Casting (Serial Trio Narcis 2)

Diposting: Selasa, 13 Oktober 2009 / 16:16:29 | Oleh: annida | Kategori: Serial

Halaman ini diakses sebanyak: 546 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Penulis : Guntur Alam

Pagi ini berbeda dengan pagi sebelumnya, Jiero begitu bersemangat menyebrangi koridor-koridor SMU Keren Abiz, tujuannya tak lain dan tak bukan. Ingin cepat sampai di kelas XI dan menjumpai kedua sohibnya. Ada berita heboh yang serasa hendak meledak dari dadanya. Ia tahu itu tadi pagi saat sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Mau sms atau telepon kedua sohibnya. Operator card-nya memaki-maki.

Pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Jiero kesal mendengar ceramah operator itu. Dengan gaya secepat katak melompat, jempolnya lincah meloncat-loncat ditombol hp. Dan send. Dia mengirim sms itu ke nomor dua sohibnya. Pesan gagal. Balasan operator. Hatinya makin gondok, ditekannya nomor operator. Sisa pulsa dua belas rupiah. Jiero nyengir melihat nominal pulsanya.

Heran, baru kali ini dia merasa koridor sekolahnya panjang bukan main. Beberapa kali dia berusaha nyengir dan pamer senyum ke beberapa siswa yang dia lewati. Tak satu pun menanggapi. Ia merengut melihat itu. Awas aja kalau gue udah beken, nangis darah pun kagak bakal gue kasih tanda tangan gue. Ancam hatinya. Sewot.

"Guys, gue punya berita heboh!" jerit Jiero begitu mukanya sudah nampang di depan pintu kelas. Beberapa kepala menengok ke arahnya. Jiero menutup mulutnya. Agak berjinjit dia menghampiri kedua sohibnya.

"Berita apaan?" tanya Juni penasaran. Setengah berbisik. Takut membuat suasana gaduh. Tapi, lebih tepatnya dia takut orang lain mendengar berita penting yang dibawa Jiero.

"Ada casting untuk maen sitkom di stasiun TV Tawa," ucap Jiero nyaris hanya desisan saja. Kedua sohibnya terbelalak. Tak percaya dengan apa yang mereka dengar.

"Yang bener?" tanya Angga, hampir menjerit. Buru-buru Juni mendekap mulutnya. Jiero menempelkan telunjuk di bibir tipisnya.

"Jangan sampai yang lain dengar, tambah banyak saingan kita," wanti Jiero. Angga mengangguk takzim.

"Kapan?" tanya Juni, tangannya masih mendekap mulut Angga.

"Hari minggu ini," jelas Jiero. Angga buru-buru membuang tangan Juni.

"Lu habis cebok ya? Tangan lu bau banget," sungutnya. Sialan maki mata Juni. Angga nyengir melihat ekspresi wajah Juni.

"Kali ini kita harus ikut, dan harus lolos. Giliran kita untuk beken. Sebagai kelompok cowok tertampan di SMU Keren Abiz kita tidak boleh dikalahkan lagi oleh Jono ataupun sebangsanya. Mau diletakkan dimana ketampanan kita kalau Jono dan makhluk sejenisnya mengalahkan kita lagi," kompor Jiero. Kumat narcisnya.

Kedua sohibnya mengangguk takzim. Kali ini semangat ketampanan dan kekerenan yang mereka punya serta impikan selama ini begitu bergelora. Tak boleh kalah. Mimpi menjadi orang keren harus diwujudkan.

"Bau-baunya Jono nih," terdengar riuh suara cewek-cewek sekelas trio narcis begitu hidung mereka mencium bau parfum sang idola, "ah, foto bareng lagi. Siapa tahu bisa dikirim ke infotaiment dan digosipin pacaran ama Jono, bisa ketiban beken," cekikik Dedeh Ndut. Trio narcis hendak pingsan mendengar mimpi Dedeh.

Benar saja Jono muncul di depan kelas, kali ini ada Bambang dan kedua temannya yang lain. Anak-anak sekelas terlihat ribut menyerbu pintu, Bambang dengan sigap menghalangi para fans Jono dan memberi jalan majikannya. Kedua sohibnya yang bertindak sebagai bodyguard menjadikan tubuh mereka tameng untuk melindungi Jono dari jangkauan tangan fansnya. Trio narcis benar-benar sakit hati melihatnya.

"Dulu, sebelum Jono maen film jadi hantu ompong. Semua cewek di kelas ini selalu protes ama Jono dengan bau minyak nyong-nyongnya. Sekarang, seperti mencium bau parfum mahal," Jiero benar-benar sebel dengan dewi fortuna yang masih hinggap di tubuh Jono. Jono tetap saja menghantui mimpi mereka untuk beken. Walau film hantu ompong yang Jono perankan tidak lagi menghantui bioskop karena sepi penonton.

"Kita akan bisa jauh lebih beken," yakin Juni dan semangat yang membara, "sebagai geng cowok tercakep, kita akan membuktikannya." Jiero tersenyum lebar mendengarnya. Angga hanya mengangguk-angguk saja.

* * * *

Hari minggu yang ditunggu. Akhirnya datang juga. Saat ayam masih terkantuk-kantuk di kandangnya Jiero sudah bangun, sudah rapi dengan dandanan narcisnya. Rambut mengkilap dengan minyak rambut. Celana jeans model tahun 70-an, cutbray. Bajunya penuh dengan warna-warna ngejreng, flower. Satu kancing atas dibuka, memperlihatkan dadanya yang tak beraksesoris. Dan sebuah shal melingkar. Jiero tersenyum senang mematut dirinya di depan cermin. Sesuai dengan jiwanya; dangdut!

Tapi, kedua sohibnya tak begitu menyukai dandanan itu. Keduanya mati-matian memaksa Jiero untuk ganti kostum. Belum keluar komplek saja mereka sudah jadi bahan tertawaan, apalagi di perjalanan. Tapi, Jiero tetap ngotot. Untuk jadi seorang seleb harus siap jadi apapun, siap dengan gaya norak dan malu-maluin sekalipun. Apalagi ini casting untuk sitkom, jadi karakter terlucu dan terunik yang akan dicari. Alasannya.

Juni dan Angga tak kuasa untuk memaksa Jiero. Akhirnya, mereka menebalkan muka di dalam bus kota saat orang-orang tertawa melihat penampilan sobatnya itu. Nyesal Angga tak meminta salah satu abangnya untuk mengantar mereka ke stasiun TV Tawa. Tapi, Angga takut, kalau abangnya tahu ia ikut casting tidak akan diizinkan.

Lepas dari bus kota yang lebih mirip kornet manusia itu, Angga serasa melepaskan beban yang begitu berat. Tapi, itu bukan akhir dari segalanya. Mata ketiga sohib itu terbelalak begitu melihat pemandangan di depan mereka.

"Oh My God, ini acara casting apa mau bagi zakat seperti di Pasuruan?" tanya Juni schok. Lutut ketiganya lemas. Mata mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Ratusan mungkin ribuan orang sudah memadati halaman TV Tawa. Ngeri mereka membayangkan ramainya peserta.

"Gue nggak nyangka akan sebanyak ini," desis Angga, ciut duluan. Tanpa kata ketiganya melangkah masuk, satpam di depan gerbang menanyai mereka dan mempersilakan mereka masuk ketika mendengar alasan mereka.

"Langung saja antri di barisan, Dik. Biar cepat castingnya," pesan satpam itu dengan senyum ramah. Cepat apaan? Tanya hati Juni melihat lautan manusia itu. Meja juri yang mencasting saja tak terlihat dari tempat mereka berdiri. Tapi, mau tak mau ketikanya langsung ambil posisi di belakang sebuah barisan.

"Ya elah, ikut casting juga ternyata. Gue pikir tiga cowok yang mengikrarkan diri sebagai cowok terkece di SMU Keren Abiz nggak bakal doyan yang beginian," tiba-tiba semua suara centil mengagetkan ketiga sohib itu.

"Alahmak, astaga naga. Kuda nil dari kebun binatang mana yang terlepas?!" jerit Jiero setengah terlonjak, serta merta mata Juni dan Angga menangkap sosok Dedeh. Kontan keduanya tertawa berderai.

"Sialan lo! Gue udah cantik-cantik kayak Zaskia Mecca kayak gini di bilang kuda nil. Yang ada gue yang nanya; kebun binatang mana yang kehilangan dua jerapah dan monyet peliharaannya?" sungut Dedeh, bibirnya yang dibalut lipstik merah super tebal terlihat monyong. Pipi tembemnya merah merona, serasi dengan bibir dan warna di bawah alis matanya. Mirip badut ulang tahun.

Mendengar kata-kata SMU Keren Abiz dan suara-suara yang begitu akrab di telinga mereka, beberapa kepala di depan kompak menengok ke belakang. Menyembullah raut-ruat wajah anak kelas XI SMU Keren Abiz, trio narcis dan Dedeh Ndut terngangah. Tak menyangka mereka akan bertemu di sini.

"Hah, satu kelas ikut casting semua. Jono pun ikutan," sungut Juni begitu melihat Jono memamerkan gigi ompongnya di barisan depan mereka. Ada Bambang dan kedua sohibnya di belakang Jono.

"Optimis. Optimis," semangat Jiero. Tak ingin semangat kedua sohibnya luntur.

Juni merasa dengkulnya lepas. Nggak nyangka, anak-anak kelas XI SMU Keren Abiz bakal ikut semua. Matanya melayang kearah depannya. Begitu melihat pemandangan yang ada di depannya. Sontak, Juni lebih terkejut lagi.

"Astagfirullahal adzim, anak kecil dilarang liat," tiba-tiba saja tangan Juni menutup mata Angga yang memang memiliki postur tubuh paling imut dalam trio narcis. Hanya memiliki tinggi 160 cm, kontras dengan kedua sohibnya yang rata-rata 175 cm.

"Apaan sih?" Angga berusaha melepaskan tangan Juni dan matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya. Tak henti hatinya beristigfar, seorang cewek berkulit putih mulus mengenakan baju tak berkain di punggungnya hingga hampir ke bokongnya. Ini alasan yang membuat bokap, nyokap dan abang-abangnya tak suka dengan seleb.

Belum sempat berpikir yang lain, ketiga sohib itu merasakan dorongan yang kuat dari barisan belakang. Beberapa orang menjerit dari barisan depan, mungkin terjatuh atau terdorong. Ketiganya berpegangan, kali ini dorongan berasal dari depan. Antrian panjang itu saling dorong mendorong, terdengar jerit histeris dari beberapa orang. Tak tahu apa penyebabnya. Mungkin terjatuh atau terinjak-injak. Antrian ricuh.

"Adau..!" jerit seorang cowok di antrian sebelah mereka, antrian Dedeh Ndut. Wajahnya terlihat memerah dan menggelembung seperti menahan sakit yang tak terperih. Wajah Dedeh Ndut pias.

"Maaf, mas," pintanya pasi.

"Jempol kaki gue," ringis cowok itu, serta merta beberapa mata melihat jempol kaki cowok yang ternyata memakai sandal itu, ada darah, "padahal bengkaknya gede banget. Merah. Ee, diinjak ama gajah," ceritanya membuat Dedeh merengut.

"Bukan gajah, mas. Tapi, buldozer," tambah Jiero yang membuat Dedeh Ndut makin murka. Sudah terlihat jelas terlihat tanda-tanda gunung merapi itu akan meletus, asap yang keluar dari hidung, telinga. Bahkan napas dari hidungnya itu sudah terdengar kencang sekali, kepala Dedeh aja sudah mulai menunduk. Lho, kok jadi kayak banteng mau nyeruduk.

Setelah insiden dorong mendorong itu usai, antrian tertib lagi sebab pihak TV Tawa menurunkan security untuk mengontrol. Kali ini mereka dipanggang matahari, peluh membanjir. Belum lagi bau yang berbaur. Angga yakin, cewek yang berpakaian terbuka itu baru saja mengebom mereka dengan gas beracun. Amit-amit, cantik-cantik gasnya bau bangkai. Umpat hati Angga.

"Mbak, kentut ya? Bau banget," tanya Angga sembari menutup hidung.

"Habisnya, nggak tahan lagi," jawabnya tanpa malu-malu. Iiih, Angga mengeryitkan bibirnya, memperlihatkan giginya. Ngeri dengan wajah tak berdosa itu.

"Cuy, apa yang kita lakukan ini bukan sebuah tindakan bodoh?" tanya Angga tiba-tiba, kedua sohibnya saling lempar pandang, tak mengerti, "kita seperti orang tolol yang tak punya prinsip dan harga diri, berbaur untuk mengejar popularitas. Sebagai pelajar, kita tak seharusnya di sini," lagi-lagi mereka saling pandang.

Terik matahari membakar tubuh mereka, mengalirkan peluh. Antrian masih sangat panjang. Apakah memang beken harus seperti ini? Tanya Angga, bingung.

"Ini usaha, Ngga. Segala sesuatu itu butuh perjuangan," jelas Juni.

"Tapi, gue merasa kita seperti orang tolol yang ngejar popularitas. Seharusnya, kita di rumah. Belajar dengan baik, bukan di sini," entahlah Angga merasa, mereka telah salah tempat.

Kedua sohibnya saling lempar pandang. Lempar-lemparan terus.

"Kita sudah terlanjur di sini, pokoknya harus mencoba," putus Juni dan Jiero, sepihak. Tak ada yang bisa Angga lakukan selain ikut. Dan juga, antrian semakin banyak, tak mungkin bisa keluar lagi dari lautan manusia itu.

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :