The Next Idol (Serial Trio Narcis 3)
Diposting: Selasa, 13 Oktober 2009 / 16:18:49 | Oleh: annida | Kategori: Serial
Halaman ini diakses sebanyak: 515 kali
Rating: 0
Penulis : Guntur Alam
Setelah insiden memilukan dalam casting di TV Tawa, trio narcis agak sedikit redup semangatnya memburu beken. Bukan karena kata-kata Angga kemarin sewaktu di antrian. Sebab, untuk mengejar mimpi dan cita-cita kita memang harus berkorban, itu ucapan bijak yang dilontarkan Juni. Hingga mereka bertahan sampai ke hadapan juri.
Dan itulah masalahnya, ketika juri melihat biodata mereka. Ternyata, umur mereka tak mencukupi untuk ikut casting. Ketiganya shock dan tak percaya. Jiero beragumen, pasalnya di iklan yang ditayangi TV Tawa, tidak mencantumkan batasan umur. Dibuka untuk umum, kata-kata itu saja.
Tapi, tetap saja mereka tak di terima. Karena karakter yang akan dimainkan di sitkom itu menuntut para pemainnya berumur 25 tahun ke atas. Dedeh Ndut yang maju berbarengan dengan mereka juga di tolak dengan alasan yang sama. Dia tidak terima, walau sudah disuruh pergi, dia tetap ngotot mempertontonkan aktingnya yang memalukan. Sampai-sampai trio narcis yang sudah hampir mencapai daun pintu berhenti. Melihat usaha keras Dedeh yang tetap berakting walau sudah diseret security menuju pintu keluar.
Selebritis; tenar, tajir dan hidup mewah. Membuat orang rela melakukan apapun untuk meraihnya. Desis hati Angga, diam-diam melihat tingkah Dedeh. Tak berani mengeluarkan suaranya, takut kedua sohibnya menentang lagi kata-katanya. Itu bagian dari perjuangan, pasti itu yang Jiero dan Juni lontarkan.
Jono pun mulai redup pamornya di sekolah. Walau beberapa fans fanatic tetap ada. Mungkin setelah film Sumpah Ompong di Sekolah-nya tak sukses dan tak ada lagi film atau pun iklan dan sinetron yang memakai dia sebagai bintangnya, orang-orang mulai meninggalkannya. Kembali seperti semula, cuek dengan Jono. Trio narcis senang bukan kepalang melihat perkembangan baru itu, sebagai kelompok yang merasa paling ganteng. Itu sebuah berita bagus, akhirnya orang sekelas Jono tidak akan lagi menjadi ancaman bagi beken yang mereka impikan.
"Apalagi ya cara yang belum kita lakukan untuk jadi orang beken? Maen film, maen sinetron, jadi bintang iklan. Wara-wiri di televisi, pasti keren," desis Jiero, matanya menerawang bergerilya diantara daun-daun akasia yang tumbuh di taman sekolah. Angin lembut bermain di atas rambut mereka.
"Apa ada yang tahu casting terbaru dimana?" tanya Jiero, tiba-tiba antusias. Angga dan Juni koor menggelengkan kepalanya. Memang tak ada lagi berita casting yang menyebar di sekolah. Kalau pun ada, pasti tidak akan ada yang mau membagi berita itu. Sudah jadi rahasia umum, seluruh siswa di SMU Keren Abiz mau jadi beken semua. Siapa yang sudi menambah saingan dalam casting.
"Yang ada cuma reality show The Next Idol, semalam gue nonton iklannya. Tapi, gue sangsi apakah lu ama Juni bisa nyanyi," terdengar suara Angga super cuek. Tapi, cukup membuat mata Juni dan Jiero berbinar.
"Acara pencari bakat penyanyi itu udah mulai lagi?!" tanya keduanya, kompak. Mata mereka hampir melompat dari rongganya. Angga tak menyangka sama sekali kedua sohibnya akan sehisteris itu mendengar berita darinya.
"Minggu depan giliran audisi di Jakarta," tambah Angga, masih cuek.
"Kenapa baru ngomong sekarang? Aduh, seminggu cukup ga persiapan buat gue?" tanya Jiero panik, seperti untuk dirinya sendiri.
"Ya, untuk orang yang memang terlahir memiliki bakat menyanyi seperti gue. Jangankan seminggu, satu hari aja gue sudah siap," ucap Juni sok, membuat Jiero dongkol mendengarnya. Hendak rasanya dia menjitak kepala sobatnya itu.
"Bakat menyanyi? Nggak salah," ujar Angga sangsi, masih ingat betul dalam memori Angga, bagaimana Jiero dipecat tak hormat sebagai vocal grup band Bangkit Dari Kubur SMU Keren Abiz yang fenomenal itu.
Ceritanya, saat acara perpisahan dengan kakak kelas yang sudah dinyatakan lulus Ujian Akhir Nasional. Bangkit Dari Kubur band didaulat sebagai band yang akan mengisi acara puncak perpisahan itu. Band itu pontang-panting mengaudisi vocalis baru ketika vocalisnya mengalami kecelakaan motor dua hari menjelang hari H. Dan Jiero dengan pede ikut audisi itu. Tak dinyana oleh siapapun termasuk kedua sohibnya -Juni dan Angga- Jiero terpilih sebagai vocalis dari band itu. Karena memang hanya dia satu-satunya yang mendaftar audisi! Dua hari Jiero latihan keras, suaranya yang hancur dan cempereng sangat cocok dengan lagu-lagu tak jelas grup band itu. Hanya berisik yang terdengar!
Dan acara puncak itu sampai, Angga dan Juni berpegangan tangan erat. Keduanya gemetar di bangku penonton mendengar Bangkit Dari Kubur band dipanggil host untuk tampil selanjutnya. Mulut keduanya komat-kamit membaca doa dengan mata terpejam dan tangan tetap berpegangan erat. Persis seperti kedua finalis diajang cari bakat menunggu pengumuman siapa yang dieliminasi.
Tak kurang dari surat Yasin, berbagai macam doa-doa pendek dan segala jenis surat Al Quran yang dia hapal, mengalir dari bibir dan hati Angga. Mendoakan Jiero sukses dan selamat sampai akhir lagunya. Bahkan Juni yang tak hapal dengan surat Yasin, membawa buku yasin dari rumah yang bergambar foto kakeknya. Hanya untuk mendoakan sobat terbaiknya.
Tepuk tangan riuh penonton gemuruh. Beberapa siswa dengan penampilannya nyentrik maju ke depan panggung. Baju hitam, celana hitam, bibir hitam, mata hitam semua serba hitam. Lengkap dengan aksesoris celana yang ngetat dan berbagai benda di bibir. Gerombolan siswa beraliran funk! Angga dan Juni makin gemetar.
Ketika seorang personil memperkenalkan vocalis baru mereka, Jiero melambai-lambaikan tangannya dan riuh suara fans grup band itu menyambutnya. Dan musik itu mulai dihentak dengan suara yang hingar. Kedua sohibnya makin cemas. Dan Jiero mendekatkan mulutnya ke mikrofon.
Darah muda darahnya para remaja...
Kontan Angga dan Juni seperti dua orang yang disihir menjadi batu. Pun para fans anak-anak funk yang siap berjingkratan di depan panggung. Dalam beberapa detik semua senyap, juga musiknya. Yang ada hanya suara Jiero yang cempereng menyanyikan lagu idolanya; haji Rhoma Irama!
Penonton histeris, botol, sepatu, sandal segala macam yang bisa diraih dan bisa di lempar. Terbang menuju panggung, kearah wajah Jiero yang tiba-tiba pucat. Entah, apa yang dia pikirkan tadi hingga lagu itu yang terucap? Untung panitia sigap, menyelamatkannya dari amuk massa. Ia di pecat dari Bangkit Dari Kubur band!
"Lu lupa dengan insiden Bangkit Dari Kubur band?" tanya Angga, berusaha menahan tawa yang hendak meledak. Serta merta mata Jiero mendelik.
"Itu karena gue nervouse jadi gue lupa dengan lagu yang dua hari gue hapalin. Yang ada di otak gue hanya lagu itu, ya sudah, gue nyanyiin aja. Udah berapa kali gue jelasin ke lu berdua, gue nervouse," jelasnya lagi, berusaha membuang malu.
"Lha kalau nervouse lagi saat di depan juri gimana?" tanya Angga.
"Makanya, gue tadi bilang. Cukup nggak satu minggu buat gue siapin diri," terangnya. Kali ini wajahnya terlihat serius.
Juni yang mendengar itu semua serta merta langsung unjuk kebolehan mendendangkan lagu favoritnya; Sadis! Selama ini dia juga mengkalim dirinya adalah cowok termirip dengan penyanyi ganteng Afgan. Padahal, tak satu pun kemiripan itu. Cuma persamaan kelamin yang memiripkan mereka. Lainnya; tidak!
"Astagfirullah, perut gue sakit," kata Angga tiba-tiba, mungkin bakso yang dia makan di kantin tadi terlalu pedas. Perutnya melilit. Terburu Angga berlari menuju toilet.
"Astaga, suara lu dasyat banget," puji Jiero. Juni yang terkaget dengan tingkah Angga yang tiba-tiba sakit perut, sontak memalingkan wajah ke Jiero, senyumnya merekah bak delima matang. Dengan sedikit congkak membetulkan kerah bajunya.
"Sampai-sampai Angga sakit perut dan mencret mendengar suara lu," sambung Jiero yang membuat wajah Juni langsung ungu. Jiero langsung menyelamatkan diri menyusul Angga ke toilet sekolah. Juni yang mencak-mencak tak terima dengan pujian jujur Jiero, ikut mengejar sohibnya itu.
* * * *
Angga yang kali ini tidak ikut audisi -karena sadar tak bisa menyanyi- hanya bisa menyemangati kedua sohibnya itu. Dan harus rela menjadi kancung sehari kedua temannya itu. Membawakan tas, perlengkapan bahkan harus rela disuruh-suruh keduanya membeli makan siang saat waktu makan siang sudah tiba dan giliran audisi mereka belum mulai, sebenarnya juri juga istirahat tapi keduanya tak ingin meninggalkan tempat. Takut tempat mereka dicomot peserta yang antri di belakang mereka.
Walhasil Angga merelakan diri sebagai pesuruh. Pun saat keduanya bergantian shalat dzuhur, Angga yang bergantian menggantikan posisi antri keduanya. Parahnya, melihat Angga yang jadi kancung, beberapa teman sekelas di SMU Keren Abiz yang lagi-lagi ikut audisi pencari bakat menyanyi ini, ikut-ikutan menyuruhnya. Angga tak kuasa menolak permintaan mereka. Apalagi permintaan Dedeh yang penuh ancaman.
Jiero meminta Angga untuk duduk di dekatnya, seorang peserta bersungut melihat itu, ketika Juni sudah masuk ruang audisi. Jiero menggenggam tangan Angga. Dingin menyelinap di sela jari-jarinya. Wajah Jiero pucat. Jelas sekali, Jiero kena serangan demam panggung. Ternyata seminggu tak cukup melatihnya untuk tidak gugup. Angga tersenyum menyemangati. Keduanya berinisiatif mendengarkan Juni yang sedang di ruang audisi dengan cara menempelkan telinga di daun pintu. Memang samar, tapi cukup untuk mendengar suara cempereng Juni. Terdengar ejekkan juri yang mencela habis suara Juni yang seperti kambing di seret ke air. Lutut Jiero lemas.
Juni keluar dengan wajah merah. Matanya berkaca. Bukan karena ingin menangis atas penolakan juri. Tapi, marah atas ejekkan mereka.
"Suara emas gue dibilang obat pencahar," umpatnya kepada Angga yang hanya mengangguk-angguk saja. Emang bener, ucap hati Angga menahan tawa.
Seminggu yang lalu aja, suara Juni sukses buat Angga melarikan diri ke toilet sekolah. Emang sih, sebelumnya Angga makan bakso yang super pedas sangat istirahat. Tapi, bukan itu musabab terbesar yang membuat dia mencret seketika.
Tapi, suara Juni yang begitu luar biasa. Begitu Angga bilang, akan ada audisi pencari bakat untuk penyanyi muda; The Next Idol. Serta merta Juni tanpa diminta, menyanyikan lagu dari penyanyi kesayangannya; Afgan. Doski juga dengan PD yang sangat luar biasa, memproklamirkan diri sebagai cowok dengan wajah termirip Afgan. Padahal, tidak ada kemiripan itu, iya kalau diliat dari hongkong pake sedotan es.
Suara Juni emang sadis, sesadis lagu Afgan yang dia dendangkan; sadis!
Dan juri pun ikut-ikutan sadis mengomentari suara Juni. Tanpa ba bi bu, juri bilang. Suara Juni luar biasa sadis. Dalam artian kata untuk orang awam yang narsis abiz dan tak mungkin percaya kalau suaranya jelek, terutama Juni, tentu harus dikatakan dengan bahasa awam; suaramu jelek abiz!!!
Jiero gemetar membuka pintu. Juni dan Angga menyemangatinya. Angga tak yakin Jiero akan lolos karena suaranya setali tiga uang dengan Juni. Tapi, paling tidak ini sebagai ajang penghilang gugupnya. Biar Jiero tidak demam panggung, masak iya orang yang malam-malamnya dipenuhi mimpi ingin beken, demam panggung!
Angga berdoa agar Jiero bisa, terdengar suara juri menanyakan sedikit tentang dirinya. Jiero menjawab dengan suara gemetar. Wajah Angga tiba-tiba pias mendengar juri meminta Jiero menyanyi, ia memasang telinga lebih tajam. Kali ini Angga tak punya waktu yang banyak untuk membaca surat yasin atau pun doa-doa lainnya. Dia hanya bisa berharap, Jiero tidak demam panggung. Apa kata dunia coba? Hanya itu saja sih harapan Angga sebagai sobat terbaiknya.
Cuma satu pinta gue, Tuhan. Supaya jiero bisa menyanyi dari awal sampai akhir; lagu terbaik yang dia pilih dalam satu pekan ini. Lagu yang telah sekuat tenaga dia hapal. Cuma satu lagu; Hancur Hatiku milik Olga Sahputra! Doa Angga.
Darah muda darahnya para remaja.
Angga hampir pingsan mendengar suara itu dari balik daun pintu. Tawa juri meledak dalam ruangan. Juni yang mencuri dengar bareng Angga tak kalah shock. Nyaris dia jatuh ke lantai begitu mendengar suara Jiero yang samar-samar di dalam ruangan. Gelak tawa juri membahana. Tadi, jelas-jelas Jiero mengatakan akan menyanyikan lagu Hancur Hatiku milik Olga Sahputra, tapi kok lagu itu lagi......
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




