Bukan untuk Main-main
Diposting: Senin, 02 Nopember 2009 / 11:10:07 | Oleh: annida | Kategori: Resensi
Halaman ini diakses sebanyak: 472 kali
Rating: 0
Penulis : Bambang Joko Susilo
Penerbit : Republika
Tebal : 156 halaman
Banyak dari kita yang seolah kehabisan ide ketika diharuskan menulis sebuah cerita pendek, rasanya “sumur ide” kita kering, dan kata-kata di otak kita sudah habis, entah mau menulis apa. Rasa-rasanya segala jenis ide cerita sudah pernah digarap orang lain, dan cerpen yang mau kita tuliskan jadi terasa basi. Nah, buat kamu yang pernah mengalami hal tersebut, mungkin membaca buku kumpulan cerpen ini bisa mendapat sedikit pencerahan.
Kumcer Jangan Main-main dengan Tuhan ini terdiri dari 14 cerpen dengan ide yang beragam, ada yang bercerita tentang sebuah pohon ceri di depan rumah, tentang keluarga perokok, tentang listrik masuk kampung, berita meninggalnya nenek, sampai tentang laki-laki yang suka berjalan sore-sore. Ide-idenya sederhana tapi cukup unik bukan? Cerpen “Jangan Main-main dengan Tuhan” sendiri diakui penulisnya idenya muncul di saat santernya fiksi “Jangan Main-main dengan Alat Kelaminmu”, artinya… kita juga bisa memunculkan ide cerita kita dari ide cerita yang telah dicetuskan penulis lain, tentu bukan berarti plagiat alias menjiplak, karya kita tetap orisinal imajinasi sendiri.
Dari segi penceritaan, kelihaian penulisnya meramu cerpen-cerpennya dalam buku ini memang mengalir lancar dan dapat memancing rasa ingin tahu pembaca akan kelanjutan kisahnya, contohnya cerpen “Keluarga Perokok” yang sungguh memikat sampai titik akhir, namun ada juga beberapa cerpen yang mengundang kekecewaan karena ending yang terasa cuma begitu saja, cerpen “Nenek” misalnya.
Dalam cerpen utama yang menjadi judul besar kumcer ini, “Jangan Main-main dengan Tuhan”, pembaca diajak menikmati keseriusan pemikiran penulisnya lewat dialog atraktif para tokohnya yang begitu hidup dan segar, antara Daud dan aku. Dialog yang membuktikan kematangan penulisnya dalam memainkan emosi pembaca. Berikut sedikit cuplikannya:
“Engkau jangan main-main dengan Tuhan!” Daud
berang.
“Tuhan jangan engkau samakan
dengan teka-teki silang!” jawabku sedikit meradang.
“Rencana Tuhan memang
sulit ditebak, tapi Dia-lah yang Maha Berkehendak!” kata Daud lagi.
“Tapi kehendak manusia
terbatas!”
“Tapi tidak untuk
maut!”
“Kau…??” Daud
memandangku seperti tak percaya.
“Kau tidak percaya?
Baik,” lalu aku mengambil pistol. Kuisi dengan sebuah peluru. Lalu kuacungkan
ke jidat Daud. “Sekarang kita buktikan, Tuhan atau manusia yang berkuasa atas
maut?”
Yang jelas, buku kumcer ini sudah pasti dibuat tidak untuk main-main, dan tidak dengan main-main. Kalau cuma suka main-main, mungkin kamu tidak cocok membaca buku ini. Akan tetapi kalau kamu ingin belajar, belajar tentang hidup, belajar tentang menulis, belajar untuk menyampaikan hikmah, buku ini layak untuk dinikmati. [Syamsa]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




