Sinema Indonesia 2010: Ramalan dan Harapan
Diposting: Senin, 11 Januari 2010 / 00:54:00 | Oleh: annida | Kategori: Review
Halaman ini diakses sebanyak: 164 kali
Rating: 0

Penulis: Ekky Imanjaya, Redaktur RumahFilm.org
Sejarah dan masa depan tidak bisa dipisahkan dari jaman sekarang. Mengutip Kuntowijo: sejarah seperti spiral, ia akan berulang tetapi selalu maju ke depan. Karena itu, memprediksi fenomena film-film 2010 tak lepas dari perkembangan mutakhir perfilman tahun-tahun sebelumnya.
Seperti dicatat oleh Rumah Film saat mengkurasi film-film Indonesia yang berlaga di ajang Kompetisi Film Fitur Indonesia di Jakarta International Film Festival, Desember lalu, ada perkembangan menarik. Ternyata, tidak sedikit yang "memberontak" dari arusutama, dan berani mengekslorasi genre dan tema. King dan Garuda di Dadaku menyeruak dengan film anak-anak atau film olahraga. Bersama Romeo Juliet, keduanya juga mengangkat tema olahraga, hal yang jarang dikuak dalam 10 tahun terakhir. Film dengan pernyataan politik dan kritik sosial juga makin marak, seperti Babi Buta yang Ingin Terbang dan Tiga Doa Tiga Cinta. Sedangkan film horor yang kebanyakan ecek-ecek itu dan gaya yang itu-itu saja, didobrak oleh Pintu Terlarang, Kado Hari Jadi, dan Keramat. Silat yang lama terpendam, tampil di Merantau.
Semangat positif ini akan bertahan tahun ini. Untuk slasher, akan ada Macabre (Rumah Dara) dan Mbak Lastri. Di genre silat, Gareth Evans bahkan sudah mulai pra-produksi Merantau 2. Lebih dari itu, saya berharap akan bertambah genre dan tema, juga pernyataan tegas tentang posisi sutradara pada cerita yang dibesutnya. Genre yang kurang tergarap adalah sejarah, perang, Western dan superhero (apa kabar Gundala Putra Petir?). Kabarnya, Dimas Djay akan kembali berkolaburasi dengan Joko Anwar membuat film tentang Perang Puputan. Dari genre fantasi dan teknologi 3D yang marak pada 2009, akan ada film monster dengan teknologi 3D berjudul Amphibious yang digarap sang pakar: Brian Yuzna.
Sutradara baru yang selama ini berkiprah di dunia film pendek, atau bahkan sinetron, tampil juga di arena perfilman 2009, seperti Edwin, Andibachtiar Yusuf, Ifa Isfansyah, dan Benny Setiawan. Semoga sosok semacam Ariani Darmawan, Tintin Wulia, Zeke Khaseli, dan Anggun Priambodo juga segera meramaikan kancah perfilman kita, tentu dengan gagasan segar mereka.
Bagaimana dengan film religi? Tahun ini, Hanung Bramantyo siap dengan biopic Ahmad Dahlan berjudul Sang Pencerah, Opick juga sedang sibuk membuat film Di Bawah Langit. Sedangkan novelis Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, Habiburrahman Syairazi, kabarnya akan membesut sendiri film yang merupakan adaptasi dari novel karyanya sendiri. Namun harus diingat, penonton sudah jenuh dengan film religi yang itu-itu saja kental dengan nuansa sinetronis, dan berjiwa pengekor, sejak 2008. Karena itu, mesti hati-hati dalam menggarapnya. Film tidak sekadar hiburan, tetapi lebih dari itu, ia adalah representasi kehidupan. Sudah selayaknya diberi muatan gagasan yang bermutu dan bergizi, di samping memperkaya batin lewat pengalaman sinematik. Karena itulah, dari sekian banyak film Islami, hanya Bukan Cinta Biasa dan 3 Doa 3 Cinta yang masuk dalam daftar pendek kompetisi Jiffest di atas.
Harapan lainnya adalah, semoga banyak tema-tema di sekitar yang diangkat. Soal korupsi, Lumpur Lapindo, mafia kasus, misalnya, berapa banyak yang mengangkat? Juga tema bencana alam.
Soal panggung dunia, agaknya, setelah Iran dan Korea, kini mata dunia (baca: Eropa) mencari sutradara menjanjikan dari Asia Tenggara. Hal ini juga disinyalir Eric Sasono di Rumah Film saat mengkaji film Philiphina. Maka, setelah Philiphina dan Malaysia (juga Thailand), sepertinya tinggal tunggu saatnya saja untuk giliran Indonesia. Indikasinya, sejak 2008, semakin banyak film Indonesia yang berkiprah di festival film internasional seperti Berlinale dan Rotterdam. Film seperti film documenter Pertaruhan (At Stake) hingga Laskar Pelangi adalah beberapa contohnya. Jadi, sayang sekali jika sineas Indonesia terlewatkan karena mutu karya yang dianggap kurang layak. Wallahua lam.
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




