Giganto: Berburu Makhluk Purba di Belantara Borneo

Diposting: Senin, 02 Nopember 2009 / 10:36:45 | Oleh: annida | Kategori: Resensi

Halaman ini diakses sebanyak: 767 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Judul Buku: Giganto, Primata Purba Raksasa di Jantung Borneo
Penulis: Koen Setyawan
Penerbit: Edelweiss (Agustus, 2009)
Tebal: 440 halaman

Pernah dengar legenda Yeti di Himalaya atau Vietnam? Konon, orang-orang Himalaya meyakini bahwa Yeti adalah makhluk misterius—bila tak ingin disebut “gaib”—yang hidup di belantara pegunungan Himalaya. Dikatakan misterius, selain karena ukuran tubuhnya yang besar dan wujudnya yang cukup aneh (sejenis kera dengan bulu-bulu lebat), penduduk Himalaya juga kerap kesulitan mendeteksi kehadiran makhluk ini karena terkadang ia muncul tiba-tiba, terkadang meski dicari, ia tak ada orang yang dapat menemukannya.

Terbayangkah Sobat Nida bila legenda Yeti tersebut juga ternyata berkembang dalam masyarakat pedalaman Kalimantan? Hiyy!!! Nggak perlu khawatir, kalaupun benar-benar ada, sesungguhnya makhluk yang diyakini sebagai Yeti atau Bigfoot, Yeren, Sasquatch—nama-nama lain untuk makhluk yang sama di belahan bumi yang lain—ini memang pernah ada di masa purba dulu. Bukan mitos, apalagi makhluk rekaan. Paling tidak Gustav von Koenigswald, ahli purbakala dunia yang banyak menemukan fosil manusia purba di nusantara, dapat membuktikan hal tersebut. Grover Kranz, seorang palaeoanthropolog dari Amerika Serikat, juga mengukuhkan penelitian Koenigswald dengan memaparkan teori Giganto dan mengklasifikasikan makhluk ini sebagai makhluk purba jenis Gigantopithecus Blacki.

Pengetahuan mengenai makhluk raksasa ini dieritakan dengan sangat menarik oleh Koen Setyawan dalam buku Giganto: Primata Purba Raksasa di Jantung Borneo. Koen menyajikan pengetahuan dan wawasan tentang Giganto dalam balutan kisah fiksi berlatar pedalaman Kalimantan. Di Kalimantan, yang cukup terkenal karena jumlah orangutan yang dimilikinya, legenda tentang Giganto ini pernah ada dengan nama Batutut.

Dibuka dengan tragedi hilangnya Ruhai, seorang bocah laki-laki, di Hutan Larangan—daerah yang menjadi pantangan bagi masyarakat Sekayan untuk didekati apalagi dimasuki karena misteri Batutut ini; kisah inipun bermula. Ruhai berhasil ditemukan dan diselamatkan oleh Erwin Danu, peneliti orangutan di tepi sungai Sadong. Peristiwa Ruhai rupanya menjadi pembuka jalan Erwin untuk menyibak tabir di balik Hutan Larangan. Namun, bersamaan dengan itu, Erwin harus bertemu dengan ilmuwan lainnya: Doktor Chaudry Teja dari National Anthropalaentology, Nguyen Van Tran dari Vietnam, Ruth asistan Tran, Martin, dan Ruja sang pemimpin Desa Sekayan, untuk melakukan satu ekspedisi menemukan Dr. Yudha Komara, peneliti yang diduga berhasil menemukan jejak Giganto.

Namun, siapa sangka, Erwin sesungguhnya dikelilingi oleh para ilmuwan yang penuh ambisi untuk mengabadikan Giganto sebagai temuan mereka yang bernilai komersial tinggi, baik bagi perkembangan dan kelangsungan karir mereka sebagai peneliti. Erwin yang dikisahkan sebagai peneliti yang cukup idealis, di mana ia meyakini bahwa kelangsungan hidup Giganto dan orangutan yang kian langka akan sangat terancam bila ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan jahat ini, pun berusaha menutupi jejak Giganto.

Erwin sadar bahwasanya temuan spesies baru akan selalu menimbulkan dua dampak: positif dan negatif. Positif karena dapat memperkaya khazanah pengetahuan umat manusia, tapi juga negatif karena dapat membahayakan temuan tersebut. Ini pula yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh Koen yang sehari-hari memang aktif sebagai aktivis lingkugan hidup, di mana pengetahuan selalu menghadirkan dua wajah yang dilematis bagi penemunya.  

Petualangan Erwin dkk ini mengingatkan pembaca pada film-film science fiction seperti Jurrasic Park, Alien and Species, King Kong, Mummy Return, dan lain-lain. Penulis bukan saja mampu menyajikan fakta-fakta ilmiah dari sumber terpercaya dengan cara bertutur dan mengalir, tapi juga mampu menghadirkan imajinasi menegangkan dalam setiap fragmen yang dikisahkan. Secara umum, meski tema makhluk-makhluk purba bukanlah hal baru dalam sebuah cerita, namun novel ini berhasil memukau pembaca dengan teknik penceritaannya yang cerdas. [nyimas]

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :