Hj. Ida Farida, Sutradara/Penulis Skenario Peraih Piala Citra 1989
Diposting: Minggu, 05 Juli 2009 / 10:24:00 | Oleh: annida | Kategori: Sang Maestro
Halaman ini diakses sebanyak: 259 kali
Rating: 0
"Sekarang, Ditoleh pun tidak"
Tak selincah dulu. Di usia senjanya, Ida Farida (70) lebih banyak diam di rumah. Baca koran, isi TTS, main sama cucu dan nge-game di komputer. Asam urat dan kesemutan lumayan membatasi geraknya. Saat ditemui Annida pada Selasa (9/6) lalu, sutradara sekaligus penulis skenario yang ngetop di era 80-an ini baru saja cek kesehatan. Ia memeriksakan kesehatan di pos gratis khusus lansia di lingkungan rumahnya, Depok II Tengah, Depok, Jawa Barat.
"YA beginilah, sudah tua. Nggak ngapa-ngapain, ini baru coba nulis lagi, sinetron buat PH. Tapi judulnya masih rahasia ya," tutur Ida, sangat ramah. Ia mempersilakan Annida masuk ke ruang kerjanya. Kamar mungil nan sederhana, berisi seperangkat komputer (yang tak pernah dipakainya kecuali untuk main game, hehe -- untuk menulis dia cukup tulis tangan, baru diketikkan oleh salah seorang anaknya, red). Ada juga ranjang pendek serta dua lemari buku, dengan 22 album foto di dalamnya serta buku-buku agama. Sementara, dinding penuh dengan foto-foto Ida muda berbagai gaya, bersama artis dan kru film, juga lukisan diri Ida.
Piala Citra terpajang di atas almari. Inilah salah satu bukti yang mengakui kepiawaian Ida dalam menulis skenario. Tahun 1989, Ida mengalahkan senior-seniornya dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) lewat karya Semua Sayang Kamu. Di film yang dikenal sebagai film Dewi-Cipluk (dimainkan Neno Warisman dan Eeng Saptahadi, red), Ida juga jadi nominator sutradara terbaik.
Selama 30 tahun berkiprah di perfilman, Ida telah melahirkan banyak karya. Sekitar 14 film layar lebar, serta sinetron yang Ida tak ingat lagi jumlahnya, salah satunya Si Doel Anak Sekolahan (12 episode awal). Adik kandung Misbach Yusa Biran dan aktris Ani Hidayat ini memulai kariernya sebagai penulis cerpen (sejak masih SMP tahun 1953), wartawati film dan hiburan mulai tahun 1965 (bukan peragawati seperti yang disebutkan sebuah situs). Ida yang tamatan SMA Taman Siswa di Kemayoran (1957) ternyata serba ingin tahu dan tak bosan belajar. Terjun di dunia film dimulai dengan menjadi pencatat skrip, asisten sutradara dan seterusnya. Lantas, suatu saat ia "diajak" oleh aktris senior (Alm) Sofia WD untuk menulis skenario, juga menyutradarinya. Karya perdana berjudul Guruku Cantik Sekali (1979) kelar dalam tempo sehari semalam saja. Dibahas cuma tiga jam, kemudian langsung disiapkan produksinya dengan pemain Leni Marlina, Rano Karno, Lidya Kandau yang kala itu tengah naik daun.
Film-film berikutnya pun susul menyusul. Busana dalam Mimpi (1980), Perawan-Perawan (1981), Merenda Hari Esok (1981), Tirai Malam Pengantin (1983), Tante Garang (1983), Asmara di Balik Pintu (1984), Tak Ingin Sendiri (1985), Semua Sayang Kamu (1989), Sabar Dulu Dong (1989), Perempuan Kedua (1990), Barang Titipan (1991).
Tak hanya "macan" di kandang sendiri, Ida juga menancapkan kukunya di Negeri Jiran. Sepanjang 1985-1989, ia memenuhi tantangan produser Malaysia untuk membuat film di sana. Hasilnya, luar biasa. Suara Kekasih dengan pemain Fauziah Ahmad Daud dan Azmil Mustapha itu meledak di pasaran. Film ini ditengarai sebagai tonggak berdenyutnya kembali film di negara tetangga kita itu.
Ida hanya bertahan lima tahun di Malaysia. Ia lantas pulang ke Tanah Air setelah menelurkan beberapa judul film. Perempuan kelahiran Rangkasbitung, Lebak, Banten, 5 Mei 1939 ini berkutat lagi dengan kesibukan menulis dan mengarahkan kru maupun pemain film.
Oya, sebagai sutradara perempuan, ternyata ia tak menemui kendala berarti. "Nggak ada pembedaan, selama ini sama saja kok perlakuan produser kepada sutradara laki-laki atau perempuan. Kalau untuk mengarahkan kru atau pemain, ada kuncinya. Saya bertindak sebagai ibu, semua kru dan pemain saya anggap sama, anak semua. Nggak ada yang dibeda-bedain karena semua punya kelebihan dan kekurangan. Saya juga ngasih kesempatan pada mereka, ayo jangan takut-takut untuk bertanya," beber ibu empat anak, nenek dari 7 cucu dan buyut 3 orang cicit ini.
Mengenai suka duka, pasti ada. Jujur Ida menyebut, suka itu datang bila film yang dibuatnya laku. "Sedihnya tentu saja kalau filmnya nggak laku. Terus kalau kinerja kru kurang pas, pemain ngaret, nggak tepat waktu. Beda banget sama pemain zaman dulu yang disiplin banget seperti Tante Sofie (Sofia WD, red)," urainya. Dari segudang pengalaman pengambilan gambar dan mengatur semua awak film, Ida paling nyaman jika ia melakukannya di luar kota. Lho, kenapa? "Soalnya kalau di luar kota, semua ngumpul. Nggak ada yang telat atau berhalangan datang, jadi enak ngomongnya," jelas Ida. Ngumpul-ngumpul dan kesibukan di dunia film membuat Ida rindu. Kini, Ida merasa kelebihan waktu. "Dulu sebelum tidur pasti sibuk mikirin buat esok hari, mau ngapain, ke mana. Sekarang, nggak ada yang jadwal apa-apa, jadi sakit-sakitan karena nggak ada kegiatan," kata Ida. Yang membuat Ida sedih, pelaku film zaman dulu seolah tak dianggap lagi. Terlupa begitu saja. "Masa tua orang film nggak ada yang merhatiin. Sekarang, ditoleh sama produser juga tidak. Sutradara-sutradara muda juga nggak ada yang beranjangsana, kayak ada gap dengan yang tua. Beda dengan kami dahulu. Mungkin karena mereka sudah pintar-pintar ya, mengenyam sinematografi secara formal, nggak kayak kami yang otodidak ini," lanjut Ida dengan suara parau. Begitu juga dengan organisasi Karyawan Film dan Televisi (KFT), tempat Ida menjabat sebagai Ketua Kelompok Penulisan Skenario (sampai sekarang). "KFT jadi kayak Al-Quran tua. Nggak dibuang tapi ditaruh aja. Padahal dulu pamornya lumayan kuat karena punya aturan yang tegas dan jelas," ujar ibunda Ivanda (alm), Inez (46), Iferdo (44) dan Shendy (30) ini. Ida dan Rokok
Foto-foto lama Ida banyak bercerita. Tampak sekali bedanya Ida dulu dan Ida sekarang. Dalam foto saat aktif sebagai sutradara film, Ida terlihat amat tomboy dan kurus. Rambutnya cepak abis. Pakaiannya kaos/kemeja dipadu celana panjang, bahkan celana pendek. Tas pinggang serta kacamata berbingkai lebar jadi ciri khas Ida. Dan lihat, selalu terselip sebatang rokok di jari tangannya!
"Dulu saya perokok berat, sehari bisa habis empat bungkus. Saya nggak ngrokok cuma pas lagi makan atau tidur saja," kata Ida mengenang.
Lalu hidayah itu pun datang. Ida berkesempatan umroh bersama rombongan Si Doel Anak Sekolahan tahun 1995. Dari situ ia mulai mengenakan pakaian tertutup. Tahun 1998 ia menunaikan ibadah haji, lantas mengenakan jilbab untuk seterusnya. Sesudah umroh ditambah lantaran paru-parunya berkabut, ia pun bertekad untuk stop merokok.
"Kalau sudah niat, berhenti merokok mudah saja," katanya. "Ngopi atau ngeteh juga sudah tidak lagi. Banyak-banyakin minum air putih saja," lontar anak ke-2 dari lima bersaudara pasangan Ayun Sabiran (wartawan/pemilik studio foto) dan Yumenah.
Ida dan Sinetron "Keras"
"Sedih ngelihat sinetron sekarang, banyak kekerasan. Padahal tayang sore, isinya orang marah-marah dan jahat melulu. Nggak mengajarkan moral yang baik. Kenapa ya KPI membiarkan saja tontonan kayak gitu terus diputar stasiun TV. Kadang penulis atau sutradara juga nurut saja sama yang mesan," beber Ida.
"Kalau saya, anti sama cerita yang merusak moral," tegasnya. Pernah, Ida membatalkan kontrak gara-gara ia diminta menulis cerita yang tidak masuk akal.
"Saya ingat pesan kakak saya, Misbach. Bikin film itu mesti membuat pintar penonton, minimal menghibur-lah. Tidak mengajari orang jadi jahat," katanya. Untuk menjadi idealis, diakuinya memang sulit. Ia hanya bisa menjaga agar karya-karyanya tak menyimpang dari norma/agama.
"Kakak saya bilang, kalau sampai membuat film jorok, baginya itu sama saja dengan menyewakan ranjang buat pelajur," begitu Ida menirukan pernyataan Misbach Yusa Biran, sutradara/penulis skenario yang mulai eksis tahun 60-an.
Makanya, belakangan Ida lebih sreg menulis cerita religi. Program terakhir yang ia tulis adalah Rinduku Cintamu produksi Demi Gisela Film.[Esthi]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




