“Kalau generasi muda Indonesia lebih tertarik
belajar kanji dari China, hiragana dan katakana asal Jepang, atau tulisan Arab,
karena katanya tulisan-tulisan tersebut artistik dan unik. Saya jadi terpacu
untuk mengenalkan aksara Jawa yang sama unik dan artistiknya—bahkan lebih
menarik menurut saya—pada generasi muda kita.” –Muhlasin.
FPB
= Bukti Peduli Budaya Bangsa
Sosoknya cukup sederhana. Sesederhana tujuannnya
saat mengikuti ajang Festival Pemuda Berprestasi (FPB) 2009 yang
diselenggarakan oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga bekerjasama dengan
Annida-Online.com. Menurutnya, menang bukanlah tujuan utama mengikuti ajang yang
diselenggarakan sejak tahun 2006 ini. Tak heran pula bila pria kelahiran 28 Mei
1985 ini tetap mengembangkan senyumnya meski ia gagal membawa pulang hadiah
uang tunai Rp 15.000.000 sebagai 10 nominator terbaik FPB 2009.
“Saya hanya ingin melestarikan budaya bangsa,
khususnya budaya Jawa, dengan karya yang saya hasilkan. Melalui FPB 2009 ini
saya ingin memperkenalkan gagasan sederhana saya dalam merawat aksara Jawa. Itu
saja,” jelas Muhlasin.
Software pembelajaran aksara Jawa yang
digagasnya merupakan satu-satunya produk dari peserta FPB 2009 yang memiliki
konsentrasi dan tujuan pada kelestarian budaya bangsa, khususnya budaya Jawa.
Keahlian Muhlasin di bidang komputer memang menjadi modal utamanya dalam
menciptakan program komputer dengan aksara Jawa. Namun, Muhlasin mengakui bahwa
keprihatinannya terhadap kelestarian aksara Jawa yang kian hari kian terancam,
meletupkan semangatnya dalam mencari media alternatif untuk kelestarian aksara
Jawa.
Maka, dibantu dua orang sahabatnya, Andi
Kurnianto dan Halim Mufid, akhirnya Mahasiswa jurusan Ilmu Komputer Universitas
Brawijaya, Malang ini, membuat aplikasi program computer untuk aksara Jawa. Nuansa
khas Jawa pun mengalir dalam perangkat lunak (software)-nya. Seluruh tampilan
yang ada di dalam program tersebut menggunakan aksara Jawa. Mulai dari menu
wilangan (bilangan), sandhang khusus (tanda baca khusus), aksara caraka (aksara
inti), aksara murda, aksara swara (huruf vokal), sandhangan (tanda baca),
aksara rekaan (aksara serapan dari bahasa asing), maupun pratandha (aksara
pasangan atau bentuk mati dari aksara inti).
“Yang pasti, saya membuat software ini dengan
semangat menjaga warisan leluhur kita bagi generasi muda. Oleh karenanya, saya
buat sesimple mungkin dan menyenangkan dalam penggunaaan, tapi tetap mengandung
esensi utamanya; pembelajaran aksara Jawa. Boleh dikatakan software ini bisa
digunakan oleh siapapun, tak terkecuali oleh anak muda di luar Jawa,” tegas
pria asal Ambulu, Jember, Jawa Timur.
Aplikasi Sederhana, Sarat Guna
Soal kesederhanaan aplikasi software yang
dibuatnya, Muhlasin memang tak sedang membuat janji. Dengan sigap ia
mempraktikkan cara penggunaan temuannya yang rencananya akan dipatenkan itu.
“Jadi, pengguna komputer tinggal menulis dengan menggunakan bahasa Jawa, nanti
dengan sendirinya akan keluar dua tampilan; ada tampilan tulisan latin juga
aksara Jawanya. Tinggal diperhatikan bentuknya, lama-lama pasti hafal dan ngeh,
mudah kok!”
Sebelum diikutsertakan dalam ajang FPB 2009,
temuannya ini telah diujicobakan di beberapa sekolah menengah pertama pada
April 2008 lalu. Dan, hasil ujicoba tersebut diakui Muhlasin cukup mempengaruhi
minat dan tingkat efektivitas dan efisiensi dalam pembelajaran aksara Jawa.
Oleh karena itu, karyanya ini juga sudah diakui oleh Dirjen Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
Berkat Ajisaka dan Campursari
Kecintaan Muhlasin pada aksara dan bahasa Jawa
tak perlu diragukan lagi. Bukan sekadar pria penyuka traveling ini orang Jawa
asli. Lebih dari itu, sejak kecil Muhlasin adalah penggemar tembang-tembang
campursari. Dari sinilah ia selalu ingin mengetahui makna dan tulisan dari
lirik-lirik tembang campursari yang didengarnya.
“Koleksi lagu-lagu saya dari dulu sampai
sekarang ya lagu-lagu Jawa yang alirannya campursari, sampai sekarang nggak
berubah karena campursari itu juga fleksibel, dia bisa dibawakan dalam aliran
pop, dangdut, bahkan rock. Yang terpenting, saya suka campursari karena itu
adalah hal yang paling khas dari budaya di sekitar rumah saya, menenangkan, dan
membuat saya selalu dekat dengan kampung halaman di Ambulu,” tutur Muhlasin.
Menurut Muhlasin, tembang-tembang campursari
yang didengarnya saat kanak-kanak berisi nasihat, petuah, atau keteladan
tokoh-tokoh dalam kisah-kisah sastra Jawa. Nggak heran juga bila Muhlasin pun
akrab dengan beberapa karya sastra Jawa, mulai dari berbagai literatur Jawa
yang membahas tentang legenda Aji Saka, hingga beberapa kitab sastra Jawa yang
cukup terkenal seperti kitab Sutasoma, dan lain-lainnya, pernah ia baca.
“Bahan untuk membuat software aksara Jawa ini
pun saya dapatkan dari salah satu literatur Jawa kuno; kitab Pepak. Di
sana, aksara yang digunakan masih asli menggunakan aksara ha, na, ca, ra, ka.
Inilah yang kemudian saya modifikasi dalam software agar tampak lebih sederhana
dan mudah digunakan oleh pengguna atau yang mempelajari bahasa Jawa tingkat
pemula,” jelas putra pasangan (alm) Rubai dan Arumsih ini.
Bagi Muhlasin, karya sastra Jawa yang telah
diwariskan oleh para pendahulu sarat filosofi hidup yang masih sangat relevan
untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini. “Makanya, kisah-kisah ini bila
diceritakan kembali bisa jadi pelajaran moral dan budi pekerti yang sesuai
dengan nilai-nilai bangsa kita. Kisah-kisah ini mungkin juga bisa mencegah arus
budaya globalisasi yang datang dan mewarnai budaya bangsa kita.”
Mahasiswa Komputer yang Tak Memiliki Komputer
Percaya nggak, kalau Sobat Nida yang satu ini
memang punya semangat berprestasi yang luar biasa. Bahkan ketika ia berada
dalam kondisi yang serba terbatas. Di tahun-tahun awal kuliah, ia bahkan tak
memiliki komputer padahal ia mahasiswa ilmu komputer yang intensitas
berhubungan dengan teknologi ini sangatlah tinggi.
“Kesulitan, pasti. Tapi kan banyak jalan menuju
Roma. Dulu saya memang terkenal dengan julukan mahasiswa komputer yang nggak
penuya komputer. Terasa banget ngampus kayak nggak modal, hehehe,” kata
Muhlasin sambil tertawa.
Sadar bahwa ia bukanlah mahasiswa kaya, ia
justru mengkondisikan dirinya untuk senantiasa berkarya meski di tengah gurun
Sahara, di mana teknologi, sarana, dan prasarana sangat jauh untuk dijangkau.
Menurutnya, bila saat ini ciri manusia modern adalah tergantung pada teknologi
dan alat, maka ia sendiri berpendapat bahwa manusia modern adalah manusia yang
mampu menghasilkan alat di tengah keterbatasan diri dan lingnkungan.
“Jadi, nggak ada alasan nggak mau ikutan kompetisi
karena nggak punya uang untuk beli kertas dan tinta. Berhenti menulis karena
nggak punya komputer. Nggak bisa apa-apa karena nggak punya sarana pendukung.
Itu yang menurut saya keliru, karena alat dan teknologi hanyalah pendukung kita
berkarya, keputusan dan tekad berkarya itulah yang ada di tangan kita,” tandasnya.
Meski saat ini dirinya sudah memiliki komputer,
namun Muhlasin tak mau terlena. Ia justru menambah intensitas berkarya menjadi
lebih tinggi dari sebelumnya. Karena prestasi dan karya adalah caranya memaknai
hidup dan wujud kebersyukurannya pada Allah Swt atas nikmat yang telah
diberikan.
“Dengan berkarya, sesungguhnya kita telah
menorehkan sebuah usaha memberikan makna pada kehidupan kita. Soal hasil:
menang-kalah, itu nikmat lain yang manis juga bila kita nikmati prosesnya.
Jadi, bagi Sobat Nida dan pembaca Annida-Online.com, jangan pernah berhenti
berkarya dan teruslah berkarya!!!” pungkasnya sambil menitipkan pesan bagi
Sobat Nida. [nyimas]
Lampiran movie tidak tersedia.