Suara-suara di Malam Purnama Pertama

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 Oleh: Dwi Indarti

 


“Ibu, aku takut.”
 

Dekapan anakku semakin erat. Tangannya melingkar kencang di leherku. Aku bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya yang berdegub keras, seolah jantung kecil itu berada di luar tubuhnya. Aku bisa merasakan tubuh mungilnya gemetar hebat, seolah setiap syarafnya berada dalam level waspada. Aku bisa merasakan nafasnya memburu. Aku bisa merasakan tetes air matanya. Mulanya air mata itu terasa hangat. Lalu berubah menjadi dingin saat air mata itu mengalir turun di punggungku. Anakku terisak dalam diam. Aku bisa mendengar lirih isakan dari mulut tepat di telingaku. Aku memeluknya lebih erat. Butuh usaha yang besar untuk memisahkan kami.  Sesungguhnya aku juga takut.
 

“Ibu akan melindungimu, Sayang…” Bagaimanapun caranya. Apapun taruhannya, aku akan melindungi anakku dari suara-suara itu.

Suara-suara yang membuat aku dan anakku berada dalam situasi seperti ini. Suara-suara yang memaksaku mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari sekencang-kencangnya. Suara-suara yang kini terdengar sangat jauh. Tapi aku belum yakin sepenuhnya kalau kami sudah berada dalam zona aman. Aku terus memperbesar jarak sejauh mungkin dari suara-suara itu. Kadang, sayup-sayup, aku masih bisa mendengarnya. Bersahut-sahutan. Berkejar-kejaran.  Angin membawa gemanya beserta bau aneh yang selalu memenuhi udara setiap kali suara-suara itu terdengar. Semakin keras suara-suara itu, semakin tajam bau aneh membumbung di udara.

Suara-suara yang seakan berasal dari neraka itu datang tiba-tiba. Istana kedamaian yang telah menaungi perkampungan kami selama puluhan tahun musnah dalam sekejap mata. Selama ini aku menganggap suara-suara itu hanyalah sebuah mitos. Kakekku dulu pernah bercerita tentang suara-suara itu.

“Sangat kencang! Bumi bergetar setiap kali suara-suara itu datang. Burung-burung berterbangan. Binatang-binatang kecil menyusup ke dalam semak dan tanah. Binatang-binatang besar lari terbirit-birit. Dahan-dahan pohon patah. Pohon-pohon tumbang…” Cerita Kakek dulu.

“Seperti apa suaranya, Kek?” Tanyaku

“Seperti…seperti…umm…umm…” Kakek bergumam tak jelas. Mungkin sedang mencari suara yang terdengar mendekati keaslian suara-suara itu.

“BUM!!” Tiba-tiba sepupuku berteriak dan mengagetkan kami yang sedang duduk mengelilingi kakek bercerita.

“Seperti itu bukan, Kek?” Tanyanya polos tanpa memperdulikan keterkejutan kami.

“Seperti itulah….” Suara Kakek sangat sedih.

“Kakek dan nenek terpisah. Kami panik dan berhamburan ke segala penjuru. Kakek dan Nenek berlari ke arah yang berbeda. Nenek berlari sambil menggendong anak kami yang masih bayi, lalu…” Kakek terdiam lama.

“Lalu…?” Desak sepupuku yang lain.

“Ssstt…” Aku menyenggol rusuknya untuk memberi isyarat agar tidak memaksa kakek untuk terus bercerita. Aku sudah tahu kelanjutan ceritanya.

Keluarga Kakek tercerai berai. Beberapa waktu kemudian, setelah suara-suara itu menghilang dengan tiba-tiba seperti datangnya, kakek dan kerabat yang selamat kembali ke perkampungan mereka dan menemukan banyak korban tewas. Namun istri dan anaknya tidak ada diantara mereka. Kakek merasa sedikit gembira. Maka dia melanjutkan pencarian.

Sampai pada akhirnya kakek menemukan jasad nenek dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Sendiri. Tanpa sang buah hati. Kakek tetap mencari putrinya, namun sia-sia. Sampai kini, keberadaan putri kakek tidak diketahui. Apakah masih hidup atau sudah meninggal?  Tidak ada yang tahu.

Kakek bersama sisa anggota keluarga yang selamat  pindah mencari tempat untuk memulai kehidupan baru. Selama beberapa generasi, cerita mengenai suara-suara itu terus bergulir, tapi semakin lama semakin meredup hingga menjadi sebuah mitos.     Namun kini mitos itu menjadi nyata. Dongeng menyeramkan yang dulu terjadi di kampung kakek, sekarang terjadi di kampung kami.

Masih terbayang jelas …

Malam itu bulan penuh. Purnama pertama. Kesunyian memerangkap alam raya. Hanya suara binatang malam yang memulai ritme kehidupan mereka yang terdengar bersahut-sahutan. Seperi orkestra malam hari. It was just another ordinary night.

Aku berbaring di sebelah anakku. Seharian ini dia agak rewel. Mungkin kelelahan. Dia terlalu banyak bermain bersama sepupu-sepupunya. Maklumlah, anak seusia dia ingin mencoba banyak hal baru. Energinya seolah tak pernah habis. Ada saja hal baru yang dia tunjukkan kepadaku. Siang tadi, dia membawakanku sebuah pisang. Dengan wajah lucu, dia berkata,

“Ibu, pisang ini kubawakan khusus untuk ibu karena aku sayaaaag sekali. Ibu adalah yang terbaik di seluruh dunia!!!” Dia melompat-lompat. Aku tak dapat berkata apapun selain meraih tubuh gembulnya, memerangkapnya dalam dekapan erat dan menghujaninya dengan ciuman. Anakku meronta-ronta tapi terus saja kupeluk. Anakku, belahan jiwaku.

Sore hari dia menjadi sedikit rewel, tapi aku sudah menenangkannya. Sekarang dia tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Aku menatap wajah polosnya berlama-lama. Rasanya, aku bisa menghabiskan waktu semalaman hanya untuk menatap wajah imut itu. Rasa kantuk akhirnya membuatku menyerah untuk menatap wajah anakku lebih lama. Baru saja aku hendak menutup mata, tiba-tiba…

“BOOM!! BOOM!! DUARR DUAARR…!!!!”

Bumi tempatku berbaring bergetar hebat seperti ada gempa berkekuatan sembilan skala ricther. Segera aku sambar anakku dan berlari tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Jeritan-jeritan membahana, merobek kesunyian malam purnama pertama. Suara-suara itu semakin bergemuruh dan kemudian tercium aroma aneh. Udara dipenuhi asap. Rupanya, aroma aneh itu berasal dari asap yang membumbung. Instingku menyuruhku untuk melarikan diri. Aku bertemu dengan salah seorang sepupu. Dia menjerit histeris.

“Anakkuuuuuuuuuuu…Tolong! Mereka membawa anakku!!! Kembalikan anakku!!!”

“Lari!!!!  Selamatkan dirimuuuuuuu!” teriakku.

“Tidaaaaaaaak! Aku mau anakku!!!” Lalu suara itu datang memberondong. Asap tebal menghalangi pandanganku. Bau aneh yang sangat tajam menusuk indra penciumanku. Dalam sekejap aku telah kehilangan sepupuku.  Aku terus berlari.

“Selamatkan anakmu!!!”  Seru mereka yang berpapasan denganku. “Mereka menginginkan anakmu! Kami akan mencoba menahan mereka selama mungkin. Cepat! Cepat!”

Mereka menginginkan anakku. Mengapa? Apa salahnya? Suara-suara itu mengikutiku. Aku bisa merasakan hawa panas menyerempet tubuhku. Kerabatku berusaha menghalangi. Ah, bagaimana nasib mereka? Apakah mereka selamat? Ataukah…? Aku tak bisa berpikir. Rasa takut telah memenuhi semua panca indraku.

Penglihatanku hanya tertuju pada jalanan di depan, menerabas celah-celah untuk menyelamatkan diri. Pendengaranku terpusat pada suara-suara itu, mengukur kira-kira berapa jauh jarak yang memisahkan aku darinya. Penciumanku terfokus pada bau aneh yang datang bersama suara-suara itu.

Indra perabaku memastikan anakku masih berada bersamaku. Dia menempel erat ditubuhku. Indra suaraku berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan suara apapun. Sebab, jika aku bersuara, suara-suara itu pasti dengan mudah akan menemukanku. Anakku juga tidak bersuara. Dia menahan tangis sekuat tenaga, hingga tinggal berupa isakan lirih. Hanya telingaku yang berada dekat mulutnya, yang bisa mendengar isakannya.  Anakku pintar sekali. Dia tahu jiwanya sedang terancam. Dia juga tahu nyawaku juga sedang terancam. Dia membantu dengan berdiam dalam gendonganku.
Entah sudah berapa lama aku berlari. Entah sudah berapa jauh aku melesat. Aku tidak peduli. Aku terus berlari dan berlari sampai akhirnya dihentikan oleh tenagaku sendiri. Aku tak kuat lagi berlari. Suara-suara itu sudah tak terdengar. Aku merasa sedikit lega. Tapi aku tidak berhenti. Aku berjalan cepat dan lambat laun hanya bisa berjalan pelan. Aku terus bergerak sebab instingku mengatakan agar jangan berhenti. Beruntung kemudian aku menemukan sebuah celah diantara bebatuan yang cukup luas untuk beristirahat.

“Sayang, kita sudah aman. Tenanglah, ada ibu di sini. Jangan menangis, anakku…” Aku membelai kepala anakku. Dia melonggarkan sedikit pelukannya.

“Ibu,aku takut.” Bisiknya.

“Jangan takut, sayang. Ada ibu…” Suaraku bergetar tak dapat menyembunyikan rasa takutku sendiri.

“Ibu, siapa mereka?  Mengapa mereka mengejar kita? Apa salah kita?” Anakku memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab.

“Sstt… berisitirahatlah, Sayang. Nanti saja ibu jawab pertanyaanmu, ya… Sekarang tidurlah. Ibu akan menjagamu.”

“Ibu, aku haus.”

“Minumlah, Sayang.” Aku memberi air kehidupan dari tubuhku dan dia melahapnya. Setiap tegukan membuatku merasa bahagia meskipun hal ini membuatku semakin lemah. Aku menatap wajah anakku. Ah, kasihan dia. Rona takut membayang jelas di wajah polos itu. Sinar mata yang biasanya jenaka kini redup, berganti dengan genangan air mata yang mulai mengering.  Dia juga menatapku. Kemudian sebuah senyuman mengembang di bibir mungilnya. Tangan kecilnya menyentuh pipiku.

“Ibu jangan menangis…” Katanya. Sekarang aku benar-benar menangis. Kupeluk lebih erat anakku dan kami berdua menangis dalam ketakutan. Ketakutan akan bencana yang menimpa kami. Ketakutan akan ketidakpastian nasib. Sejauh ini kami berhasil selamat. Aku akan terus berlari sampai yakin kalau kami sudah benar-benar aman. Rasa lelah membuatku mengantuk. Anakku sudah tertidur dalam gendonganku. Aku menyandarkan tubuh pada dinding celah batu tempat persembunyian kami. Lalu aku berteriak,”Lepaskan!! Biarkan kami pergi!!!”

Suara-suara itu telah mengepung kami. Sebuah tali menjerat kakiku, tapi aku berhasil memutusnya. Aku berusaha kabur, tapi rupanya celah batu ini hanya menyediakan satu jalan keluar dan sekarang jalan keluar itu sudah terutup. Suara-suara itu kini berada di hadapanku. Para pembawa suara-suara itu mengepungku dari segala penjuru. Naluri keibuan untuk melindungi anakku melahirkan keberanian luar biasa. Aku menyerang mereka. Tapi mereka cerdas. Mereka berdiri dalam jarak aman. Tiba-tiba aku merasakannya. Mulanya di kaki, lalu paha, punggung dan leher. Rasanya seperti ada benda kecil tajam masuk ke dalam tubuhku. Rasa sakit tak terperi menjalar perlahan bersama panas yang menggila. Aku meraba tubuhku dan melihat darah memancar. Aku berusaha menutupi lubang-lubang itu.

Dan seakan ada bantal raksasa dibekapkan pada wajahku. Aku tak dapat bernafas. Tak bisa bergerak. Tenagaku lenyap. Aku terbanting jatuh ke tanah. Hal terakhir yang kurasakan adalah dekapan anakku yang menempel erat ditubuhku yang bersimbah darah. Anakku menjerit,”IBUUUUUUUUUU….”

EPILOG

“Bos! Bayi Orang Utan ini tak mau lepas dari ibunya. Dia menempel kuat sekali!” “Bodoh! Masa sama anak Orang Utan saja kalah! Induknya sudah mati!

“Cepat! Kapal sudah menjemput. Taruh bayi Orang Utan itu dalam kurungan bersama yang lain. Hmm… yang ini gendut, ya…! Kita akan cepat kaya! Ha ha ha!”

Selesai.

 

Catatan : Perburuan dan perdagangan ilegal bayi Orang Utan membuat populasi Orang Utan menurun drastis. Para peneliti mengatakan, bayi Orang Utan akan menempel erat di tubuh induknya meskipun induknya sudah mati. Selama berhari-hari, para pemburu liar menaruh mereka dalam kurungan tanpa diberi makan. Setiap malam, bayi-bayi orang utan itu akan mengerluarkan suara seperti tangisan yang memilukan. Oleh para pemburu liar, mereka akan dijual ke kolektor satwa dan kebun binatang dengan harga tinggi. (dari berbagai sumber)

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...