Kitab Al Masalik Wal Mamalik: Karya Legendaris Sang Geografer Ulung

Diposting: Kamis, 22 Oktober 2009 / 11:01:15 | Oleh: annida | Kategori: Mozaik

Halaman ini diakses sebanyak: 397 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Annida-Online-Namanya mungkin tak semasyhur Al-Khawarizmi dan Ibnu Batutah, tapi popularitasnya layak disandingkan dengan kedua orang tersebut dalam bidang geografi. Khawarizmi, yang lebih dikenal sebagai matematikawan Muslim di abad pertengahan, pernah membuat peta globe pertama pada tahun 830 M dan menulis tentang morfologi bumi dalam Surah Al-Ardh sebagai karya tandingan atas teori Ptolemaeus tentang astrologi horoskop. Sedangkan Ibnu Batutah, penjelajah asal Maroko, ini dikisahkan sebagai pengembara Muslim yang kerap menuliskan berbagai kisah perjalanannya dalam beberapa karya, salah satu yang termasyhur adalah Rihlah.

Maka, sama halnya dengan dua orang tersebut, Mohammed Abul Kassem ibnu Hawqal, atau biasa dikenal dengan Ibnu Hawqal, juga dikenal sebagai geografer andal yang pernah dimiliki umat Muslim pada abad ke-10 M. Setidaknya, ketika menyebut kitab Al Masalik wal Mamalik, ingatan akan tertuju pada Ibnu Hawqal. Kitab Al Masalik wal Mamalik pada dasarnya adalah buku yang berisi beberapa revisi dari kitab Al Istakhri karya geografer Muslim lainnya; Muslim Al Istakhri, sehingga tak heran bila banyak orang yang kerap keliru menyebutkan Al Masalik wal Mamalik sebagai kitab Al Istakhri, padahal dua kitab tersebut adalah dua kitab yang berbeda, baik secara isi maupun penulisnya.

Meski membahas masalah yang sama, yaitu tentang catatan perjalanan penulisnya ke beberapa negara Islam pada saat itu, namun dapat dikatakan bahwa Al Masalik wal Mamalik lebih lengkap dibandingkan kitab Al Istakhri. Dalam Al Masalik wal Mamalik, Ibnu Hawqal meluruskan beberapa fakta tentang Byzantium yang telah masuk dalam daerah kekuasaan Islam, dan beberapa daerah seperti Andalusia (Spanyol), Afrika Utara, dan Sicilia, sebagai tiga daerah yang terpisah. Ibnu Hawqal bukan bukan sekadar menjelaskan posisi daerah-daerah yang telah menjadi bagian dari kekuasaan Islam tersebut, ia juga menggambarkan petanya dengan sangat akurat dalam kitab Al Masalik Wal Mamalik ini.

Dalam kitab Al Masalik wal Mamalik ini, penulisnya memaparkan tentang kebudayaan, kondisi, dan cara hidup masyarakat di beberapa daerah seperti di Romawi, Italia, Spanyol, dan lain-lain. Keindahan kota Palermo, ibukota Sicilia, Italia, pada saat Islam berjaya, dengan berdirinya 300 masjid di kota tersebut, dijelaskan dalam Al Masalik wal Mamalik, juga mengenai penggunaan 360 bahasa oleh masyarakat Kaukasus. Pengetahuan tentang tiga jenis bangsa Rusy (Rusia) dan Kyiv (Ukraina), juga dipaparkan dalam kitab ini. Beberapa daerah di dataran Rusia dikisahkan pernah ada dalam genggaman Islam beberapa abad lamanya.  Salah satu buktinya adalah dengan berdirinya kerajaan Khawarizmia, yang pernah juga menjadi pusat ilmu pengetahuan di Rusia di masa lalu.

Oleh karena banyak tempat yang digambarkan dengan cukup detil, lugas, namun tetap sederhana, sehingga buku ini juga dinilai sebagai buku yang cukup mudah dipahami dan dijadikan sebagai salah satu rujukan yang cukup penting dalam memahami sejarah perkembangan Islam di masa kejayaannya.  Bahkan beberapa karya dunia saat ini, seperti History of the Arabs karya Philip Khuri Hitti, penulis asal Inggris, dan Ensiklopedia Ukraina, menggunakan kitab Al Masalik wal Mamalik, sebagai rujukan utamanya. Satu-satunya kelemahan dan kekurangan dalam Al Masalik wal Mamalik ini adalah Ibnu Hawqal lupa membubuhkan jarak antara kota per kota, daerah per daerah, dan provinsi satu ke provinsi yang lainnya.

Di tangan Ibnu Hawqal, kitab Al Masalik wal Mamalik, bukan sekadar kitab geografi yang berisi kumpulan gambar peta-peta negara bagian kerajaan Islam, tapi kitab ini juga seakan-akan memotret banyak hal tentang kondisi masyarakat yang tinggal di daerah-daerah tersebut. Hal ini karena Ibnu Hawqal yakin bahwa manusia dan alamnya adalah satu, mereka saling terintegrasi, dan saling mewakili serta menggambarkan satu dengan yang lainnya. Ini pulalah yang ditulisnya di akhir bagian kitab Al Masalik wal Mamalik.  

Sayangnya, meski sang penulis banyak memaparkan catatan perjalanannya dari negara ke negara lain, Ibnu Hawqal tak banyak meninggalkan catatan tentang dirinya sendiri. Ia hanya dikenal sebagai salah satu geografer yang cekatan, teliti, dan artistik, dan karakteristiknya ini dapat dilihat dari kitab Al Masalik wal Mamalik yang ditulisnya. Ibnu Hawqal juga dikenal sebagai geografer asal Nisibis, sebuah kota di Provinsi Mardin, Turki, yang mendedikasikan hidupnya selama 30 tahun di bidang geografi. Ia telah menyinggahi ratusan negara di sekitar Asia, Afrika, hingga Eropa. Diduga, awalnya Ibnu Hawqal adalah salah seorang suadagar yang sering berkelana. Sumber lainnya juga menyebutkan bahwa Ibnu Hawqal adalah sastrawan yang pernah menulis beberapa karya. Kitab Al Masalik wal Mamalik disusunnya ketika ia berada di Spanyol saat mengoreksi kitab Istakhri karya Muslim al Istakhri. Meski ada banyak karya yang dihasilkannya, namun kitab Al Masalik wal Mamalik ini dianggap karyanya yang paling berpengaruh di dunia. [nyimas/berbagai sumber/foto: baitelhekmah]

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :