Terganggu Semangat Sang Pemimpi pada Akhirnya.
Diposting: Senin, 04 Januari 2010 / 19:02:47 | Oleh: annida | Kategori: Review
Halaman ini diakses sebanyak: 448 kali
Rating: 0
Sebuah risiko, penonton film based on novel akan membandingkannya dengan goresan imajinasi lewat tulisan. Meski keduanya berbeda, penonton tetap menginginkan keindahan dan isi novel menjelma menjadi sebuah tontonan yang sesuai dengan semangat yang dibawa pengarang.
Akhir 2009, Sutradara Riri Riza kembali menghadiahi karyanya untuk pecinta film. Sang Pemimpi beredar sebagai sekuel Laskar Pelangi. Dua film ini adalah adaptasi novel tetralogi terkenal karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi (judul lainnya adalah Edensor dan Maryamah Karpov). Laskar Pelangi berkisah pada titik sentral perjuangan Ikal dan Arai, dua saudara sepupu menamatkan SMA dan keluar dari belenggu kemiskinan di Belitong. Mimpi mereka adalah bisa kuliah, lalu terbang mendapatkan beasiswa di Paris. Ditambah dengan motivasi guru Bahasa Indonesia, Pak Balia (Nugie) semangat Ikal dan Arai meletup-letup. Bersama sahabat kental mereka Jimbron, jadilah ketiga remaja itu sang pemimpi yang jatuh bangun menyelesaikan sekolah sambil bekerja sebagai buruh di tempat pelelangan ikan. Tentu saja romantika cinta dan kenakalan khas remaja mewarnai perjuangan. Cinta Arai pada Zakiah Nurmala membuat perhatian penonton tak lepas kareka begitu giginya Arai.
Sang Pemimpi tetap menjadi film yang memberi inspirasi sejak tayang 17 Desember 2009 lalu. Bahkan saat ini masih diputar di beberapa bioskop Indonesia. Tokoh Arai (Rendy Ahmad) menjadi cukup sentral di sini. Simpai Keramat yang ditinggal mati orangtuanya itu menjadi saudara sekaligus sahabat Ikal yang menegaskan mimpi harus tetap diperjuangkan sesulit apa pun rintangan yang ada. Lewat akting Rendy Ahmad, Arai menjelma menjadi sosok remaja tahan banting dalam segala hal. Tentang kemiskinan di sekitarnya ia berempati dengan cerdas, membelikan bahan kue supaya ibu Nurmi berjualan sehingga tak harus meminta-minta beras lagi. Begitu juga ketika Arai begitu berupaya menyewa kuda demi menyenangkan Jimbron yang tergila-gila dengan kuda. Usaha Arai menyebabkan Laksmi bisa tersenyum pertamakalinya sejak kedua orangtuanya tiada, setelah Jimbron menunggang kuda itu. Arai pula yang membuat Ikal menjadi bisa tegar ketika kemiskinan seperti tak akan memberikan mereka kesempatan menaikkan status sebagai anak Belitong yang setinggi-tingginya menjadi buruh kasar.
Mimpi menjadi begitu penting. Simaklah kata-kata Arai "Orang macem kite nih harus bisa bermimpi, kalo tak bermimpi kite kan mati." Lalu kalimat yang juga diyakini Arai terlontar, "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu." Sama dengan novelnya, Arai menjadi pembangkit semangat, peneguh keinginan Ikal untuk memberikan yang terbaik pada Ayah paling baik seluruh dunia yang diperankan Mathias Muchus. Beralih ke urusan asmara, akting Rendy Ahmad semakin manis saat begitu kuat dirinya mengupayakan perhatian Zakian Nurmala (Maudy Ayunda), sampai menyanyikan lagu untuk sang gadis pujaaan hati. Arai tak patah semangat, bahkan berguru menyanyi pada penyanyi kampung, Bang Zaitun (Jay Wijayanto). Akting Jay juga memukau sebagai artis kampung yang sangat "melayu". Lengkap sudah film ini membawa pesan moral, berbagi inspirasi sekaligus memancing tawa karena kelucuan yang terselip segar. Apalagi masih ada tokoh Jimbron yang diperankan Azwir Fitrianto dengan keluguan dan obsesinya terhadap segala sesuatu soal kuda.
Lalu tentu saja Vikri Septiawan, apa yang menarik dari perannya sebagai Ikal di film Sang Pemimpi? Sepertinya pula yang menjadi keberhasilan film Laskar Pelangi. Ikal memang tokoh utama, tapi karakter-karakter unik pemainnya membuat kedua film ini begitu melekat di benak penonton. Kalau banyak yang mengidolakan Mahar atau Lintang di Laskar Pelangi, maka Arai juga menjadi idola setelah banyak yang menontonnya. Karena memang idola sepatutnya menjadi pionir perubahan diri dan sekitar seperti Arai atau menjadi pendobrak kreativitas supaya hidup bewarna dan tak hambar karena ada sosok seperti Mahar. Dalam Sang Pemimpi peran Ikal tak akan berarti apa-apa tanpa kedua sahabatnya sehingga filmnya bisa berhasil. Selain itu adegan-adegan Ikal yang menyeret emosi banyak sekali didominasi saat beradu akting dengan Mathias Muchus. Aktor senior ini berhasil memerankan bapak yang hebat dalam keseringannya "diam saja." Tenang dengan emosi datar tapi sebenarnya sangat memerhatikan anak dan keponakannya. Akting sempurna Rieke Diah Pitaloka yang kebagian sebagai ibu Ikal juga menambahkan Sang Pemimpi membuat betah.
Film adalah media seni imajinasi yang terbangun dari rekaman audio visual pemainnya. Dibutuhkan pilihan kata-kata dalam dialog yang memungkinkan penonton memahami apa yang menjadi cerita sekaligus merunutkan alur. Entah terbawa pada novel Andrea Hirata yang berpanjang-panjang kata, yang diakuinya sebagai tabiat orang Melayu, film Sang Pemimpi pun begitu banyak memakai narasi penjelas, bukan dialog. Agak membosankan porsi Ikal dewasa yang begitu banyak menerangkan cerita layaknya pembaca narasi film dokumenter. Kenyataan ini semakin parah mengingat Sang Pemimpi alurnya juga lamban bergerak. Beruntunglah ini berhasil ditutupi dengan dialog-dialog berisi dari tokoh seperti Pak Balia, Pak Mustar (kepala sekolah), atau Arai sendiri.
Separuh cerita ketika Ikal, Arai, dan Jimbron remaja terasa cukup menyamai semangat novel Sang Pemimpi. Ikal sempat putusasa dan ingin menjadi pelaut lalu melupakan mimpi kuliah di Sorbonne, menyodorkan realitas mimpi yang sangat muluk bisa menjadi begitu sulit, berdarah-darah karena kemiskinan membuatnya seperti tak mungkin. Semangat mewujudkan mimpi boleh goyah dan terputus, tapi yang penting menyambungnya kembali. Inilah yang didapat Ikal melalui optimisme seorang Arai dan keinginannya untuk tidak mengecewakan orangtua.
Sebagai film hiburan bagi keluarga, Sang Pemimpi memberi begitu banyak wawasan untuk kekayaan batin. Pesan moral seperti kerja keras, empati, dan tidak menyerah pada keadaan bisa membangun kembali Indonesia lewat kiprah anak bangsa. Bermimpi, ikhtiar, dan nikmati keberhasilan. Ini mentalitas yang perlu dimiliki semua orang yang mendamba sukses.
Pengambilan gambar Belitong masih tetap memikat dan indah. Kalau boleh dibilang cela mungkin ketika scene film vulgar yang ditonton Ikal, Jimbron dan Arai di bioskop. Adegan ranjang film di dalam film Laskar Pelangi yang tersorot jelas itu seperti menodai film tersebut. Alangkah baiknya jika direkayasa sedemikian halus sehingga tak mentah-mentah men-shoot film-film seks era dulu yang rupanya mampir juga di Belitong dulu.
Terlepas dari hal di atas. Dan mimpi-mimpi mulai tampak berhasil ketika akhirnya Ikal dan Arai diterima di Universitas Indonesia. Berdua mereka kembali bekerja menjadi apa pun dan menjadi sarjana. Selangkah lagi bekerja keras mewujudkan mimpi melanjutkan S-2 di Paris. Sayangnya, optimisme yang dibangun Sang Pemimpi seperti meredup. Giliran Lukman Sardi memerankan Ikal dewasa dan Nazriel Irham alias Ariel Peterpan menjadi Arai. Alih-alih membawa semangat, meskipun tetap menunjukkan kerja keras seorang Ikal, sarjana asal Belitong ini memberikan "aura gelap" detik-detik akhir film ini. Kondisi ini bertambah juga dengan Arai -yang sebenarnya berkarakter optimis dan penyemangat- yang terlalu melekat dengan tampang sendunya Ariel. Keduanya seperti tak mampu memberikan aura bagaimana semangatnya seorang yang berseri-seri dalam kerja keras menyambut masa depan. Semangat anak muda Belitong tak begitu mencuat lagi seperti sebelumnya. Peran Ikal yang baru lulus kuliah dan masih begitu dinamis tak tergambarkan pada Lukman Sardi yang dari sisi usia sangat dewasa. Kalau tidak ingin terbilang tua untuk memerankan Ikal. Meskipun dari segi jam terbang Lukman Sardi patut diacungi jempol. Kemudian seperti judulnya Terganggu Semangat Sang Pemimpi pada Akhirnya, adegan-adegan terakhir tak semenarik ketika tokoh-tokohnya masih remaja karena semangat mengejar mimpi sepertinya hilang entah ke mana.
Tapi jangan khawatir, mimpi mereka tetap berhasil kok. Setelah berpisah seusai lulus, Arai ke Kalimantan dan Ikal bekerja di kantor pos. Keduanya bertemu saat menghadapi seleksi beasiswa ke Paris di Jakarta. Menjelajahi Eropa dan menjejakkan kaki di altar suci almamater terhebat tiada tara (seperti yang dikatakan Andrea Hirata) akhirnya menjadi kenyataan. Bukan mimpi. Sekali lagi, sayangnya, mengakhiri Sang Pemimpi sutradara memutuskan Ikal dan Arai baru sebatas Brussel yang sedang bermandi salju. Bukan negeri Perancis tempat mimpi mereka menjadi mahasiswa di Universitas Sorbonne.
Terakhir, apa pun hasilnya. Film yang positif dari segi content dan laris, ternyata Sang Pemimpi bisa memenuhinya. Selamat! [Elzam]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




