KORBAN DENGKI

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Yanti Sipayung

 

Dari balik tirai jendela kaca, mata Mila tak berkedip memantau beberapa orang di depan rumahnya yang tengah bersiap-siap hendak pergi keluar rumah. Wanita bersama kedua anaknya yang masih balita itu telah berpakaian rapi. Sang Ibu telah mengeluarkan motor matic dari kandangnya, sementara kedua anaknya terlihat mengikuti arahan Ibu mereka agar bersiap menunggu di halaman rumah. Tidak lama kemudian, motor yang membawa keluarga kecil itu menderu dan melaju, lewat tepat di depan rumah Mila.

“Hampir tiap hari jalan-jalan. Nggak tanggal muda, nggak tanggal tua, selalu aja bisa keluar rumah. Emang kerja apa sih, gajinya seberapa? Kalau dia punya gaji banyak, kenapa masih juga ngontrak rumah,” Mila menggumam.

“Ibu kok ngomong sendiri?”

Mila terkejut ketika menyadari bahwa rangkaian semua aksinya tadi tertangkap Raji, anaknya yang baru berumur lima tahun. Ia tidak tahu bahwa Raji sedari tadi telah bangun dari tidur siangnya.

“Nggak. Nggak apa-apa kok.”

Raji tak berkomentar. Kaki kecilnya melangkah menuju pintu. Niatnya, ia akan kembali melanjutkan acara bermainnya yang tadi terputus dengan Habil, tetangga sebelah rumahnya.

Raji menolehkan kepala dan mengamati rumah yang berdinding satu dengan rumahnya itu. Dilihatnya gerbangnya tertutup dan tergembok rapi. Sepi. Habil masih tidurkah?

“Mau kemana?” Tanya Mila kepada anaknya. “Habil pergi. Baru aja.” Lanjut Mila membaca niat di hati anaknya.

“Kemana, Bu?”

“Ya nggak tau.”

 Mendengar berita kepergian temannya Raji duduk lesu memandangi sekelilingnya.

“Habil enak ya, Bu, sering jalan-jalan sama Ibunya. Nggak kayak kita, bisa jalan-jalan nungguin Bapak ada uang, nunggu Bapak ada waktu.” Anak yang masih bersekolah di TK itu mengeluh.

“Eh, sudah, ayo mandi. Jangan suka ngeluh-ngeluh gitu. Masih kecil sudah banyak keluhan.”

Raji tetap pada posisinya semula. Duduk mengesot di lantai teras seolah tak mendengar perintah Ibunya.

“Raji, ayo mandi. Ini sudah sore. Sebentar lagi Ayah pulang.” Kembali Mila memerintahkan anaknya.

“Kalau Ayah udah pulang, ajak Ayah jalan-jalan ya, Bu.”

Mila tak menyahuti anaknya. Segera ia menuntun buah hatinya yang masih lesu itu ke kamar mandi.

***

“Kita ke tempat Kak Rini ya, Yah.”

Mila merengek ketika mengantarkan secangkir air putih di depan suaminya.

“Capek.  Tunggu nanti kalau Ayah libur aja.”

“Si Raji ngajak jalan-jalan, tuh.”

Irman tak menggubris alasan istrinya. Tubuhnya ia selonjorkan di kursi, ia pejamkan mata demi mengusir penat usai melaksanakan tugasnya mencari nafkah seharian tadi.

“Ya, Yah…” Mila menggoncang tubuh suaminya.

“Besok-besok ajalah. Ayah capek.” Irman tetap mengatupkan matanya.

Mila memanjangkan bibirnya. Keinginannya untuk keluar tak dimakbulkan sang suami. Padahal rumah Kak Rini, tetangganya dulu tak begitu jauh jaraknya dari tempat tinggal mereka. Bertandangpun tak perlu lama. Yang penting orang-orang melihat, dia dan keluarganya bisa keluar rumah. Jadi, bukan hanya tetangga sebelah rumahnya itu saja yang bisa keluar membawa anak-anaknya hampir setiap hari, dan begitu pulang membawa plastik-plastik berisi barang-barang belanjaan.

“Aku tak boleh kalah,” gumam Mila dalam hati.

Diliriknya suaminya yang tertidur kelelahan. Wajahnya yang ditutupi awan kekesalan tiba-tiba berubah cerah.

“Yah, dapat uang masuk, ya?” Mila mengambil uang berwarna hijau dari saku kemeja suaminya. “Untuk beli susu Raji, ya.”

“Mmmhhh….” Jawab Irman tanpa membuka matanya.

Segera Mila beranjak meninggalkan suaminya yang masih terlelap. Ia ambil kunci kontak sepeda motor dan memanggil anak semata wayangnya. Sebelum memutar gas matanya berkeliling seperti mencari sesuatu.

“Ayo donk, Bu. Katanya mau ke swalayan.” Raji keheranan melihat Ibunya belum juga menjalankan roda sepeda motor.

“Sebentar.” Jawabnya singkat.

Sekali lagi pandangannya ia putar.

“Sore begini biasanya orang ramai. Kenapa hari ini tak ada yang keluar rumah,” gumamnya.

“Mau kemana, Mil?” Tata, tetangga Mila berseru.

“Eh, mau ke swalayan, Kak. Beli susu Raji.”

Mila tersenyum dan motor maticnya ia lajukan melewati rumah Tata.

“Mari, Kak.”

“Ya, hati-hati, Mil.”

Mila begitu bangga. Cukuplah, fikirnya. Walaupun hanya satu diantara puluhan tetangganya yang tahu ia akan pergi ke swalayan. Paling tidak, Tata nanti bisa bercerita kepada yang lainnya, bahwa Mila pergi membawa anaknya ke swalayan membeli susu.

“Kok, sampah-sampah dibawain, Bu?”

Raji keheranan melihat Ibunya mengutipi kertas-kertas karton bekas kemasan biskuit.

“Ah, sudah jangan banyak tanya.”

 Mila memasukkan kertas-kertas itu ke dalam plastik bertuliskan nama swalayan tempatnya membeli susu.

“Orang tidak akan tahu bahwa aku hanya membeli susu kemasan terkecil, 150 gram. Yang mereka tahu aku pulang dari swalayan dengan membawa plastik penuh belanjaan,” Mila berkata-kata dalam hati.

***

“Heran, ya. Tetangga baru kita itu.”

Di warung Wak Timik yang menjual bahan-bahan mentah kebutuhan dapur yang selalu diserbu Ibu-Ibu, Mila berniat mengeluarkan unek-uneknya.

“Siapa?” Bu Salma bertanya sembari terus sibuk memilah apa yang akan dibeli bersama Ibu-ibu lainnya.

“Tetangga sebelah rumahku. Yang jarang gabung sama kita.”

“Manda? Emangnya kenapa?” Bu Asni menimpali.

“Lihat deh, Bu, Kak.” Mila memandangi Ibu-Ibu itu bergantian. “Hampir setiap hari dia keluar. Kadang sama suami, kadang dia sendiri yang bawa anak-anaknya.”

“Apa ada yang salah?” Tata mengernyitkan alisnya. “Toh, kita nggak ada dirugikan kalaupun dia pergi-pergi.”

“Lha, kamu juga kan suka keluar rumah, pergi-pergi sama suami, kadang juga naik motor sendiri. Terus herannya kamu itu dimana?” Bu Asni yang paling tua diantara mereka mendekati Mila.

“Tiap keluar rumah, pulangnya selalu aja bawa barang-barang belanjaan. Apa itu nggak mengherankan namanya?”

“Wong uangnya banyak.” Wak Timik disela-sela kesibukannya melayani pembeli turut bergabung.

“Kalau uangnya banyak, mana mungkin masih ngontrak rumah kayak kami.” Mila menjawab ketus. “Paling nggak dua hari sekali pasti keluar. Pakaiannya rapi, layaknya orang mau ke mall. Emang berapa sih gaji bulanannya. Suaminya juga bukan pejabat. Cuma pedagang canvass yang masukin barang ke toko-toko. Kan , patut dipertanyakan kenapa orang bisa seroyal itu, bisa glamour kayak selebritis papan atas.”

Ibu-Ibu yang menunaikan tugas di warung itu sama berfikir. Sedetik kemudian seorang diantara mereka berkata, “iya juga, ya.”

“Tapi buat apa difikirin, toh dia juga nggak nyusahin kita. Dia nggak pernah buat repot kita. Malah dia sering kirimin makanan ke kita tetangga-tetangganya. Ngapain juga kita kurang kerjaan, sewot ngegosipin Manda.” Bu Asni meninggalkan komentar sebelum ia berangkat dari warung itu membawa barang belanjaannya.

Mila mengkerutkan keningnya. Kesal ia karena ada yang tak menerima pendapatnya.

***

Hari mulai remang. Sebentar lagi azan maghrib akan berkumandang. Mila masih terus mematut diri di bersandar di pintu gerbangnya yang tertutup rapat. Sejak pukul lima sore tadi, usai mandi dan memandikan anaknya, Mila telah bersiaga disana. Bukan hanya hari ini, sudah seminggu ini Mila berkutat pada kebiasaan barunya itu. Matanya terus mengintai sosok Manda, tetangga barunya yang cukup membuatnya repot karena menambahi tugas dan fikirannya sehari-hari.

Terlihat seringai dari bibirnya. Ragam tanya jawab berseliweran di hati. Mungkin uangnya sudah habis, sehingga Manda tak lagi sanggup menjalankan kebiasaannya keluar rumah. Sudah seminggu ini dia lebih banyak bermain bersama dua anak balitanya di halaman rumah. Kadang ia sengaja bertandang ke rumah tetangganya dan bercakap-cakap entah menceritakan apa saja.

“Apa kamu tidak capek terus dibebani rasa iri dengki dengan Kak Manda?” Irman menegur istrinya.

Mila menolehkan kepalanya kepada Irman. “Aku curiga, Yah.”

“Itu karena kamu tak menerima kelebihannya dan tak terima kekuranganmu.”

“Kok sewot gitu sih, Yah?”

“Kamu yang terlalu sewot melihat Kak Manda.”

Mila menghempaskan tubuhnya di kursi. Marah ia dengan keberpihakan suaminya sendiri kepada tetangganya itu.

“Dia memang lebih dari kamu. Walau kamu sarjana dan dia cuma berijazah D-III, tapi dia lebih beruntung dari pada kamu. Dia pekerja kantoran, sementara kamu hanyalah ibu rumah tangga. Aku cuma buruh pabrik yang sering dikasih tip dari atasan-atasan, sedang suaminya punya usaha sendiri, keuangan mereka jauh lebih baik dari kita. Kamu harus sadar, Mil. Kita bukan apa-apa dibanding mereka.”

Mila terdiam. Bukan karena ia menerima ucapan suaminya. Tapi kemarahan semakin menyembul di hatinya.

***

“Assalamu ‘alaikum

Terdengar salam diucapkan dari luar.

“Wa’alaikum salam.” Irman menjawab.

“ Ada syukuran nih, Bang.” Surya menyerahkan dua bungkusan kepada Irman.

“Oh, ya? Syukuran apa?”

“Istri saya naik pangkat. Sekarang jadi kepala keuangan. Selama ini kan jadi bawahan, bagian pengadaan barang. Makanya dia selalu sibuk mempersiapkan alat dan perlengkapan yang dibutuhkan di kantor. Kadang hari ini belanja, besok belanja lagi. Tapi alhamdulillah, sejak minggu lalu dia dipromosikan jadi kepala keuangan di perusahaannya. Dan ini syukuran kecil-kecilan, bagi-bagi makanan untuk tetangga teman-teman dan saudara.” Surya, suami Manda menjelaskan perihal bungkusan yang diserahkannya malam itu.

Segera setelah Surya membalikkan badannya, Irman membuka bungkusan mewah berisi macam hidangan.

Mila menarik nafas panjang. Wajahnya masih kusut dipenuhi kekesalan.

“Nasinya enak nih, Mil. Kamu nggak ikutan makan?”

Irman menyuap nasi dengan aneka lauk itu sangat lahap.

“Mantap betul. Pasti cateringnya mahal.”

Mila menelan ludahnya. Ingin rasanya ia turut membantu membantai hidangan yang menggugah selera itu. Tapi kata gengsi masih menguasai hatinya.

“Kapan ya kita bisa beli hidangan elit seperti ini.” Irman kembali berceloteh. “Tapi, jangankan hidangan elit, makan yang biasa aja sepertinya terancam. Kenapa, karena istriku menjadi korban dengki hati. Melihat tetangga belanja ini belanja itu, dia ikut-ikutan, bahkan berusaha mengungguli. Padahal si kawan keluar bukan berfoya-foya menghabiskan uang seperti prasangkanya, tapi untuk menjalankan apa yang menjadi tugasnya, membelanjakan semua perlengkapan kantor.”

Mila tertunduk lesu. Dipandanginya selembar uang berwarna biru bertuliskan lima puluh ribu rupiah. Hanya itulah sesatu-satunya lembaran berharga yang disimpannya. Padahal jarak hari ini ke tanggal 1 bulan depan, masih lama. Itu berarti, dia harus kembali berhutang kepada Wak Timik, karena uang biru itu tak mungkin cukup untuk memenuhii kebutuhan keluarga hingga beberapa hari kedepan.

“Bu, kita nggak jalan-jalan?” Raji membangunkan Ibunya dari kebengongan.

Mila tak mampu menjawab. Sudut matanya mulai basah, menyesali kesibukannya berbelanja selama beberapa hari ini.  (SELESAI. Nantikan cerpen selanjutnya pada senin, 7 Maret 2011)

 

 

Medan , Januari 2011

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...