Syiar Bersyair

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Oleh Rekha Rey

 

Jika memang dibolehkan membenci karena Allah, maka orang yang aku benci karena Allah itu adalah dia!

Sungguh aku membencinya! Benci! Dan sangat benci!

Vik, Riri mana ya? Dia nggak datang rapat?”

Aku mendengus kesal. “Mana aku tahu, mungkin lagi sibuk dengan dunianya.” Ah, kenapa orang seperti dia ditanyai?

Gadis berkacamata di sampingku itu mengerutkan kening. “Kamu lagi marahan sama Riri?”

Aku menoleh. “Nggak. Nggak marahan.”

Terus, kenapa?”

Aku menarik napas lantas tersenyum tipis. “Well, aku lagi bad mood nih. Afwan ya.”

Bad mood kenapa Vik?”

Aduh, banyak tanya nih Neneng. Hm, mungkin karena peranannya sebagai ketua keputrian kali, ya. Tapi, kenapa ia tidak memperhatikan gelagat Riri juga? Apa hanya aku yang memendam benci padanya?

Ah, itu Riri.” Salah seorang berseru, memutuskan fokus Neneng padaku dan beralih pada sosok yang menyembul dari balik hijab.

Assalamu’alaikum semua,” ujarnya girang sambil melambaikan tangan.

Spontan aku menegur dan meletakkan telunjuk di depan bibir. “Sstt! Lagi rapat!”

Cepat suasana kembali hening. Habis, suara yang dikuarkannya tadi berfrekuensi cukup tinggi.

Sepanjang rapat berlangsung, sosok yang membuat jantungku kebat-kebit itu tengah sibuk menekuri bukunya. Ah, aku tahu tujuannya itu. Dan karena aku tahu maka aku membencinya.

Ya, itu dia. Kini ia beralih pada laptopnya. Tuh kan, makin kentara saja perilakunya di mataku. Tapi, apa yang lain tidak merasakan hal yang sama denganku?

Neng, lihat Riri tuh. Orang lagi rapat tapi dia malah asyik main laptop,” bisikku pada Neneng, sang ketua keputrian.

Bagus, Neneng setuju denganku. Cepat ia beringsut mendekati Riri dan membisikkan sesuatu yang kurang lebih sama dengan maksudku.

Aku ngikutin rapat, kok Neng. Nih, aku juga nyatet di laptop. Ntar kalau dibutuhkan saran, pendapat atau kesepakatan, aku bakalan ngomong.”

Aku mempertajam pendengaran. Meski jarak tak begitu dekat tapi aku bisa mendengar sayup suaranya. Beberapa jenak kulihat Neneng melempar pandang padaku.

Ah, menyebalkan!

***

Riri memang aktif, ya. Gencar sekali syiarnya.”

Aku mendehem. “Ini bukan aktif lagi, Neng. Aktif banget! Udah memasuki kategori lebay, terlalu.”

Aku tidak paham maksud kamu, Vik.” Neneng beringsut mendekatiku. “Apa yang terjadi antara kamu dan Riri?”

Aku menggertakkan gigi. “Neng, please! Ini bukan hanya antara aku dan Riri. Tapi melibatkan semua. And this is caused by Riri! Lihat baik-baik ini, Neng!” Aku menyodorkan laptop lebih dekat pada gadis yang diamanahkan menjaga kami, “para akhwat”.

Beberapa jenak Neneng terpaku di depan laptop. Semoga dia mengerti maksudku.

Gimana?” Aku mengkonfirmasi.

Neneng menghirup napas sebelum melontarkan jawaban yang amat kutunggu. “Ya, Vik. Aku ngerti.”

Aku tersenyum lebar. “Ya?” Aku tak sabar menanti ucapannya selanjutnya.

Sebenarnya dari dulu aku juga ngerasa janggal dengan keaktifan Riri ini, Vik. Tapi aku takut su’udzon. Apalagi belum ada akhwat yang melaporkan ketidaknyamanan yang sama padaku. Dan barulah setelah kamu yang memberitahu, aku yakin.”

Aku mengembuskan napas lega. Akhirnya ada yang mendukungku.

Neng, lihat! Dia bikin status lagi. Kalau begini, bisa-bisa grup kita penuh oleh tulisan dia, ya nggak? Padahal, yang syiar siapa, yang gencar menyiarkan siapa. Kalau pun dia bagian dari syiar, kan nggak seharusnya over gitu,” desisku.

Ibu syiar juga jangan mau kalah, dong!” Neneng meraih bahuku.

Aku menatapnya sendu. “Nggak Neng. Syiar bukan untuk unjuk kemenangan, siapa yang lebih gencar syiar atau posting hal-hal berbau kebaikan. Aku nggak mau terlalu aktif. Bagiku, amanah itu ditunaikan sedikit demi sedikit asal konsisten. Nggak perlu berlebihan, nanti memunculkan kesan lain, bukan?”

Neneng mengangguk takzim. “Kamu mengajariku banyak hal, Vik. Senang bisa menjalin ukhuwah denganmu. Aku mengerti, kamu hanya menyiarkan hal yang urgent dan itu benar-benar kamu pahami dan kamu terapkan agar orang lain pun memahami dan menerapkannya, kan? U’re excellent!”

Aku pun mengangguk takzim. “And you’re my excellent sister. Thanks!”

Neneng menggaris senyum. “Bagaimana kalau kita buat acara ngumpul khusus akhwat? Kita wanti-wanti agar tak terjadi kesalahan niat dan terutama meluruskan permasalahan ini.”

Duh, Neng. Kamu ngintip pikiran aku ya? Tadinya aku juga mau mengutarakan hal itu.” Aku tertawa kecil. “Kapan? Kalau bisa secepatnya.”

Bagaimana kalau minggu ini? Kita tegaskan supaya semua ikut. Kamu bantu juga, ya?”

Sip!” Aku mengacungkan jempol.

Semoga dia bisa mengerti seusai ini.

***

Hm… Apa lagi ya yang bagus buat diposting?” Jemariku gegas membolak-balik halaman novel yang penulisnya dikenal memiliki tatanan kata bersahaja dengan makna luar biasa.

Ini keren juga.” Aku menghentikan gerakan jemariku lantas tersenyum lebar. Meraih laptop dan mulai menarikan jemari di atasnya.

Assalamu’alaykum. Ikhwatifillah…

Inspirasi sore ini…………..

Huft. Pegal sih tapi menyenangkan. Semoga saja banyak yang like dan coment.

Ya, dan seperti biasa dengan sukses aku meraup banyak like, beberapa coment tak kalah banyak bermunculan. Dan aku benar-benar puas. Tapi, belum. Belum puas. Hanya sedikit ikhwan yang menyukai, terutama yang aku nantikan like-nya belum muncul.

Riri, kamu udah shalat Ashar? Sudah hampir jam lima, Sayang!”

Aku menjuruskan pandang pada penanda waktu di laptop. Iya, jam lima. Aduh, biasanya jam segini dia online, kok belum muncul juga?

Riri? Apa perlu mama nyusul kamu ke kamar?” Suara Mama menggema lagi.

Aku menggaruk kepala. “Eh, iya Ma. Ini mau wudhu….” Tertatih aku menuntun langkah ke luar.

Baru saja aku membuka pintu kamar, satu sosok menyambut langkahku persis di depan pintu. Mama!

Belakangan ini shalat kamu molor terus. Kamu ngapain, Riri? Pasti keasyikan online, kan?”

Aku menggigit bibir. “Maaf deh, Ma. Kalau Mama ngomelin aku sekarang, aku lebih telat lagi lho shalatnya.” Tanpa menunggu reaksi Mama selanjutnya, aku buru-buru kabur.

Semoga usai aku shalat, dia online.

***

Ukhti, postingannya bagus-bagus, sumbernya dari mana saja?”

Aku berseru senang. Makin banyak yang suka postinganku dan membuat semangat syiarku pun kian meletup.

Sumbernya beragam, Akh. Ana kalau menemukan informasi atau kata-kata yang bermanfaat bakalan ana share. Ya biar syiar kita semakin hidup.”

Oh, begitu. Ya baguslah. Tapi, rasanya ukhti bukan anggota syiar.”

Emang iya. Tapi apa salah jika ana ikut menghidupkan syiar?”

Nggak. Malahan bagus, bukan amanahnya tapi berperan besar dalam keaktifan syiar. Lanjutkan ya!”

Darahku berdesir. Belum sempat aku membalas pesan darinya, dia malah keburu off. Aku mengembuskan napas lantas mencari-cari nama seseorang di daftar obrolan. Yah, dia belum on juga.

Aku melempar pandang ke langit-langit. Mencari ide tentang informasi yang menarik untuk diposting.

Hm, posting apa lagi ya? Hm.....” Aku memicingkan mata. “Aku tahu! Informasi tentang manajemen waktu. Kan manajemen waktu perlu banget tuh, apalagi buat mahasiwa yang juga aktif berorganisasi. Mumpung masih semester baru, lebih baik dimulai dari sekarang.”

Tak perlu waktu lama bagiku yang memang sudah pengalaman dalam menarikan jemari di atas laptop. Mengopas beberapa informasi dari internet, mengkombinasikan dengan informasi dari majalah, mengedit kata-katanya sedikit dan… Posting! Posting di grup ini, ini, dan tandai beberapa nama. Tak ketinggalan nama ikhwan, terutama dia!

Dan hampir satu jam berlalu, dia belum muncul juga. Sudah meraup 22 like, ditambah belasan komentar. Ada beberapa ikhwan yang nge-like dan komentar tapi bukan dia yang aku nanti.

Kemana dia?

Ah, setidaknya aku cukup populer di sini.

***


Vik, bagaimana pun kita harus menjaga ucapan kita. Jangan sampai ucapan kita terlalu lancang dan menyinggungnya secara langsung.”

Aku terdiam beberapa jenak. “Lihat kondisi dulu, Neng. Kalau dibaikin nggak bisa, tentu kita harus lebih tegas.”

Dan tegas berbeda dengan lancang.” Neneng tertawa.

Neng, coba hubungi lagi yang lain, baterai aku low. Takutnya mereka pada ngaret, jam segini baru kita aja yang datang.”

Neneng mengiyakan, lantas mengetik beberapa pesan. Beberapa nomor yang tidak ada kabar ditelepon, termasuk target utama kami. Riri.

Aku memandangi gerak jarum jam tangan dengan gusar. Berharap semua datang. Sebab, masalah ini tak hanya diperuntukkan pada Riri tapi beberapa akhwat yang lain turut terjangkit virus yang sama. Tentunya tak separah virus yang menerjang Riri.

Syukurlah. Beberapa menit kemudian para akhwat berbondongan datang. Tapi, kemana Riri?

Neng, target utama belum datang nih. Padahal udah lewat setengah jam dari jadwal,” aku berbisik, amat pelan.

Neneng mengangguk. “Bagaimana kalau kita mulai saja dulu? Siapa tahu dia lagi di jalan.”

Oke. Asal dia nggak datang pas pembacaan doa kafaratul majelis aja,” desisku lagi.

Dan…

Tidak! Kabar buruk merayap. “Riri izin, Neng. Mamanya sakit.” Salah seorang bagai menghunusku dengan kabar yang diberitakannya.

Benaran?”

Sang pembawa kabar mengangguk. “Aku kan tetanggaan sama dia, Vik.”

Sakit apa?” Neneng yang tanya.

Jatuh dari kamar mandi. Sekarang lagi dirawat di rumah sakit.”

Serempak telinga-telinga yang mendengar kabar tersebut mengucap “Innalillah…”

Rumah sakitnya di mana? Kamu tahu?”

Ya. Nggak jauh dari sini, kok.”

Aku menoleh pada Neneng. “Kalau begitu kita alihkan saja acara kita di sana. Bagaimana?”

Tadinya aku juga menyampaikan hal itu. Aku juga udah beli buah-buahan, susu, dan makanan. Tapi aku pakai uang kas, ya.”

Tanpa perlu bicara dua kali, semua berdiri sambil mengacungkan jempol. Gina, si pembawa berita tadi yang memimpin.

Dan tanpa perlu menunggu waktu lama, angkot kosong yang cukup memuat semua datang. Bergegas menuju lokasi.

Akhwat, ada yang sudah buka facebook?”

Baru saja aku mengembuskan napas lega jantungku kembali berpacu cepat. Entah kenapa mendengar hal serupa itu dadaku langsung bergemuruh.

Ada apa?”

Riri kembali update status. Ya, intinya buat doakan mamanya, tapi pembukaannya panjang kali lebar. Nih, ada yang mau baca?”

Aku membuang muka. Apa lagi yang ia tulis? Apa perlu seisi dunia tahu mamanya sakit dan butuh didoakan?

Beberapa bulan terakhir ini, Riri rajin banget update status ya. Ratu online dia tuh.”

Aku mempertajam pendengaran. Ada lagi?

Iya, hampir tiap waktu. Bahkan grup kita nyaris dipenuhi oleh postingan dia. Update terus. Padahal aku rasa yang lain juga ingin posting, kan?”

Tapi entah kenapa, aku jarang sekali ditandai olehnya. Anehnya, beberapa ikhwan nyaris selalu ditandai. Bahkan mungkin semua ikhwan.”

Dan sepertinya para akhwat merasakan hal yang sama denganku. Anymore?

Sstt.. Nggak baik ngomongin orang. Apalagi orangnya juga lagi dapat musibah.” Neneng angkat bicara.

Astaghfirullah, tapi sepertinya Riri harus kita ingatkan. Takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan, terutama kesalahan niat.”

Aku mengangguk setuju. “Dan aku harap kita semua terjaga dari hal demikian. Kita revisi dan luruskan niat kita, hati kita. Jangan sampai kita malah tergiur oleh hal yang namanya popularitas, yang ujung-ujungnya mencari perhatian orang lain, apalagi perhatian ikhwan. Na’udzubillah…”

Serempak bibir akhwat bergetar mengucap istighfar dan ta’awudz.

Kita udah sampai…” Gina duluan keluar lantas gegas membawa kami menuju bangsal rumah sakit.

Akhwat, jika keadaan memungkinkan kita cari tempat yang aman dan nyaman buat kita ngobrol, ya.” Neneng berujar sambil terus melangkah.

Kita ngobrol tentang apa, Neng?”

Neneng melirik padaku. Aku tersenyum tipis.

Tentang kita, para akhwat,” jawabnya pelan.

Akhwat, di sini.” Gina menghentikan langkah sambil mengintip dari luar. “Lagi rame di dalam. Ada papa dan adik-adiknya Riri. Gimana, kita masuk aja?”

Riri nggak ada?”

Ya udah, kita masuk aja dulu. Siapa tahu Riri ke toilet.” Duh, Neneng, bagaimana pun kondisi selalu berhusnudzon.

Pelan Gina meraih pintu lantas kami mengucap salam serempak. Satu persatu berjalan merunduk memasuki ruangan. Papa dan adik-adiknya Riri menoleh ke arah kami sambil tersenyum hangat. Mama Riri yang tengah terbaring tampak berusaha melukis senyum.

Obrolan ringan dibuka oleh Gina dan Neneng, lalu dilanjutkan oleh akhwat yang lain. Ya seperti menanyakan kabar, kondisi mama Riri, dan sebagainya. Papa Riri yang sering bicara, sesekali adik-adiknya Riri menyeletuk. Mamanya sesekali bicara, mengangguk lalu tersenyum. Hampir setengah jam kami ngobrol di sana tapi tak ada tanda-tanda Riri akan muncul.

Oh ya, Riri ke mana ya, Om?” Aku memberanikan diri bertanya.

Laki-laki setengah baya namun kelihatan masih segar itu mengalihkan pandang ke luar. “Tadi katanya ke taman di depan,” ujarnya sambil menunjuk ke luar jendela. “Rara, Rere jemput kakakmu ya. Masa’ teman-temannya datang, dia nggak ada.”

Oh, di taman, ngapain tuh Om?” Dan aku bertanya lagi.

Main laptop, Kak,” sahut si kecil Rere cepat.

Facebook-an barangkali, Kak. Tadi kak Riri keluar sambil bawa laptop, katanya di sini nggak ada sinyal,” Rara yang lebih besar gegas menyambut.

Aku membuang napas. Beberapa kejab ruangan hening. Aku menatap para akhwat satu persatu. Serempak mereka tertegun dan menggelengkan kepala.

Ada status terbaru,” salah seseorang berbisik pelan.

Ah, sepertinya dia memang perlu ditegasi.

Aku bertindak cepat. Kuhampiri dan kupinjam hape itu. Aku mengetik tombol hape cepat, ya tiba-tiba saja muncul serangkaian kata yang kupikir bisa jadi permulaan.

Seringkali kepopuleran menimbulkan kecanduan. Perlu kiranya kita senantiasa revisi hati dan luruskan niat. Jangan sampai niat awal bersyiar malah tergerus dan tertukar menjadi bersyair bersama Riri Oktaria dan enam belas lainnya. Tidak ada ikhwan yang kutandai di sana.

Semoga mata hatinya terbuka, minimal merasa tersindir. It’s good enough

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...