Yatty Surachman: “Kerja Bukan untuk Piala"

Diposting: Senin, 31 Agustus 2009 / 10:27:54 | Oleh: annida | Kategori: Sang Maestro

Halaman ini diakses sebanyak: 191 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Annida-Online-Terus berusaha maksimal di bidang yang dicintai. Begitulah Yatty Surachman (52) menekuni dunia akting yang membesarkannya. Sobat Nida kenal kan sama sosok yang kerap berperan sebagai ibu tua atau nenek-nenek di beberapa sinema elektronik ini? Wanita yang punya nama asli Surachmiati Agustina ini, bintang film ngetop di era 70-an dan 80-an lho. Film kelimanya yakni Perawan Desa (1978) melambungkan namanya. Bahkan, ia meraih penghargaan sebagai aktris pendatang baru terbaik se-Asia Pasifik tahun 1980.

 Perjalanannya di dunia film bermula dari tarik suara. Dari menyanyi, kemudian ia menjajal kemampuan menjadi model majalah. Nah, dari situlah, tahun 1976 ia mendapat tawaran dari Nyak Abas Akub, sutradara Inem Pelayan Seksi. Saat itu, Yatty dites reading naskah, dan ditawari untuk memainkan peran seorang gadis SMP yang super manja. Padahal waktu itu Yatty sudah berusia 19 tahun. Film menjadi hal baru bagi anak pertama dari 9 bersaudara pasangan Surachman dan Tati Maryati kala itu. Hal baru yang diumpamakannya sebagai botol kosong, selalu terbuka menerima masukan kendati tetap ada saringan. Orang-orang di luar dirinya amat berperan dalam profesi dan prestasi Yatty. Tak hanya sutradara dan para kru, tapi juga wartawan.

 Selama 33 tahun terjun di perfilman, Yatty memetik banyak pengalaman. Yang paling berkesan, setelah film perdananya di mana ia banyak menyerap ilmu ialah Perawan Desa. Di film itu, Yatty dipercaya sebagai pemeran utama. Untuk memainkan karakter Sum Kuning yang diangkat dari kisah nyata, Yatty mesti beradaptasi dengan lingkungan dan keluarga si tokoh di Yogyakarta.

 "Waktu itu tahun 78. Saya datang ke keluarga Sum Kuning sebagai diri saya sendiri, Yatty Surachman. Buat mempelajari karakter Sum. Kata orang, biasanya aktor atau aktris yang melakukan hal seperti itu bisa trance, seterusnya menjadi orang yang ia perankan," ujar Yatty, saat ditemui di kediaman orangtuanya di Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (18/8) lalu.

 Selain itu, film Perawan-Perawan (1981) yang disutradarai Hj. Ida Farida juga mencantolkan cerita tersendiri di benak Yatty. Gimana nggak, dalam film itu Yatty mesti berperan menjadi seorang lesbian! Banyaknya teman dari berbagai kalangan, termasuk kaum gay dan lesbian, menjadi wahana Yatty untuk mempelajari banyak sifat dan pembawaan mereka. Ia pun bisa menjiwai peran lesbian dengan baik, dari gerak-gerik, cara mata menatap perempuan dan sebagainya. Walau tak ada sentuhan sama sekali, toh, lawan mainnya kala itu, aktris Lidya Kandau sampai ketakutan.

 "Tadinya kami tidur satu kamar, setelah akting itu kok Lidya nggak mau bareng lagi, dia bilang takut sama saya. Lho, padahal saya bukan lesbian beneran," kata Yatty mengenang.

 Mengenai penghargaan dan beberapa nominasi yang didapatnya, menurut Yatty itu bukanlah tujuan. Baginya, akting hanyalah bentuk kreatifitas, ia menikmatinya dan berusaha agar hal yang dicintainya tersebut bisa terus berjalan. Saking cintanya sama seni peran, ibunda dari Ibrahim Laurentius ini tak keberatan ketika harus beralih dari film ke sinetron.

 "Film atau sinetron sama saja, hanya medianya saja kan yang beda. Kalau cerita-cerita sinetron sangat miskin, karena kebanyakan adaptasi dari film Korea, Jepang, Cina atau India. Informasinya juga dobel, tak cuma gambar tapi ditambah lagi dengan dialog. Yah memang kesannya membodohi masyarakat. Tapi selagi masih bisa diterima akal sehat, saya tak menolak bermain di sana," tutur Yatty, yang saat ini main di sinetron Isabela dan tengah sibuk pengambilan gambar untuk sinetron Muhrim. Ohya, jika biasanya Yatty berperan protagonis di berbagai sinetron, khusus pada Isabela ia menjadi sosok ibu yang jahat.

 Tentang banyaknya produser yang terkesan sewenang-wenang, ini tak ditampik oleh Yatty. Menurutnya, hal ini terjadi karena jumlah pemain dan kru yang terlampau banyak.
 "Zaman sekarang semua serba instan. Banyak pemain dan kru, tak melewati aturan seperti yang diterapkan di KFT (organisasi Karyawan Film dan Televisi, red) atau Parfi," ungkap Yatty. 

 Jadi, menurut Yatty, semua kembali ke persoalan "perut" lantaran industri film/sinetron sudah betul-betul sebagai industri yang mengejar keuntungan.
 "Kalau saja para produser punya hati yang murni Indonesia, saya rasa mereka akan membangun Indonesia dengan memproduksi tayangan yang membina pola pikir penonton," harapnya.

 Saat ini, di samping masih wara-wiri tampil di layar kaca, Yatty juga menjadi pengajar akting. "Saya belajar akting secara otodidak, tapi dipercaya ngajar di beberapa sekolah akting. Saya katakan dari awal, di situ saya hanya bisa berbagi pengalaman," ungkap pemeran nenek sahabat Guntur di film King besutan Ari Sihasale itu. [Esthi]

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :