Ramallah, Sebuah Elegi

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Muhammad Nurcholis

 

Peter Hansen masih sibuk membolak-balik tubuh-tubuh yang bergelimpangan itu; manusia yang sebagian besar sudah menjadi mayat. Sungguh merupakan pemandangan yang mengerikan. Beberapa mayat sudah hancur di bagian tangan, kaki, perut, kepala, bahkan ada yang sudah tidak berbentuk lagi karena terkena misil atau granat. Namun, ada pula suara rintihan di antara puing-puing bagunan yang hancur. “Tolong.. Tolong.. Sakit..”, begitu rintihan orang sekarat yang pasti akan membawa suasana sangat mengerikan bagi siapa saja yang berada di wilayah itu. Akan tetapi, Peter Hansen dengan sigap akan mencari sumber suara itu. Ia tidak mempedulikan darah dan serpihan daging yang menempel di bajunya. Baginya, di medan peperangan nyawa seseorang harus diselamatkan, tidak melihat ia berada di pihak mana.

Peter Hansen sudah terbiasa memandang ratusan mayat yang hancur bergelimpangan di hadapannya. Ia juga terbiasa mengumpulkan bagian-bagian tubuh yang terpotong atau serpihan-serpihan organ dalam. Namun kali ini ada hal yang membuatnya begitu geram; mengapa korban kali ini kebanyakan adalah wanita dan anak-anak?

***

Peter Hansen kurang lebih sudah tiga tahun bergabung dalam Relawan Palang Merah Internasional. Menjadi relawan adalah sebuah pilihan hidup baginya. Ia memutuskannya setelah istri dan anak satu-satunya meninggal pada suatu kecelakaan mobil di Denmark. Saat itu, istrinya tengah mengantar anak kesayangannya berangkat ke sekolah. Peter sendiri sudah berangkat ke tempat kerjanya, menjadi petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadan Kebakaran Kota, sebuah pekerjaan yang heroik. Namun naas, ada sebuah truk yang hilang kendali menabrak mobil yang dikendarai oleh istri dan anaknya. Menurut kabar, seharusnya anak dan istinya dapat diselamatkan, jika saja segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan. Namun waktu itu adalah traffic hour, sehingga banyak orang yang mengabaikan kecelakaan itu.

Peter Hansen sempat depresi. Ia keluar dari Dinas Pemadam Kebakaran. Sungguh, Angela dan Daniel adalah semangat hidupnya. Peter sangat kecewa terhadap orang-orang di sekitar tempat kejadian yang tidak segera menolong anak dan istrinya. Dari situlah ia bertekad untuk menjadi relawan, mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang. Ya, meskipun itu di medan perang.

***

Kali ini, Peter Hansen bertugas di Wilayah Tepi Barat, di Kota Ramallah, Palestina. Ia bersama seratusan orang dari berbagai negara berada di bawah bendera Palang Merah Internasional. Selain mereka ada pula relawan dari Korps Militer Israel. Mereka bertugas untuk menolong para prajurit yang terluka. Namun anehnya, relawan Palestina justru tidak tampak. Bukankah ini perang? Ah, ternyata Peter Hansen tak sadar, ini adalah agresi. Militer Israel sedang menyerang base camp teroris pejuang sayap militer Hamas. Entahlah, Peter Hansen tidak terlalu mengikuti berita internasional. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana menyelamatkan korban-korban yang bergelimpangan.

Serangan baru saja usai sekitar empat puluh menit yang lalu. Tank-tank, pasukan artileri serta pesawat tempur Israel telah meluluhlantakkan berbagai bangunan di tempat ini; sekolah, masjid, pertokoan, pasar, bahkan pemukiman penduduk. Peter Hansen tak habis pikir, mengapa pasukan Israel menghancurkan fasilitas publik? Lalu anak-anak dan perempuan-perempuan itu? Ah, banyak sekali yang menjadi korban!

Sesuai prosedur, Peter Hansen akan mencari korban yang masih selamat untuk dibawa ke bagian medis. Ia bisa membedakan mana korban yang selamat atau tidak dari hembusan nafas dan denyut nadi. Bila korban selamat sudah tidak ditemukan, tugas Peter Hansen selanjutnya adalah membungkus jasad-jasad yang sudah tidak bernyawa dengan kantong mayat berlambang palang merah itu. Yang paling susah adalah mengumpulkan jasad yang sudah hancur. Diperlukan rasa kemanusiaan yang tinggi dan ketahanan untuk melihat organ-organ tubuh yang berserakan. Untuk bagian ini, Peter Hansen sudah lulus uji.

Peter Hansen memperkirakan, setidaknya ada 300an korban dari serangan kali ini. Plastik-plastik berisi mayat dijejerkan di depan sebuah masjid yang masih utuh. Tak lama lagi, mayat-mayat ini akan diserbu oleh penduduk sekitar. Mereka datang untuk melihat apakah handai taulan mereka ada yang menjadi korban atau tidak. Adegan --> pasti sangat menyayat hati. Tangis pilu memecah angkasa, pekikan kata-kata penyemangat--takbir, begitu istilah yang Peter Hansen dapat--terdengar bersahut-sahutan. Begitulah yang biasanya terjadi dalam peperangan yang ia ikuti.

***

Selesai melaksanakan tugasnya, Peter Hansen melepas lelah di atas puing-puing bangunan. Melihat kerumunan orang yang memecah tangis mengingatkannya kepada Angela dan Daniel. Tak terasa, dua mata birunya kini basah. Peter cepat-cepat menghapusnya.

Sejurus kemudian, Peter Hansen melihat relawan dari Korps Militer Israel sedang membawa kantong-kantong mayat ke dalam kontainer mereka. Tunggu, mengapa kontainer? Bukankah seharusnya ambulans? Peter mengerutkan dahinya. Yang lebih mengherankan, korban yang dibawa jumlahnya terlalu banyak. Setau Peter, korban dari pihak Israel hanya beberapa puluh saja, tak sampai tiga puluh. Karena memang pihak pemberontak bersenjatakan senjata seadanya. Tapi ini sungguh aneh, mengapa begitu banyak kantong mayat yang dibawa?

Merasa penasaran, Peter Hansen bangkit dari duduknya. Ia berjalan pelan menuju ke arah relawan Militer Israel yang berjarak kurang dari dua ratus meter jauhnya.

“Hey, Peter! Mau ke mana?” John Svenson, kepala relawan, menegur Peter ketika melewati tenda relawan Palang Merah Internasional.

“Oh, hanya mencari angin saja, John.” jawab Peter singkat.

“Okay. Hati-hati, ini daerah konflik.”

Peter Hansen mengangguk. Tak jarang memang, para relawan, pers dan orang-orang tidak berslh menjadi korban salah sasaran di dalam peperangan.

Peter Hansen hanya menyimpan tanya, apa yang relawan Israel lakukan di dalam kontainer itu. Peter menoleh ke kanan-kiri, memastikan tidak ada orang yang memperhaikannya. Lalu ia menyelinap ke dalam puing-puing bangunan yang masih bisa menutupi separuh badannya. Ia berjalan menunduk-nunduk.

***

Peter Hansen telah sampai di area tenda Korps Relawan Militer Israel. Beberapa tentara masih berjaga-jaga, menjaga kontainer dan para relawan yang sibuk memasukkan dan mengeluarkan kantong-kantong mayat. Peter semakin penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Ia berpindah tempat menuju puing-puing bangunan yang lebih dekat ke mulut kontainer. Peter harus melakukannya dengan hati-hati. Gerakan yang mencurigakan sedikit saja dapat menarik perhatian tentara itu, dan bila ketahuan tamatlah riwayatnya.

Yap, Peter Hansen berhasil mendapatkan sudut pandang yang sempurna. Ia kini berjarak hanya kira-kira dua puluh meter dari mulut kontainer. Ia bersembunyi di bekas kedai yang hancur, puing-puing ini telah menghalangi pandangan orang. Peter mulai memperhatikan dengan seksama.

Ada dua petugas relawan yang berjalan tergopoh membawa kantong mayat. Pintu kontainer pun dibuka. Sekilas, Peter Hansen melihat ruangan ruangan di dalam kontainer itu. Peter merasa sangat terkejut. Di dalam kontainer terdapat ruangan putih yang sangat terang. Lampu-lampu sorot dipasang, benar, lampu sorot yang biasanya terdapat di ruang operasi rumah sakit. Beberapa dokter, satu, dua, tiga.. setidaknya ada empat orang yang berpakaian seperti dokter di dalamnya. Mereka memakai baju lengkap dengan masker dan penutup kepala. Dan, Oh Tuhan, apa yang sedang mereka lakukan?

Peter Hansen belum sempat melihat kegiatan mereka dengan detil, pintu kontainer kembali ditutup. Relawan tadi meninggalkan kontainer dengan membawa kantong mayat yang ia bawa keluar. Apa-apaan ini? Sekilas, Peter hanya melihat tangan-tangan dokter tadi yang berlumuran darah, sangat merah. Peter bergidik. Ia kembali mencermati kontainer di depannya. Kali ini tiga kantong mayat ditandu oleh enam relawan. Peter Hansen bersiaga.

Pintu kontainer kembali dibuka, ruangan terang di dalam mulai tersingkap. Saat itu juga Peter Hansen menangkap pemandangan yang sangat membuat mual perutnya. Seorang dokter terlihat mengeluarkan sesuatu dari dada mayat itu dan mengangkatnya pelan-pelan.

“Gila! Mereka mengambil organ dalam para korban. Biadab! Ini tidak boleh dibiarkan!” kutuk Peter dalam hati. Peter mendengus. Di dalam kontainer itu terjadi pembedahan mayat. Mayat yang tidak hancur ditangani oleh beberapa dokter bedah untuk diambil organ dalamnya. Terlihat beberapa tumpuk box pendingin terjejer di ujung kontainer. Apakah itu tempat sementara organ-organ dalam itu?

Peter Hansen segera mengambil smartphone-nya. “Ini harus dilaporkan!” gumamnya. Dengan kamera HP ia mengambil beberapa gambar. Kameranya harus dipaksa berakomodasi maksimal, mode zoom penuh dapat menangkap dengan jelas kegiatan mereka. “Dunia harus tahu kebiadaban mereka!” gumam Peter Hansen.

Satu gambar, dua gambar, setidaknya lima gambar sudah ia dapatkan. Termasuk dua gambar dari puing-puing sekolah dan masjid yang hancur. Peter membuka e-mail melalui smartphone-nya, ia meng-attach beberapa foto tadi dan mengetikkan beberapa alamat e-mail kenalannya; jurnalis, wartawan, serta beberapa alamat e-mail kantor berita yang ia ingat. Di badan surat elektronik itu, ia ketikkan beberapa kalimat:

'Diambil di Ramallah, 23 Maret 20XX. Tentara dan relawan Israel telah memberikan kepada kita apa yang disebut dengan tindakan paling tidak berperikemanusiaan. Relawan Palang Merah Internasional. P.H.'

Peter Hansen memencet tombol kirim dengan kuat, seolah ia ingin mempercepat laju pesan yang dibawa melalui pita jaringan itu. Hatinya sungguh geram, matanya masih memelotot nanar ke arah kontainer. Urat-urat terlihat di dahi dan pelipisnya, wajahnya memerah, menahan amarah yang sangat. Pada saat itulah tiba-tiba jantungnya merasa panas, sangat panas. Lalu di punggungnya ia merasakan sengatan yang hebat, yang membuat badannya tersentak ke depan. Beberapa saat kemudian, logam-logam panas terlihat melobangi tubuhnya yang gontai. Tak butuh waktu lama bagi tubuh itu untuk rubuh.

Lalu suasana kembali sunyi. Di Ramallah, tembakan adalah hal yang biasa terdengar dan kesedihan adalah hal yang wajar.

***


Cilacap-Jakarta, Februari-Maret 2012

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...