PELAJARAN IKHLAS DARI IBU
Diposting: Selasa, 20 Oktober 2009 / 10:24:21 | Oleh: annida | Kategori: Nostalgia
Halaman ini diakses sebanyak: 675 kali
Rating: 0
Penulis : Ilham Fauzi
Ramadhan memang sudah berlalu, namun bila mengingat bulan istimewa ini, saya selalu terkenang dengan masa kecil saya dulu, waktu saya baru mulai berpuasa pada kelas 1 SD. Begini, sehari sebelum puasa ibu saya selalu mewanti-wanti agar saya kuat berpuasa. Untuk itu agar saya lebih tertarik beliau memberi ganjaran Rp. 30.000 bila saya sanggup puasa sebulan penuh, plus baju lebaran dan banyak lagi bonus lainnya. Wow, 30 ribu. Apalagi waktu itu masih tahun 1999, dan terasa begitu sangat banyak belum lagi menu yang melimpah ruah yang saya bisa memilihnya sesuka hati di "pasa pabukoan". Dan sekali belanja bisa habis Rp 10.000. Hmmm...
Namun setelah 10 tahun berlalu, bila saya mengingat kejadian yang sama, uh.. terbersit rasa sesal dan sedih. Cara ibu mendidik saya begitu lembut dan memanjakannya membuat saya lupa akan arti ikhlas dan semakin memanja. Terbukti ketika tahun berikut ibu tidak memberlakukan lagi hal yang sama saya menangis sejadi-jadinya bahkan sampai merajuk. Ibu hanya tersenyum dan mengalah. Dan memang waktu lebaran aku selalu mendapatkan hadiah pilihan dari ibu karena puasa yang tak pernah bolong.
Tiap tahun terus saya ulang protes bahwa saya masih kecil jadi tidak apa-apa dong kalau tidak ikhlas. Hingga akhirnya protes itu berhenti ketika kakak saya tak tahan lagi mendengar ocehan saya itu. Semenjak itu, tak ada lagi tumpukan hadiah lebaran untuk saya, dan saat itulah ibu mulai tersenyum bila Ramadhan tiba.
Itu adalah 10 tahun yang lalu, dan kini sesal itu semakin menjadi-jadi, bila mengingat semua tentang itu. Hanya setahun berselang semenjak saya tidak neko-neko minta ini itu pada ibu. Tepat ramadhan berikutnya ibu dipanggil Allah, kebaikan itu hanya sedikit saja yang pernah saya torehkan untuk ibu.
Bukankah bila kita ikhlas, Allah akan mengganti uang Rp 30 ribu itu dan bonus-bonus yang adik dapat dengan beribu kali lipat di akhirat kelak? Begitu pesan ibu bila saya mulai merajuk walaupun akhirnya beliau menyerah juga dan menuruti tuntutan saya.
Begitu juga dengan jenis masakan dan makanan waktu buka dan sahur yang saya pilih dengan semaunya saja, melebihi target 4 sehat 5 sempurna. Pesan ibu agar belanja tak berlebihan yang selalu saya abaikan kembali terbukti, esoknya banyak makanan sisa yang terbuang begitu saja . Memang waktu itu saya masih kecil tapi bila dihubungkan dengan sekarang dan sebentar lagi saya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ingin rasanya makanan yang tersisa dan uang yang telah pergi dengan percuma kembali lagi.
Terlebih lagi ketika novel yang mengharu biru "Hafalan Shalat Delisa, Tere-liye" selesai saya baca. Ingin saya peluk ibu dan mohon ampun atas tingkah kanak-kanak saya yang sering membuat ibu mengurut dada. Tapi semua itu hanya khayalan yang tak mungkin saja, semoga ibu bahagia di sana.
Terima kasih ibu dan terima kasih Delisa yang telah mengajarkanku arti keikhlasan.
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




