibandingkan keluarga, ibu yang pilih kasih, ibu yang meninggalkan anaknya, sampai ibu yang tega menjual anaknya. Semua cerita itu bisa membuat semua orang yang telah mendengarkannya sepakat dengan semboyan kami: Tak selamanya surga berada di bawah telapak kaki ibu. Termasuk diriku tentunya.

Sampai pada suatu hari di saat ulang tahunku yang ke 20. Ibu panti berhati baik yang selama ini merawatku, datang menghampiriku yang sedang mengabiskan sore hari  duduk-duduk di ayunan belakang panti asuhan, tempat tinggalku selama ini. Kukuatkan pijakan kakiku pada tanah untuk menhentikan laju ayunan yang bergoyang. Ibu panti tersenyum dan duduk di sebelah ayunanku. Aku balas tersenyum. Senyum yang tulus. Kulirik sebuah bingkisan yang dibawanya.

“Selamat ulang tahun, Raisa. Kau tumbuh menjadi gadis yang baik dengan segudang prestasi selama ini.” Kata ibu panti menatapku layaknya sedang menatap putrinya. Aku tersenyum mengangguk.

“Terimakasih, Bu. Ini semua berkat bimbingan dan doa ibu selama ini.”

“Dan berkat doa ibumu juga.”

Senyumku langsung hilang demi mendengar kata “ibumu” yang dikatan ibu panti, lalu aku tertawa terpaksa.

“Kau tau Raisa? Doa seorang ibu adalah yang paling makbul di dunia ini. Kau kira atas doa siapa kau bisa tumbuh menjadi seperti sekarang ini kalau bukan doa ibumu?” Ibu panti menatapku sungguh-sungguh. Kualihkan pandangan menatap kedua sandal jepit yang kugunakan. Dadaku menyesak. Aku menghela napas panjang. Kenapa harus tema ibu yang dibicarakannya?

“Apa termasuk doa ibu yang telah membuang anaknya seperti sampah?” Aku bertanya sinis. Pertanyaan yang lebih tepatnya kutanyakan pada diriku sendiri.

“Astagfirullah, Raisa… Nada bicaramu seakan-akan kau begitu membencinya. Jangan pernah, anakku. Jangan pernah sekali-kali membenci ibu yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanmu. Jangan pernah! Pun jika ia melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan seorang ibu. Mereka tetaplah seorang ibu. Karena di dalam diri setiap mahluk yang mendapat gelar ibu selalu ada kekuatan dan kasih sayang yang tidak dimiliki mahluk manapun. Kau baru akan benar-benar mengerti jika kelak kau telah menjadi seorang ibu...” Ibu panti mengangkat wajahku yang sejak tadi tertunduk sehingga aku dapat menatap wajah teduhnya yang telah digerus umur. Napasku benar-benar terasa menyesak.

“Belajarlah untuk memahami, anakku...”

Ibu panti mengakhiri pembicaraan sore itu dengan memberikanku bingkisan yang tadi dibawanya. Bingkisan yang pada akhirnya membuat perasaanku menjadi begitu berkecamuk. Membawaku kembali menyelami perasaan rindu menyakitkan yang dulu sering kurasakan. Kau tau bingkisan itu berisi apa? Bingkisan itu berisi seprai bermotif bunga-bunga yang dulu diberitahu Ibu panti sebagai selimutku saat pertama kali ditemukan. Seprai yang dulunya berlumuran darah itu telah dicuci bersih oleh ibu panti sehingga hanya menyisakan aroma lemari tua. Dan puncak dari semua titik balikku saat itu adalah selembar kertas yang telah berubah warnanya menjadi kecoklatan. Itu selembar surat dengan tulisan tangan miring ke kanan yang berhasil mengaduk-ngaduk perasaanku.

***

Kemilau Raisa...

Selamat datang, cahaya hidupku… Selamat datang di dunia yang nantinya akan terasa lebih menyesakkan dibandingkan duniamu sebelumnya. Tapi percayalah, meski mungkin kelak kau tidak mengharapkan ibu seperti diriku. Meski kelak aku tak bisa menemanimu tumbuh melewati masa-masa hebatmu. Rasa sayangku padamu tak berkurang sedikitpun dari saat ini.

Kau tau mengapa?

Karena  kehadiranmu hari ini membuatku begitu bahagia. Seperti spora yang meledak pada jamur. Laksana  menginjakkan kaki di atas langit yang dipenuhi taburan bintang-bintang. Sungguh aku bahkan tak bisa memilih diksi yang tepat untuk menggambarkan kegembiraanku saat ini. Jadi kelak ketika kau telah tumbuh dewasa dan telah mengerti banyak hal tentang hidup. Kau boleh membenciku karena meninggalkanmu seperti ini, tapi jangan pernah sekalipun berpikir bahwa aku tidak menyangimu .Kumohon, jangan pernah sekalipun. Pahamilah hidup lebih baik dari ibumu ini...

Aku menyayangimu,

Tumbuhlah dengan sehat, baik, dan cantik

Untuk bayi cantik ini, Kemilau Raisa. 22 Desember 1993

Kubaca sekali lagi, dan jelas-jelas tulisan itu memang ditujukan kepadaku. Ada namaku tertulis di bawahnya. Merasa tak yakin. Kupelototi lagi tanggal lahir yang ada di samping namaku. Persis! Itu tanggal lahirku. Tanggal saat aku ditemukan, tepatnya.

Kuhapus air mata yang sejak tadi merembes di pipiku. Kuhapus juga ingus yang sering kali ikut mengalir tanpa diminta ketika aku menangis. Perasaanku buncah oleh rasa menyesal, haru, bahagia... Oh, entahlah bagaimana cara kujelaskan perasaanku saat itu. Kupeluk seprai beraroma lemari tua itu erat-erat seakan-akan sedang memeluk pemiliknya. Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku merasa begitu spesial memiliki ibu seperti ibuku.

Hari itulah aku memutuskan untuk berdamai dengan perasaan benci yang selama ini kupelihara untuk ibuku. Dan hari itu jugalah, aku memutuskan untuk keluar dari club The Mother Hater itu.

***

Semua mata anggota club menatapku yang berdiri kikuk di hadapan mereka menanti alasan atas pengunduran diriku dari club yang telah menjadi rumah keduaku selama ini. Aku menarik napas panjang memantapkan diri. Berusaha kembali mengingat kata-kata ibu panti dan surat yang ditulis ibuku untukku.

“Aku telah memikirkan ini baik-baik dan aku telah merubah pendapatku tentang ibuku. Ya, seharusnya selama ini aku tidak membenci ibuku. Meski ia telah membuangku seperti sampah. Aku mencoba memahaminya, mungkin saja pada saat itu, meninggalkanku adalah keputusan yang terbaik baginya. Tapi aku yakin, ibu manapun tidak akan pernah menginginkan hal buruk untuk anaknya. Kalaupun iya, itu adalah keterbatasan mereka yang seharusnya kita pahami. Aku telah memikirkan ini, dan aku seharusnya berterimakasih pada ibuku, karena setidaknya dia telah mengandungku dengan baik dan tidak memilih untuk menggugurkanku. Ibuku telah memilih menjadi ibu. Dan aku percaya di setiap mahluk bernama ibu selalu ada kekuatan dan kasih sayang yang tidak dimiliki oleh mahluk manapun.”

Aku mendapatkan kekuatan entah dari mana saat mengatakan itu. Aku tak peduli meski mungkin banyak anggota club yang tidak setuju dengan keputusanku. Yang terpenting dari semuanya, aku telah menyampaikan dan memutuskan hal yang menurutku benar dan rasanya begitu lega. Lega karena memang sejatinya aku tidak mendapatkan apapun dari kebencianku selama ini pada ibu, selain lebih menyakiti diriku sendiri.

Aku pamit kepada seluruh anggota club setelah sebelumnya mengucapkan banyak terimakasih karena selama ini, para anggota club telah menjadi pendengar yang begitu baik.

Aku melangkah dengan ringan melewati koridor yang kini terasa begitu lengang. Selama perjalanan pulang itu, aku jadi memikirkan untuk membentuk sebuah club baru. The Great Mother dengan semboyan “Selalu ada surga di bawah telapak kaki ibu”. Aku tersenyum sendiri mendapati ide hebat itu. Semoga The Mother Hater tidak menganggapku sebagai penghianat.

Selesai

Lombok, 18 th Desember 2013 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...