Resensi Buku September 2009

Diposting: Selasa, 01 September 2009 / 22:19:08 | Oleh: annida | Kategori: Resensi

Halaman ini diakses sebanyak: 557 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Mengintip Bilik, Menapaki Cinta Sang Teladan

Judul: Bilik-bilik Cinta Muhammad

Penulis: Dr. Nizar Abazhah

Penerbit: Zaman (Cetakan I 2009, Cetakan II 2009)

Tebal: 384 halaman

Harga: Rp54.900,-

TAK hanya bilang "cinta" dan "kasih" di mulut saja. Namun juga diwujudkan dalam setiap langkah nyata kepada keluarga, sahabat, seluruh kaumnya dari anak-anak sampai yang tua renta. Rasulullah Muhammad, sang manusia pilihan Allah ini memang sudah semestinya menjadi panutan kita dalam segala tingkah laku, termasuk urusan cinta.

Lewat buku Bilik-Bilik Cinta Muhammad ini, kita bisa mengintip kayak apa sih keseharian nabi dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya. Sejak Rasul kanak-kanak, remaja, dewasa hingga akhirnya tua dan akhirnya wafat. Di setiap rumah yang ditinggali, penulis coba memotret bagaimana sikap beliau. Dari rumah sang paman, rumah Khadijah, di Gua Tsur, hingga di bilik istri-istrinya dengan segala kisah suka dan duka, yang mengagumkan sampai mengenaskan.

bilik-bilik-cinta-muhammad.gif

Digambarkan pula betapa sayangnya beliau terhadap kanak-kanak. Baik itu budak, anak tiri maupun anak kandung, cucu-cucu beliau bahkan setiap anak kecil yang dijumpai. Muhammad tak ragu untuk membelai, memeluk dan mencium anak-anak, memanggul Hasan-Husein. Padahal, kala itu orang-orang Arab sangat kaku dan hampir-hampir tak pernah menyentuh anak-anaknya dengan lembut penuh kasih seperti beliau.

Tentu tak cuma cerita cinta dan kasih sayang semata yang dijabarkan dalam buku ini. Suka duka, bagaimana kesederhanaan dan kerelaan Muhammad berbagi dengan kaumnya, ibadahnya, cara memecahkan masalah dan juga hal-hal yang membuatnya mesti tegas dalam bertindak. Bagaimana ia pernah memarahi Aisyah lantaran istri kecintaannya itu mencemooh salah seorang madunya dengan kata-kata kurang sopan juga  kecemburuan Aisyah yang kerap kali berlebihan.

Buat yang kepengen berumahtangga (atau malah sudah?) dan mau mengikuti teladan suci rumah tangga nabi, buku ini kayaknya "cucok". Jika di bagian depan dan tengah buku dibeber kehidupan nabi di tempat-tempat tinggalnya, maka di bagain akhir buku, perhatian kita dibetot dengan teladan yang betul-betul "wuaahh". Nabi yang sederhana, penuh cinta, amanah, setia, santun, rendah hati dan melayani keluarga, tawakal dan mendahulukan orang lain, besih dan wangi, giat dan jauh dari hiburan, all about Muhammad deh. Jangan pesimis dulu dengan nyeletuk: "Terang saja, lha wong beliau rasul." Yeah, pelan-pelan kita ikuti yuk, step by step ... Paling nggak, baca bukunya dulu lalu jajal satu per satu ... [Esthi

 

Ekspresi Kasih Ibu Dalam Duka Kalbu

Judul Buku: Live Through This

Penulis: Debra Gwartney

Penerbit: Mahda Books (Agustus 2009)

Tebal: 351 halaman

Mengapa Rasulullah Saw tak cukup menyebutkan sekali saja nama ibu sebagai sosok yang harus dihormati dan dicintai oleh setiap umatnya, mengapa harus mengulangnya sampai tiga kali? Mungkin karena sosok istimewa ini memiliki pengorbanan yang cukup panjang untuk anak-anaknya. Tapi pernahkah Sobat Nida berpikir mengapa seorang ibu mau berkorban dan bersusah payah dengan segala risiko untuk para anak-anaknya, tanpa mengharapkan apapun dari perjuangannya yang menguras air mata, keringat, dan darah? Jawabannya mungkin karena cinta yang dimiliki sosok ibu jauh lebih dalam dan banyak dari yang bisa dibayangkan oleh anak-anaknya.

buku-live-trough-this2.jpg

Hal ini pula yang ditunjukkan oleh Debra Gwartney, seorang single parent yang harus menghadapi dua anak gadisnya yang tak menerima perceraiannya dengan sang suami, Tom. Perceraiannya sendiri merupakan keputusan yang harus ia ambil untuk menghindari ketidakcocokan dan ketidakharmonisan hidup yang ia rasakan selama menjalin hubungan dengan suaminya. Debra mungkin bisa berpikir bahwa perceraian yang diambilnya adalah jalan keluar untuk nestapa yang selama ini ia rasakan. Tapi tak demikian dengan Amanda dan Stephanie, dua anak tertua Debra-Tom yang mulai memasuki fase pubertas.

Amanda dan Stephanie, dua anak cerdas yang berprestasi di sekolahnya menjadi limbung ketika konflik kedua orangtuanya pecah. Mereka bingung harus memilih siapa dan mengapa. Sementara kedua orangtuanya justru kian memperebutkan mereka, menganggap diri masing-masing pantas dan layak mengasuh dan hidup bersama Amanda dna Stephanie, hingga keduanya justru berpikir bahwa baik Mom maupun Dad mereka sebenarnya tak punya kasih saying yang sesungguhnya untuk mencintai mereka dengan tulus. Kebencian mulai muncul dari anak-anak ini, terlebih pada sang ibu, yang dianggapnya menjadi sumber perpecahan keluarga mereka.

Amanda dan Stephanie mulai mencari-cari kebebasan dan kesenangan yang tak lagi didapatkan mereka dari ayah dan ibu mereka. Menyulut kebakaran di sekolah sampai akhirnya melarikan diri dan hidup di jalanan, menjadi pilihan yang mendatangkan kebebasan bagi mereka.  Di titik ini, Debra mungkin bukan ibu yang dapat mengekspresikan cintanya yang besar pada anak-anaknya dengan cara yang wajar. Interaksi dengan dua anaknya ini amatlah buruk hingga yang terjadi adalah hubungan yang rumit, yang justru membuat jarak yang lebih jauh antara dirinya dan dua puterinya.

Tapi percayalah, Debra, juga ibu-ibu lainnya di dunia ini memang memiliki ekspresi yang berbeda untuk mengungkapkan rasa sayangnya pada anak-anak mereka. Toh, karena besarnya cinta kasih Debra kepada dua puterinya, Debra rela melakukan beragam upaya di tengah keterbatasannya menjadi single parent dan pencari nafkah tunggal di keluarganya untuk melindungi dan membawa kedua puterinya kembali pulang..

Memoir yang ditulis oleh Debra ini menggambarkan betapa seringkali ungkapan cinta kasih memiliki seribu wajah. Debra merupakan contoh seorang ibu yang buruk dengan mempertahankan egonya namun kemudian ia tahu dan sadar akan kesalahannya itu. Berangsur memperbaiki kesalahan yang terlanjur dibuatnya. Live Through This merupakan lukisan tentang usaha habis-habisan Debra untuk menemukan kembali puteri-puterinya yang begitu dicintainya. Dari sosoknya, kita akan tahu bahwa kasih ibu memang sepanjangn masa. [nyimas]

KUIS RESENSI SEPTEMBER 2009

1. Rasulullah Muhammad SAW sangat dekat dan menyayangi anak-anak kecil. Beliau tak canggung untuk memeluk, mencium dan bermain-main dengan mereka. Sobat Nida bisa sebutkan, siapa saja kanak-kanak yang amat beliau sayangi?  Empat saja ya, anak angkat, budak dan cucu.

2. Sifat dan sikap mulia apa sajakah yang dicontohkan Rasulullah seperti yang dimuat pada bagian akhir buku Bilik-bilik Cinta Muhammad?

3. Problema apakah yang dihadapi Debra Gwartney, dan ia curahkan dalam Live Through This?

4. Hal gila apa yang dilakukan dua putri Debra, Amanda dan Stephanie untuk mencari-cari kebebasan dan kesenangan? Tapi jangan dicontoh ya.

Oke Sobat Nida, kirimkan jawaban kalian via email majalah_annida@yahoo.com ... atau ke alamat Redaksi ANNIDA Online Jalan Mede No. 42, Utan Kayu Utara, Jakarta Timur, 13120.

Ingat-ingat, cantumkan nama dan alamat lengkap kalian, berikut nomor telepon ya. Nida tunggu sampai 30 September 2009.

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :