Mendadak Beken (Serial Trio Narcis 1)

Diposting: Kamis, 10 September 2009 / 15:10:21 | Oleh: annida | Kategori: Serial

Halaman ini diakses sebanyak: 658 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Guntur Alam

Langit cerah pagi ini. Tiba-tiba saja tiga makhluk nyentrik dengan gaya narcis, petantang petenteng sepanjang koridor sekolah. Senyum sana senyum sini. Tebar gigi dan jigong. Bak gaya seorang seleb cap kaki empat, ketiganya serasa berjalan di red karpet.

"Aaa..!" teriak beberapa cewek histeris kearah tiga sohib itu. Jiero, Juni, dan Angga terlonjak kaget, tanpa komando ketiganya kompak saling peluk.

"Kenape tuh?" Tanya Jiero, lututnya gemetar. Nyaris aje dia ngompol di celana.

"Minta tanda tangan dong!" jerit beberapa cewek yang berlari ke arah mereka.

"Gue mau foto bareng!" teriak yang laen.

Ketiganya lagi-lagi kompak, ciee... Saling pandang-memandang. Pandangan matamu, menarik hati. Kata hati Jiero langsung dangdutan. Maklum, dia ngefans banget ama musik dangdut. Muke boleh bule, tapi selera musik? Tak salah jika bang haji Rhoma Irama adalah idolanya dari zaman dahulu kala.

"Gila, cuy! Mimpi ape gue semalem? Kayaknya cita-cita tertinggi gue untuk jadi orang beken udah kesampaian. Gue ngetop! Tuh cewek-cewek mau minta tanda tangan gue ama mau foto bareng!" kata Juni setengah menjerit, syok bercampur girang.

"Lu? Kita kale..," kata Jiero dengan memuter-muter lehernya.

"Kita? Siapa yang ngajakin elo? Gue aja kale," sikut Juni. Tangannya menarik sedikit kerah bajunya. Angga yang paling bantet di antara dua jerapah itu hanya terlongo diem. Tak mungkin dia akan menang kalau ikut perang antara makhluk bertubuh panjang itu, yang ada, bisa-bisa ia mati terinjak-injak keduanya. Jadi, lebih baik memilih diam sembari sibuk memetulkan gaya rambut dan merapikan baju.

Gerombol cewek-cewek itu semakin mendekat, debu mengepul di belakang mereka. Di tengah jerit histeris itu ada yang sibuk mengeluarkan pulpen dan buku, ada yang pencet-pencet tombol hp. Dan mereka semakin mendekat, membuat detak jantung ketiga sohib itu makin keras. Ketiganya kompak pasang aksi paling memukau, senyum lebar dengan memamerkan gigi-gigi lebar. Mengacungkan kedua jari di samping wajah atau pasang gaya paling macho yang mereka ingat.

Tapi, gerombol cewek itu melewati mereka. Meninggalkan debu yang mengepul, membuat ketiganya terbatuk-batuk. Menjadikan gigi mereka bertambah garing. Kompak, lagi-lagi mereka saling pandang dan melongo. Why? Tanya mata masing-masing. Dan itu dijawab oleh jeritan di belakang mereka tadi.

"Oh My God!" jerit Juni tertahan, mulutnya terngangah dalam waktu lama, hingga beberapa lalat hilir mudik dari sana. Angga dan Jiero tak kalah syoknya, keduanya nyaris jatuh dan pingsan melihat pemandangan mengerikan itu. Dunia telah terbalik! Jerit hati mereka masing-masing.

Tampak di ujung koridor yang telah mereka lewati, Jono diserbu cewek-cewek. Doi lagi pasang segala gaya ketika beberapa blitz kamera menyobek udara. Tetap dengan senyum termanis dan termewahnya; pamer gigi yang ompong! Tangannya sibuk coret sana coret sini, ketika beberapa pulpen dan buku dijulurkan ke depan wajahnya.

Trio narcis menggeram melihat itu. Mimpi apa bocah ompong itu hingga sengetop ini di SMU Keren Abiz? Mimpi ketiganya telah direbut oleh Jono. Hati ketiganya tetap mangkel melihat aksi Jono, apalagi ketika makhluk tak bergigi depan itu lewat di depan mereka. Tetap dengan gayanya yang pamer gusi. Melambai-lambaikan tangan bak seleb papan tak di paku. Norak dan kampungan, rutuk ketiganya.

"Selain merebut mimpi kita untuk jadi orang beken, Jono cuma mulai menggeser eksistensi kita sebagai makhluk paling narcis di SMU ini. Tuh liat gayanya!" sungut Juni.

"Salah makan obat kale ye cewek-cewek SMU kita, kok cowok ompong kayak Jono dijadiin idola," ucap Angga, otaknya berpikir keras. Kenapa? Ada yang salah ini.

"Tau tuh, padahal kerenan gue," komen Jiero. Otaknya juga tak bisa menanggapi itu. Apa semua cewek-cewek di SMU Keren Abiz kena katarak? Hingga tak bisa membedakan mana wajah keren dan wajah katro? Aaah, dia pusing.

Ketiganya kembali melanjutkan perjalanan yang tertunda, tetap dengan otak dipenuhi pikiran tentang Jono yang mendadak beken di sekolah. Tak ikhlas, pasti. Ketiganya sangat tak ikhlas membiarkan Jono merebut mimpi terbesar mereka.

* * * *

"What?!" jerit Jiero histeris, tak percaya dengan kata-kata yang baru saja di lontarkan Bambang. Beberapa kali tangannya berusaha mengorek lubang telinganya. Jangan-jangan ada prasasti kerajaan Majapahit yang menyumbat telinganya hingga dia salah dengar. Raut mukanya tetap tak percaya. Angga dan Juni? Jangan ditanya, keduanya hampir terjatuh dari kursi mendengar ucapan Bambang.

"Sumpeh gue kaga bohong, ngapain juga gue bohong. Jono mendadak beken di sekolah, gara-gara dia lolos casting maen film horror. Filmnya aje udah edar di bioskop. Kemarin kite-kite udah pada nonton, dibayarin Jono. Gila, Jono di sana..."

"Keren?" samber Juni, tak terima.

"Serem abis," sambung Bambang yang kata-katanya disunat Juni.

Jiero dan Angga tertawa cekikikan. Ya iyalah, Jono serem. Pasti, orang sekarang aja die serem dengan gigi ompongnya. Apalagi dalam film horror. Nggak didandani aje dia udah serem duluan. Keduanya terpingkal-pingkal. Geli.

"Heran. Kok sutradaranya bisa lolosin Jono dalam casting, bakat akting aja nggak punya tuh bocah," umpat Juni. Masih saja tak ikhlas dengan keberuntungan Jono.

"Woi, jangan salah. Kalau gue sebagai sutradara, tentu gue juga akan lolosin Jono. Karena karakternya pas banget dengan film ini," sanggah Bambang. Membuat ketiga sohib itu heran sekaligus penasaran.

"Emang film apa sih Bang yang digarap?" tanya Jiero.

"Nih!" Bambang antusias, mengeluarkan sebuah poster hitam yang dia terima dari Jono kemarin, sebelum berangkat nonton ke bioskop. Poster itu ia bentangkan di atas meja. Ketiga pasang mata sohib itu langsung menubruk poster itu.

Sumpah Ompong di Sekolah1.

Judul itu di tulis dengan warna putih di atas poster yang hitam, tak lupa dengan gaya darah yang mengalir dan menetes dari tiap tulisannya. Ketiganya mengeryit, antara kaget dan takut. Tapi, tak lama, ketiganya kembali tergelak.

"Ya jelaslah Jono lolos casting, orang dia sudah ompong jadi sutradaranya tak perlu repot membuat ompong pemeran hantunya," mata Angga dan Juni sampai mengeluarkan air karena tertawa. Bambang melipat poster itu dengan wajah merengut.

"Hei, jangan sekali-kali menghina Jono ya. Dia itu sekarang jadi orang beken. Dan asal lu semua tahu, kemarin Jono telah mengangkat gue sebagai asisten pribadinya dan sebagai bagian manajemen Jono, gue nggak terima dia dihina. Kita laporkan ke polisi tahu rasa," sungut Bambang sembari ngeloyor pergi.

Ketiga sohib itu menghentikan tawanya. Terngangah. Gila betul gaya Jono sekarang pakai asisten pribadi segala. Baru maen film sekali dan jadi hantu pula. Sudah membuat segala macam manajemen. Ketiganya saling lempar pandangan. Lalu tertawa lagi begitu ingat judul film yang dibintangi Jono. Tertawa getir, kalau Jono telah merebut mimpi terbesar mereka.

* * * *

Kemana Jono selalu jerit histeris yang mengiringinya. Hampir-hampir ketiga sohib itu tak bisa membedakan; jerit itu sebagai wujud histeria para fans atau jerit ketakutan ketika ingat wajah Jono di film Sumpah Ompong-nya. Yang jelas, mereka makin gondoknya mendengar dan melihatnya. Sakit hati mereka.

"Kita harus bisa maen film juga. Kita harus jadi artis, kalau Jono bisa, kenapa kita nggak?" semangat Jiero, mengompori kedua sohibnya. Juni mengangguk dengan letupan semangat revolusi. Cuma Angga terlihat agak ragu.

"Kenapa lu, Ngga? Ga minat beken kayak Jono, jadi seleb, punya duit banyak dan terkenal," iming-iming Jiero. Angga nyengir mendengarnya.

"Kata abang gue yang kuliah di fakultas agama UI, jadi seleb bukan pilihan yang bagus. Gaya hidup seleb terlalu glamour, penuh hura-huran dan pergaulan yang negatif. Seks bebas, narkoba dan segala hal yang mengerikan mengelilingi kehidupan seorang seleb. Gue takut kalau gue jadi seleb akan jadi bagian itu," terdengar intonasi suara Angga lirih. Agak cemas dengan reaksi kedua sohibnya.

"Itu sih tergantung orangnya, cuy. Kalau kita bisa bawa diri, kita nggak mungkin seperti itu. Tengoklah bang haji Rhoma Irama, dia tak pernah tersandung berita heboh seperti itu," solusi Jiero, tetap berhubungan dengan idolanya itu.

"Jiero bener, Ngga. Bang Dedy Mizwar dan beberapa seleb muda lainnya juga terkenal bersih. Ya cuma itu, mereka masih kalah gaungnya dengan yang hura-hura, sebab mereka sedikit. Nah, tugas kita untuk menambah jumlah mereka. Iya nggak, cuy?" tanya Juni pada Jiero yang serta merta mengangguk kuat.

Angga diam. Dia tak tahu harus ngomong apa. Bokapnya seorang yang terkenal kuat memegang agama karena bokapnya salah seorang yang bekerja di departemen agama. Nyokap, tak jauh beda sebab dunia nyokapnya adalah dunia dakwah yang kental. Abang-abang, jangan ditanya. Salah seorang abangnya bahkan begitu fanatik dengan agama. Hingga toleransinya agak sedikit keras. Dirinya? Sebenarnya ajaran agama kuat bersemayam dalam dadanya, apalagi sewaktu di SMP ia aktif di Rohis. Ia akrab dengan duo narcis ini karena dia suka dengan gaya keduanya. Satu hal, keduanya terkenal cukup pintar dan tak banyak ulah, tak merokok, tak suka bolos, apalagi narkoba. Hanya sayang, keduanya punya penyakit yang sama; pengen jadi orang beken!

"Sudahlah, kita jamin. Kita akan tetap di koridor agama. Kalau publik figur hanya diisi oleh orang-orang yang memberi contoh bejat, kapan kita dapat contoh yang baik? Dan kitalah yang harus memulainya," yakin Jiero sembari merengkuh pundaknya.

Angga tersenyum mendengar optimisme yang ada pada kedua sohibnya. Ia mengangguk kuat membuat ketiga sohib itu saling peluk. Dramatis sekali drama di kantin sekolah itu. Ekor mata ketiganya masih tak lepas dari Jono yang dikerubungi fansnya di salah satu meja kantin. Jono tetap sibuk memamerkan gigi ompongnya ketika blitz kamera menyayat udara.

"Mulai sekarang kita akan wujudkan mimpi kita untuk beken," ikrar ketiganya.

Ket; Sumpah Ompong di Sekolah, judul novel Asa Mulchias

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :