Resensi Buku Juli 2009
Diposting: Rabu, 01 Juli 2009 / 22:00:07 | Oleh: annida | Kategori: Resensi
Halaman ini diakses sebanyak: 506 kali
Rating: 0

Dalam Semesta Cinta
Judul Buku : Dalam Semesta Cinta
Penulis: Pipiet Senja
Penerbit : Jendela. Zikrul Hakim
Tahun Terbit : 2009. Februari
Tebal : 368 halaman
KETEGARAN DI BALIK RATUSAN KARYA
Siapa yang tidak mengenal Pipiet Senja? Novelis produktif yang akrab disapa "Teteh" ini karya-karyanya telah sering kita nikmati, hingga kita dapat mengenali gaya bahasanya yang mengalir dan alur ceritanya yang menyentuh, tapi selama ini tidak banyak yang mengetahui proses kreatif di balik tulisan-tulisannya tersebut. Nah, memoar "Dalam Semesta Cinta" ini rasa-rasanya akan menjawab rasa penasaranmu tentang "rahasia dapur" seorang penulis senior yang wajib diteladani kekonsistenannya dalam berkarya.
Ditulis dengan gaya tutur ringan dan nyunda, pada bab-bab awal kita disajikan kisah-kisah masa kecil Teh Pipiet. Banyak adegan mengg"elitik yang bisa membuatmu senyum-senyum sendiri, namun tidak sedikit juga kisah sedih yang bisa menghipnotismu terhanyut sampai ikut merasakan pula apa yang dialami oleh penulis yang mengidap penyakit kelainan darah bawaan ini.
Terlahir dalam keluarga dengan keadaan ekonomi biasa-biasa saja, memiliki penyakit Thalasemia yang mengharuskan cuci darah secara berkala terus-menerus seumur hidup tentu bukan suatu perkara gampang. Sang bunda sampai harus terjerat utang pada lintah darat. Namun yang luar biasa, kondisi sulit itulah yang justru melecut dirinya untuk berkarya. Hanya dengan berbekal mesin tik tua warisan yang diberi nama Denok, lahirlah tulisan-tulisan Pipiet Senja yang kemudian tampil menjadi salah satu penulis yang namanya diperhitungkan di jagad sastra.
Dalam memoar ini pula bisa ditemukan kisah-kisah off the record Pipiet Senja. Mungkin nama suami dan kedua anaknya, semua sudah hapal. (Secara... satu keluarga semuanya penulis gitu loh!) Tapi kamu tidak akan tahu bagaimana proses perkenalan Pipiet Senja dengan H.E. Yassin Siregar sang suami, atau bagaimana lamaran nikah disampaikan di tempat tak terduga dan tak diharapkan, sebelum kamu membaca tandas memoar ini. Kamu pun tak kan pernah menyangka pasangan suami-istri ini pernah melalui hari-hari honeymoon mereka di sebuah hotel kecil yang bobrok, tempat yang sering dijadikan sarang mesum para PSK dengan lelaki hidung belang, karena belum memiliki cukup uang untuk mengontrak. Atau, bagaimana Pipiet Senja menyelesaikan novel-novel kejar tayangnya di atas kasur yang terendam air dengan ditemani si kecil Haekal yang menggigil kedinginan dan kelaparan karena rumah mereka kebanjiran, sementara persediaan makanan sudah habis.
Membaca memoar ini, kita akan semakin sadar betapa berlikunya kehidupan manusia, dan betapa luar biasanya buah kesabaran. Bagaimanapun, ini merupakan salah satu buku yang wajib dibaca oleh siapapun yang ingin mempertebal kesyukuran. Agar kita tidak lagi mudah mengeluh, dan tidak lagi dengan mudahnya mengemukakan 1001 alasan ketika target-target tidak tercapai, atau ketika karya-karya kita buntu kehilangan ending. Pipiet Senja telah menjadi sosok yang menginspirasi siapa pun untuk tidak kalah pada kesulitan-kesulitan hidup. (Syamsa)
The Day I Die
Judul Buku : The Day I Die
Penulis : Fannie Flagg
Penerbit : Hikmah (I, Agustus 2008)
Tebal : 578 halaman
Merayakan Kematian yang Humanis
Ih, Nida kok pilih bukunya yang syerem sih! Tenang, Sob! Judulnya memang agak "berat" dan menakutkan. Tapi dijamin, isinya ringan. Bahkan konfliknya bisa disebut laten alias tersembunyi dan soft banget.
Berkisah tentang seorang nenek berusia 89 tahun (atau 96 tahun?), Elner Shimfissle, yang meninggal secara tiba-tiba karena terjatuh dari pohon ara. Nenek Elner memang penuh semangat, sampai-sampai di masa tuanya ia masih sanggup memanjat pohon! Selain itu, sosok Elner yang penyayang dan baik hati membuat seluruh warga Elmwood Springs, merasa amat kehilangan tetangganya yang renta itu. Sang nenek memang amat dicintai oleh semua orang karena keramahan dan semangat hidupnya yang mampu menginspirasi seseorang. Ia memelihara banyak hewan peliharaan, mulai dari Sonny, kucing beruisa 25 tahun, rubah, siput, dan burung-burung. Ia juga amat menyayangi keponakannya, Norma, yang selalu mengkhawatirkannya. Namun, ketika para kerabat dan tetangga belum selesai bersedih, lima jam setelah kematiannya Nenek Elner hidup kembali. Dia mati suri! Bahkan telah merasakan kehidupan surga.
Ada banyak karya yang menyoal tentang kematian. Sayangnya, tema-tema kematian selalu hadir dalam wajah yang serius bahkan menyeramkan. Nggak sedikit juga tema kematian diramu dengan bumbu mistik nan klenik. Padahal, bisa jadi tema kematian memang penting diangkat untuk menumbuhkan kesadaran akan adanya alam lain setelah kehidupan di dunia ini. Alam yang lebih kekal. Pada hakikatnya, kematian hanyalah soal waktu, soal giliran yang akan datang setelah kehidupan. Ia adalah keniscayaan bagi setiap makhluk yang bernyawa. Inilah yang ingin disampaikan oleh Fannie Flagg tentang kematian.
Meski ada banyak hal-hal yang mustahil, seperti pertemuan Nenek Elner dengan "tuhan" dan surga, namun buku yang berjudul asli Can not Wait to Get to Heaven ini cukup berhasil menyampaikan pesan tentang bersiap menuju kematian tanpa menggurui pembaca. Penulisnya mengatur ritme konflik dengan sangat lembut. Adegan-adegan yang dialami Nenek Elner dalam kisah ini adalah frgamen yang lazim kita alami di kehidupan nyata. Seperti bagaimana sang nenek berkebun, mengunjungi tetangga, kadang mengomel, atau pergi ke pasar untuk berbelanja. Sangat biasa. Namun apa yang menjadi menarik dalam kehidupan nenek Elner?
Kebersyukuran dan ketulusan. Dua hal yang menjadikan nenek Elner menganggap bahwa kehidupan adalah bukan hal yang rumit untuk dihadapi, meski tak memiliki beras satu butir pun! Toh, kalaupun ada tantangan yang ada dalam kehidupan, bukankah itu yang dapat menjadikan hidup kita kian mengasyikkan? Dan tantangan inilah yang sebenarnya akan ber-impact pada kesiapan kita dalam menghadapi kematian.
Nenek Elner ingin menyampaikan pesan kepada kita bahwa hidup adalah persiapan menghadapi kematian. Maka, jalanilah hidupmu dengan hal-hal terbaik yang dapat kau lakukan, dengan begitu kau akan diingat sebagai sosok terbaik yang pernah ada dan dirasakan oleh orang-orang disekelilingmu. Sangat humanis!
Kehadiran beberapa tokoh lainnya,
seperti Norma, Luther, dan Winston Sprague, dengan karakter yang
berbeda membuat novel ini menjadi lebih hidup. Alur maju-mundur dengan
konflik yang lucu, mengharu biru, menjadikan novel ini tak membosankan
untuk dibaca. Semangat hidup Nenek Elner yang menggebu-gebu dalam
menjalani hidup juga mampu menghadirkan energi postif bagi siapapun
yang mengingat kematian. [nyimas]
Kuis Resensi Buku Annida Online Edisi Perdana!!!!
Sudah baca Resensi Annida di atas kan? Kalau mau buku tersebut, jawab dulu pertanyaan berikut dari Nida:
1. Apa nama desa tempat Nenek Elner tinggal?
2. Siapa nama suami Pipiet Senja yang ia kisahkan pula dalam buku Dalam Semesta Cinta?
Sobat Nida bisa langsung mengikuti kuis ini via Annida Online atau kirim jawaban via pos ke Redaksi ANNIDA, Jl. Mede No. 32B Utan Kayu, Jakarta Timur 13120. Jawaban ditunggu paling lambat tanggal 20 Juli 2009. Pengumuman pemenang pada Annida Online bulan Agustus mendatang. Jangan sampai ketinggalan ya!
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.





