Resensi Buku Agustus 2009

Diposting: Sabtu, 01 Agustus 2009 / 22:05:19 | Oleh: annida | Kategori: Resensi

Halaman ini diakses sebanyak: 614 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Juru Masak, Sehimpun Cerita Pendek

Judul : Juru Masak, Sehimpun Cerita Pendek

Penulis : Damhuri Muhammad

Penerbit : Koekoesan (Cetakan I, Maret 2009)

Tebal : 155 halaman

 

Bila Gasing Tengkorak sudah berkehendak, tidak bakal ada perempuan yang menolak. Siapapun akan takluk, bertekuk lutut pada lelaki pemanjat kelapa. Dinir yang bergigi kuning dengan mata juling itu. Termasuk Nurmala, sarjana yang baru pulang dari kota. Perempuan ranum yang sebentar lagi dipinang dokter muda, mendadak bersedia menjadi istri ke lima si tukang panjat.

--------------------------------------------------------------

AROMA  rada mistis menguar. Lagi, cerita berlatar perkampungan di Sumatera sana lahir dari rautan jemari Damhuri Muhammad. Lewat himpunan cerita pendeknya berjudul "Juru Masak" kita diajak lena, larut dalam alur dan permainan kata-kata ala Damhuri. Selain memuat cerpen "Gasing Tengkorak", masih ada pula "Sumanda","Bigau", Anak Bapak","Jo Ampok","Anjing Pemburu","Tikam Kuku","Sembilu Talang Perindu","Pawang Hujan","Ratap Gadis Suayan" dan tentu saja yang jadi judul bukunya;"Juru Masak".

   Semua cerpen yang telah dimuat di media cetak itu bertema nyaris seragam: magis dan bau perkampungan Sumatera Barat. Membacanya, kita jadi tahu sisi lain dunia ini, pernik klenik dan sebab akibat di sebaliknya. Tapi barangkali, bukan melulu itu yang hendak didongengkan Damhuri.

  Gasing Tengkorak sendiri mengisahkan Dinir, orang kampung yang punya gasing aneh. Dengan gasing tengkorak bayi laki-laki itu, Dinir bisa mengguna-gunai perempuan yang diinginkan. Lantaran sakit hati dengan ejekan Nurmala (yang kata Dinir;"Bermuka rancak tapi muncung bercirit", Dinir pun memutar gasing, jimat warisan kakek buyutnya. Tak pelak, Nurmala kelojotan. Mendadak ia tunduk dan memohon-mohon agar lekas dinikahi Dinir. Uuuh, jangan sampai deh kita bersentuhan sama pelaku gasiang tangkurak, santet yang (katanya) berasal dari Sumbar itu. Belakangan setelah beranak empat, Nurmala didukung empat istri lainnya menggiring Dinir ke kota. Dinir pun alih profesi , menjadi dukun yang menjual jasa bagi pria-pria yang mengincar perempuan pujaan. Nah, rupanya inilah jalan yang menyeret si tukang tenung itu ke penjara. Mulanya Nurmala girang karena ia terbebas dari suami "paksa"nya itu. Tapi, lha kok ujung-ujungnya Nurmala justru tak bisa jauh dari Dinir. Lantas ia pun berupaya membebaskan tukang gasing itu. Hemm, berhasilkah ia?

  Kalau "Sumanda", lebih banyak cerita tentang surau dan kerisauan pria-pria yang beranjak tua.  Mulai hidup sebagai laki-laki di surau (lagi-lagi khas perkampungan di Sumbar) dan menunggu maut menjemput juga di surau.

  Sekarang giliran cerpen ke-3,"Bigau". Nah, ini mirip-mirip sama Gasing Tengkorak tadi. Yang ini tentang rantai celeng (babi, red) ... benda keramat yang dipakai untuk kekebalan de-el-el. Kalau nggak salah sih, klenik macam ini biasa beredar di Sumbar, Tapanuli sampai Aceh. Oya, si tokoh, Kurai tua terkulai hampir mati. Orang-orang bingung, hendak diwariskan buat siapa rantai celeng yang tertanam di badan pendekar silat kuno tersebut. Ada Candung, raja parkir yang ngarep banget. Di sebut pula, warga kampung yang sangat-sangat berterimakasih pada Kurai, karena kekebalannyalah mereka bebas berladang ganja, bebas dari kejaran petugas. Di sini, kita digiring untuk penasaran, untuk siapakah rantai itu nanti? Dan siapa apa Bigau itu?

  Lalu, bagaimana nasib si Juru Masak? Dalam kisah yang berbeda, tangan Makaji begitu penting untuk sukses atau gagalnya sebuah perhelatan. Seberapa hebatnya sih Makaji? Oh, ternyata dia tukang masak yang paling jago di seantero Lareh Panjang. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar gulai kambing dan gulai rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah hajatan itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya.

  Lantas, di mana masalahnya? Ya pas Makaji menguatkan hati membatalkan kesanggupannya memasak di satu hajatan. Komplitnya, cari tahu sendiri deh, biar mantap serunya!

  Wuah, baca buku ini kita serasa jalan-jalan di kampungnya Siti Nurbaya! Sambil mencicip lengang malam di sana, terus nguping pembicaraan orang-orangnya. Hanya saja, ada beberapa kata "nyastra" apik Damhuri yang kita kesulitan untuk mencari padanannya. Tapi tetap sih, memperkaya kosakata Indonesia kita. Selamat menjelajah, eh membaca! (Esthi)

website : penerbitkoekoesan.com

Engkau Lebih Cantik dari Bulan Purnama

Judul : Engkau Lebih Cantik dari Bulan Purnama (80 Kisah Islami Terbaik untuk Perubahan, Inspirasi dan Teladan

Penulis : Muhamad Yasir

Penerbit : Salsabila Kautsar Utama (Februari 2009)

Jumlah Halaman : 270 halaman

 

Teladan yang Menguatkan

MENYENTUH sisi terdalam hati kita. Kisah-kisah islami dinukil dan disuguhkan dalam jalinan kata yang renyah dan relatif mudah dipahami. Percaya deh Sobat Nida, membacanya, ada semangat yang mendorong kuat, menyeret kita untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik. Belajar bersyukur, belajar istiqomah dan jujur, belajar mencintai, belajar untuk tulus, belajar sabar dan setia, juga belajar menangkap hikmah di balik setiap kesulitan. Lho kok semuanya serba belajar? Hehe, mentang-mentang habis libur panjang ... Jawabnya; karena pembelajaran itulah yang akan mematangkan jiwa kita. Selain matang, barangkali juga bisa lebih "cantik" kali ya ...

  Adalah Muhamad Yasir, yang coba merangkai delapan puluh kisah penuh motivasi, inspirasi dan teladan itu dalam buku "Engkau Lebih Cantik dari Bulan Purnama". Saking inspiratifnya, sampai-sampai novelis Pipiet Senja berujar kalau buku ini sungguh sangat menawan, lebih menginspirasi, lebih menguatkan sekaligus menyebar hikmah.

  "Sehingga setiap kalimatnya menjadi semacam tonikum, penguat yang mampu meluluhlantakkan segala kebimbangan dan ketakyakinan diri," gitu komentar Pipiet, seperti terkutip di sampul buku terbitan Salsabila Kautsar Utama tersebut.

  Umpamanya cerita tentang seorang pemuda dari desa terpencil yang talaqqi di Universitas Al Azhar, Mesir. Untuk menuntut ilmu, ia ikut halaqah di Masjid Al Azhar saban pagi. Namun, lantaran kiriman dari orangtuanya tersendat dan sudah tak ada lagi makanan untuk mengisi perut, konsentrasinya terganggu. Nah, suatu hari karena sudah tak tahan lagi perutnya keroncongan, ia meninggalkan sejenak halaqah berharap bisa menemukan sepotong roti untuk ganjal perut. Ia pun menyusuri jalan sekitar kampus. Tanpa sadar ia masuk lorong sempit, dan melihat bangunan mewah dengan pintu terbuka lebar. Tak ada seorang pun, lalu ia masuk ke rumah itu. Di dalam, hidangan lengkap dan menggiurkan tergelar di meja. Pemuda itupun tergoda, mengulurkan tangan menjamah makanan. Saat akan menyuapkan makanan ke mulut, seketika ia sadar bahwa itu haram. Ia ingat betul, ilmu adalah cahaya yang tak akan dikaruniakan kepada orang-orang yang berbuat maksiat.

  Ia tak jadi memakan hidangan itu, dan kembali ke halaqah. Pas pelajaran syaikh baru saja kelar, tiba-tiba ada wanita tua menghampiri syaikh dan berbincang. Tak lama, syaikh pun memanggil pemuda tadi dan menanyakan kesediaannya untuk menikah. Si pemuda berterus terang kalau sesungguhnya sudah tiga hari ia tak makan, maka ia bingung dengan apa akan menafkahi istrinya jika menikah nanti.

  Bisa nebak akhir kisah si pemuda? Hemm, ujungnya, ia menikah dengan Aisyah, putri perempuan tadi yang tak lain adalah pemilik rumah mewah dengan makanan yang urung dicurinya! Hikmah yang bisa kita petik, cinta itu akan datang dengan sendirinya sebagai buah dari kejujuran.  Ketakutan kepada Allah mengalahkan segalanya, maka Allah memberikan yang lebih buanyak lagi.

  Ada lagi teladan dari gadis miskin yang wara (menjaga diri dari segala perbuatan dosa) di zaman kekhalifahan Umar bin Al Khatab. Suatu malam, saat Amirul Mukminin Umar kelelahan keliling wilayah memantau rakyatnya, ia bersandar di tembok sebuah rumah. Sayup-sayup Umar mendengar perbincangan dua wanita, yakni si gadis wara itu dan ibunya. Rupanya si ibu meminta anaknya mencampur susu dengan air, sementara si gadis tak mau melakukannya karena ia ingat larangan Amirul Mukminin. Sewaktu sang ibu bilang bahwa Amirul tak akan tahu perbuatan mereka jika mencampur susu, si gadis menjawab;"Wahai ibu, seandainya Umar tidak melihat kita, tapi Tuhan Umar melihat kita. Sungguh demi Allah saya tidak akan melakukannya. Allah juga melarang perbuatan itu."

Umar terkejut sekaligus merasa hatinya sejuk. Pernyataan gadis itu jawaban dari kejujuran akan iman, ia selalu takut kepada Allah dan merasa terus diawasi oleh-Nya.

  Esok harinya, Umar meminta Ashim, putranya untuk menikahi gadis wara yang ternyata bernama Ummu Ammarah bin Sufyan bin Abdullah bin Rabi ah Ats-Tsaqafi. Dari keduanya lahir Laila atau Ummu Ashim yang lantas menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Nah, lalu Ummu Ashim punya putera, Umar bin Abdul Aziz seorang khalifah yang dikenal zuhud, bertakwa dan wara. 

  Atau contoh kesetiaan Na ilah kepada kalifah ke-3, Utsman bin Affan yang lemah lembut itu. Pada hari kematian Utsman, Na ilah menatap cermin dan kagum akan gigi depannya."Aku perempuan yang dianugerahi gigi yang cantik." Tahukah apa yang dilakukannya kemudian? Dia mengambil batu dan mematahkan barisan gigi depannya. Katanya;"Demi Allah, tidak ada seorang laki-laki pun setelah Ustman wafat yang bisa memetikmu." Kira-kira, hari gini masih ada nggak yang seperti Na ilah?

  Tak cuma itu lho. Ada pula gambaran bagaimana kebiasaan baik itu akan mengantarkan kita pada kesuksesan. Seperti yang dicontohkan seorang tukang minyak tua renta, yang lihai menuangkan minyak ke dalam guci hanya melalui lubang kecil di koin kuno. Juga cerita ayah yang hendak mengajarkan kearifan kepada anaknya dengan mengajaknya berjalan-jalan bareng seekor keledai milik kita. Pertama, si ayah meminta putranya yang naik ke punggung keledai. Di perjalanan, mereka ketemu orang tua yang bilang kalau si anak tak tahu diri, membiarkan ayahnya berjalan kaki sementara ia enak-enakkan menunggang keledai.

  Lantas mereka tukar posisi, bapak yang naik keladai, anaknya jalan kaki. Ketemu lagi deh sama orang lewat yang kelihatan tak suka dengan kondisi itu. Orang itu pun mengatakan ayah kok tega banget sama anaknya. Nah, mendengarnya, ayah-anak itu memutuskan untuk sama-sama mengendarai keledai itu berdua. Ternyata, masih saja jadi omongan orang. Sebab mereka ketemu dengan penyayang binatang, yang menuding mereka dzolim terhadap keledai yang lemah. Ngerasa tak enak, ayah dan anak itu pun turun lalu memikul keledai malang itu.

  Hayooo, tahu "kan apa pelajaran berharga di kisah ini? Yups, mestinya kita tuh punya prinsip. Tak hanya menuruti semua kata orang, demi menyenangkan hati mereka. Ufhh, cape" deh ... (Esthi)

FB : http://www.facebook.com/people/Salsabila-Kautsar/100000055374954

 

Pertanyaan Kuis Resensi Buku Agustus 2009

Mau bingkisan buku apik dari Nida? Mau-mau-mauuu ... Tapi kalian harus ngelakuin sesuatu dulu nih buat Annida. Nggak perlu sampai mijitin kru Nida kok, cukup klik aja rubrik-rubrik Annida Online. Baca Resensi, trus jawab deh pertanyaan Nida berikut ini ...

1.Kasih tahu Nida dong, benang merah apa sih yang menghubungkan cerpen-cerpen Damhuri Muhammad yang terkumpul di buku barunya, Juru Masak?

2.Dari tokoh-tokoh yang ada di Juru Masak-nya Uda DM itu, hayo, yang mana yang menurutmu paling menarik? Kenapa?

3. Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari kisah-kisah yang dinukil Muhammad Yasir dalam "Engkau Lebih Cantik dari Bulan Purnama". Tolong sebutkan 1 teladan yang menggambarkan kalau kebiasaan baik itu akan mengantarkan kita pada kesuksesan.

4.Terakhir, pelajaran apa yang bisa kita serap dari pengalaman ayah dan anak yang ganti-gantian menunggang keledai?

Hem, gampang-gampang kan? Kalau memang bisa jawab dan mau hadiahnya, kirim dong jawaban kalian. Boleh lewat email majalah_annida@yahoo.com ... atau via pos. Alamatnya masih sama, Redaksi ANNIDA Jalan Mede No. 42, Utan Kayu Utara, Jakarta Timur, 13120.

Oya, buat memudahkan Sekretaris Redaksi kita (Mbak Meilis) mengirimkan hadiah nanti, jangan lupa cantumkan nama dan alamat lengkap kalian, berikut nomor telepon ya. Nomor sepatu dan nomor yang lain jangan dulu ... Oke, Nida tunggu sampai 20 Agustus 2009.

Lampiran movie tidak tersedia.

Posting Sebelumnya

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :