Erros Djarot: Serius Pada Karya-karya Long Lasting Time

Diposting: Kamis, 18 Februari 2010 / 17:39:46 | Oleh: annida | Kategori: Sang Maestro

Halaman ini diakses sebanyak: 124 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Annida-Online--Pat ujeun yang hana pirang, pat prang yang hana reda. Sebait pantun tersebut amat lekat dalam ingatan Hamid Awwaluddin. Hamid adalah perwakilan Indonesia yang ditunjuk oleh mantan presiden RI Jusuf Kalla, untuk menyelesaikan konflik di Nanggroe Aceh Darussalam beberapa tahun silam. Ketika itu, ia mengutip pantun tersebut dalam pidato pengantar usai penandatanganan perjanjian damai dengan Gerakan Aceh Merdeka. Usut punya usut, pantun yang berarti “tiada hujan yang tak berhenti, tiada perang yang tak berakhir” itu didapatnya dari dialog penutup yang diucapkan Christine Hakim pada film Tjoet Nja Dhien yang baru saja ditonton sehari sebelum menghadiri perundingan tersebut.

Tjoet Nja Dhien  memang film kolosal Indonesia yang cukup fenomenal. Ia juga menjadi film Indonesia pertama yang diputar di ajang Channes Film Festival di Perancis dan sukses membuat sutradaranya, Erros Djarot (60), meraih penghargaan sebagai Sutradara Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1988. Kepada Annida-Online, Erros yang kini lebih banyak bergelut di dunia politik berbagi sepenggal cerita tentang kejayaannya sebagai film maker Indonesia di era 1970-1990-an.

 Sebenarnya, Erros mengakui dirinya tak pernah merencanakan memproduksi film dengan target sukses saat menulis skrip dan menyutradarai Tjoet Nja Dhien. Ketika itu, ia hanya berpikir bagaimana membuat film yang bagus dan baik buat penonton Indonesia, khususnya untuk kaum perempuannya. Karena Erros yakin perempuan adalah tiang sebuah bangsa. Ketika tingkat kualitas perempuan dalam sebuah negara baik, semakin baik pula negara tersebut.

“Saya hanya berharap Tjoet Nja Dhien ketika itu bisa menjadi inspirasi perempuan-perempuan Indonesia agar mempunyai jiwa kemandirian, kemimpinan dan sosial," ujar pemilik nama asli Soegeng Djarot ini.

Konon, film yang juga dibintangi oleh Pitrajaya Burnama Hendra Yanuarti, Slamet Rahardjo, Rita Zahara, Hermin Centhini, Roy H. Karyadi, Fritz G. Schadt, John Iskandar, Tuanku Djalil, Joes Terpase, Eko Handoko ini disebut-sebut sebagai film termahal pada masanya. Erros yang mengaku membutuhkan waktu 18 bulan untuk merampungkan produksi film ini, menolak bahwa Tjoet Nja Dhien sebagai proyek idealisnya.

“Karena kesemua film saya adalah proyek idealis saya,” kilah Erros. “Dalam berkarya, saya harus menciptakan sebuah karya yang longlasting, yang orang nggak mudah lupa. Untuk itu, karya yang baik harus punya pesan kebaikan yang kuat. Saya memang nasionalis, tapi seorang nasionalis juga punya tanggungjawab terhadap Tuhannya, kan? Saya tak fasih berbicara soal Islam dan jihad, tapi semoga karya saya bisa menunjukkan keislaman saya,” beber Erros, panjang lebar.

Sebelum Tjoet Nja Dhien, pengagum Bung Karno ini juga pernah membantu sutradara kenamaan Indonesia, (alm) Teguh Karya, dalam film Kawin Lari (1974) sebagai penata musik. Lewat film tersebut, Erros menerima penghargaan di ajang FFI tahun 1976 sebagai penata musik terbaik. Di tahun yang sama, Erros juga menggarap ilustrasi musik untuk film Perkawinan Dalam Semusim.

Kemudian tahun 1977, dibantu oleh sahabat-sahabatnya di band Gank Pengganggsaan (yang digawangi Keenan Nasution, Debby Nasution, Odink Nasution, Gaury Nasution, Harry Sabar, dan Christian Rahadi alias Chrisye) Fariz RM, Yockie Soeryoprayogo (God Bless), dan Berlian Hutauruk, ia kembali menggarap ilustrasi musik dalam film karya Teguh Karya berjudul Badai Pasti Berlalu. Film BPB ini di-remake oleh sutradara Teddy Soeriaatmadja tahun 2007 lalu, sedangkan lagunya dinyanyikan kembali oleh penyanyi Ari Lasso. 

“Musik dan film itu memang nafas hidup saya. Kalau ada yang tanya, pilih mana musik atau film, saya nggak akan memilih karena keduanya saya suka,” ujar adik kandung Slamet Rahardjo ini.

Pernah beberapa kali bergabung dalam grup band seperti Uwes Gang dan Ruky Raya serta Kopfjaeger yang pada tahun 1974 berganti nama menjadi Barong Band, Erros sempat mewujudkan kecintaannya pada film dan musik dalam proyek two in one di film dokumenter Kantata Takwa, yang berjaya di Golden Hanoman dan Geber Award pada Jogja Netpac Asian Film Festival 2008 lalu.

Meski saat ini Erros lebih serius di ranah politik, ia mengaku masih aktif berkesenian, baik di jalur film maupun di jalur musik. Terakhir, pendiri Partai Banteng Nasional Kemerdekaan, ini menggarap film Lastri yang diproduseri oleh aktris cantik Marcella Zalianty. Sayangnya, sebelum produksinya selesai, film ini banyak menuai kontroversi karena diduga sarat dengan nilai-nilai komunisme. Meski membantah anggapan itu, Erros mengaku ikhlas saja produksi film Lastri tak sampai rampung. Baginya, yang terpenting adalah tak surut kreativitas.

“Erros Djarot boleh mati tapi kreativitas Erros Djarot nggak boleh sampai mati. Itu yang harus dicatat sebagai catatan penting,” pungkas Erros yang mengaku tengah bersiap meluncurkan album rekaman lagu-lagu kenangannya bersama para sahabatnya yang siap rilis bulan depan. [nyimas]

Biodata Erros Djarot
 Nama                      : Erros Djarot (Soegeng Djarot)
Tempat Tanggal Lahir: Rangkasbitung, Banten, 22 Juli 1950
Pendidikan               : Sekolah Tinggi Teknik, Koln, Jerman dan Sekolah Perfilman, Inggris
Penghargaan            :
    Pemenang Bronze Medal, mewakili Inggris Raya dalam Lomba Photo International Competition Nikon (1978)
    Nominator Mike Burkes Award (1984)
    Sutradara terbaik pada FFI 1988 dalam film Tjoet Nja Dhien
    BBC documentary Competition, (1997)
    Golden Hanoman dan Geber Award dalam Film Dokumenter Kantata Takwa yang dibuat bersama Slamet Rahardjo dan Gotot Prakosa pada Jogja Netpac Asian Film Festival (2008)

Filmografi :
    Kawin Lari (1974),
    Perkawinan Dalam Semusim (1976),
    Badai Pasti Berlalu (1977),
    Kembang Padang Kelabu (1980),
    Usia 18 (1980),
    Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1980),
    Di Balik Kelambu (1982),
    Ponirah Terpidana (1983),
    Secangkir Kopi Pahit (1984),
    Bila Saatnya Tiba (1985),
    Kodrat (1986),
    Tjoet Nja Dien (1986),
    Kantata Takwa (1990)
    Lastri (2008)
   

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :