Saatnya Jadi Bintang (Serial Trio Narcis 5)
Diposting: Kamis, 22 Oktober 2009 / 17:10:55 | Oleh: annida | Kategori: Serial
Halaman ini diakses sebanyak: 1083 kali
Rating: 0
Angga yang memang tak begitu berniat menjadi orang beken lewat dunia seleb mulai redup dan hampir padam semangatnya. Kegagalan yang berkali-kali menimpa dirinya dan kedua sohibnya membuatnya patah arang.
"Kita memang tidak punya bakat untuk jadi artis. Jadi, tak perlu memaksa. Mungkin kita akan beken dengar cara lain," tawarnya lagi, tak pernah bosan kepada dua sohibnya. Tapi, rupanya kedua sohibnya belum mau menyerah begitu saja.
"Cuy, apa lu pernah baca biografi orang-orang sukses di bidang mereka? Ada nggak yang sukses tanpa pengorbanan dan perjuangan yang panjang?" mata Jiero dalam menghujam ke kedalaman retina Angga, "Nggak ada kan? Semua butuh pengorbanan dan penuh perjuangan, sebab sukses itu tak murah harganya," terangnya begitu mulut Angga tak sanggup melontarkan sepatah kata pun.
"Sama halnya dengan mimpi dan cita-cita kita untuk jadi seleb beken. Gagal casting baru tiga empat kalinya, bukan berarti mematahkan semangat kita. Itu belum seberapa, ada yang sudah hampir seribu kali casting baru dapat peran, itu pun figuran. Itulah seninya perjuangan. Pantang menyerah adalah kunci keberhasilan kita. Tanamkan azam dalam hati; wajah kita yang ganteng ini akan menghiasi layar kaca!" akhir Jiero menutup ceramahnya. Angga lagi-lagi hanya bisa diam, tak bisa membantah.
"Gue setuju banget dengan prinsip Jiero. Sukses itu butuh diperjuangkan. Menjadi orang beken tak gampang, tapi semua orang bisa asal gigih dan tak berputus asa. Gue yakin, kita akan bisa," tambah Juni penuh semangat seperti pejuang revolusi.
Angga mengangguk-angguk, mengiyakan. Ada benarnya, batinnya.
"So, ada nggak berita tentang casting lagi?" tanya Jiero, Juni dan Angga diam. Keduanya merasa tak ada berita casting yang mereka dengar hari ini. Padahal, biasanya hampir tiap minggu ada info casting yang beredar di SMU Keren Abiz. Entahlah, minggu ini sepi. Mungkin produser sedang liburan, tebak hati Angga.
"Lagi pada ngapain nih?" tanya sebuah suara tiba-tiba, muncul di antara ketiganya. Janjian, ketiga wajah itu menengok berbarengan. Dedeh Ndut tampak duduk manis di salah satu bangku taman dengan dandanan biasanya. Penuh warna!
Juni tak begitu suka melihat siapa yang baru saja menyapa mereka. Bukan apa, sejak kejadian casting film horor kemarin. Juni masih sakit ati, walau dia yang mulai.
"Lagi duduk-duduk aja," jawab Juni cuek. Jiero tak berniat menabuh perang dengan Dedeh. Setelah musibah casting film horor tempo hari, tanpa mereka sadari Jono dan Dedeh Ndut yang menunggu di luar menguping mereka saat casting.
Dan tak bisa dibendung, Jono dan Dedeh Ndut berguling-gulingan histeris begitu ketika sohib itu keluar ruangan casting. Keduanya tak mampu menahan tawa ketika sutradara itu memberi mereka peran batu nisan! Wajah Juni, Jiero dan Angga ungu melihat ulah keduanya. Karma, maki Angga. Malu.
"Nggak pada siap-siap ikut casting bintang iklan?" tanya Dedeh Ndut super cuek. Ketiganya terngangah seperti orang oon mendengar kata-kata Dedeh. Ada casting bintang iklan. Jiero merasa ini mukjizat, tak mungkin Dedeh mau berbagi berita begitu saja.
"Lu nggak ngerjain kita kan?" tanya Jiero hati-hati, berusaha menangkap sekecil mungkin gerik mencurigakan dari Dedeh. Tapi, tak ada gerak mencurigakan itu. Wajah itu terpasang tanpa gurat tawa. Serius, bahkan mungkin dua rius.
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




