Taman Kyai Langgeng: Rekreasi Berbasis Literasi
Diposting: Senin, 02 Nopember 2009 / 14:17:58 | Oleh: annida | Kategori: Jejak Pustaka
Halaman ini diakses sebanyak: 1360 kali
Rating: 0
Siapa bilang rekreasi literasi nggak bisa asyik dan menyenangkan? Cobalah berkunjung ke Desa Buku Taman Kyai Langgeng di Magelang, Jawa Tengah. Selain wisata buku, tempat ini juga menawarkan rekreasi yang bisa dinikmati oleh semua kalangan dan cocok bagi keluarga yang ingin menghabiskan waktu berlibur bersama. Tapi, apa kabarnya buku-buku di sana ya? Yuk, intip liputannya!
Objek Wisata Keluarga Paling Komplet
Objek wisata Taman Kyai Langgeng sebenarnya sudah ada dan berdiri sejak tahun 1987. Dengan menyediakan sekitar 17 fasilitas wisata, seperti kolam renang dan pemandian air panas, hutan wisata, sungai (arung jeram), taman umum, taman bermain anak, kolam renang, taman flora dan fauna, hotel dan sejenis penginapan lainnya, wisata kuliner, dan lain-lain, membuat Taman Kyai Langgeng cukup terkenal sebagai objek wisata keluarga yang punya sarana terkomplit di Magelang, Jawa Tengah.
Lokasinya yang strategis antara kota Semarang dan Yogyakarta, membuat tempat ini sangat mudah diakses, baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan angkutan umum. Bukan itu saja, biaya yang harus dikeluarkan untuk memasuki areal wisata ini relatif murah. Hanya dengan uang Rp. 5.000, wisatawan dewasa bisa menikmati panorama alam Magelang lewat keindahan Taman Kyai Langgeng yang didominasi oleh rerimbunan pepohonan dan dilintasi oleh sungai Progo yang bersih. Kalaupun ada biaya tambahan, biasanya itu dikenakan pada sarana-sarana tertentu seperti arung jeram, sentra permainan anak, dan pemandian atau kolam renang umum. Selebihnya, bila pengunjung ingin berkeliling di taman satwa, sungai Progo, atau hanya berolahraga, duduk-duduk di gazebo yang telah tersedia di taman yang teduh untuk mencari inspirasi, nggak perlu membayar biaya tambahan lagi. Hemat, kan?
Tapi sedikit catatan, kalau ingin wisata keluarga tetap menyenangkan dan tidak terganggu dengan kebisingan lalu-lalang penggunjung yang lain, mengunjungi Taman Kyai Langgeng di hari-hari biasa (Senin-Jumat), bisa jadi solusinya. Akhir pekan dan hari-hari libur biasanya tempat ini dipadati wisatawan lokal dan mancanegara dari berbagai daerah. Bahkan biasanya pengunjung yang datang di hari-hari ini sifatnya rombongan atau dengan jumlah pengunjung yang cukup besar.
Nggak jarang, Taman Kyai Langgeng di hari-hari padat pengunjung jadi terdengar lebih bising, dan tampak lebih kotor karena sampah yang berserakan di mana-mana. Jadi kurang asyik, memang! Makanya, kalau kapan-kapan ada kesempatan bertamasya ke objek wisata Taman Kyai Langgeng ini, jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan bersama ya, jaga juga kenyamanan orang lain.
Sejarah Taman Kyai Langgeng
Bagi Sobat Nida yang ingin tahu sejarah Taman Kyai Langgeng ini, Sobat Nida bisa loh berkunjung ke Pusat Informasi yang tersedia di dalamnya. Sekadar informasi, nama Kyai Langgeng yang digunakan untuk objek wisata ini diambil dari nama pejuang dan pengikut setia Pangeran Diponegoro; Kyai Langgeng. Kyai Langgeng dikenal loyal pada Pangeran Diponegoro saat melawan penjajah dalam perang Diponegoro yang berlangsung tahun 1825-1830. Oleh karena makam Kyai Langgeng berada di dalam areal taman, dan saat pembangunan objel wisata ini banyak warga setempat yang berkeberatan makam pejuang ini dipindahkan, maka sebagai penghormatan baginya, makamnya tetap dipertahankan dan namanya digunakan untuk nama objek wisata yang satu ini.
Sayangnya, saat ini makam Kyai Langgeng yang cukup terawat justru dimanfaatkan pengunjung untuk objek ziarah yang sarat dengan nuansa mistik dan kurafat. Padahal, mungkin Kyai Langgeng sendiri tak akan suka melihat makamnya justru di”keramat”kan oleh sebagian orang.
Konsep “Book Village”, Tapi...
Pada tahun 2003, saat Menteri Pendidikan Nasional dijabat oleh Malik Fadjar, objek wisata Taman Kyai Langgeng dicanangkan untuk bisa menjadi objek wisata yang bukan saja menghibur, tapi juga mendidik. Sang menteri memberi gagasan untuk menjadikan objek wisata ini sebagai desa buku. Konsep desa buku ini diadaptasi dari konsep “Book Village” yang digagas oleh Richard Booth pertama kalinya di tepian sungai Wey yang berlokasi di pegunungan Black Mountains, Wales, Inggris, tahun 1961, dengan nama baru Hay on Wey. Di Indonesia, inilah desa buku pertama yang pernah ada. Tapi, di Asia Tenggara, desa buku Taman Kyai Langgeng ini adalah desa buku kedua setelah Malaysia.
Desa buku Taman Kyai Langgeng kemudian resmi berdiri dan dapat diakses oleh masyarakat luas sejak tahun 2004 lalu. Desa buku ini terdapat dan terintegrasi dengan objek wisata Taman Kyai Langgeng. Hanya saja, bila kepengurusan dan perawatan objek Taman Kyai Langgeng sepenuhnya dipegang oleh Pemda Kodya Magelang, pada desa buku Taman Kyai Langgeng, kepengurusan yang sifatnya operasional warga desa setempat dilibatkan secara aktif. Jadi, nggak usah heran bila ada banyak pustakawan yang merupakan warga desa setempat yang akan setia melayani pengunjung.
Desa buku Taman Kyai Langgeng ini benar-benar mengadaptasi konsep desa-desa buku di dunia. Sekitar 90 hektar lahan yang tersedia dimanfaatkan untuk ruang membaca dengan konsep open space. Dua bangunan utamanya, Perpustakaan Desa Buku dan Pusat Informasi Buku, adalah dua penanda utama dari kehadiran desa buku ini. Pada awal pendiriannya, terdapat sekitar 7.000 ekslemplar buku dengan 4.000 judul buku seputar pengembangan diri, filsafat, politik, agama, sejarah, seni, budaya, dan sastra.
Sayangnya, saat ini koleksi buku-buku di Taman Kyai Langgeng kurang terawat dan terupdate dengan baik. Tak ada penambahan koleksi yang signifikan. Bahkan bisa dibilang, buku-buku yang tersedia di sini adalah buku-buku lama. Bila ingin desa buku ini berfungsi sebagaimana mestinya, pemerintah daerah kota Magelang sepertinya harus berbenah untuk melengkapi beberapa fasilitas desa buku yang menunjang dan memadai di dalamnya. Namun demikian, rekrasi literasi di Taman Kyai Langgeng tetap menarik untuk dicoba. Setidaknya bagi mereka yang mendambakan rekreasi yang mencerdaskan. [Oom Komariaah, Yogyakarta]
Lampiran movie tidak tersedia.





zuni
Diposting: Minggu, 10 Januari 2010 / 13:23:15 | IP: 222.124.207.195
menarik juga ya rubriknya. jadi tahu tempat-tempat seru deh.....gimana cara ngirimnya ya? pingin juga nih..... syaratnya apa aja ya? bales yaw