Untitled Document

Kategori : Kisah Sejati

Dibaca : 3569 Kali

Keselek Duri

 Penulis: Fathu Rohmah

      Sudah jam 9 malam, aku yang sedang asyik nonton film action downloadan di laptop kaget oleh suara  teriakan pakdhe bercampur panik menyuruh sepupu perempuanku untuk menghubungi dokter THT. Sepupuku pun sibuk mengerjakan apa yang disuruh bapaknya, sambil sesekali keluar masuk kamar mencari list kontak dokter-dokter yang pernah menangani keluarga kami. Ada apa sih, malam-malam kok sibuk ngehubungin dokter THT, batinku. Aku pun langsung keluar kamar

      “ Nggak ada yang bisa dihubungi, Pak....lagian ini kan malam minggu, lagi ada acara keluarga dokternya.” kata sepupu perempuanku, entah memang benar atau ngasal biar pakdhe nggak teriak-teriak lagi.

      Mendengar jawaban sepupu perempuanku Pakdhe malah makin panik dan berteriak menyuruh sepupu laki-lakiku yang sedang asik dengan dunia mayanya untuk segera mencari dokter THT terdekat dari tempat tinggalku melalui internet. Sepupu laki-lakiku pun jadi ikut kesal, tapi mengerjakan juga apa yang disuruh padanya.

      “ Ada apa sih Mba?” kataku sedikit berbisik sama sepupu perempuanku yang masih sibuk menghubungi entah nomor dokter siapa. Dia cuma menunjuk ke arah Budhe yang terduduk di kamar dengan muka pucat pasi dan diam seprti menahan rasa sakit.

      “ Budhe kenapa?” tanyaku lagi

      “ K-e-s-e-l-e-k.” Kata sepupuku sambil mengeja. Seketika aku pingin ketawa, tapi jari telunjuk sepupuku membungkam mulutku dan menahanku untuk ketawa. Sssttttt....katanya.

      “ Udah pak, dibawa ke dokter umum saja...nggak ada dokter THT terdekat dari sini.” kata sepupuku dari kamarnya yang terbuka. Akhirnya Pakdhe pun membawa budhe ke dokter umum dengan sedikit menggerutu terlebih dahulu; menyalahkan anak-anak yang terlalu santai menganggap remeh soal k-e-s-e-l-e-k itu.

      Suara deruman mobil Pakdhe masih terdengar dari rumah, belum benar-benar keluar pintu gerbang tapi sepupu-sepupuku tertawa ngakak dan aku senyum-senyum menahan geli sendiri.

      “ Penyakit mama ada-ada saja.” kata sepupu laki-lakiku

      “ Paling sampai dokter cuma disenyumin aja.” timpal sepupu perempuanku

      Kini aku tahu persoalannya, ceritanya tadi pagi waktu sarapan, Budhe makan pepes ikan kembung pemberian dari siapa aku lupa sambil asyik bercerita ngalor ngidul tentang bagaimana ia dibiarkan kelaparan oleh besannya sendiri waktu berkunjung kesana, tentang kebanggannya pada calon mantu keduanya yang pinter memasak, tentang guru privat ngajinya yang suka datang terlambat ke rumah dan obrolan lain khas ibu-ibu. Padahal aku sendiri tidak terlalu mengindahkan cerita budhe, hanya sesekali aku menatap piring budhe ngeri sendiri karena ikan pepes itu kan banyak durinya, tapi budhe malah semakin lahap memakannya.

      Tidak selang lama setelah sarapan, Budhe mengeluhkan kalau ia keselek alias tersedak. Aku fikir cuma keselek duri biasa dan aku pun menyarankan budhe untuk minum yang banyak, pasti juga nanti hilang sendiri. Sampai sore aku tidak tahu kondisinya karena aku  ke kampus. Menurut sepupuku Budhe masih mengeluhkan sakit di tenggorokannya padahal sudah minum bergelas-gelas, bahkan sudah makan roti, pisang dan kue-kue lain sebagai penghantar agar duri yang nyantol di tenggorokan budhe ikut tertelan ke perut. Aku tidak tahu bagaimana rasa sakitnya Budhe karena aku tidak mengalaminya sendiri saat itu, tapi raut wajah Budhe yang pias dan pucat pasi cukup untuk menunjukan kalau ia merasa kesakitan dan sangat tidak nyaman dengan benda nyantol ditenggorokannya yang bernama duri tersebut. Bayangkan saja, Budhe harus menahan sakit dari pagi sampai jam 9 malam. Aku tahu ini bukan sekedar keselek biasa.

      Tiba-tiba aku teringat guru biologi SMAku. Cmiiw*), kalau nggak salah beliau pernah bilang seperti ini,” Faring (saluran kerongkongan) dan Laring (saluran tenggorokan) itu bermuara pada pangkal yang sama yaitu Trakea. Ia memiliki katup yang akan membuka dan menutup secara volunter atau bisa dibilang secara otomatis sebagai bentuk respon dari pemicu yang muncul dari mulut. Laring akan membuka saat kita bernafas dan pada saat itu Faring menutup, begitu juga sebaliknya saat kita menelan makanan maka Laring yang akan membuka dan Faring akan menutup. Ini yang menjadi alasan kenapa saat kita makan tidak boleh bicara. Karena kalau kita makan sambil berbicara maka sebagian makanan akan masuk ke laring dan sebagian udara juga akan masuk ke faring. Akibatnya nanti akan keselek.”

      Dari peristiwa yang dialami Budhe kini aku berhati-hati sekali kalau makan, karena Islam sendiri pun mengajarkan kita adab yang baik dalam makan dan minum. Aku pun jadi teringat omelan Eyang Putri di kampung setiap kali aku makan dengan mengecapkan lidah sampai terdengar orang lain.” Jangan sekali-kali kamu makan dengan berkecap, apalagi sampai bicara, Nduk... nggak baik!!!” mungkin nggak baik yang dimaksud nenek adalah demikian di atas seperti yang dialami budhe. Aku memang sering kesedak tapi nggak sampai di bawa ke dokter.

      Selang 45 menitan Pakdhe dan Budhe sudah kembali pulang. Anak-anak merubungi Budhe.

      “ Udah ma, gimana kata dokter? Di apain?” tanya sepupuku

      “ Durinya nggak bisa di ambil, cuma di kasih obat antibiotik. Kata Dokter suruh bikin kepalan nasi sebesar bakso lalu di telan, lama-lama durinya pasti ikut ketelan.” Jawab Pakdhe yang raut mukanya sudah mulai rilex

      “ Hhh...mamamu ini, penyakitnya ada-ada saja.” Imbuh Pakdhe sambil duduk di shofa, persis seperti yang dikatakan sepupu laki-lakiku tadi. Tiba-tiba Budhe yang tadi masuk kamar keluar lagi dan berkata begini

      “ Bulan kemarin yang pas Bapak ke dokter karena kapas Cotton Buds ketinggalan di lubang telinga, apa bukan penyakit ada-ada juga?” kata Budhe santai sambil melirik pakdhe. Sejenak kami terdiam semua. Mengingat-ingat peristiwa sebulan kemarin. Lalu pecahlah tawa kami, ngakak sampai sakit perut mengingat peristiwa yang dialami pakdhe sebulan sebelumnya. Pakdhe langsung masuk kamar tanpa komentar, mungkin malu.

      Kawan, kapas cotton buds (tanpa gagangnya) ketinggalan di lubang telinga ini serius. Hati-hati jangan terlalu keasyikan dan serius membersihkan lubang telinga, nanti ketinggalan karena selain susah ngambilnya juga akan mengganggu pendengaran kita. Ditambah harus ke dokter lagi seperti Pakdhe saya (*)

*Gambar: artiku.com


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document