Festival dan Sebuah Perjalanan Seorang Film Maker

Diposting: Selasa, 15 September 2009 / 09:28:15 | Oleh: annida | Kategori: Review

Halaman ini diakses sebanyak: 195 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Ifa Isfansyah (pembuat film pendek, sutradara film Garuda di Dadaku)

 

 

Aku berpikir, maka aku ada. Karena karya, aku ada.

Sebuah Pengakuan, Sebuah Eksistensi

Abraham Maslow, seorang psikolog yang juga motivator, mengatakan bahwa salah satu kebutuhan diri manusia adalah kebutuhan untuk diakui. Oleh karenanya, manusia kerap mengaktualkan dirinya untuk sekadar dianggap ada. Tak salah, dan hal tersebut sangat manusiawi. Hanya saja, bagaimana ia melewati cara-cara yang sah untuk diakui, menjadi salah satu poin yang menunjukkan jati diri seseorang.

Rene Descrates, filsuf abad ke-17 asal Perancis, memiliki teorinya sendiri untuk diakui. Berpikir. Rumus Descrates tersebut banyak diikuti oleh banyak orang (dan dianggap absah, tentunya), sehingga tak heran bila banyak orang yang kemudian berpikir hanya untuk menunjukkan eksistensi dirinya.

Namun berpikir saja tak cukup bagi seorang film maker untuk dianggap ada. Seorang film maker juga harus giat berbuat dan menghasilkan karya setelah ia berpikir tentang konsep film yang berkualitas. Ia harus mampu menghasilkan film sebagai sebuah refleksi buah pikirannya. Karena karya adalah satu-satunya barometer yang dapat menjelaskan karakteristik, ideologi, bahkan jati diri seorang film maker secara utuh. Melalui sebuah karya pula perjalanan seorang film maker dapat diukur. Pertanyaannya kemudian, bagaimana dan melalui apa sebuah karya dari seorang film maker dapat dinilai, diapresiasi, sehingga menjukkan sebuah eksistensi diri film maker?

Terlebih bila kemudian yang dibicarakan adalah film maker yang lebih sering membuat film-film pendek yang memiliki ruang publikasi terbatas karena biasanya tak memiliki nilai komersial yang tinggi seperti film-film panjang. Lantas, ruang mana, media apa, dan di mana seorang film maker pembuat film pendek ini dapat (dan perlu) diakui keberadaannya? 

 

Festival: Ruang Lain Apresiasi

       Bisa dibilang, film pendek (beserta film makernya) memang kurang mendapatkan tempat di pasar film-film panjang. Hal ini karena pasar dari dua jenis jalur film ini amatlah berbeda. Maka, tak perlulah menyandingkan film pendek dan film panjang yang jelas-jelas tak sama itu. Banyak orang yang bertanya-tanya bagaimana kemudian seorang film maker dapat menunjukkan eksistensi mereka melalui karya-karya film pendek yang mereka produksi?

       Pertanyaan ini lebih sering dilontarkan oleh orang-orang luar film (baca: film maker) atau film maker pemula. Festival, salah satu jawaban yang bisa menjelaskan hal tersebut. Festival bukan saja memberikan ruang apresiasi bagi karya-karya film pendek yang diproduksi oleh film maker, namun festival juga dapat menjelaskan bagaimana perjalanan seorang film maker berjalan.

         Selama ini, ada dua kategori pembuat film pendek di Indonesia. Kategori pertama adalah pembuat film pendek yang hanya menjadikan film pendek sebagai media loncatan ke produksi film-film panjang yang akan membawanya pada komersialisasi yang lebih menggembirakan. Kategori kedua adalah pembuat film pendek yang memang menjadikan karya-karyanya sebagai ruang untuk mengaktualisasikan diri, ruang untuk mengekspreiskan ide dan pemikirannya, juga ruang untuk menunjukkan jati dirinya.     Bila pembuat film pendek dalam proses berkarya hanya untuk refreshing atau mengisi waktu luang, maka akan sulit baginya untuk mencapai kualitas film yang semakin baik dari karya-karyanya. Tapi lihat saja, pembuat film pendek yang serius menekuni proses pembuatan karya-karyanya, secara otomatis kualitas yang ia hasilkan di karya-karyanya akan tampak berangsur semakin baik. Inilah konsepsi perjalanan yang sesungguhnya dari para pembuatnya. Sejatinya, perjalanan bermakna terus berjalan alias tidak berhenti di satu titik

       Dan festival inilah yang dapat dijadikan alat ukur perjalanan dan mentalitas para pembuat film pendek, sehingga ia juga dapat menentukan di kategori mana posisi para film maker tersebut berada. Festival biasanya menyediakan aturan-aturan yang tak sama dengan pasar, di mana masyarakat dengan berbagai kalangan dapat menilai menurut suka-tidak suka; selera mereka. Bukan masyarakat yang benar-benar memiliki pengetahuan yang cukup tentang konsep teoritis tentang produksi dan kualitas sebuah film. Artinya, meski faktor selera tetap berlaku di sebuah festival (karena di festival, yang menilai tetaplah manusia yang memiliki selera) dan sifat relativismenya juga berlaku di sini, namun penjelasan-penjelasan logis berdasarkan teori-teori tentang film yang berkualitas yang biasanya ada di festival menjadi sebuah pembelajaran tersendiri bagi para film maker untuk berproses menghasilkan karya yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

       Yang menarik, para pembuat film pendek yang aktif sekalipun dalam memasukkan karya-karyanya untuk dideteksi dalam sebuah festival memiliki visi misi yang berbeda. Ada banyak pembuat film yang merasa filmnya perlu diapresiasi dengan mengikutsertakannya di sebuah festival. Ada pula yang merasa kemenangan dan hadiah adalah tujuan utama untuk proses produksi film-film pendek selanjutnya. Semua hal tersebut tak menjadi masalah selama para pembuat film juga memiliki mentalitas yang kuat dalam menerima kritik dari banyak pihak atas film-filmnya di festival-festival film tersebut.

       Tak sedikit pembuat film pendek yang menjadi layu ketika film-filmnya di"telanjangi" habis-habisan karena jauh dari kualitas festival, bahkan dari standar pembuatan film pendek. Bila kemudian para film maker ini berhenti setelah menuai kritik, maka khalayak dapat memprediksi sampai di mana ia melakukan sebuah proses perjalanan yang telah dijelaskan di atas tersebut. Maka, festival bisa jadi ruang apresiasi yang akan menyuntikkan semangat dan gairah baru para pembuat film pendek. Atau sebaliknya, ia akan dianggap racun bagi mereka yang merasa tak puas dengan penilaian yang diberikan. Dan demikianlah sebuah perjalanan seorang film maker dapat diukur jarak tempuhnya.

 

Indonesia Miskin Festival Film Pendek

       Sayangnya, ketika festival dipercaya sebagai ruang dalam memberikan apresiasi bagi para pembuat film pendek, Indonesia termasuk salah satu negara yang paling miskin dalam menyelenggarakan festival-festival yang dibutuhkan para film maker ini.  Lembaga untuk apresiasi yang menjadikan film-film pendek Indonesia mendapat tempat di negerinya sendiri sangatlah kurang. Bila hanya berharap salah satu festival-sebut saja Festival Film Pendek Konfiden atau festival-festival yang diselenggarakan beberapa lembaga lainnya-sifatnya hanya musiman. Ini sangat kurang sekali. Ini menunjukkan pula seberapa jauh pemerintah dan negara mengapresiasi karya-karya anak bangsanya. 

Maka, kita akan menemui pemandangan yang cukup ironis karena ada banyak film-film pendek Indonesia yang akhirnya beredar di luar negeri karena festival-festival film pendek di luar negeri lebih sering diselenggarakan. Film-film pendek karya anak bangsa justru lebih banyak mendapat pengakuan dari orang luar yang notabene kulturnya beda dengan kita. Oleh karena itu, agar perjalanan seorang pembuat film pendek tak berhenti di satu titik, festival bukan cara mutlak yang dapat ditempuh untuk sebuah apresiasi. Sambil menunggu upaya riil dari pemerintah, memanfaatkan forum (sekecil apapun itu) yang bergerak sepanjang tahun dan dapat mengapresiasi dan menjadikan langkah perjalanan seorang pembuat film maker tampak nyata, patut ditempuh. Sekali lagi, untuk melihat seberapa jauh perjalanan yang bisa ditempuh seorang film maker untuk kualitas karya-karyanya. ***

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :