Dul



Minah berpikir untuk menyerah dan melanjutkan pencarian besok. Ia duduk tersungkur di bawah pohon. Pikirannya menerawang menuju masa 14 tahun silam. Minah terlahir sebagai anak yatim piatu. Tepat di usianya yang ke 18, Minah memutuskan menikah. Awal pernikahan yang membahagiakan. Suami yang mencintainya dan setahun kemudian, Dul lahir sebagai anak istimewa. Di tahun kedua pernikahan, setengah badan Minah tersiram air panas. Akibatnya, badan hingga kakinya meninggalkan bekas luka bakar yang tidak bisa hilang.

Kecelakaan itu membuat suaminya berubah. Suami yang dulu lembut menjadi kasar, yang dulu berbicara halus menjadi suka membentak, yang dulu sayang pada Dul menjadi tak peduli. Minah akhirnya sadar alasan pernikahannya bukan cinta, tetapi karena kecantikan. Pernikahan Minah berakhir dengan perceraian. Semenjak itu, perhatian Minah tercurah sepenuhnya untuk Dul, anak istimewanya. Dul adalah pengobat kesepiannya sekaligus alasan ia tetap bertahan hidup.

Aku tahu persis kejadian itu. Menyaksikan pernikahan Minah, awal pernikahan bahagianya, kelahiran Dul si anak istimewa, kecelakaan yang dialaminya, hingga suaminya memutuskan meninggalkan Minah dan Dul, walau dia tak sadar aku berada di sana.

Minah tersadar dari lamunannya. Ia kembali berlari. Pikiran ingin menyerah tak lagi digubrisnya. Satu per satu jalan yang belum ia lewati, disambangi. Kembali bertanya pada orang-orang di jalan tersebut. Sayang, hasilnya tetap nihil. Hingga matahari hampir meredupkan cahayanya, Dul tetap belum ditemukan. Tubuh Minah benar-benar lelah. Perutnya pun mulai memberontak. Ia hanya mengganjal perut dengan sarapan tadi pagi dan roti yang diberikan seorang pemilik warung yang miris melihat keadaannya siang tadi.

Hingga detik ini, aku masih bersamanya.

Minah tak tahu lagi harus mencari di mana. Ia berjalan tak tentu arah dengan pikiran bercabang. Sibuk memutuskan menyerah untuk hari ini dan melanjutkan besok atau tetap mencari hingga ketemu, keadaan Dul yang pasti baik-baik saja atau mungkin mengalami kecelakaan, dan bermacam-macam pikiran khawatir lainnya. Pikiran-pikiran itu merangsang air matanya kembali mengalir. Tangannya kembali sibuk menghapus mereka. Minah kembali tersungkur di pinggir jalan. Kakinya benar-benar lelah. Aku tetap berdiri di dekatnya, tidak lelah.

Tak lama setelah jatuh tersungkur, Minah tiba-tiba berdiri, kemudian berlari dengan kecepatan penuh. Kekuatan yang begitu tak terduga, mengingat hampir seharian ia berjalan. Sosok laki-laki di bawah pohon rindang seberang jalan itu alasannya. Minah segera memeluk laki-laki itu dengan erat. Tetapi yang dipeluk malah memberontak. Ia begitu marah hingga dengan liar memukul tak karuan. Laki-laki putih berkaos spiderman itu merasa kesenangannya terusik. Ia sedang sibuk memperhatikan barisan semut hitam di dekatnya.

Minah tak peduli dengan pukulan itu. Dia tetap memeluk dengan erat. “Akhirnya kamu ketemu, Dul… Akhirnya ketemu…,” air matanya mengalir makin deras. Kali ini tangannya tak sibuk menghapus mereka. Perasaan khawatir, takut, dan segala pikiran buruk pun hilang seketika. Berganti dengan perasaan bahagia. Aku pun menangis haru di dekat mereka. Menatap takzim pada Minah. Tersenyum mafhum pada Dul.

Akan kujelaskan satu per satu permasalahan ini. Dul, anak istimewa Minah, memang benar-benar isimewa. Sejak lahir, Dul mengalami gangguan pada jiwanya. Dunia Dul berbeda dengan dunia manusia normal. Ia hanya tahu sosok spiderman yang hebat, seringkali mengamuk tak jelas dan tak jarang berteriak-teriak sambil memukuli segala hal di dekatnya. Hingga kini, Dul sering buang air kecil/besar di sembarang tempat.

Aku memang mengikuti Minah dari pagi hingga sore, mencari Dul, mulai dari keliling kampung, mengitari pasar, mendatangi tempat berbahaya hingga menyusuri jalan. Aku juga ikut berlari, panik, dan merasa takut seperti Minah. Aku pun mengetahui masa lalunya, merasa tidak pernah bisa meninggalkan dia, dan selalu ada bersamanya.

Di samping itu, akulah pemberi semangat pada Minah untuk tidak menyerah saat kakinya lelah dan perutnya keroncongan. Akulah pemberi kekuatan pada Minah untuk berlari dengan kecepatan penuh dan kekuatan tak terduga saat menemukan Dul. Bahkan, akulah alasan Minah mencari Dul seharian. Aku membangun penjelasan tak terdefinisi mengapa Dul menjadi alasan bagi Minah untuk bertahan hidup dan menjadi obat kesepiannya. Karena secara logika, Dul tidak dapat diandalkan. Jangankan untuk membantunya berdagang, makan dengan tangan sendiri pun Dul masih kurang mampu.

Dan... aku adalah CINTA. Kata abstrak yang sudah digumamkan oleh bermilyar-milyar umat manusia, lima kata yang lahir dengan banyak rupa dan definisi, mempunyai eksistensi lebih lama dari usia alam semesta, dan pemberi warna bagi jagad raya.

***

1 Minah, daganganmu kenapa ditinggal?

2 Mbak Yem, ngeliat Dul ke sini?

3 Gak, Min.

4 Emang di rumah gak ada?

5 Sudah saya cari keliling kampong

6 Jangan nyerah. Coba cari ke sana.

Halaman: 1 | 2 |