Setetes Rezeki

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Rifatul Muna


"Enyah kalian dari sini! Bisa-bisa barang-barangku pada hilang nanti!" gertak seorang perempuan seraya merebut paksa dua jerigen di tangan mungil kedua bocah itu.

"Maaf, Bu, kami cuma mau mengambil sisanya..." Ipul berkata dengan suara memelas.

"Benar, Bu, kami tidak akan merusak barang Ibu," timpal Toni, temannya mengiba.

"Nggak mau tahu! Pokoknya kalian harus pergi dari sini. Sana pergi. Huh! Dasar anak bandel!" bentaknya semakin keras melihat kedua bocah itu bergeming.

"Tapi..." seru Ipul memohon.

"Nggak ada tapi-tapian. Buruan pergi sana. Dan jangan pernah ke sini lagi. Ganggu aja!" Perempuan itu mencak-mencak.

Terpaksa Ipul dan Toni kabur. Terkadang Ipul memang harus siap menelan caci-maki para sopir atau pedagang-pedagang pemilik jerigen yang merasa terganggu oleh kehadirannya. Belum lagi jika ia bertemu dengan sekelompok anak pengumpul minyak goreng kawakan. Mereka selalu merasa paling berkuasa atas setiap lahan. Ipul sering terjebak dengan lahan rezeki yang sangat terbatas itu. Maka, ia kadang juga harus mencari sampai ke sudut-sudut pasar terdalam, memeriksa sederetan jerigen yang berbaris di depan kios-kios itu dengan teliti.

Mereka berdua terus berjalan menyusuri kios-kios di sepanjang pasar. Terutama toko-toko yang disesaki beberapa jerigen kosong. Beruntung, kali ini pemilik kios ramah. Laki-laki setengah umur itu senang hati menyambut keduanya. Dengan suka cita ia mempersilakan, membiarkan jerigen-jerigennya dijamah oleh tangan-tangan mungil itu.

"Nggak pa-pa, saya malah senang sekali, daripada mubazir, Nak!" ujarnya setelah Ipul meminta izin dengan ragu. Lelaki itu beringsut meninggalkan keduanya, lalu masuk ke dalam kiosnya untuk mengatur dan menata barang dagangannya.

Beberapa jam kemudian botol Ipul hampir penuh. Ia sangat bersyukur hari ini. Dari pagi tadi ia hanya mendapat hina, cerca, nista, cela, malu, aib ,dan umpat belaka. Namun, di tengah asyiknya menadah minyak, tiba-tiba seseorang mendorong tubuhnya dari belakang.

"Heh! Kalian berdua minggir-minggir. Ini wiIayah kami!" sentak salah satu anak yang berbadan besar setelah menendang tubuh Ipul.

Ipul tersungkur. Botol yang berisi minyak goreng itu tergelincir ke bawah dan tumpah sejadi-jadinya. Segera ia berusaha menyelamatkan botolnya. Sia-sia. Minyak itu hanya tinggal sedikit tersisa dan itu alamat bahwa minyaknya tak laku untuk dijual. Gara-gara sekelompok anak-anak  itu memergoki dirinya sedang berada di wilayah kekuasaan mereka. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pasrah. Apalagi senja telah terlukis. Susah payah ia mengumpulkan setetes demi setetes minyak hingga membuat tubuhnya banjir peluh. Kini, ia hanya bisa membawa sisa yang tak seberapa itu untuk dibawa pulang. Sekadar oleh-oleh buat Ibu.

***

Suasana awal hari di sebuah perkampungan kaum marginal begitu hening. Pagi masih pekat. Udara terasa gigil di pinggiran ibukota itu. Tak ada selang-seling kokok ayam yang merdu menyapa pagi. Pun kerik jangkrik yang biasanya turut mengusik dengan alunan musik alaminya malas menyuara. Burung-burung pun enggan menyanyikan lagu-lagu riangnya. Yang tertangkap gendang telinga hanyalah dendang katak yang serak saling bersahutan. Dan yang paling menyeruak adalah aroma sampah yang membukit dan berserakan di tepi sungai sekitar perkampungan kumuh itu, seakan-akan membenam udara sejuk di jelang pagi.

Pintu-pintu gubuk masih mengatup rapat, seolah segenap makhluk di dalamnya mengheningkan cipta. Senyap. Seruan-seruan Ilahi berdengung riang. Tapi seruan itu hanya angin lalu saja yang melenakan kembali bunga tidur mereka. Memanjakan dengkur-dengkur mereka. Namun melalui kisi-kisi biliknya, kerlip cahaya berpendar di dalam sebuah gubuk kecil paling ujung perkampungan kumuh itu. Pintu gubuk terkuak. Ternyata nyala yang agak redup itu berasal dari sebuah pelita berjelaga. Asapnya pekat mengepul lalu keluar melalui terali jendela. Tampak dengan mata lelah seorang laki-laki jangkung berkulit sawo matang dengan misai tipis di atas bibir tipisnya.

Laki-laki tiga puluh tahunan lebih itu meluruh diri, merebahkan tubuh penatnya di atas sebuah tikar pandan yang sebagian anyamannya sudah rusak. Setelah ia tunai menjadi imam bagi istrinya di subuh beku tadi. Sementara itu, sang istri yang telah terjaga sejak dini hari tengah sibuk menata beragam gorengan yang harum dan renyah di atas sebuah nyiru, lantas menutupinya dengan sehelai kain yang menutup penuh. Aneka gorengan itu akan dijualnya ke pasar. Sebelum mengangkat kaki, perempuan itu sejenak menatap lekat wajah lelah suaminya.

"Bang, berangkat dulu ya!" seru perempuan itu kepada laki-laki yang agaknya sudah memejamkan mata. Meski belum sepenuhnya tidur. Laki-laki itu masih menangkap gamblang suara parau istrinya.

"He-eh," jawabnya lirih masih dengan mata terpejam. Suaminya memang begitu, tak banyak cakap. Tadinya perempuan itu ingin mencium punggung tangan suaminya sebelum beranjak tapi, sejurus ia rasa tidak perlu. Ia tidak ingin mengusik suaminya. Kasihan, baru ngaso usai subuh tadi. Apa boleh buat. Profesi yang mengharuskannya bekerja full-time sehari semalam. Dengan waktu rehat yang sejenak usai shubuh. Itu pun hanya dua hingga tiga jam saja. Sepulang istrinya dari pasar, ia terpaksa harus bekerja lagi. Nasib hidup susah di ibukota memihaknya. Meski begitu upahnya hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari dan sisanya untuk belanja istrinya.

Perempuan itu tidak lupa membangunkan anak sulungnya, Ipul. Mengecup kening kedua putri kembarnya yang masih terpejam. Kemudian perlahan terdengar desah berat pintu seng diikuti suara gesekan ringan, lalu pintu mengatup kembali menyisakan hening.

Ipul beringsut dari pembaringannya. Melalui celah-celah bilik yang dianyam dari batang buluh, Ipul mengintip keluar. Pekat malam gelap telah terganti bening pagi cerah. Mentari hampir menyembul. Bocah itu lalu menuju ke sungai kumuh. Airnya terlihat agak pasang dan keruh sisa hujan semalam. Namun, tanpa ragu tubuh mungil itu lebur ke dalam sungai. Membersihkan kotoran di tubuhnya. Walaupun harus berbaur bersama sampah yang hanyut di sekelilingnya.

Ipul telah siap untuk memulai petualangannya. Hampir saja ia lupa. Ada sesuatu yang harus dibawa turut. Spontan Ipul melirik, lantas menghampiri sebuah sudut paling kiri sebuah ruangan. Sebuah karung biru berukuran agak besar. Tergesa Ipul mengurai talinya. Lalu ia melongok isi karung besar dekil itu yang teronggok di pojok ruang tamu. Ah, rasanya tidak pantas dikatakan ruang tamu. Ruangan itu lebih mirip halte tanpa bangku. Kosong tanpa perabot laiknya ruang untuk menerima tamu. Tak ada kursi atau meja. Sekedar tikar pun nihil. Yang ada hanyalah remah tanah merah yang agak basah bekas air hujan. Maklum sebagian besar genteng murahan itu rupanya telah bergeser dan pecah. Agaknya semalam hujan begitu deras, hingga masih menyisakan genangan kecil yang menyerupai pulau-pulau di sebagian lantai tanah itu.

Tangan mungilnya mulai mengaduk isi karung yang volumenya hampir penuh. Di dalamnya berjejalan barang-barang bekas mulai dari kardus, plastik, seng, sampai kaleng-kaleng bekas softdrink atau susu. Barang yang didambanya nihil. Tanpa pikir panjang Ipul segera bergegas pergi. Ia tidak ingin terlambat. Setelah sebelumnya ia memasukkan sepotong spons berukuran kecil, seutas tali dan pipa mungil ke saku celana pendeknya. Sepanjang jalan ia mengamati sekeliling. Sambil berharap mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Sesekali ia melongokkan kepalanya ke beberapa tong sampah. Berharap seorang pemulung tanpa sengaja melewatkan atau barangkali belum sempat memungut barang itu. Semoga saja. Asanya.

Pada sampah pertama ia tak menemukan apa-apa. Ipul terus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Ia tak ingin satu pun luput. Sampah kedua. Kosong. Sampah ketiga. Bersih. Sepagi ini sampah ibukota telah disikat habis, diburu oleh para pemulung. Ia nyaris putus asa. Kalau saja ia tidak jeli mengorek isi sampah itu hingga terdalam. Dengan bantuan patahan ranting kayu yang ia dapatkan di bawah rindang pohon waru yang terletak di sebelah kiri tempat sampah, akhirnya ia menemukan empat botol air mineral bekas berukuran 600 mililiter sekaligus dalam tong sampah keempat. Ia lalu mengelap masing-masing mulut botol dengan ujung bagian bawah kaos warna telur asinnya yang sudah usang. Sesekali ia terlihat membuang air yang masih tersisa di dalam botol. Bocah kurus itu lalu bergegas. Masih dengan pencarian botol bekas. Karena empat saja belum cukup. Paling tidak ia butuh 5-6 botol.

Sudah hampir separuh tahun ia melakoni pekerjaan ini. Setiap hari bocah delapan tahunan itu berangkat ke pasar induk kota untuk mengambil sisa-sisa minyak goreng untuk dijual. Berangkat dari rumah biasanya antara pukul lima sampai setengah enam pagi. Kira-kira satu jam ia baru sampai di pasar. Maklum Ipul jalan kaki. Ia baru pulang ketika senja tiba. Beberapa meter lagi ia akan sampai pasar. Jalanan macet bukan main. Langkahnya terhenti ketika ia menemukan satu botol plastik bekas yang baru saja dibuang oleh seorang lelaki muda yang sedang lari-lari pagi. Sejak tadi ia memang sengaja mengekorinya. Lelaki itu sempat menoleh ke arahnya dan melihat lakunya. Pandangannya seperti mengiba. Sebentar saja, lalu melengos dan berlalu. Ipul cuek saja. Ipul rela dianggap nista atau apa saja. Toh, ia tidak mencuri, barang itu sudah dibuang.

Lima botol plastik bekas dirasa sudah cukup. Ia hanya butuh satu gelas plastik bekas air mineral lagi. Matanya menerawang menatap seorang anak sebayanya berseragam putih merah tengah berjalan diiring oleh seorang perempuan dalam kerumun manusia dan kendaraan yang membanjiri jalan. Ipul ingin seperti anak itu, bisa bersekolah. Ia jadi teringat celengan ayamnya. Setiap hari sisa upah mengambil sisa minyak goreng ia tabung. Uang itu rencananya digunakan untuk biaya sekolah. Ia ingin sekali bisa sekolah. Tapi, entah kapan itu. Ipul menggigit bibir getir. Lamunannya seketika buyar saat seseorang menepuk bahunya dari belakang.

"Tumben, Pul, kok kesiangan?" sapa seorang anak yang usianya tiga tahun lebih tua dari Ipul sambil menenteng satu botol plastik ukuran 600 mililiter yang penuh minyak goreng.

"Iya, Mas Nanang, tadi gara-gara nyari botol dulu. Tapi belum dapat gelas plastiknya juga. Pasti nanti agak susah. Wah! Sepagi ini Mas Nanang sudah dapat satu botol, berangkat jam berapa tadi?" decak Ipul kagum melihat temannya yang satu itu.

"Iya, Pul, lumayan! Usai subuh dari rumah. Niatnya sih cuma mau jalan pagi, iseng saja! Eh, ada truk pengangkut jerigen lewat. Jadi pengen nyedot deh." Mereka memang sering memakai istilah “nyedot” dalam mengumpulkan sisa-sisa minyak goreng. "Ini yang terakhir kali, mulai besok aku bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah RM sederhana. Ini pake saja gelas plastikku."  Nanang menyodorkan gelas plastik miliknya.

"Beneran, Mas? Terima kasih ya," balas Ipul girang.

"Iya. Buruan, Pul, tuh yang lain sudah pada mengerumuni truk. Aku mau pulang dulu."

"Iya, Mas, hati-hati ya! Lha, gelasnya saya kembalikan kapan?" Teriak Ipul polos melihat Nanang mulai menjauh.

"Nggak perlu, Pul, buat kamu saja!" sahut teriakan Nanang disertai lambaian kecil, lalu menghilang di balik tikungan.

Ipul langsung ke tempat parkir truk pengangkut jerigen. Tepatnya di kompleks pertokoan agen minyak goreng. Beruntung jerigen masih banyak. Anak-anak yang lain terlihat bersemangat. Tak terkecuali Ipul, dengan semangat ia mengambil dua jerigen sekaligus lalu ia mulai mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ipul memasukkan pipa kecil ke dalam jerigen. Kemudian menyedot dengan mulutnya.

Beberapa detik kemudian ia mengalihkan ujung pipa di mulutnya ke gelas plastik bekas untuk mengeluarkan minyak goreng. Perlahan minyak goreng yang semula mengendap di dalam badan jerigen berangsur masuk ke gelas plastik bekas. Setetes minyak goreng bak intan permata bagi Ipul. Berulang kali Ipul menyedot minyak goreng hingga sisa-sisa minyak goreng di ujung pipa pemompa kering dan habis. Sesekali tangannya mengorek-ngorek gumpalan minyak goreng yang sudah membeku di mulut jerigen.

Agar minyak goreng yang ada di dalam pipa cepat kering, Ipul memakai potongan spons dan seutas tali lalu mencelupkannya ke ujung pipa ataupun langsung ke mulut jerigen. Kemudian ia memeras spons untuk mengeluarkan minyak-minyak yang menempel pada spons dan menyediakan gelas plastik di bawahnya untuk menadah tetesan-tetesan minyak goreng. Butuh waktu sedikitnya dua jam untuk satu botol penuh. Sungguh sebuah perjuangan yang gigih. Begitulah setiap hari dengan telaten dan sabar Ipul berharap rezeki dari setiap tetes minyak goreng. Selama sehari jika mujur, 5-6 botol ukuran 600 ml ia dapat. Per botolnya dihargai tiga ribu rupiah oleh pedagang gorengan langganannya yang tidak kuat membeli minyak curah atau kemasan. Namun, ketika harga minyak sedang meroket, per botol bisa mencapai empat ribu rupiah. Jadi upah yang diterima berkisar duapuluh empat ribu sehari, yang dua puluh ribu biasanya ia berikan kepada ibunya untuk membeli susu si kembar, sisanya ditabung.

***

Malam yang naas. Sekelompok anak jalanan dan beberapa gelandangan digiring polisi. Satu per satu mereka dipaksa untuk masuk mobil polisi. Salah satu di antaranya adalah seorang laki-laki pemulung bermisai tipis. Ia tak bisa mengelak dari tangkapan polisi saat dirinya tengah terkantuk-kantuk di emperan sebuah komplek toko. Seketika rinai hujan mengguyur bumi. Bagai tirai-tirai panjang berkelebat tersapu angin.

Malam merambat fajar. Hujan bubar. Situasi perkampungan kumuh dan miskin tak berubah. Bunyi tabuh kembali menggempar alam sunyi. Kumandang adzan memecah sepi. Namun, lagi-lagi tak menggugah insan terjaga dari buai mimpi. Sesuatu terjadi di gubuk yang memancarkan cahaya remang. Duduk seorang perempuan dengan hati cemas. Tidak biasanya suaminya terlambat pulang. Padahal, ia rasa gelap hampir terang. Menjelang subuh biasanya sudah pulang. Menjadi imamnya. Berkali-kali ia mondar-mandir menuju pintu seng lalu menguaknya. Tapi tak didapati sosok itu. Bahkan bayangannya sekalipun. Wajahnya pasi.

"Mak, nggak ke pasar? Ipul berangkat dulu."

"Tunggu, Pul, kalau ketemu bapakmu suruh pulang dulu untuk istirahat," tukas perempuan tegar itu berusaha untuk tenang. Meski bibirnya bergetar. Hatinya berdesir.

"Emangnya Bapak belum pulang?" Ipul tampak heran. Pantas saja emaknya tidak ke pasar.

"Aneh, nggak seperti biasanya bapak begini. Emm, Mak pake tabunganku dulu untuk belanja. Ipul akan coba cari Bapak," ujar Ipul sambil berlalu.

***

Tak terasa tiga hari berlalu. Selama berhari-hari pencarian Ipul tak membuahkan apa-apa. Ia hampir putus asa. Tapi ia tidak mau menyerah begitu saja. Ia terus mencari dan mencari.

"Tunggu, Pul, celenganmu bawa saja, siapa tahu di jalan kamu membutuhkannya," kata Emak Ipul suatu pagi saat mengantar kepergiannya.

"Bukannya sudah dipake Emak?" bingungnya.

"Masih utuh kok. Emak masih punya uang sisa hasil jualan gorengan." Imbuhnya.

"Nggak Mak, Ipul akan pake uang itu untuk sekolah Ipul nanti." Kilahnya mantap.

"Ya sudah, terserah kau saja! hati-hati di jalan ya Pul." Seru perempuan itu dengan mata mengembun. Tak tega melihat buah hatinya harus merelakan masa bermain dan belajarnya dengan kerja keras demi mengurangi beban hidup keluarga yang semakin menghimpit.

Ipul melanjutkan pencarian. Ia mendapat info dari teman-teman pemulung lain bahwa bapaknya dibawa polisi. Cuma satu alamat kantor polisi saja yang ia tahu. Kantor itu terletak di dekat pasar induk kota. Ia pernah diajak Nanang ke sana entah untuk apa, ia lupa. Namun tak juga ditemukan. Lagi-lagi ia kembali pulang dengan hati kecewa.

Tersentak Ipul ketika tiba di gubuknya. Kakinya seolah tak mampu berpijak. Nanar ia pandangi tempat bernaungnya itu kini telah rata dengan tanah. Bukan gubuknya saja, melainkan seluruh perkampungan kumuh dan miskin itu luluh lantak. Yang tersisa hanya reruntuhan puing tak berharga. Tak ada seorang pun penduduk yang tertinggal.

Ipul gentar, lalu bersembunyi di balik pohon tatkala melintas sebuah mobil penghancur, beberapa mobil yang mengangkut beberapa aparat keamanan dan satuan polisi pamong praja mulai menjauhi area perkampungan, menyisakan deru yang menyayat pilu hatinya. Terpaku ia melihat isi truk yang mengiringi mobil aparat. Puluhan kepala yang menyembul tumpah ruah di dalam badan truk. Ia berusaha berlari mengejarnya, berharap dirinya diangkut serta. Tapi sia-sia. Truk berlari kencang meninggalkan tubuh mungilnya. Ia luruh tersungkur sambil tersedu. Lalu perlahan bangkit. Lekas ia menuju reruntuhan bekas gubuknya. Berharap masih ada sesuatu yang tersisa. Ia teringat dengan celengan ayamnya. Namun sayang, ia hanya menemukan secuil pecahan celengannya itu. Mimpi bisa sekolah mendadak pudar.

Kini perkampungan kumuh dan miskin itu tinggal kenangan. Hanya sungai yang menjadi saksi bisu peristiwa eksekusi penggusuran tanah untuk pembangunan sebuah pusat perbelanjaan. Bungkam, ia pandangi sungai dengan sampah yang masih berserakan di bibirnya. Bayangan Bapak, Ibu,  dan si kembar bermain-main di pelupuk matanya.

 

Bekasi, Sun 16308 22:02pm
To: Suamiku tercinta,
      "Semoga setiap tetes rezeki-Nya untuk kita adalah barakah." 

     



Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...