Teleksandi

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Muhammad Saleh

Borneo, 1863

“Cari dia...! jangan sampai lolos...!”

            Barda meringkuk, gemetar. Berlindung di balik pohon ulin tua. Nafasnya tersengal. Peluh membanjir. Tak ada waktu lagi, bahkan sekedar mengatur nafas. Mungkin, cepat atau lambat Kompeni belanda itu akan segera menemukannya. Suara langkah berpencar semakin jelas. Menyibak rumput dan belukar dengan angkuh.

            Barda meringis. Menahan luka pada kaki kanannya. Akibat terjangan timah panas para Kompeni Belanda. Ketika ia berusaha lari dari sergapan para Kompeni yang menghadang jalannya.

            “Hei, Lihat di sini! ada darah.”

            Terdengar derap langkah cepat, menyongsong kearah suara.

            “Tak salah lagi. Peluruku tadi mengenainya, dia pasti terluka...”

            “Argghh.”

Sekuat tenaga Barda menahan rasa perih yang mendera, dengan menggigit bibir bawahnya. Barda  tak ingin suara rintihanku terdengar.

.           “Cari dia! Ikuti jejak darahnya, dia pasti belum jauh dari sini...”

            Terdengar lagi suara perintah yang lebih mirip bentakan. Mereka menyebar. Sudah tak ada waktu lagi, ia harus segera pergi. Dengan sisa tenaga, Barda bangkit tertatih. Terseok-seok menyeret kakinya yang luka, namun masih dengan langkah pelan. Agar tak menimbulkan suara berisik.

            “Krossaaak...”

            Oh tidak! Celananya tersangkut di duri belukar.

            “Hei...itu di sana! Kejar dia!”

            Dengan sentakan kuat, yang membuat celananya sobek, akhirnya cekatan duri itu terlepas juga. Barda langsung berlari. Tak ia pedulikan lagi kakinya yang luka, yang penting ia harus selamat.

            Dorr!

            Senapan kompeni menyalak, mengutus pelor berbalut maut untuk menjemput nyawanya. Suaranya berdesing. Barda berlari menyesak semak belukar. Cecer darah berserakan, menetesi dedauan yang ia sibak. Duri-duri belukar semakin manja menjamah kulitnya yang kehitaman. Meninggalkan goresan-goresan yang memerah di sekujur tubuh.

            Di hadapannnya kini membentang sebuah sungai, dibeberapa tepiannya teronggok batu besar, yang sebagian badannya terendam air. Airnya yang jernih terus mengalir menimbulkan buih dan gelembung kecil disela-sela batu. Ia harus melewatinya. Tak ada jalan lagi, berbalik arahpun tak mungkin. Kompeni dibelakang semakin dekat.

            Byurrrr!

            Barda  melompat. Perih kembali menyengat, ketika air menjilat lukanya. Warna merah menyeruak kepermukaan, mengikuti arah tubuhnya. Dengan sekuat tenaga ia berenang, namun tidak untuk menggapai tepian seberang. Barda berenang searah air mengalir, sengaja ia lakukan untuk menghilangkan jejak darahnya.

***

“Hah....! Hah...!”

            Nafasnya hampir habis. Dengan susah payah, ia menyirit tubuhnya ketepian. Berpegang pada sejulur akar. Terasa berat. Separuh tubuhnya masih terendam diair. Barda sudah tak kuat lagi. Tenaganya habis. Andai kompeni itu masih mengejar dan menemukannya. Niscaya, ia tak mampu berlari lagi. Bahkan untuk membuka mata saja ia tak kuat.

***

            Barda rasakan kepalanya berat. Ia gerakkan tubuhnya, pelan. Oh...perih!. Susah payah ia membuka matanya. Terang. Matanya tertusuk cahaya. Matahari telah berada dipuncak langit. Ia merangkak pelan. Menyirit tubuhnya yang masih terendam. Rupanya ia masih berada ditepian sungai. Tak ada yang menemukannya. Termasuk para kompeni itu.

            Barda terlonjak. Gegas meraba pinggang.. Ah, lega !. Masih ada. Gumamnya. Gulungan itu masih terselib disabuk pinggangnya. Ia bangun dan menyandarkan tubuhnya yang penuh luka. Pada sebatang pohon yang telah tumbang.

            Ia ambil gulungan itu. Barda takut, surat didalamnya telah basah. Sekali lagi ia bernafas lega. Surat ini masih kering. Ia tak tahu, apakah masih sanggup mengantarkan surat itu, sampai ketangan Pangeran Antasari. Dengan keadaannya seperti ini.

Surat itu begitu penting dan rahasia. Menyangkut tentang rencana, penyerangan besar-besaran ke Benteng Belanda. Dan mungkin surat itu, yang membuat para tentara kompeni yang tadi pagi menghadangnya, begitu berambisi untuk menangkapnya.

Barda merasakan ada kejanggalan. Bagaimana mungkin Kompeni Belanda itu bisa tahu, ia membawa sebuah pesan penting dan rahasia? Padahal jalan yang ia lalui, adalah sebuah jalan rahasia, yang sengaja ia buat ditengah hutan. Untuk keadaan darurat dan penting saja. Bukan jalan setapak, yang biasa dilalui orang-orang pribumi untuk pulang pergi kerumah.

            Arghhh. Sakit!

Sedikit saja ia gerakkan tubuh. Rasa perih diluka tembak langsung terasa. Ia harus segera mengobatinya. Kalau tak ingin lukanya semakin parah

            “Kraakkkk”

            Ia sobek lengan bajunya, memanjang. Untuk mengikat luka. Agar darahnya tak terus mengalir. Barda tak ingin kehabisan darah. Kematian akibatnya. Dan itu berarti, tugasnya akan gagal.

            Barda bangkit. Mencari tempat yang lebih aman dan nyaman untuk beristirahat. Serta mencari beberapa tanaman, untuk dijadikan obat. Ia masih ingat, waktu kecil, kakeknya sering menunjukkan, tanaman apa saja yang bisa dijadikan obat. Dan juga yang beracun.

         Tak terlalu sulit, mencari tanaman obat dihutan Borneo yang berlimpah. Berbagai jenis tanaman tumbuh subur menghijaukan hutan ini. Ia sandarkan punggung pada pohon beringin tua. Akarnya menjula-jula, laksana tangan hantu yang mencengkeram bumi. Tanpa banyak pikir,  Ia masukkan beberapa lembar daun kemulut. Dikunyah, agar hancur.

         Kembali ia buka ikatan lukanya. Menepalkan obat di atas luka.

“Arghhhh.... Perih...!” Barda meringis.

Pedih, dan sakit jadi satu, menjalari nadi-nadi. Tubuhnya mengejang dan gemetar menahan sakit. Airmatapun melintas melewati pipinya yang tirus.

            Rasa sakitnya sudah mulai reda. Ia bisa lebih tenang beristirahat. Pikirannya berkelana, merunut kejadian yang baru saja ia alami

***

            “Surat ini, harus kau sampaikan langsung ke tangan Pangeran Antasari!”

            Demang Lehman menyerahkan sebuah gulungan. Barda mengangguk, dan meraihnya.

            “Jangan sampai surat itu jatuh ketangan Kompeni Belanda!” pesan Demang Lehman tegas “Karena surat itu, berisi tentang rencana penyerangan besar-besaran ke benteng Belanda...”

Barda kembali mengangguk. Tertunduk. Tanpa berani menatap wajah sang majikan “Saya akan menjaganya. Walaupun nyawa saya taruhannya,” janjinya mantap.

Memang, sebagai seorang teleksandi, selain untuk memata-matai musuh. Tugasnya merangkap sebagai seorang pengantar surat. Dan saat perang sedang bergejolak seperti saat ini. Tugas ini sangatlah berbahaya.

            “Bagus. Sekarang pergilah...” Demang Lehman mengibas pelan.

            “Baik Demang...”

            Belum sempat Barda berpaling tubuh. Terdengar suara ketukan di depan pintu “ Tok...tok...”

            “Masuklah...” seru Demang Lehman mengizinkan.

            Seorang pelayan masuk membawa nampan, dengan kendi dan cangkir-cangkir bambu bertengger rapi diatasnya. Barda sangat mengenalnya, Linggar. Pelayan itu sempat melirik pada gulungan yang dipegang Barda, seraya meletakkannya nampan yang dibawanya di hadapan Demang Lehman. Barda tersenyum, gegas menyelipkan gulungan itu, pada sabuk pinggangnya. Dan pamit mundur dengan takzim.

***

            “Barda.....!”

            Ia kaget, lamunannya menguap. Sebuah suara memanggil namanya. Ia berpaling

            “Linggar...!”

            Lelaki kurus pendek itu tersenyum menatap Barda. Barda heran kenapa ia sampai kesini? Bukankah dia harus melayani Demang Lehman? Namun Barda bahagia, dia ada di sini. Di saat keadaannya seperti ini.

            Barda mencoba bangkit. Argghh. Kakinya terasa kaku. Sakit sekali. Ia kembali tersungkur. Linggar langsung menangkap tubuhnya

            “Kau terluka parah. Sebaiknya jangan terlalu banyak bergerak”

            Linggar memapahnya. Menyandarkan tubuh Barda kebatang beringin tua itu lagi. Barda meringis.

            “Te-terima kasih Linggar. Ka-kau datang saat yang tepat...” ucapnya terbata, menahan sakit yang kembali terasa.

            Linggar tersenyum “Aku ke sini untuk membantumu...”

            Barda mengeluarkan gulungan surat, dari sabuk pinggangnya. “To-tolong..., kau serahkan surat ini....pada, Pangeran Antasari..” pintanya seraya menyerahkan gulungannya ketangan Linggar.

            “A-aku  su-sudah tak kuat lagi untuk berjalan. Dan sudah tak ada waktu lagi...., mugkin Kompeni itu masih mencariku. Surat itu.., harus sampai sore ini ke tangan Pangeran Antasari.” lanjutnya lagi dengan parau. Tenggorokannya terasa kering.

            “Tapi bagaimana dengan kau?” Linggar kwatir.

            “Tak usah kau pikirkan aku. Tinggalkan saja aku disini....”

            “Tidak. Aku tak akan meninggalkanmu...” Linggar bersikeras. Raut mukanya cemas. Mungkin dia memang sangat khawatir. tak ingin Barda tertangkap, ataupun mati di sini.

            “Tapi, a-apa kau sanggup membopong tubuhku?” tanya Barda  tak yakin. Karena tubuh Linggar lebih kecil darinya.

            Linggar berdiri. Ia menyeringai. Wajahnya berubah, tatapan matanya penuh kilat amarah. Seakan menyimpan dendam. Tiba-tiba Barda merasakan, Linggar seperti ingin menerkamku.

            “Maksudku....” Linggar semakin menyeringai, tangannya meraba kepinggang “Tak akan kutinggalkan kau sendirian, dalam keadaan hidup...”

            Barda terperanjat. Sebuah kilatan cahaya terlihat dibalik pinggang Linggar. Dan....

            “Blaasss....”

            Terlambat. Barda tak bisa menghindar. Sebilah keris, menghujam dalam tepat mengenai perutnya. Darah merembes menembus bajunya.

            “Dengan begini, aku akan tenang meninggalkanmu...ha...ha....” Linggar terbahak.

            “Craassst.....” Linggar menarik kerisnya, menyamping. Darah segar bermuncratan mengenai wajah dan pakaiannya. Usus Barda memburai. Sekujur tubuhnya mulai terasa dingin. Darah telah membanjir. Mempekat disisi tubuh.

            “Dengan surat ini...” Linggar mengacungkan surat yang ia pegang “Aku akan kaya. Aku sudah lelah menjadi pelayan. Aku ingin jadi saudagar. Walaupun harus jadi antek kompeni...ha....ha....”

            “Pe-pe-pengkhianat kau...” Barda mencoba bersuara. Ia pegangi perutku yang telah sobek, untuk sekedar menahan darah yang terus mengalir “Ka-kau re-rela...,me-menjual..... bangsamu..... sendiri....., de-demi harta....”

            “Ha....ha...., aku tak perduli. Matilah kau.....craasss.....” Linggar kembali menusukkan kerisnya. Kali ini tepat mengenai jantung Barda.

 “Selamat tinggal kawan...” Linggar mendorong tubuh Barda.

            Barda terhuyung. Tersandar pada beringin tua yang telah basah oleh darah. Tubuhnya mengejang. Nafasnya sudah sampai kedada. Naik ketenggorokan. Linggar terus melangkah, tanpa berpaling. Untuk sekedar  melihat hembusan nafas terakhir Barda.

 

Barabai, 07 Nopember 2010

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...