Untitled Document

Kategori : Kisah Sejati

Dibaca : 10820 Kali

Maaf Kami Tidak Punya Obat Bius

Penulis: Syamsul Bahri

 

Empat Bulan yang lalu, tepatnya pada September 2011, putri pertama dari pasangan Andi dan Erna (Bukan nama Asli) lahir melalui operasi caesar di salah satu Rumah Sakit di NTB. Meski lahir prematur, alhamdulillah bayi yang diberi nama Sauzan Naziha, itu dapat bertahan hidup sampai sekarang. Tapi sayang, kelahiran bayi itu menyisakan trauma luar biasa pada sang Ibu yang telah melahirkan bayinya melalui operasi caesar tersebut.

Saya tidak pernah membayangkan melahirkan dalam kondisi seperti ini,” tutur Erna, mengawali kesaksiannya.

Ibu muda yang terbaring di atas ranjang dengan balutan kain putih itu, nampak masih lemah. Suaranya masih sayu dan hanya mengeluarkan beberapa patah kata, ketika istri saya menanyakan kondisinya. Maklum, saat itu ia masih dalam perawatan intensif pasca melahirkan tiga jam lalu, di ruang khusus ibu-ibu yang berada di lantai dasar rumah sakit.

Sekitar lima orang ibu-ibu terlihat sedang menjalani perwatan di ruangan itu. Semuanya melahirkan melalui operasi caesar. Malam itu juga. Bersamaan dengan istri sahabat saya: Andi.

Saya mencoba mengorek informasi dari Andi, sang bapak muda yang semalam suntuk menemani istrinya di ruang operasi. Saya tanyakan, “Sobat, gimana ceritanya istri Side bisa masuk rumah sakit?”

Dengan gurat wajah bahagia dan sedikit terharu, ia pandang istrinya. Kemudian ia menjawab pertanyaan saya dengan ceritanya, ”Awalnya kondisi istri saya baik-baik saja, normal seperti kebanyakan wanita hamil lainnya. Kebetulan saja kemarin kita ikut Hultah di Pancor (Hultah NWDI-red.). Dari sana sebetulnya istri saya sudah merasakan kecapekan. Mukanya pucat pasi, bibirnya mengering seperti sayur yang kekurangan air. Layu.

Keesokan harinya, kita menghadiri undangan keluarga yang selamatan Haji di Pancor juga. Istri Saya ikut membantu keluarga di sana. Mulai dari masak-masak, menyiapkan makanan untuk tamu, sampai mencuci peralatan yang sudah dipakai. Itu berlangsung selama dua hari penuh. Jadi sedikit sekali istirahatnya.

Semenjak itulah istri saya mengeluh sakit di bagian bawah perutnya. Sakit sekali, katanya. Hari itu juga saya langsung bawa istri untuk periksa ke dokter kandungan. Hasilnya, dokter mengatakan masih bisa diselamatkan. Asal istirahat total sambil perbanyak minum vitamin.

Beberapa hari setelah itu, sakitnya kambuh lagi. Kali ini lebih parah. Ada bercak darah yang keluar dari rahimnya. Istri Saya mengerang kesakitan. Kebetulan hari itu hari Ahad, jadi dokter tidak ada yang praktek, sehingga istri saya baru bisa diperiksa hari Senin-nya.

Saya bawa istri ke Puskesmas, ternyata petugas Puskesmas angkat tangan. Kami diminta untuk datang langsung ke rumah sakit. Kamipun datang ke rumah sakit Angkatan Darat, waktu itu. Sesampai di sana, ternyata dokter kandungannya sedang tidak berada di tempat, akhirnya kami disarankan ke RSU. Sampai di RSU, istri saya sudah nggak kuat. Ia sudah lemah sekali. Ia sudah tidak mampu berjalan sendiri.”

Di tengah-tengah cerita Andi itu, tiba-tiba salah seorang perawat perempuan masuk ruangan. Sambil mengetuk pintu, ia kemudian menyapa kami di sana, “Permisi, ini obatnya, Pak, nanti Ibunya dikasih minum setelah makan, ya,” katanya kepada Andi.

Andi hanya mengangguk sambil tersenyum kecut setelah menerima obat dari perawat itu. “Sudah boleh makan, ya, Bu?” Tanya Saya waktu itu.

Iya, sudah boleh, biar ibunya ada tenaga,” jawabnya singkat sambil berlalu meninggalkan kami. Padahal kami belum sempat mengucapkan terima kasih.

Istri saya hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban sang perawat. Seolah tidak percaya apa yang dikatakan si perawat.

Mbak Erna sudah buang angin?” Tanya istri saya kemudian. “Belum, Mbak,” jawabnya singkat.

Istri saya tambah bingung. Soalnya dulu ketika ia melahirkan melalui operasi caesar juga, ia tidak diperkenankan meneguk air setetes pun, apa lagi makan sebelum buang angin terlebih dahulu. Begitu ketat cara dokter yang menanganinya, meskipun saya tidak tahu persis alasannya seperti apa. Yang jelas kami menuruti apa saja yang disarankan dokter. Tapi sekarang, eh malah disuruh minum obat. Bagaimana nggak bingung?

Saya katakan pada istri, “Sayaaang, ingat...! Lain padang lain belalangnya. Lain rumah Ssakit lain perawatnya. Lain perawat lain ilmunya. Ok!”

Istri saya hanya mengangguk, seolah mengerti apa yang saya maksud. Ia tersenyum tipis, kemudian membisikkan sesuatu kepada Erna, “Ya sudah, diikuti saja saran petugasnya, Mbak. Semoga cepat sembuh.”

Aamiin…,” jawab kami serentak.

Tak lama kemudian, saya kembali meminta Andi untuk melanjutkan ceritanya yang sempat terputus tadi, “Ok, sekarang dilanjutin ceritanya, Sobat,” pinta saya pada Andi.

Kami masuk di RSU ini sekitar jam 11 siang. Istri Saya langsung dibawa ke ruang perawatan. Saya masih sibuk di ruang administrasi, mengurus berkas-berkas yang diperlukan nantinya. Maklum, kami masuk menggunakan JAMKESMAS, jadi agak lama ngurusnya. Setelah selesai semua berkas-berkas itu, saya langsung ke ruang perawatan tempat istri dirawat.

Beberapa saat kemudian, saya dipanggil oleh salah seorang petugas rumah sakit. Saya diminta ke ruang dokter. Saya pun kemudian berangkat menemui dokter dengan penuh kecemasan.

Setiba di ruang dokter, Saya diajak bicara oleh dokter mengenai kondisi terakhir istri saya dan bayi yang dikandungnya. Dokter mengatakan, kalau kondisi kandungan istri saya sangat lemah, kemungkinan untuk dipertahankan sampai sembilan bulan sangat kecil. Berhubung istri saya sudah hamil tujuh bulan, dokter menyarankan agar istri saya dioperasi saja. Untuk menyelamatkan istri dan bayi yang dikandungnya. Tanpa fikir panjang, saya menyanggupi saran dokter itu. Yang penting Istri dan anak saya bisa diselamatkan.

Keputusan untuk operasi sudah final. Istri saya juga mengiyakan saran dokter itu. Keluarga di rumah juga sudah saya hubungi untuk menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan selama berada di rumah sakit nantinya. Singkat cerita, sampailah kami di ruang operasi. Tadi malam itu, ternyata istri saya tidak sendiri. Ada sekitar lima orang ibu hamil yang akan dioperasi. Istri saya dapat giliran terakhir.

Operasi pertama berjalan lancar. Terdengar tangisan bayi meramaikan suasana di ruang operasi. Menjerit, berteriak sekeras-kerasnya. Sekencang-kencangnya. Begitu juga yang kedua, ketiga dan keempat, semuanya berjalan lancar. Tidak ada hambatan berarti. Semuanya baik-baik saja.

Tibalah giliran istri saya. Beberapa petugas berpakaian seragam biru segera menjalankan tugasnya masing-masing. Operasi itu dipimpin oleh salah seorang dokter senior. Tapi sayang, saya tidak bisa mengenalinya dengan jelas, karena semua petugas yang ada di sana mengenakan masker penutup wajah.

Ada yang aneh ketika operasi berlangsung. Istri saya berteriak-teriak kesakitan. Menjerit sekeras-kerasnya. Minta tolong. Bertakbir, bertahlil, sesekali memanggil nama saya. Sedangkan saya yang sedari tadi menemani istri, hanya diizinkan untuk duduk di kursi plastik di pojok ruangan itu. Tidak boleh ada yang masuk di ruang kerja, kecuali petugas.

Saat itulah, doa terus saya panjatkan kepada Sang Penguasa Hidup. Saya sampaikan segala harapan dan permintaan agar istri dan bayi saya diselamatkan. Sementara itu, di dalam ruang operasi, istri saya terus menjerit kesakitan. Suasana yang sangat berbeda dari sebelumnya, malam itu. Semula hanya tangis bayi yang terdengar meramaikan suasana. Tapi kali ini berbeda. Istri saya yang berteriak. Teriakannya sangat kencang, kencang sekali. Sampai saya terperanjat di dalam harap dan cemas. Apa yang telah terjadi? Gumam saya kala itu.

Saya beranikan diri untuk melihat istri yang kesakitan. Tak tahan, saya bertanya kepada dokter, “Apa yang terjadi dengan istri saya, Dokter? Tolong di, Dokter?!”

Dokter itu menjawab, “Tenang, Pak, tenang dulu. Kami akan lakukan yang terbaik untuk istri Bapak. Beri kami kesempatan untuk menangani istri Bapak!”

Tapi apa yang terjadi dengan istri saya, Dokter? Kenapa dia berteriak-teriak gitu? Sedangkan yang lain tadi tidak, Dokteeeerrrr?”

Begini, Pak, tadi sebelum operasi, istri Bapak sudah kami suntik bius agar tidak sakit. Tapi sayang, biusnya bekerja cuma sebentar. Dan sekarang kami tidak punya stok bius lagi. Kami kehabisan, mohon maaf, Pak. Terpaksa kami lakukan ini demi keselamatan istri dan anak Bapak. Jadi mohon dimengerti. Ini darurat. Tapi yakinlah, Pak, Istri dan anak Bapak akan baik-baik saja. Sekarang Bapak berdoa, doakan semoga semuanya baik-baik saja!”

Tangis Saya pecah di ruangan operasi itu. Saya berusaha menahan tangis sekuat-kuatnya, agar tidak terdengar oleh istri Saya. Tidak pernah terbayangkan akan seperti ini kejadiannya. Saya juga tidak sanggup membayangkan, bagaimana sakit yang dirasakan istri saya. Mulai sejak pisau bedah itu mendarat di rahimnya, sampai proses penjahitannya nanti. Laa haula walaa quwwata illa billahi.

Ya Allah, selamatkan istri hamba, selamatkan anak hamba. Hamba berjanji untuk menyayangi mereka dengan sepenuh hati. Hamba berjanji akan mendidik mereka dengan agama-Mu, ya Rabb. Engkaulah yang Menciptkan Mereka, Engkaulah yang Meniupkan kepada mereka ruh, Engkaulah yang Memberikan mereka kekuatan, maka tunjukkan Kuasa-Mu, ya Rabb. Kami sangat membutuhkannya saat ini, malam ini, di tempat ini juga. Hanya kepada-Mu kami menyerahkan semua urusan.”

Tik...! Setetes air bening menganak sungai di pipi. Air mata saya tumpah. Nafas saya tersengal-sengal. Mendengar cerita sahabat saya ini, saya tidak mampu berkata-kata lagi. Mulut saya terkunci, lidahpun kaku. Saya terus membatin, perasaan saya memberontak. Emosipun meledak. Pantaslah Allah meletakkan surga di bawah telapak kaki Ibu. Pantaslah Allah mengharamkan kata-kata kasar untuk didengar oleh Ibu. Pantaslah durhaka kepada mereka ditempatkan di urutan nomor dua di antara dosa-dosa besar setelah syirik. Pantaslah Rasulullah menyuruh berbakti tiga kali lebih utama ketimbang Ayah. Pantaslah doa-doa mereka dikabulkan oleh Allah. Pantaslah, Pantaslah…!

Sampai di sini, Erna terbangun dari tidurnya. Kedua bola matanya mencari-cari sumber suara yang sedari tadi menceritakan apa yang dialaminya. Ia mencari Andi juga bayi kecilnya. Andi mencoba mendekat. Lebih dekat ke tempat pembaringan istrinya.

Erna kemudian tersenyum ketika menyadari ada istri saya di sampingnya. Senyum khas seorang sahabat yang cukup lama tidak bertemu lantaran tempat tinggal yang berbeda. Saya dan istri tinggal di Gomong, Mataram. Sedangkan Erna tinggal di Gunung Sari, Lombok Barat. Kadang juga di Dasan Lekong, Lombok Timur, Rumah mertuanya. Jarak tempat tinggal kami dengan tempat tinggal Erna cukup jauh. Butuh waktu dua jam perjalanan menggunakan sepeda motor untuk sampai ke tujuan.

Di dalam pembaringannya itu, tanpa diminta, Erna bercerita kepada istri saya.

Mbak, dulu pernah di-caesar, kan?” Tanya Erna pada istri saya

Iya, sama seperti yang Erna alami saat ini,” jawab istri saya

Sakit nggak, Mbak, di-caesar?” Tanya Erna lagi.

Saya dulu sih nggak terasa, cuman pas kontraksinya dulu itu saja yang sakitnya luar biasa. Tapi pas di perasi, saya sudah tidak sadarkan diri, jadi nggak terasa sakitnya.”

Kalau saya beda, Mbak, sejak kontraksi sampai selesai operasi sakitnya luar biasa. Saya dioperasi dalam kondisi sadar, tidak seperti Mbak yang kehilanagn kesadaran. Saya tahu kok, kapan saya mulai disuntik, kemudian kapan mulai dibedah. Sampai-sampai pisau bedah yang digunakan oleh dokter itu masih terlihat jelas dalam pengelihatan saya.”

Ooo... begitu ya, Mbak?” Timpal istriku simpatik.

Pas dibedah itu, sakitnya minta ampun. Saya sampai teriak-teriak minta tolong, nggak ada yang mau nolongin. Saya berontak, nggak berani. Dokter bilang nggak pakai bius waktu itu, karena stok bius sudah habis, makanya sakitnya luar biasa, Mbak.”

Jadi, pas dibedah juga Erna dalam kondisi sadar?”

Kalau nggak sadar, nggak mungkin saya cerita seperti ini, Mbak. Karena saya sadar makanya saya ingin cerita. Saya ingin berbagi apa yang saya alami tadi malam. Nggak mungkin saya cepat-cepat ngarang cerita dalam kondisi saya yang lemah saat ini,” jawab Erna, meyakinkan kami. Kali ini suaranya agak serak, pelan dan bergetar.

Trus…?”

Setelah dibedah, saya lihat sendiri bayi saya diangkat oleh salah seorang dokter dari rahim saya yang menganga. Saya waktu itu lemah sekali, sehingga tak mampu berkata-kata lagi. Saya hanya berteriak kesakitan. Menjerit, menahan sakit yang tak tertahankan. Hingga perut ini dijahit, saya masih merasakan tusukan-tusukan jarum yang melilit di perut. Berkali-kali. Sampai perut yang dibedah itu benar-benar menyatu kembali. Sekali lagi semua itu berlangsung dalam kondisi tanpa dibius. Dan saya masih dalam kondisi sadar. Coba bayangkan, bagaimana sakitnya, Mbak?!”

Tak tahan mendengar cerita Erna, istri saya kemudian memeluk erat tubuh Erna yang lemah itu. Ia bisikkan kata-kata penyemangat agar ia tetap sabar menjalani semua ini.

Cukup, cukup ceritanya, Er, saya sudah mengerti perasaan Erna. Yang sabar ya, inilah ujian dari Allah, agar tetap bersabar dan bersyukur,” bisiknya di telinga kiri sahabatnya itu. “Bersabarlah atas apa yang Erna alami saat ini, jangan lupa bersyukur. Allah masih memberi Erna kekuatan, sehingga bisa seperti sekarang. Erna sekarang sudah punya bayi. Erna sekarang sudah jadi Ibu. Erna harus kuat, kalau tidak, siapa yang akan merawat bayi Erna? Si kecil sekarang butuh Erna, bukan siapa-siapa. Jadi Erna harus tetap kuat. Berdoalah kepada Allah, semoga lekas sembuh sehingga Erna bisa merawat dengan baik dedek bayinya. Sabar, ya?”

Sekali lagi istri saya memeluk erat tubuh Erna. Dua orang sahabat ini larut dalam susana yang mengharu biru itu.

Sungguh ironi memang, di tengah program penekanan Angka Kematian Ibu bayi menuju nol digalakkan oleh pemerintah, ternyata pada tahap pelaksanaannya jauh dari harapan. Ibu mana yang tidak trauma jika penanganannya seperti Erna?

Masyarakat sebetulnya tidak berharap terlalu banyak kepada pemerintah dalam masalah ini. Mereka cuma menuntut agar diberikan pelayanan yang terbaik ketika suatu saat membutuhkan pelayanan. Terkadang penyakit tidak melulu dapat disembuhkan karena mahalnya obat yang digunakan, tetapi lebih kepada pelayanan yang diberikan. Terkadang penyakit itu tidak bisa disembuhkan dengan lengkapnya fasilitas kesehatan yang disediakan, tetapi justru kesembuhan itu datang dari ramahnya pelayanan dari petugas kesehatan.

Tentu tulisan ini dirajut bukan dari cerita murahan. Ini adalah bagian dari potongan sejarah hidup seorang ibu, yang benar-benar terjadi. Cerita ini juga terrangkai bukan untuk mencemarkan nama baik siapa-siapa, apa lagi sampai menjelek-jelekan salah satu instansi pemerintah. Bukan, bukan itu maksudnya. Tapi ini hanyalah sebentuk kisah, siapa tahu ada hikmah di baliknya. Siapa tahu ada orang-orang yang dapat mengambil pelajaran darinya. Mungkin saya, atau kamu, atau barangkali pemimpin kita, atau siapa sajalah. Agar manusia harus diperlakukan layaknya manusia. Agar rakyat kurang mampu tak tertutup haknya untuk mendapatkan pelayanan maksimal dari petugas kesehatan kita. Agar tembok tebal yang memisahkan si kaya dan si miskin tak semakin tebal. Agar ibu-ibu Indonesia mendapatkan penghargaan yang tinggi dari semua pihak atas pengorbanannya melahirkan anak-anak kita. Itu saja. Semoga bermanfaat.

 


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document