Lelaki dan Perempuan Aneh di Bawah Pohon
Diposting: Kamis, 18 Februari 2010 / 13:54:02 | Oleh: annida | Kategori: Nostalgia
Halaman ini diakses sebanyak: 592 kali
Rating: 0
Penulis: Ferhat
Selasa depan aku akan seminar skripsi. Peraturan di kampusku, setiap seminar proposal skripsi diharuskan menghadirkan minimal 3 mahasiswa/i. Teman-teman yang ikut serta denganku dalam seminar nanti bukanlah teman dekat. Malah aku tak mengenal.
Janjian di hari sebelumnya, jika pagi ini kami akan bertemu. Jam 10 teng. Jadwal ditetapkan, namun batang hidung mereka tak satu pun muncul. Aku memang tak pernah diangkat menjadi tuan-tuan mereka, namun sebagai inisiator mungkin lebih baik daripada menunggu mereka bergerak. Aku SMS mereka satu persatu. Isinya jelas, segera berkumpul di bawah pohon dekat warnet kampus.
Syukur mereka semua masih teringat dengan janji kemarin pagi, satu orang muncul semenit kemudian. Aku tak mengenal dia, sebab tidak satu angkatan. Wajahnya pun aku tak ingat jelas, namun segurat senyum pertanda jika ia juga sedang menunggu rapat kecil ini. Lelaki disampingnya yang kuanggap lelaki terdekat dia sibuk memainkan handphone. Lagi-lagi lelaki itu tak kukenal. Namun sapaan -yang menurutku ketus- membuatku tak tertarik menjadikan dia sebagai teman baru.
“Kenapa nggak hari Sabtu aja kumpulnya Bang?” tanya lelaki itu, ketika ia duduk tak jauh dariku.
Aku berusaha bijak, lebih cepat lebih baik. Beruntun dia bertanya ini itu, seakan-akan menyepelekan rapat kali ini. Dapat kutebak, ia seperti tak senang dengan pertemuan ini. Mungkin pertemuan bawah di pohon pagi ini menyita waktunya untuk bersenang-senang dengan wanita di sebelahnya.
Sempat kulirik, perempuan itu tampak kikuk. Berusaha tersenyum, menyesali sikap pria dekatnya yang kurang berkenan. Obrolan ketus sempat kudengar dari mereka. Begitu lamat suaranya. Pohon besar di depanku menutupi gerak bibir mereka hingga aku kesulitan mendengar cakap mereka dengan jelas. Obrolan kesal. Itu yang lamat kutangkap. Rupanya pria itu kesal, gerakan duduknya tak tenang. Bertanya ini itu tentang pertemuan ini. Memastikan mengapa teman wanita lain tak kunjung datang. Sempat terdengar jawaban kesal dari perempuan itu. Untuk saat ini, aku tak ambil pusing. Biarlah mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Namun berselang menit kemudian aku dibuat kaget lelaki temperamental itu.
“Ferhat itu siapa?!”
Ooo, rupanya dari tadi lelaki itu mengotak atik handphone perempuan disebelahnya. Dan membaca SMS yang kukirim ke handphone wanita itu beberapa menit belakang.
Perempuan itu mengisyaratkan dagu menunjuk kearahku. Aku pun menyahut, “ya, saya! Kenapa?”
PRAKKKKK!!!
Lelaki itu melempar handphone ke pohon besar di depan kami. Suaranya yang keras membuatku kaget. Wanita itu lebih kaget lagi. Handphonenya tak beraturan. Pecahannya terlempar ke sana ke mari. Dan perang kedua sejoli itu pun terjadi. Di tengah orang yang lalu lalang untuk kuliah, mereka bertengkar hebat.
Aku salah tingkah, dan menyesali berada di dekat mereka. Seorang lelaki yang berada disampingku merasa aneh melihat mereka berdua. Namun kami lebih memilih diam. Keinginanku agar pertikaian ini segera akhir rupanya tak terkabul. Berepisode-episode panjangnya makian mereka, suaranya pun sungguh lantang. Tangis wanita itu pecah. Sumpah serapah terucap. Penyesalan, rasa muak, memalukan, ingin melapor ke orang tuanya, hingga minta handphonenya diganti. Masa lalu diangkat-angkat. Lelaki itu tak ambil pusing. Menyahut tak kalah garang. Sesekali suara mereka diredam.
Aku menilai, lelaki itu terlalu over membatasi pergaulan wanita dekatnya. Berulang kali wanita itu menjelaskan, jika ini urusan kuliah. Lelaki itu tak peduli. Malah ia berputar-putar mengeliling pohon dan membelakangiku. Sepertinya ada sesuatu yang ia cari. Aku tak ingin ikut campur. Syukur, temanku yang lain datang. Seperti tak mengetahui keadaan kami berdiskusi dengan sesekali ditimpali cekikikan.
Di balik pohon kedua sejoli itu masih tampak bertikai. Hingga larut kemudian dalam isak wanita itu izin pamit tanpa mengikuti rapat hingga usai. Kami mengiyakan, bersyukur malah. Menuju parkiran, kulihat mereka masih bertikai. Mendorong kepala lawannya hingga tampak kekanak-kanakan. Namun aneh kurasa, setelah dimaki caci, ditampik wajahnya, dihancurkan handphonenya, dihardik hingga kasar, wanita itu masih memilih pulang dengan lelaki teman dekatnya. Semua kami menyesali sikap lelaki dan perempuan itu. Apakah perempuan “harus” selalu diwujudkan sebagai bentuk lemah, dan pria menjadi pemilik tunggal hingga membatasi dan mengawasi gerak-gerik setiap inchi pasangannya? Hmm...
Hari itu aku bertemu lelaki dan perempuan aneh di bawah pohon.
8 April 2009
22.41 WIB
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




