Untitled Document

Kategori : Cerpen

Dibaca : 4544 Kali

Dul

Penulis: Herisma YantiAku bersama dengan seorang ibu berumur sekitar 32 tahun sekarang. Dengan daster batik lusuh, dia setengah berlari tak tentu arah. Aku juga ikut berlari. Matanya basah oleh air mata yang sejak tadi tak henti membanjiri muka kusutnya. Tangannya pun sibuk menghapus mereka agar tidak menghalangi pandangan. Lagi-lagi aku ikut menangis walau tak sibuk menghapusnya. Tiga jam lalu, sebuah kabar mengejutkan datang padanya.“Minah… gawat! Gawat ini, Minah!” Laki-laki hitam itu ngos-ngosan.Perempuan bernama Minah yang sedang membereskan dagangan segera menghentikan aktivitasnya. “Ada apa, Mang?” Mukanya sedikit panik.“Tadi gua nganterin sarapan yang elu suruh buat si Dul, tapi dia kagak ada di rumah. Gua kira dia maen di rumah Gugun. Gua samperin rumahnya, si Gugun lagi sekolah.” Laki-laki berlogat Betawi menjelaskan dengan tergesa.“Ooo… dikirain ada apa, Mang,” muka panik Minah berubah tenang. “Paling ada di rumah Nek Darsih. Sarapannya letakin di depan pintu aja, Mang Kadir.” Minah terkejut melihat tangan kanan Mang Kadir masih menenteng rantang 4 tingkat.“Elu lupa, ya. Nek Darsih lagi ngunjungin anaknya yang di Boyolali. Gua udah nyariin si Dul…,” kalimat Mang Kadir terputus. Minah segera berlari meninggalkan Mang Kadir dan dagangannya.Sedikit panik, Minah membuka rumahnya. Kosong. Dia kemudian berlari ke rumah Gugun. “Si Dul ndak ke sini, Minah,” ibu Gugun heran. Minah melanjutkan mencari ke rumah Nek Darsih. Terkunci, pertanda tak ada orang di rumah. Kepanikan Minah bertambah saat si Dul tetap tidak ditemukan di rumah teman-teman sepermainannya. Satu jam lebih perempuan muda itu berlari dari gang sempit ke gang sempit lain di sekitar rumahnya. Tetap saja si Dul tak ditemukan. Pikiran-pikiran buruk mulai berdatangan di kepala Minah.Aku juga dilanda kepanikan. Satu jam lebih pula aku menemaninya berlari keliling kampung.Pencariannya berlanjut ke pasar tempat ia meninggalkan dagangan. Dalam pikirannya, mungkin saja Dul mencari dia di sana. Aku sangsi dengan pikiran itu. Tapi aku memutuskan pergi.“Minah, daganganmu kok ditinggal? Ngopo?”1 Perempuan setengah baya bertanya heran.Bukannya menjawab, Minah malah balik bertanya. “Mbak Yem, nilok Dul merene?”2 Suaranya tersendat, sedu sedan akibat tangisannya sejak tadi.“Orak, Min.”3 Mbak Yem menggeleng. “Ning omah rak ana?”4Minah menggeleng. “Wes tak cari keliling kampung.”5 Minah kembali menangis.“Ojo nyerah. Jajal goleki neng kono!”6 Mbak Yem menatap prihatin.Minah menuruti perkataan Mbak Yem. Kakinya yang hanya bersendal jepit tipis menyusuri jalan-jalan becek pasar. Bertanya pada beberapa pedagang yang kenal Dul. Hasilnya nihil. Semua pedagang yang ditanya hanya menggeleng. Satu jam lebih Minah mengitari pasar. Lagi-lagi selama itu pula aku bersamanya walau tak perlu repot berbecek-becek.Saat ini Minah bimbang. Begitu takut ia mendatangi tempat di depannya. Dalam pikirannya, mungkin saja Dul tersesat hingga berada di tempat itu. Aku juga takut, lebih takut dari Minah. Sempat berpikir untuk meninggalkannya, tapi tak bisa.“Permisi, Bang. Maaf ganggu. Saya mau nanya. Apa abang…” kalimat Minah terputus disela oleh pria-pria di depannya.“Wah… tumben-tumbenan nih ada perempuan yang berani ke sini.” Pria berbadan paling besar nyengir. “Walaupun sedikit tua, tapi bolehlah...,” lanjutnya menggoda. Dua temannya yang lain bersiul riang.“Ada apa ribut-ribut?” Pria bertampang sangar dengan tindikan di telinga kanan dan kiri, dua tindikan di hidung, dan tiga di bibir, muncul tiba-tiba.“Maaf, Bang. Saya hanya mau nanya, apa Abang lihat anak laki-laki usia 13 tahun, kulitnya putih, tingginya kira-kira sebahu abang, dan berbaju spiderman di sekitar tempat ini?” Minah bertanya panik.“Elu gak tau ini tempat apa? Gak kenal kita siapa? Mana ada yang berani datang ke sekitar sini.” Pria di depannya menatap galak, tak suka dengan kedatangan orang tak dikenal. “Ini SARANG PREMAN bukan TEMPAT NYARI ORANG ILANG!” Lanjutnya berteriak lantang. “Jadi mending lu per…,” kalimatnya terputus. Perempuan yang ia ajak bicara lari ketakutan. Aku sangat takut melihat kenekatan Minah. Bernafas lega saat dia berlari ketakutan meninggalkan tempat itu.Minah kembali berlari, menyusuri jalanan. Bertanya pada setiap orang yang ia temui di jalan, di warteg, pada pemilik warung-warung pinggir jalan, hingga pengemis dan pengamen jalanan tak luput dari pertanyaannya. Hasilnya tetap nihil. Tak ada yang melihat anak usia 13 tahun, berkulit putih dan memakai baju spiderman. Pikiran buruk lagi-lagi berkeliaran di pikiran Minah. “Jangan-jangan Dul kecelakaan. Kalau Kecelakaannya parah bagimana?”Aku masih menemaninya walau tak ikut sibuk bertanya sekitar.Panas matahari kini tepat berada di atas kepala, begitu terik. Keringat Minah mulai mengucur, perutnya keroncongan, kakinya lelah setelah setengah hari berlari, mukanya sembap dan matanya bengkak akibat air mata yang tak terbendung. Hampir setengah hari Minah mencari Dul. Mulai dari keliling kampung, pasar, bertanya sepanjang jalanan yang dilewati, hingga mendatangi tempat berbahaya.Minah berpikir untuk menyerah dan melanjutkan pencarian besok. Ia duduk tersungkur di bawah pohon. Pikirannya menerawang menuju masa 14 tahun silam. Minah terlahir sebagai anak yatim piatu. Tepat di usianya yang ke 18, Minah memutuskan menikah. Awal pernikahan yang membahagiakan. Suami yang mencintainya dan setahun kemudian, Dul lahir sebagai anak istimewa. Di tahun kedua pernikahan, setengah badan Minah tersiram air panas. Akibatnya, badan hingga kakinya meninggalkan bekas luka bakar yang tidak bisa hilang.Kecelakaan itu membuat suaminya berubah. Suami yang dulu lembut menjadi kasar, yang dulu berbicara halus menjadi suka membentak, yang dulu sayang pada Dul menjadi tak peduli. Minah akhirnya sadar alasan pernikahannya bukan cinta, tetapi karena kecantikan. Pernikahan Minah berakhir dengan perceraian. Semenjak itu, perhatian Minah tercurah sepenuhnya untuk Dul, anak istimewanya. Dul adalah pengobat kesepiannya sekaligus alasan ia tetap bertahan hidup.Aku tahu persis kejadian itu. Menyaksikan pernikahan Minah, awal pernikahan bahagianya, kelahiran Dul si anak istimewa, kecelakaan yang dialaminya, hingga suaminya memutuskan meninggalkan Minah dan Dul, walau dia tak sadar aku berada di sana.Minah tersadar dari lamunannya. Ia kembali berlari. Pikiran ingin menyerah tak lagi digubrisnya. Satu per satu jalan yang belum ia lewati, disambangi. Kembali bertanya pada orang-orang di jalan tersebut. Sayang, hasilnya tetap nihil. Hingga matahari hampir meredupkan cahayanya, Dul tetap belum ditemukan. Tubuh Minah benar-benar lelah. Perutnya pun mulai memberontak. Ia hanya mengganjal perut dengan sarapan tadi pagi dan roti yang diberikan seorang pemilik warung yang miris melihat keadaannya siang tadi.Hingga detik ini, aku masih bersamanya.Minah tak tahu lagi harus mencari di mana. Ia berjalan tak tentu arah dengan pikiran bercabang. Sibuk memutuskan menyerah untuk hari ini dan melanjutkan besok atau tetap mencari hingga ketemu, keadaan Dul yang pasti baik-baik saja atau mungkin mengalami kecelakaan, dan bermacam-macam pikiran khawatir lainnya. Pikiran-pikiran itu merangsang air matanya kembali mengalir. Tangannya kembali sibuk menghapus mereka. Minah kembali tersungkur di pinggir jalan. Kakinya benar-benar lelah. Aku tetap berdiri di dekatnya, tidak lelah.Tak lama setelah jatuh tersungkur, Minah tiba-tiba berdiri, kemudian berlari dengan kecepatan penuh. Kekuatan yang begitu tak terduga, mengingat hampir seharian ia berjalan. Sosok laki-laki di bawah pohon rindang seberang jalan itu alasannya. Minah segera memeluk laki-laki itu dengan erat. Tetapi yang dipeluk malah memberontak. Ia begitu marah hingga dengan liar memukul tak karuan. Laki-laki putih berkaos spiderman itu merasa kesenangannya terusik. Ia sedang sibuk memperhatikan barisan semut hitam di dekatnya.Minah tak peduli dengan pukulan itu. Dia tetap memeluk dengan erat. “Akhirnya kamu ketemu, Dul… Akhirnya ketemu…,” air matanya mengalir makin deras. Kali ini tangannya tak sibuk menghapus mereka. Perasaan khawatir, takut, dan segala pikiran buruk pun hilang seketika. Berganti dengan perasaan bahagia. Aku pun menangis haru di dekat mereka. Menatap takzim pada Minah. Tersenyum mafhum pada Dul.Akan kujelaskan satu per satu permasalahan ini. Dul, anak istimewa Minah, memang benar-benar isimewa. Sejak lahir, Dul mengalami gangguan pada jiwanya. Dunia Dul berbeda dengan dunia manusia normal. Ia hanya tahu sosok spiderman yang hebat, seringkali mengamuk tak jelas dan tak jarang berteriak-teriak sambil memukuli segala hal di dekatnya. Hingga kini, Dul sering buang air kecil/besar di sembarang tempat.Aku memang mengikuti Minah dari pagi hingga sore, mencari Dul, mulai dari keliling kampung, mengitari pasar, mendatangi tempat berbahaya hingga menyusuri jalan. Aku juga ikut berlari, panik, dan merasa takut seperti Minah. Aku pun mengetahui masa lalunya, merasa tidak pernah bisa meninggalkan dia, dan selalu ada bersamanya.Di samping itu, akulah pemberi semangat pada Minah untuk tidak menyerah saat kakinya lelah dan perutnya keroncongan. Akulah pemberi kekuatan pada Minah untuk berlari dengan kecepatan penuh dan kekuatan tak terduga saat menemukan Dul. Bahkan, akulah alasan Minah mencari Dul seharian. Aku membangun penjelasan tak terdefinisi mengapa Dul menjadi alasan bagi Minah untuk bertahan hidup dan menjadi obat kesepiannya. Karena secara logika, Dul tidak dapat diandalkan. Jangankan untuk membantunya berdagang, makan dengan tangan sendiri pun Dul masih kurang mampu.Dan... aku adalah CINTA. Kata abstrak yang sudah digumamkan oleh bermilyar-milyar umat manusia, lima kata yang lahir dengan banyak rupa dan definisi, mempunyai eksistensi lebih lama dari usia alam semesta, dan pemberi warna bagi jagad raya.***1 Minah, daganganmu kenapa ditinggal?2 Mbak Yem, ngeliat Dul ke sini?3 Gak, Min.4 Emang di rumah gak ada?5 Sudah saya cari keliling kampong6 Jangan nyerah. Coba cari ke sana.


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document