Lapar yang Menggelisahkan
Diposting: Jumat, 31 Juli 2009 / 19:55:09 | Oleh: annida | Kategori: Nostalgia
Halaman ini diakses sebanyak: 409 kali
Rating: 0
Hujan malam itu. Sang hujan mulai beraksi semenjak petang sekitar pukul empat-an. Biasanya hujan akan reda dalam tempo sejam dua jam. Pukul enam, hujan masih juga asyik menurunkan air ke bumi. Pukul tujuh, dari masjid-masjid atau meunasah adzan magrib berkumandang. Tentu saja kami penghuni kos yang berjumlah empat belas orang lekas ambil air wudhu. Byur byur byuuur di kamar mandi. Rumah kost kami memang terbiasa sholat jemaah.
Dari sinilah cerita bermula, perut lapar setelah sholat magrib usai. Hujan masih lebat. Lapar membuat merana. Mau keluar, nekad menembus hujan tanpa payung tidak memungkinkan. Kilat menyambar-nyambar. Saya masih punya nasi di rice cooker. Chandra punya beberapa butir telur. Joinanlah kami. Ternyata kawan-kawan sudah menyerbu ke dapur dengan mie instant di tangan bermodal lilin. Kami menunggu giliran menggunakan kompor yang memang semata wayang itu. Kesempatan itu datang, Alhamdulillah. Telur sudah dikocok-kocok plus bawang dan garam. Chandra meletakkannya di wajan. Saya melihat api kompor yang redup. Gelagat tidak indah. Chandra menuangkan minyak goreng. Tidak lama saya menuangkan telur.
Kami berteriak bersamaan. Whuaaaaa….! Kompor mati. Minyaknya habis!
Kami saling berpandangan dalam remang-remang cahaya lilin. Telur di wajan masih mentah. Hujan masih dahsyat menderas. Lapar jangan ditanya. Chandra tinggalkan dapur tanpa komentar apa-apa. Saya bingung harus bagaimana? Chandra kembali dengan lilin-lilin. Ia hidupkan lilin-lilin itu dan diletakkan di lantai dapur. Lantas bermodal gumpalan kertas, Chandra memegang dua pegangan wajan di atas lilin-lilin itu.
Ehm, brilian ya?
Lama banget menunggunya. Api dari lilin tidak bisa bisa diharapkan sebetulnya. Wajan sengaja super didekatkan dengan lilin biar panasnya lebih cepat naik. Mana angin suka mengganggu dari mana saja. Tidak terbayangkan kalau harus sendiri melakoninya. Duduk di dapur seorang diri dengan hanya berbekal beberapa lilin. Oh, sengsara sepertinya, tapi karena berdua dengan Chandra, perasaan menderita, senasib-seperjuangan dibagi dua. Itupun perasaan menderita dan saudara-saudaranya tak sempat berkembang, sebab saya dan Chandra memang suka membanyol sepanjang memasak dengan cara aneh itu.
Akhirnya, wajan itu diangkat dari api ajaib. Bukan matang sih telurnya. Seperti kelamaan telur itu bisa matang sempurna. Tapi menurut kami sudah layak dimakan. Jangan ditanya nikmat makan malam itu. Kelaparan dicampur dengan perjuangan. Sementara hujan semakin lebat. Lampu belum hidup.
Malam itu saya menjadi lebih menghargai makna sebuah persahabatan. Saya juga menjadi lebih menghargai makanan. Selama ini saya memang tipikal orang yang sering menyisakan makanan di piring alias tidak menghabiskanya. Jika lirik lagu sebuah band, cinta itu menggelisahkanku, maka liriknya saya gubah, lapar itu menggelisahkanku. Saya juga menjadi lebih menghargai listrik. Yang jelas, saya menjadi bisa menghargai kecerewetan teman kos yang terkadang menagih iuran untuk membeli minyak lampu. Berabe, mati lampu, hujan lebat, habis pula minyak kompor!
Lampiran movie tidak tersedia.
Posting Sebelumnya
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




