You Are Not Alone (Serial Exist 6, Episode Terakhir)

Diposting: Kamis, 03 September 2009 / 15:08:39 | Oleh: annida | Kategori: Serial

Halaman ini diakses sebanyak: 489 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Ifa Avianty

Ruang Perpus Mushala di siang yang berhujan
 "Kenapa juga kamu nggak ngomong ke kita, kalau sebenarnya mereka itu adalah kelinci percobaan keluarga besarnya?" Tanya Wanda, (seperti) menuduh radit terlibat dalam persekongkolan ini. Yang ditanya menunduk menandakan bahwa ia cukup merasa bersalah.

 "Mungkin bukan nggak mau ngomong, Ukhti. Hanya saja persoalannya waktu itu mungkin masih kabur. Mungkin saja Radit gak dapat penjelasan yang lengkap dari Ronan. Ukhti kan tahu, Ronan kalau ngomong suka sepotong-sepotong gitu. Mungkinn..." Widodo membela sobatnya sambil terus membolak-balik sebuah buku yang entah apa judulnya.

 "... Mungkin melulu?" potong Nana emosi. Biarpun dia sedikit ada hati sama Radit, tetap saja dia kesal dengan kejadian ini.
 Dampak terbukanya renaca kedua keluarga besar terhadap Ronan dan Aira adalah, keduanya tampak saling rikuh. Malas ngomong, malas kerjasama di SC (sementara program sudah harus jalan), dan malas mengerjakan tugas kelompok dari sekolah. Aira memilih menghindar bicara dengan Ronan, sementara Ronan juga menghindar mengusili Aira seperti biasa. Padahal, mereka masih sebangku.

 By the way, Radit dan Wid sudah mengusulkan kepada Miss Olga untuk merubah susunan tempat duduk dan mengembalikan hak masing-masing siswa untuk memilih soulmate-nya sendiri. Tapia pa boleh buat, Miss Olga tak mengindahkan protes itu. Pasalnya, kebijakan ini berlaku juga di kelas-kelas lain dan hamper nggak ada yang protes. 

 "Ehm..." Radit berdeham.
 Nana Kirana refleks merapikan rambutnya sambil tersenyum sendiri (apa hubungannya ya?).
 "Benar apa yang dikatakan Wid. Saya nggak tahu apa-apa,maksudnya nggak tau sedetil itu. Biarpun kami saudaraan, tapi jauuuh sekali. Ronan juga orangnya introvert gitu."
 "Ada tanda-tanda nggak, kalau selama ini, Ronan, misalnya,ada hati sama Aira?" Tanya Wanda.
 "Nggak!" serempak Radit dan Wid menjawab. Kompak kayak paduan suara.
 "Emang kenapa, Wan?" Tanya Nana, seperti biasa, lama on-nya.
 "Yaaa... kali aja ini bagian akal-akalan Ronan," jawab Wanda enteng.
 "Jangan suuzhan gitu dong, Ukhti. Apa untungnya coba, dia pakai akal-akalan begitu? Aira kan bukan siapa-siapa yang gimanaaa gitu?" bantah Radit, nggak suka sahabatnya dituduh gitu.
 "Iya, jangan suuzhan, Wan," beo Nana. Wanda nyengir kuda.
 Tapi sedetik kemudian, Nana nyadar sesuatu. "Tapi, eh, Dit, kamu juga nggak boleh ya, merendahkan orang begitu? Apaan tuh, Aira bukan apa-apa?". Hahaha, akhirnya Nana bersikap juga.
 "Dari semula saya sudah merasa ganjil, dengan melibatkan Aira di missi kamu itu, Dit. Kenapa mesti Aira? Kenapa harus segitunya kita mensupport Ronan? Dan jawaban kamu selalu nggak jelas," kata Wanda.
 "Karena saya juga nggak jelas..."

 "Terus kenapa kamu nekad dengan missi ini? Apaan tuh, melakukan sesuatu tanpa dasar yang jelas. Kamu tahu, ini bisa berakibat macetnya program-program SC selama setahun ke depan, termasuk program Rohis kita. Makanya, apa-apa itu jangan serampangan begitu dong!" Wanda mengomel jengkel.
 "Lalu? Gimana jadinya?" Tanya Wid bingung. Nana memalingkan muka, bete.
 "Kita harus mendamaikan mereka," putus Radit.
 "Tapi ya, saya juga nggak mau kalau nantinya mereka keterusan... jadian, misalnya," tambah Wanda tegas.
 "Ya kan harus kita dampingi," Radit.
 "Kamu yakin nggak ada apa-apa lagi setelah ini?" Wanda terus mencecar Radit. Nana sampai nggak rela di dalam hatinya, Radit kayaknya dipersalahkan. Tapi ya, gimana dong?
 
Di Perpustakaan Exist

 Setengah mati, Ronan mencari Aira. Soalnya tadi dia ada di mushala, ngilang. Di ruang SC, ngilang. Di ruang Mading, eh ngilang juga. Ronan jadi mikir, jangan-jangan Aira punya ilmu ngilang ya? Alhamdulillah, dia menemukannya lagi ditemani setumpuk buku di spot favoritnya, pojok sastra.
 Ini harus diakhiri, tekad Ronan.
 Sementara itu, Aira sendiri juga punya tekad yang sama. Hanya saja, dia yang males kalau sudah berhubungan dengan hati.
 "Ra," panggil Ronan.
 Aira menoleh. Sorot matanya datar. Seperti tidak terjadi apa-apa.
 "Boleh duduk di sini?" Tanya Ronan.
 Aira mengangguk. Tumben sopan! Hatinya ngomel.
 "Ra, gimana kalau kita bicara?"
 Aira mengangkat alisnya. "Ya udah."
 "Kok kamu kayaknya males gitu?"
 "Nggak apa-apa kok. Ngomong deh, aku dengerin kok."
 "Ra, aku... minta maaf... Beneran aku juga nggak tahu. Papaku baru bilang... aku juga..." Ronan berdeham. Rikuh.
 "... aku juga jengkel, Ra, demi Allah. Aku... nggak segitu jahatnya nyembunyiin ini semua dari kamu... Kalau kamu tahu, sejujurnya..."
 Aira tenang menunggu sambil membuang tatapannya ke luar jendela. Berharap Wanda atau Nana datang menemaninya.
 "Aku... hanya iri, sangat iri, pada apa yang kamu punya. Jangan tertawakan aku, Ra. Kamu tahu, aku nggak punya kepercayaan diri sebesar kamu ketika berhadapan dengan orang yang tahu dan mulai tahu gimana keluargaku. Aku... nggak sekuat kamu yang nggak ngaruh apa-apa, meski aku sudah berusaha ... buat mendiskreditkan keluarga kamu..."
 Sejenak Aira terpana. Iri? Huhuhuw, sementara Aira sendiri selama ini merasa bahwa Ronan BENCI dan bukan iri padanya. Ronan selalu mencari cara untuk membuatnya marah dan terhina.
 "Aku iri, kamu bisa lepas bebas menghadapi semuanya. Tanpa beban. Dan... most of all. Aku iri dan sangat iri, melihat kamu punya hal terindah yang aku tidak punya; keluarga yang hangat dan menguatkanmu..."
 Aira menggeleng. "Sekarang aku juga mau bicara, Nan. Boleh?"
 Ronan mengangguk.
 "Aku pernah bilang sama kamu. Aku begini karena keluargaku. Karena AKU mensyukuri apa adanya keluargaku. Aku bangga kepada mereka dengan caraku sendiri. Dan kamu juga punya itu..."
 Ronan sudah bersiap buka mulut, tapi keburu dipotong AIra.
 "No. Aku masih ngomong, nanti kalau kamu potong, aku lupa lagi. Kamu punya ayah yang bahkan memikirkan masa depanmu, kamu mau kawin sama siapa juga. Ibu tiri kamu juga baik. Aku Tanya ke mamaku, dia bilang, Tante Edah sangat-sangat-sangat baik. Dia low profile dan berkepribadian hangat. Kamu aja yang menutup mata terhadap itu semua. Kamu sibuk dengan kemarahanmu sendiri. Kamu sibuk dengan protesmu terhadap orang tua kandungmu. Dan lupa bersyukur bahwa kamu masih beruntung. Kamu kan nggak ketemu ibu tiri model rebus-gantung kan?"
 "Kamu..."
 "Oh, OK, kamu mau bilang aku lancang berkhotbah ke kamu. Nan, aku hanya nggak mau jadi korban kemarahan kamu yang nggak jelas itu. Aku nggak ikut andil apapun hingga keluargamu begitu. Aku hanya orang yang kebetulan, kamu lihat seperti ini. Nan, aku nggak bilang bahwa kamu nggak boleh benci atau iri sama aku. Terserah kamulah. Sama kayak aku benci sama Evi. Tapi, sampai kapan kamu akan melampiaskan amarah kamu sama orang-orang nggak bersalah, yang kamu lihat punya apa yang kamu anggap kamu nggak punya?"

 Ronan menarik nafas panjang. Ada beban teramat berat di dadanya.
 "Sekarang tentang... rencana keluarga kita. Sama dengan kamu, aku juga shock. Nggak terima. Tapi... kita kan nggak bakal dinikahkan besok lusa kan? Kita masih SMA. Masih bisa memilih apa yang ada di depan kita. Aku mulai berusaha berpikir, bahwa ini harusnya bukan akhir dunia. Aku juga sedang mencoba berdamai dengan diriku sendiri, dengan orang tua dan keluarga besarku. And it s so negotiable, you know."
 Dalam hatinya, Ronan malah makin iri dan kagum pada karakter kuat tunangannya itu. Waduuh, jangan aja gue jatuh cinta betulan sama dia, makan ludah sendiri namanya, batinnya khawatir.

 "Kalau kamu mikir bahwa kamu hanya sendirian di dunia ini ngadepin masalah begitu, kamu salah, Nan. Aku juga marah sama pertunangan di belakang kita ini. Aku kecewa, sedih, nggak terima. Jadi, aku nggak apa-apa banget kalau kamu menolak semua ini, dan dari sekarang kamu juga membicarakannya baik-baik dengan orang tua kamu."

 Aira perlahan menarik nafas lega. Semua sudah dia ungkapkan. Meski setan mulai berisik juga. Dia teringat kata Wanda, "Jangan percaya jalannya hati jika sudah menyangkut rasa kepada seseorang." Ya, dan dia sungguh tidak mau bermain-main.

 Aira tahu, jalannya masih panjang. Ia masih punya terlalu banyak cita-cita yang mungkin saja akan terhalang ketika pikirannya tak lagi fokus. Kuatkah? Oh, insyaAllah. Harus kuat.

 Ia bangkit sambil mengemasi buku-buku yang akan ia pinjam. Tiba-tiba mata Ronan menahannya.
 "Tunggu, Aira..."
 Sesuatu dari hati Ronan membantah sisi lain dirinya yang masih menyisakan benci dan iri.
 "Ya? Aku mau pulang, Nan. Belum mengerjakan project science."
 "Kamu... mau membatalkan rencana keluarga kita itu?" Tanya Ronan. Aira melengak. Ada nada khawatir yang tak biasa di situ.
 "Menurutmu?"
 Ronan bangkit dari kursinya. Kini mereka saling berhadapan. Aira menunduk jengah. Entahlah, ia jadi bingung juga.
 "Bagaimana kalau aku tidak mau membatalkannya?"
 Deg. Aira terkejut. Oh, noooo... it will ruin my life...
 "Kenapa? Kamu.. kan menganggap aku sebagai spesies yang nggak pantes ada di sini? Terus?"
 Ronan tersenyum malu, sambil menunduk. Kedua tangannya dimasukkan di saku celana abu-abunya.
 "Aku sangat kagum padamu, Ra..."
 Sejenak Aira merasakan pipinya menghangat. Namun ia keukeuh menepisnya.
 "But it doesn t mean you want me to be your steady fiancée..."
 Ronan terdiam. Penolakan yang konsisten, bukan?
 "Nan, kita masih terlalu muda. Aku nggak yakin sama apapun namanya yang nggak jelas gitu. Nggak, Nan. Aku nggak bisa..."
 Sejujurnya ia nggak suka suasana terlalu intens begini. Tanpa sadar ia mengeluh.
 "Kalau aku mempertahankan hal itu gimana, Ra?"
 Aduuuh... muka tembok! Aira menghentakkan kakinya kesal.
 "Terserah kamu. Kamu piker aja sendiri. Tapi aku... lebih suka kita hanya bersahabat. Aku takut, semuanya malah berantakan. Lagipula, aku dan kamu, kita, sama-sama nggak terlalu bagus pemahaman keagamaannya. Kita harus banyak belajar dulu. That s why I join Rohis... aku nggak mau salah melangkah, Nan. Hey, kamu kan anak Rohis juga ya?"
 Ronan terkekeh malu. Huhuhu, bisa ngomel nih si Radit.
 "OK, Nan, aku pulang. Aku bilang, terserah kamu. tapi aku juga punya pendapat sendiri. Aku hanya mau bersahabat sama kamu. Aku masih bersedia jadi sekretaris kamu di SC, demi sekolah kita, sampai akhir masa kepengurusan. Itupun kalau kamu nggak keberatan. Kamu kan juga nggak bisa mencampurkan dua perasaan yang berbeda kalau iya kita jadian, misalnya? Masak kamu iri sama pacarmu sendiri? No way, aku nggak mau tiba-tiba kamu cekik saking irinya kamu sama aku. Udah ya, bye!" Aira setengah ngibrit menyudahi pidato panjangnya.
 Ronan terbengong saking cepatnya Aira ngabur. Perlahan ia merasakan hatinya menghangat. Bahkan cara Aira menolaknyapun sangat elegan.
  Satu hal yang ia tahu, ternyata sakit ya ditolak cewek?
 
 Di mobilnya, Aira mengirim sms ke Wanda dan Nana.
 "By then, my mission is accomplished."
 Tak lama, sebuah sms masuk. Dari Ronan.
 "Thanks, Ra. Kamu hebat. Pingin bisa spt kamu."
 Aira gegas membalasnya. 
 "Gpp. Sama2. OK."
 Aira tahu, akan sulit bagi mereka berdua ke depannya dalam menata hati. Tapi sejauh ada niat dan keinginan untuk jadi lebih baik, dan didampingi teman-teman yang baik, semua akan bisa dilalui.
 Aira tersenyum hangat. Waktunya bekerja buat SC.
 Ia sama sekali tak sabar membayangkan petualangan serunya menjadi pengurus SC yang pasti penuh suka duka. Bahkan banyak hal yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan.

Get the full version of Aira and Ronan stories at my newest Islamic teenlit novell. Out soon!

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :